Horasss…….ini Medan Bung….day 2 – Medan, Pematang Siantar, Parapat, Danau Toba

Hari kedua, 30 Mei 2009
Pagi ni bangun dengan segar…dan sewaktu keluar kamar, ternyata dah kedatangan tamu, yaitu teman b’Robby yang akan ikut serta dengan kita, namanya indra.
Pagi2 liat pemandangan bukit barisan dari balkon atas rumah bang robby ternyata lumayan jelas, terlihat ada gunung sinabung. Dan menurut bang Robby kalo cuaca sangat cerah, bisa lebih banyak lagi gunung yang terlihat.
Hari ini kita akan memulai perjalanan kita menuju Samosir, sehingga pagi ini, dengan segera kita bergantian mandi dan packing barang kembali untuk di bawa karena menurut rencana perjalanan menuju samosir sangat jauh, dan kita akan bermalam di Samosir.
Usai sarapan kita dah bersiap, packing barang di mobil dan ternyata sudah ada om pengganti untuk membantu menyetir mobil dalam perjalanan panjang ini. Yang berangkat dalam perjalanan ini ternyata rame sekali, beruntung mobilnya Robby lmayan luas, jadi masih cukup nyaman untuk beramai-ramai.
Peserta piknik ke Samosir ini adalah *diurut berdasarkan posisi duduk dimobil* : pak supir, Bang Robby, duduk di muka, Riana, Ichy, Are, Iwan, kebagian duduk di tengah dan Puput, Indra, black dan Elvi yang kebagian duduk di belakang bersatu bersama barang2 bawaan kita yang ternyata banyak juga yah….tapi sekali lagi, beruntung ga sempit, jadi ga peugeul
Kita berangkat skitar jam 09.30, dan perjalanan ini membelah kota Medan menuju Parapat.
Awalnya ga terlalu banyak ngobrol di belakang, tapi seiring dengan lamanya perjalanan, vi beruntung duduk di belakang, karena Indra dan Black tuh ternyata selalu punya berjuta cara untuk menghilangkan jenuh perjalanan, mulai dari cerita2 lucu, tebak2an yang ga penting, nyanyi2 pake gitar (bruntung black bisa main gitar dan saking leganya kita bisa bergitaran di perjalanan) hingga cerita mengenai tempat yang dilewati.
Sekitar 1,5 jam perjalanan kita tiba di daerah ’Tebingtinggi’ (sudah di konfirm ke bang Robby nama tempat ini) katanya di sini ada makanan khas yang enak, namanya lemang. Yup…benar sekali lemang ketan yang seperti lemang padang itu…dan setelah vi perhatikan ga da bedanya, Cuma ukurannya saja yang lebih kecil dan uniknya dimakan dengan sarikaya (kalo lemang padang biasanya dimakan dengan tape ketan) … nyaaam enaaak…
Tanpa berlamalama kita harus melanjutkan perjalanan, karena tujuan kita masih sangat jauh. Kota tujuan kita selanjutnya adalah kota Pematang Siantar, yang merupakan kota terbesar dan teramai ke-2 di Sumatera Utara.
Di kota Siantar ini memiliki keunikan yaitu becak motor yang merupakan kendaraan yang telah memiliki umur cukup tua, katanya siy, peninggalan perang dunia ke-2 (whhheeewww…tua sekali ya) dan di kota Siantar ini juga ada roti yang cukup terkenal ternyata, yaitu ’Roti Ganda, penasaran???? Iya banged…
Sesampainya kita di kota Siantar, setelah sekitar 2,5 jam perjalanan dari kota Medan, vi exiciting sekali melihat banyak motor becak legendaris itu seliweran di seantero kota Siantar, berusaha untuk moto dari mobil, ternyata tidak menghasilkan gambar yang baik, sebel….
Dan tujuan pertama kita di Kota ini adalah toko roti ’Ganda’, yang konon merupakan icon dari kota Siantar, setelah berputar2 mencari dimanakah letak toko roti tersebut, akhirnya kita parkir di jalan yang sepertinya jalan utama *maaf lupa apa nama jalannya, tanya bang Robby lagi niy: dimana alamat toko roti itu bang???*
Toko Roti Ganda ini ternyata ramai sekali…jadi inget toko kue kartika sari di Bandung yang selalu di serbu pengunjung. Saking ramenya, Vi semangat sekali mo tau, seperti apa siy roti ganda itu???dan ternyata oh ternyata….roti ganda itu bentuknya seperti roti tawar biasa (bukan yang bentuknya kotak ya, tapi yang berbentuk ada kepalanya) dan dibelah dua secara memanjang, lalu tengahnya diisi. Ada dua pilihan rasa untuk isi, sari kaya dan mesis. Untuk roti ganda pesanan kita, kita minta diisi dengan mesis, lalu sigaplah pelayannya mengoleskan mentega yang sepertinya ’home made’ karena berbentuk seperti mentega rum dan menaburkan mesis banyaaak sekali lalu roti di tutup, dan di potong2 seperti roti biasa…whhoooww…sigap sekali pelayannya sewaktu mengerjakan itu….
Ada juga betuk lainnya, yaitu ukuran roti yang lebih kecil seperti roti hamburger, dan tengahnya pun bisa diisi dengan pilihan serupa, dan kita beli 10 buah roti ini, dengan 2 pilihan rasa..lmayan buat ganjelan perut di perjalanan jauh ini.
Usai dari toko roti ganda, kita lihat ada Becak Motor Siantar yang lagi parkir di seberang toko, serta merta langsung kita serbu untuk di jadikan objek foto2, dan beruntung bapak pemilik becak baik hati sekali membiarkan kita bergerilya untuk berpose2 di becak motor tersebut *makasi ya pak* dan saking semangatnya poto2, pas mo kembali ke mobil, tiba2 bapaknya manggil kita, waduuh kenapa niy…ternyata…ichy lupa mulangin helm, dengan manisnya tuh helm masih bertengger di kepalanya ichy…hahahahaa….
Untuk lebih tau mengenai Becak Motor Siantar, ni sedikit infonya ( dikutip dari kapanlagi.com)
Sebenarnya apa sih becak motor itu?
Becak motor pada umumnya adalah sepeda motor yang mendapat tambahan tempat duduk yang ditempelkan di samping motor, dan mampu memuat dua orang penumpang, menjadikan penampilannya mirip dengan motor perang yang digunakan di sekitar perang dunia kedua. Untuk mempernyaman pelanggan, seringkali ditambahkan semacam atap yang bisa diturunkan (atau ada yang permanen juga) sehingga jika hujan rintik2 menerpa, penumpang tidak terkena hempasan air hujan.
Bahkan tidak sedikit yang memang motor yang digunakan, adalah motor dari zaman Perang Dunia Kedua itu sendiri. Salah satu pengguna motor yang bangga akan produksi motor ini adalah Becak Motor Siantar, yang dianggap memiliki keunggulan tertentu. Mengapa? Becak Siantar lebih unggul karena ditarik oleh Birmingham Small Arm (BSA) tua, yaitu jenis sepeda motor pabrikan Inggris yang awalnya diciptakan untuk kendaraan perang.
BSA masuk ke Indonesia pada masa peralihan tentara Jepang ke tentara sekutu (Belanda-Inggris). BSA kemudian menyebar di setiap daerah jajahan Belanda. BSA adalah sisa-sisa perang dunia kedua. Belanda yang membawanya ke nusantara ini. Ketika penjajah minggat dari Indonesia, motor-motor BSA kehilangan tuannya.
BSA mulai masuk sekitar tahun 1958 atas inisiatif orang-orang Siantar. Orang Siantar mendatangkannya dari pulau Jawa: Surabaya dan Jakarta. Becak dengan motor tua yang semakin langka itu justru menjadi keunikan yang menghiasi Kota Siantar, sekitar 128 kilometer arah selatan Medan, Sumatra Utara. Selain langka, rata-rata usia motor sudah mencapai 60 tahunan. Motor yang saat ini berjumlah sekitar 400 unit itu ada yang dibuat tahun 1941, 1948, 1952, dan yang lebih baru, buatan tahun 1956. Kelangkaan itu membuat suku cadangnya tidak lagi dijual di pasar. Perawatannya pun kian sulit. Kelangkaan itu justru membuat motor BSA menjadi barang koleksi yang menarik dan mahal.
Banyak motor BSA di Siantar menjadi buruan kolektor motor antik dari Jakarta. BSA keluaran 1952 milik Kartiman pernah ditawar Rp 30 juta. “Belum mau saya jual karena harganya tidak cocok,” kata dia. “Seingat saya, betor BSA di Siantar yang khusus membawa penumpang umum ini satu-satunya di dunia.”
Becak Siantar semula berbentuk bak sampan, seperti becak mesin di Medan sekarang. Bentuk tempat duduk penumpang yang terletak di sebelah kiri setinggi satu meter untuk dua orang, hanya terbuat dari terpal. Pada sisi kanan dan kirinya diberi besi penyangga dan bisa dilipat-lipat.
Perombakan terjadi awal 1970-an. Selain menggunakan pelat-pelat besi membentuk tempat duduk dan penutup payung hujan, di bagian depan menggunakan dinding kaca. Di bagian bawahnya diberi tempat pijakan kaki. Ban di sebelah tempat duduk dipasang penutup sebagai penahan rembesan tanah atau lumpur. Di belakang tempat duduk disediakan bak kecil berpagar pelat besi, berfungsi untuk tempat barang-barang bawaan penumpang.

Perjalanan kembali di lanjutkan, kali ini kita akan langsung menuju Parapat. Sepanjang perjalanan ini kita disuguhkan pemandangan perkebunan sawit, hutan pinus dan setelah sekitar 1 jam perjalanan pemandangan yang tersajikan mulai bikin degdegan…Danau Toba dah mencuri pandang…duuuhhh…canttiikkk…

Bener2 langsung semangat pas Danau Toba akhirnya di depan mata, yang berarti kita telah tiba di Parapat, yang merupakan kota wisata di pesisir Danau Toba.
Setiba nya kita di Parapat, yang pertama dilakukan adalah Makan siang, dan pilihannya adalah sebuah tempat makan di sebrang danau toba….dan kitapun makan siang dengan lahap…
Beres makan siang, beberapa dari kita buru2 di pinggir danau untuk hunting foto dan setelah menyelesaikan urusan pembayaran dengan ibu penjual nasi, vi sempetin untuk shalat di masjid Taqwa, Parapat yang kebetulan terletak ga jauh dari tempat kita makan siang.
Rencana perjalanan lagi2 berubah, tiba2 aja bang Robby bilang kita nginep aja di Parapat, jadi kita berlanjut untuk hunting penginapan yang bersedia menampung kita…muter2 kesanakemari ternyata Parapat lagi rame banged, sepertinya liburan anak sekolah, karena banyak sekali pelajar terlihat warawiri, dan banyak bus pariwisata juga.
Setelah mampir dan bertanya2 di beberapa penginapan, ternyata semuanya fully book alias penuh,yang berarti kita ga dapat tempat, waduuh, ini pasti karena liburan anak2 sekolah itu…dan tiba2 saja bang Robby memutuskan bahwa kita langsung ke pelabuhan saja, dan mencari penginapan di Tuktuk (menurut bang Robby biasanya penginapan disana pasti ada kamar kosong).
Maka berangkatlah kita menuju pelabuhan, dan setibanya disana, ternyata belum ada kapal dan baru ada lagi jam ½ 6…masih lama banged yah…secara waktu menunjukkan pukul 4. jadi bang Robby memutuskan bahwa kita masih punya waktu luang 1 jam untuk bersenang2 di tempat wisata di parapat…yuks mari kita kemon.
Waktu 1 jam tuh ga lama loh….jadi kita bener2 bergegas…hunting tempat untuk poto dan riana ma are kayanya sibuk ma toko souvernir d…ada aja yang dimampirin. Dan ichy ga join ma kita, karena dia shalat di mushalla…
Skitar jam ½ 5 kita harus segera kembali ke mobil, dan segera bergerak menuju pelabuhan ajibata. Setibanya di Pelabuhan, ternyata dah rame, dah banyak mobil yang parkir, langsung aja vi dan bang Robby menghampiri loket untuk beli tiket….tapi tenyata…..ooowww nooo….sial, we’re late….karena ada satu truk yang lumayan besar, kouta kendaraan yang boleh masuk ferri dikurangi, sehingga mobil kita masuk dalam daftar cadangan no. 1 satu….duuuhhh….degdegan, panik, dan sebel, penuh penyesalan, kenapa juga tadi ga ninggalin 2 orang untuk stand by nungguin loket buka…sial….
Dengan penuh harap kita warawiri di sekitar pelabuhan…menghitung tiap mobil yang masuk dalam ferri dan dengan penuh harap semoga ada satu celah yang memungkinkan agar mobil kita bisa terangkut.
Satu persatu mobil mulai masuk dan diatur diatas kapal, dengan degdegan vi berdiri di samping pintu masuk kapal, ngliatin satu persatu mobil yang masuk, dan ada satu mobil yang menarik perhatian niy, mobil panther dengan muatan besar diatasnya, seperti layar, dan sewaktu ngliat pengemudinya, wah..lmayan juga niy (jadi ada hiburan,,ayo jeung semangat…hahahaaa)
Dah hampir hopeless ngliat tempat yang semakin penuh dalam kapal, dan kitapun menghitung sisa mobil yang masih ngantri masuk….masih ada 4 mobil, yaitu 2 mobil pribadi dan 2 mobil elf angkutan umum…dan spertinya Cuma tersisa untuk 4 mobil itu…dah lemas niy, berarti kita ga terangkut…tapi tiba2 salah satu mobil angkutan umum yang vi kira mo masuk kapal pergi keluar dari parkiran, dan serta merta are juga bilang, wah mobilnya pergi, berarti kita bisa masuk….hoooreeee….waaah langsung semangat niy, vi langsung menuju bang Robby yang ternyata dah langsung ngurus pembayaran dan kita bilang ke pengatur kapalnya bahwa mobil kita bisa masuk… horeee….akirnya kita bisa berlayar….senangnya….beruntung petugas loketnya fair, sehingga walaupun ada mobil dinas perhubungan, tetep harus ngantri..first come, first serve…mantaaap…
Dengan gembira kita memasuki kapal ferri yang akan mengangkut kita ke samosir…dan kita pun hunting tempat buat kita habiskan selama 1 jam pelayaran ini. Tempat yang kita tuju adalah puncak kapal, ada sedikit teras yang bisa buat kita melihat pemandangan seputar danau toba…tapi ternyata tempatnya sempit dan dah rame ma pengunjung yang berniat sama ma kita…tapi kita keukeuh mo tetap disini, sehingga mengakibatkan beberapa penumpang untuk mengalah turun, jadi kita berhasil menguasai area….sssiiiipppp….
Sambil menunggu persiapan kapal berlayar ada beberapa bocah berenang di danau dan minta di lempar coin untuk mereka tangkap…sayangnya uang logam sekarang ringan, jadi dengan mudahnya mereka menangkapnya karena terapungapung, coba koin 100 jaman dulu yang tebal, pasti langsung tenggelam sebelum tertangkap, jadi lebih seru aksinya kan???
Dan kapalpun berlayar…kita dah dapat tempat yang ideal, dan saat nya untuk poto2…yeeeaahh…pose sana sini, hingga tiba2…yang ditunggu pun tiba….yup…’si driver mobil panther’….dan kebetulan kita lagi pasang senyum sumringah dan
gigi lebar karena mo di poto ma ichy dengan arah tangga masuk…pastinya dia ngira kita senyum2 ma dia, karena dia balas senyum juga tuh…hahahaha…
Jadi kenalan lah kita…Wira…Riana, ichy, are, Puput dan Elvi, dan mulai ngobrol2. Penasaran ma ’sesuatu’ yang mereka bawa di atas mobilnya, ternyata layar panjang di atas mobil itu adalah gantole, dan ternyata mereka (ada 4 orang : bang Wira, Om Ari, Om Mirza, dan **** ga tau namanya adakah yang bisa melengkapi???tanya b’ Roby) adalah atlet gantole yang lagi survey lokasi untuk lomba gantole pertengahan bulan juni ini…waaah…asik sekali sepertinya terbang di atas danau Toba, menikmati keindahan dari ketinggian…
1 jam berlayar di kapal, dan kita pun akhirnya tiba di pulau samosir, berlabuh di Tomok, dan karena mobil kita yang pertama keluar, langsung tancap menuju Tuktuk, penginapan Carolina yang kita tuju.
Hari dah mulai gelap dan setibanya kita di Carolina, ternyata penginapannya juga full…..duuuhh…gimana niy, padahal Carolina ini sepertinya baguuus banged, saat malam aja terlihat bagus, palagi saat terang, nyesel kita ga buking dulu kmaren, yasud kita mo hunting aja penginapan lainnya.
Pas kluar dari penginapan, kita berpaspasan ma rombongan gantole, ternyata mereka mo nginep disini juga, tapi belum booking juga, jadi lah kita berkesempatan untuk diskusi karena merasa senasib ga dapat tempat nginep. Tiba2 om ari mengusulkan ke Dumasari, ga jauh dari carolina, katanya dia kenal ma manager/pemiliknya dan dijamin dikasi diskon…jadi…melajulah kita bersamasama.
Mendarat di Dumasari, ternyata banyak kamar kosong, beruntung niy kita, langsung di sambut ma staff nya, dan vi, bang Robby dan om Mirza pun mulai ber negosiasi harga. Harga yang ditawarkan oleh hotel ini lmayan mahal, untuk kamar standar aja 250rb, dan yang paling bagus 500rb. Dan dengan rada sok2an kita liat kamar dulu, dari yang paling murah sampe yang paling mahal…kayanya ga jauh beda d fasilitas, Cuma beda ada tipinya aja. Setelah kita beragumen dan negosiasi dengan alotnya, akirnya pihak staff hotelnya nyerah juga, dan kasi kita harga superduper yaitu Rp. 500rb untuk 4 kamar yang paling bagus….hooreeee..
Kamar kita di lantai 2, dan berjejer bersebelahan.menghadap langsung ke Danau Toba. Mungkin karena jarang pengunjung, kamarnya rada berdebu, de’ Puput langsung sigap nyuci bathtub sebulum di gunakan, dan karena airnya rada sering mati, akhirnya bathtub nya kita funsikan sebagai penampung air alias bak mandi. Tapi sialnya sumbatnya rusak, jadi tidak bisa menampung air, dan kita harus menyiasatinya dengan menyumpalkan ’sesuatu’ sehingga cukup rapat dan tidak bocor, dan berhasil…bak pun mulai terisi dan satu persatu kita antri mandi.
Kamar kita ada balkonnya dan dari balkon tersebutlah terjadi perpindahan penghuni kamar satu dengan lainya, padahal ada pintu, jadi ga berguna, secara koridornya gelap, dan katanya de’puput ada yang ngliatin dari arah tebing…hiiiii…jadi ngeri niy…di balkon ini juga jadi tempat kumpulnya kita semua, padahal cowo2 itu dikamarnya juga ada balkon, tapi malah dengan ramainya kumpul di kamar kita, masak indomi, capucino hangat (grupnya bang Robby bawa perlengkapan masak mereka, seperti kemping saja) makan segala bekal, nyanyinyanyi bahkan main kartu dengan berisiknya…berisik d…
Malam ini agak meriah karena kita jadi bergabung ma rombongan gantole yang bersebelahan juga ma kita. Jadi seru dengan cerita pengalaman2 terbang mereka dan di kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk transfer foto, beruntung mereka bawa laptop, sehingga memory card vi yang dah penuh bisa di transfer dan dikosongkan kembali untuk foto2 esok hari.
Bruntung juga kita kenal ma mereka, karena kita juga mendapatkan pesanan ayahnya ichy, yaitu ’tuak original’ langsung dari pohon nira tanpa campuran apapun. Itu kita dapatkan dari bang Wira sewaktu kita lagi trans foto2 kita di laptopnya, dan ichy cerita bahwa ayahnya minta di carikan tuak original.
Vi malam ini akirnya bobo duluan, secara tiba2 jadi ngantuk berat, mungkin cape (secara kudu ngintilin bang Robby kesanakemari dengan langkah kakiknya yang cepat itu, jadi harus berlari2…ffiiiuuuhhh…cape d) atau mungkin ga ya karena tadi vi nyobaik tuak yang dari bang Wira itu, secara rasa dan bau nya rada aneh….apapun pokoknya vi bobo duluan yah….
Baru mo lelap, tiba2 dibangunin…viii….mo makan ga, dah ada nasi niy…ya ampyuunnn….vi ngantuk berat niy, lagi pula dah makan mie goreng tadi dan roti tadi, cukup sepertinya….lanjut bobo lagi aja….
Zzzz……zzzzzz……ketemu besok pagi yah…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s