Horasss…….ini Medan Bung….day 3 n 4 – Tomok, Sipisopiso, Brastagi, back to Medan

Hari Ketiga, 31 Mei 2009

Tulilit…tulilit…berisik bener siy niy, sapa yang pasang alarm di saat libur begini….. gangguin ajah…sebel….*brusaha tetep tidur walau kebrisikan, tapi…Duuuhh…sapa siy niy, menghimpit ku.. beraattt…. ternyata ichy … secara dia dah menggemuk, jadi berasa banged kalo kakinya dah ekspansi ke badan gw….ginii niy nasib bobo bramerame…

Pagi hari di Samosir, udara segar dan pemandangan cantik…jadi semangat niy…langsung mandi dan santai2 dulu ah menikmati pemandangan danau toba dan bukit-nya…
Pagi ni katanya mo sarapan bubur kacang ijo..tapi mana yang mo masak yah, secara pria2 itu masih bobo kayanya…
Vi coba tengok kamar mereka, ternyata masih pada bergelimpangan bobo…dan pas vi cari kacang ijo yang mo dimasak, ternyata dah berserakan karena semalam mereka rendam, jadi dah merekah dan luber dari nasting…dasar cowo, ga afdol kalo ga berantakan…
Serta merta vi ambil alih pembuatan kacang ijonya, ngrapiin kacang ijo yang berantakan, masukin dalam plastik kresek dan ngambil secukupnya aja buat dimasak.
Masak kacang ijo di teras kamar dengan peralatan masak mereka yang ternyata belum di rapiin dari semalam mereka berpestaria masak makan malam…..hhmmmm…bruntung de’puput bersedia untuk ngbantu nyuci beberapa perkakas tersebut.
kompor dah siap, kacang ijo segera dimasak, dengan air secukupnya, tinggal di tungguin aja d ga lama akhirnya bang robby ikut nimbrung nungguin kacang ijo, ada indra juga yang bantu ngancurin gula merah yang masih berbentuk bongkahan besar, sehingga menjadi puing2 kecil untuk di cemplungin dalam rebusan kacang ijo.
Sementara vi nugguin kacang ijo matang, ternyata ichy, riana, are n de’puput dah menghilang dari kamar, ada yang mo hunting poto, ada yang jalan2 aja menikmati keadaan dan riana ternyata menemukan lontong sayur, lmayan buat sarapan (sayangnya dia ngabarin via sms yang ga kedengaran ma vi…ga kebagian d… )
Kacang ijo dah matang, teh manis anged juga dah matang, lagi mo masak indomie rebus ni….tibatiba riana masuk kamar dengan riuh, ngajakin berenang di danau…waaahhh…sepertinya asik sekali, tapi sayangnya vi dah mandi, dan waktu kita untuk berangkat sekitar 1 jam lagi, ga bakal keburu kalo vi ikutan berenang ke danau, secara kalo vi dah nyemplung di air pasti susah untuk di ajak beranjak..
Jadilah riana berenang di temenin ma Indra yang guru olahraga itu dan sementara riana berenang, are, ichya dan de’puput dah kembali dengan membawa serta buah tangan berupa 3 bungkus nasi untuk sarapan bareng…lmayan d buat ganjelan yah….
Skitar jam 09.00 kita dah bersiap-siap kembali, mengosongkan kamar, dan membereskan masalah administrasi. Tapi sebelum kita meninggalkan tempat ini, kita sempatkan untuk pose2 dulu ni, dan secara dari kemaren kita ga punya foto yang full tim, jadi pagi ini, dengan didukung seperangkat mini tripot (thanks to om Echo yang dah minjemin), kita setting kameranya pake timer,dan…jadilah poto kita lengkap ber-9…dan ga Cuma satu gaya…berkali-kali, bahkan kita sempat juga poto di atas kapal yang sandar dekat hotel (numpang yah pak).
Tujuan pertama kita pagi ini adalah desa TOMOK…ni sedikit infonya dari wikipedia :
Tomok adalah sebuah desa kecil yang terletak di pesisir timur Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara. Desa yang ukurannya tidak terlalu luas ini tampaknya sudah cukup mendapat pengaruh modernitas yang cukup besar di kalangan masyarakatnya.Banyaknya makam dan benda-benda peninggalan zaman megalitik dan purba menjadikan lokasi ini sebagai salah satu situs kebudayaan Batak yang cukup terkenal di kalangan wisatawan. Lokasinya yang terletak tepat di tepi dermaga penghubung ke Parapat juga memudahkan para wisatawan mengunjungi tempat ini. Makam besar seperti Makam Raja Sidabutar dan keluarganya, Museum Batak, Patung Sigale-Gale, Batukursi Tomok, Patung Gajah, HKBP Resort Tomok dan gereja gereja yang sederhana memenuhi daerah ini.
Sesampainya kita di Tomok, langsung berhadapan dengan rentetan kios2 pedangan cinderamata, pedagang buah mangga mini dan lainnya. Suasanya jadi riuh banged, rame antara pengunjung dan pedagang bercampur dan berbaur. Untuk mencapai tempat bersejarah di Tomok ini,kita harus melewati gang batu yang di kiri kanannya penuh pedagang, petunjuk jalannya jadi tertutup kios.
Tempat yang pertama kita kunjungi adalah melihat atraksi patung sigalegale, kebetulan dah bersiap untuk mulai.
Sebelum si patung beraksi, diceritakan kisah mengenai apakah patung sigalegale ini oleh pemandu tempat:
Dulu ada seorang raja yang mempunyai anak laki-laki bernama Si Gale. Ketika Si Gale meninggal, Raja sangat sedih karena kehilangan. Ia lalu meminta pengrajin membuat boneka dengan wajah mirip Si Gale. Sebagaimana layaknya orang Batak, boneka ini juga dipakaikan ulos. Setelah bonekanya jadi, raja ingin agar boneka ini juga bisa menari seperti Si Gale. Akhirnya dibuatlah tali untuk menggerak-gerakkan boneka. Sejak saat itu setiap kali raja kangen akan Si Gale, ia akan memainkan boneka itu. Masyarakat menyebutnya boneka Si Gale-Gale. Sekarang boneka Si Gale-Gale terkenal sebagai salah satu obyek wisata di Pulau Samosir.
Boneka Sigale-Gale juga dimainkan pada upacara pemakaman, untuk menghubungkan keluarga yang ditinggal dengan arwah yang meninggal. Barang-barang pribadi peninggalan arwah dikenakan pada boneka Sigale-Gale. Kemudian dukun akan mengundang arwah untuk masuk ke dalam boneka. Sigale-Gale akan menari-nari di atas makam tanpa digerakkan oleh manusia.
Saat ini patung Sigae-gale yang asli di museumkan di Jerman, setelah dibawa oleh seorang pendeta Jerman yang menyebarluaskan agama nasrani di Samosir.
Saat patung si gale-gale beraksi, ternyata tidak sendiri, ada 2 bocah yang ikut serta menari bersamanya dengan mengikuti gerak tangan patung si gale-gale…

Usai menonton pertunjukan dan tak ketinggalan untuk berfoto bersama sang patung, kita melanjutkan menuju makam batu raja Sidabutar ke-3 yang berlokasi tak jauh dari tempat pertunjukan patung sigale-gale.
Di makam raja Sidabutar kita disambut seorang pemandu yang ternyata masih pariban-nya Riana dan setelah duduk manis, beliau pun menceritakan perihal sejarah makam batu Raja Sidabutar.

Makam Raja Sidabutar, berada di Tomok, makam yang terbuat dari batu utuh tanpa persambungan yang dipahat untuk tempat peristirahatan Raja Sidabutar penguasa kawasan Tomok pada masa itu. Sidabutar merupakan orang pertama yang menginjakan kakinya di Pulau Samosir. Kuburan yang sudah berumur 200 tahun itu, merupakan kubur batu. Pada batu itu, selain dipahatkan wajah sang raja, juga dipahatkan wajah seorang gadis yang konon sangat cantik. Kepadanyalah raja sangat mencintai, namun sayang bertepuk sebelah tangan. Di komplek itu pula terdapat patung orang Aceh yang bijak dan menjadi penasihat raja. Sekaligus menjadi penglima perang yang sangat dipercaya.
Raja Sidabutar terkenal dengan taktik kanibal dalam berperang. Hingga suatu saat ia bertemu dengan seorang raja dari Aceh yang meng
ajarkan taktik perang tanpa membunuh. Caranya ialah dengan mengangkat sarung dan menunjukkan kemaluannya kepada musuh. Karena mempertontonkan kemaluan adalah hal yang tabu bagi orang Batak, maka musuh akan berlari menjauh.

Sebagai ungkapan terima kasih, Raja Sidabutar memberikan kuda kepada Raja Aceh ini. Raja Aceh memberikan gajah kepada Raja Sidabutar. Makanya di samping peti batu Raja Sidabutar ada dua patung gajah. Di bagian depan peti juga dipahat gambar raja Aceh ini. Ia digambarkan sedang berjongkok menunjukkan kemaluannya
Raja Sidabutar digambarkan berambut panjang. Konon orang Batak zaman dulu memang panjang rambutnya. Di bagian belakang peti batu ada patung perempuan yang sangat dicintai Raja Sidabutar tetapi tidak dapat dikawininya. Perempuan ini menjadi gila diguna-guna oleh musuh Raja Sidabutar.
pemandu setempat juga menerangkan arti ornamen-ornamen pada makam raja. Ia juga bercerita tentang patung-patung batu berbentuk kepala orang dan seperangkat meja-kursi batu di sekitar makam. Patung berbentukkepala tersebut merupakan perwujudan orang-orang yang telah dihukum oleh sang raja dengan memenggal kepalanya.
Sebelum keputusan memenggal kepala, Sang raja akan melakukan rapat di Meja kursi batu sehingga diperoleh keputusan untuk mengeksekusi.

Di sisi lain juga terdapat sekelompok patung batu yang membentuk lingkaran yang merupakan bentuk sekelompok orang sedang dilakukan upacara, diantaranya adalah upacara permohonan turun hujan, dengan ditunjukkan beberapa bentuk peralatan dan model gerakan tangan yang berbeda pada tiap patungyang diukir pada batu, seperti tongkat, selendang ulos, dll.
Ada juga patung penjaga dan hulubalang raja yang bertugas melindungi raja.
Pemandu di Makam Raja Sidabutar menunjukkan Tongkat yang tersandar pada makam. Pada tongkat itu diukir dua pasang buah dada perempuan. ‘Lelaki Batak kalau melihat perempuan, yang dilihatnya adalah ukuran buah dadanya. Yang dicari adalah yang tomok. Tomok itu artinya subur. Karena perempuan yang tomok akan melahirkan banyak anak,’ gitu kata bapak pemandu. Pada tongkat juga terdapat ukiran Cicak. Ini menunjukkan prinsip orang Batak, ‘Jadilah seperti Cicak, di mana pun berada tetap bisa hidup’. Cicak sangat disegani oleh orang Batak.

Jadi paham kan mengapa di daerah ini dikenal dengan sebutan TOMOK, kmungkinan siy karena perempuannya yang montok dan seksi…hahahaha….jangan pada ngliat gw yah…
Selanjutnya kita kembali ekplore daerah ini..makin kedalam kita lihat ada beberapa rumah batak, ada yang masih bagus kondisinya dan ada yang dah mulai rusak, kita sempatkan juga untuk berpoto2 di sini, dengan menumpang pada rumah yang kebetulan terbuka, kita minta ijin ma penghuninya, yang ternyata bocah-bocah, mungkin orang tuanya lagi berjualan atau beraktifitas lainnya.
Di penghujung jalan ternyata ada makam tua Raja Sidabutar, saat kita memasuki gerbangnya, ada seorang bapak penjaga yang memakaikan kain ulos pada bahu kita, dan ini wajib di kenakan saat kita memasuki kawasan makam tua ini. Ada beberapa pengunjung yang berkeinginan masuk, tapi tidak mau memakai ulos, di usir oleh si bapak penjaga, dengan mengeluh beliau mengatakan, bahwa tidak sopan masuk ke makam tanpa mengenakan ulos…kalo buat kita siy seneng banged bisa mengenakan ulos…..wahh…. jadi tambah cantik ni kita berfoto dengan kain ulos tersampir di bahu .
Makam Raja Sidabutar yang terletak di tomok merupakan makam tertua yang masih utuh. Dimana usia makam tersebut sudah lebih dari 450 tahun. Makam ini keseluruhannya terbuat dari batu, dimana dibagian depannya terdapat ukiran yang memilki kemiripan dengan spink di mesir yaitu patung singa berkepala manusia. Di kawasan pemakaman itu juga terdapat beberapa makam keturunan dari raja sidabutar yang masih utuh dan terawat.
Dihalaman belakang makam ini kita menemukan tongkat yang lumayan tinggi yang di tegakkan di atas sebuah monumen batu. Tongkat Kayu setinggi 170 cm tersebut dikenal dengan nama ’Tongkat Tunggal Panaluan. Ada beberapa versi cerita mengenai Tongkat Tunggal Panaluan ini yang banyak diceritakan, dan berikut adalah beberapanya :

Di daerah makam, ada juga patung tinggi menjulang yang disebut tongkat “Tunggal Panaluan”. Ceritanya, zaman dulu, ada seorang pengeran dan adiknya, saling jatuh cinta, walaupun sudah dilarang berhubungan lagi oleh sang Raja, teuteup keukeuh ingin berpacaran. Nah akhirnya, kakak beradik ini melarikan diri ke hutan. Sang Raja memerintahkan 5 dukun (apa pengawal?) untuk mengejar mereka.
Ketika sang putri sedang sendiri, dukunnya menghampiri untuk menangkapnya. Sang putri lari naik ke atas pohon. Begitu sampai diatas pohon, tiba” pohon ini menelannya hingga tinggal kepalanya. Pangeran yang mendengar adiknya menjerit” datang ingin menolong, tapi ternyata juga ditelan oleh pohon tersebut. Keempat dukun yang menghampiri pohon tersebut juga ditelannya. Akhirnya datang lagi satu dukun yang paling hebat, ditebangnya pohon tersebut, dan dijadikan tongkat yang sakti. Tongkat ini masih berukirkan wajah” dari manusia yang berwarna hitam karena terkena noda” darah korban yang tertelan pohon.
Konon kabarnya tongkat ini mempunyai daya magis yang digunakan sebagai “intel”, jadi tongkat ini bisa terbang melayang” mengintai musuh.
Pada zaman sekarang, tongkat Tunggal Panaluan diartikan sebagai simbol berdirinya desa baru, dimana sebuah wilayah dianggap sah sebagai huta (desa). Kini setiap desa baru meniru tongkat asli, meskipun tidak seperti aslinya. Semakin banyak desa baru didirikan, semakin bervariasi, beragam bentuk ukiran tongkat Tunggal Panaluan. Namun tongkat masih dianggap sakti, karena pembuatannya dengan ritual khusus dan hanya dapat dipakai para datu dalam suatu ritual tertentu, biasanya untuk mengambil suatu keputusan penting.

Dan cerita versi lainnya adalah :

Tunggal Panaluan adalah tongkat orang batak yang hanya dimiliki oleh raja-raja batak. Tunggal Panaluan Raja Batak yang konon sudah dibawa oleh orang Belanda ke negaranya sekarang sudah kembali ke Tanah Batak, tepatnya di museum Gereja Katolik Kabupaten Samosir. Tongkat Tunggal Panaluan oleh semua sub suku Batak diyakini memiliki kekuatan gaib untuk : meminta hujan, menahan hujan (manarang udan), menolak bala, Wabah, mengobati penyakit, mencari dan menangkap pencuri, membantu dalam peperangan dll.
Pada jaman dahulu hiduplah pasang suami istri yaitu Datu Baragas Tunggal Pambarbar Na Sumurung (ahli ukir) dan istrinya Nan Sindak Panaluan, sudah lama menikah tapi belum dikaruniai anak. Mereka menanyakan hal tersebut kepada ahli ramal, ahli ramal menganjurkan agar mengganti patung-patung yang ada di rumahnya dengan yang lebih cantik. Maka pergilah Datu Baragas kehutan untuk mencari kayu yang cocok dijadikan patung, tetapi berhari-hari lamanya tidak ditemukan. Suatu saat ia (Baragas Tunggal) melihat di udara pohon melayang-layang tanpa cabang, daunnya kira-kira setinggi manusia. Baragas memohon kepada Mulajadi agar pohon tersebut diturunkan ke bumi dan ternyata dikabulkan. Pohon tersebut turun tepat ditempat peristirahatan (perberhentian) yang disebut Adian Naga Tolping. Baragas mengambilnya serta mulai mengukir sehingga berbentuk seorang gadis disebut Jonjong Anian. Setelah selesai, ia bermaksud membawa pulang, tetapi tidak dapat diangkatnya.
Beberapa hari kemudian saudagar kain dan perhiasan lewat lalu beristirahat ditempat tersebut. Saudagar melihat betapa cantiknya patung tersebut bila dikenakan pakaian dan perhiasan lengkap. Ia kemudian mengenakan pakaian, selendang, kerabu, kalung, gelang dan kancing emas. Ketika hendak pulang barang-barang tersebut tidak dapat dibuka walau dengan cara apapun. Lalu ia pulang dengan hati yang sangat kesal. Tersiarlah berita sampai keseluruh negeri dan sampai pada dukun Nasumurung Datu Pangabang-abang Pangubung-ubung yaitu dukun yang dapat menghidupkan kembali yang mati atau menyegarkan yang busuk. Sang dukun pergi ketempat patung tersebut dengan membawa obat berkhasiat, lalu meneteskannya ke mata patung, matanya langsung berkedip, ditetskan kehidung terus bersin, diteteskan ke bibir sehingga komat-kamit, diteteskan ke mulut terus dapat berbicara, ke telinga lalu mendengar, kepersendian, pergelangan tangan maupun kaki sehingga dapat bergerak dan berjalan sehingga patung tersebut menjadi seorang gadis cantik jelita, diberi nama siboru Jonjong Anian Siboru Tibal Tudosan.
Datu Nasumurung membangun rumah untuk tempatnya bertenun yang dikawal harimau, babi dan anjing, tangga rumahnya dibuat dari pisau-pisau yang tajam. Banyak pemuda yang simpati padanya tapi untuk bertemupun tidak bisa, namun seorang pemuda berhasil memikat hatinya yang bernama Guru Tatea Bulan dan sepakat untuk melaksanakan perkawinan. Berita itu tersebar luas diseluruh negeri dan sampai kepada Baragas (sipembuat patung), lalu mendatangi datu Pangabang-abang yang menanyakan hal itu. Terjadilah perselisihan antara sipembuat patung (pengukir), datu yang menghidupkan dan saudagar yang masing-masing mengatakan bahwa siboru Jonjong Anian adalah putrinya.
Perselisihan itu ditengahi oleh Si Raja Bahir-bahir (seorang penyumpit) yang menyatakan : Baragas (pengukir) pantas menjadi ayahnya, saudagar menjadi pamannya dan datu Pangabang-abang menjadi kakeknya. Pendapat itu disetujui dan perkawinanpun dilaksanakan. Beberapa lama kemudian, Siboru Jonjong Anian mulai mengandung (hamil). Selama hamil Guru Tatea Bulan senantiasa memenuhi permintaannya agar kelak tidak menjadi staknasi (halangan), walaupun permintaan tersebut terasa aneh, mis : meminta hati elang, nangka, pisang, ikan lumba-lumba, ayam jantan, dll. Ternyata kehamilannya diluar kebiasaan yaitu selama 12 bulan, setelah lahir ternyata kembar dua (marporhas), laki-laki dan perempuan, Guru Tatea Bulan melaksanakan pesta pemberian nama (martutu aek). Yang laki-laki dinamai Aji Donda Hatahutan Situan Parbaring dan adiknya si Tapi Nauasan Siboru Panaluan.

Dan adalagi versi lainnya

Menurut legenda Batak, Tongkat Tunggal Panaluan dibuat setelah Ajibonda Hatautan dan Boru Tapinauasan, kembar lain jenis keturunan Guru Hatautan dan Sindak Panaluan melakukan hubungan inses saat mereka beranjak dewasa.Takut untuk pulang ke rumah orang tua mereka, Ajibonda Hatautan dan Boru Tapinauasan memilih tinggal di tengah hutan.
Celaka, mereka berdua malah lengket di pohon tersebut bersana-sama, dengan dukun dan binatang yang dikerahkan oleh Guru Hatautan untuk membebaskan putra dan putrinya, agar tetap bersama mereka, Guru Hatautan menyuruh seseorang untuk membuat tongkat panjang dari batang pohon tersebut.
Tongkat itulah yang kemudian diberi nama Tongkat Tunggal Panaluan

3 versi cerita sepertinya cukup…dan ternyata tiap versi cerita memang berbeda-beda yah…intinya tongkat tersebut sakti mandraguna.
Karena waktu telah menjelang siang, dan kapal ferry akan datang pada jam 1, maka bang Robby pun menginstruksikan kita untuk segera menuju pelabuhan. Tapi yang namanya perempuan, pantang liat toko souvernir yang berjejeran di sepanjang jalan, mampir sana sini, liatliat dan perjalanan yang seharusnya lancar hingga ke pelabuhan jadi tersendatsendat…mukanya bang robby tuh mulai kesel karena untuk kesekian kalinya ada aja yang tertinggal karena melipir ke toko souvernir…hehehehe…maaf ya bang.
Sesampainya di pelabuhan ternyata kapalnya belum datang, dan terlihat teman2 lainnya berkumpul di depan toko kaset, dan sewaktu terdengar lagu dangdut membahana menyambut kedatangan kita, sertamerta riana langsung mengeluarkan joget andalannya ’gaya gergaji’..yeeeaaahh goyang bang….jadi meriah niy…
Siang niy panas bener..sambil nunggu kapal datang, minum teh botol dingin adalah yang paling enak, mampirlah di warung depan dermaga, ternyata riana dan ichy nyusul, waktu liat koleksi dagangannya warung tersebut, riana beli sekantong kue seperti kue bolu goreng gitu, katanya itu kesukaan orang rumahnya.
Sambil nunggu kita dapat kabar dari rombongan gantolle, katanya mereka sedang bersiap-siap untuk terbang, dan kalo kita ada di tomok akan terlihat jelas sekali saat mereka terbang, jadilah kita semangat menunggu penerbangan mereka, tapi sampai kapalnya datang mereka belum kunjung terbang juga….bahkan saat kita dah mulai berlayar belum terlihat juga, sampai dah di pertengahan danau baru terlihat mereka terbang disaksikan oleh bang Robby, are dan iwan sementara Vi dan teman2 lainnya menghabiskan waktu perjalanan di ferry dengan nyanyinyanyi iringi gitar oleh budi’black.
Perjalanan kita lanjutkan menuju tongging, disana ada air terjun yang dahsyat cantik banged…namanya air terjun sipisopiso..
Perjalanan menuju air terjun ini sekitar 2 jam dari parapat…dan selama di perjalanan lagilagi vi dibuat ga bisa tidur oleh indra dan black, sementara temen2 lainnya dah terlena bobo dengan nikmatnya.
Perjalanan 2 jam terbanyar dengan pemandangan cantik yang tersajikan…lllluuuuaaaarrr biasa…posisi kita ada ditengahnya..di sebelah kanan Air terjun sipisopiso dengan tebing2nya, cantik banged dan di sebelah kiri kita terpampang panorama danau toba…saking cantiknya pemandangan disini, bikin ga bisa berkata-kata…
Tapi rada mendung niy, dan sepertinya temen2 mo turun ke air terjun, jadi segera vi beli sebotol aqua di warung terdekat untuk bekal, secara jalan turunnya lmayan jauh berliku (ga usah ngbayangin naiknya nanti). Dah ga sabar mo segera menghampiri air terjun, vi, de’puput dan Indra turun duluan. Beberapa temen masih ada yang poto2, pipis dan lainnya, dan ga berapa lama terlihat mereka mulai nyusul turun di belakang kita. Lmayan jauh niy perjalanan menuju air terjun yang tinggi sekali itu…padahal jalannya turun, tapi lamyan bikin ngos2an (gimana ntar naiknya ya…) dan saat dah mo deket, iwan nyusul kita jadi kita berempat, vi ma indra dan de’puput ma iwan secara jalannya dah mulai licin dan banyak yang longsor jadi kudu ekstra hatihati.
Dan tibalah kita di bawah air terjun sipisopiso…waaahhhh….percikan airnya dahsyat sekali..walaupun dah sampai dibawah, tapi jarak ma air terjunnya masih lumayan, dan kita dah mulai kebasahan, tapi tak menyurutkan niat untuk terus mendekat, hingga sampailah di sisi tebing airterjun sipisopiso menumpahkan airnya… wwwuuuuaaahh …. suueegeerrr bangeeddd….teriakteriak kesenengan..poto2 walaupun kuyup…dan nunggu yang lain turun…Tapi….yang ditunggu tak kunjung datang, secara dah semakin sore dan vi nanyain yang lainnya knapa ga nyampe, barulah iwan bilang bahwa mereka Cuma sampai di pos panorama aja, ga mo turun lagi, karena malas naiknya….yaaahhh….sebel d.. yasud kalo gitu kita langsung naik ajah..
Perjalanan naik pastinya lebih melelahkan dibandingkan turun…. pphhiiueeewww…perlahan tapi pasti satu persatu undakan di lalui, berenti beberapa kali untuk menenangkan napas sambil menatap pemandangan indah yang menghilangkan letih, hingga akhirnya tibalah d
i parkiran dan temen-temen dah menunggu. Tapi de’puput tertinggal di belakang, di support ma iwan dan indra, yang ada Kasian de’puput, dikerjain ma mereka, disuruh potong kompas, tapi manjat tebing…kalo vi mendingan perlahan tapi pasti melewati jalur yang dah ada, walaupun berlikuliku.
Setelah kita berkumpul kembali, sempat berfoto, dan vi ganti baju dulu, secara basah kuyup. Dan kita pun melanjutkan kembali perjalanan pulang ke Medan
Perjalanan pulang ini melalui beberapa kota, diantaranya adalah Kabanjahe dan Brastagi. Sayangnya hari dah mulai gelap, jadi kita ga bisa menikmati kota yang kita lewati. Di Brastagi kita mampir untuk makan malam. Dan lagilagi demi amannya kita bang Robby ngajak kita makan di rumah makan Padang. Usai makan kita masih berusaha untuk jalan kaki ke tugu kota Brastagi dan seperti biasanya, poto dulu.
Perjalanan pulang kembali di lanjutkan. Sepanjang jalan kita lihat banyak Hotel, villa dan penginapan yang disewakan, seperti di Puncak aja niy. Dan lagilagi bang Robby ngajak kita mampir, di ***** (lupa apa nama tempatnya; tanya bang Robby) disini suasananya mirip banged ma puncak, banyak warung2 yang menjajakan jagung rebus dan bakar, serta minuman hangat, dan dari warung ini kita bisa menyaksikan panorama kota Medan yang dah berkelip ramai dengan lampu-lampunya. Udaranya juga dingin,pokoknya bener-bener kaya di puncak d.
Ga berlama-lama kita disini, karena hari dah malam dan kita kudu nganter Riana ke rumah nagborunya. Malam ni Riana akan nginep di rumah nangborunya, sepertinya mereka akan membahas mengenai ’hajatannya niy,jadi kita tunggu aja kabar baiknya gimana..hehehe *gosip mode on*
Setibanya dirumah kita disambut ma keluarga Robby, dan perjalanan panjang ini, cukup menguras tenaga, jadi berasa cape’ sekali. Dan karena badan dan gerah, jadi kita langsung mandi dan beberes barang-barang kita kembali ke kamarnya bang Roby.
Malam ni kita ga langsung bobo, tapi bang Robby masih ngajak jalan keluar, rencananya siy mo nyari durian….jadi pergilah kita malam ni, tapi tanpa riana dan iwan yang ternyata dah tewas duluan. Muter-muter ke segala pejuru kota Medan, ternyata mang lagi ga musim, mang ga rejekinya nyobain durian Medan yang terkenal enak itu, tapi kita tetep mampir di pojokan jalan untuk nyobain wedang susu. Katanya ini salah satu minuman andalan di malam hari. Ga Cuma itu, ada juga bubur kacang ijo+roti sebagai temannya..
Skitar jam 12-an kita kembali kerumah, dan ga berlama-lama kita langsung menghuni kamarnya bang Robby. Sebelum bobo mo say gudnite ma cowok2 itu, tapi ternyata mereka masih belum tidur. Indra yang besok kudu ngawas ujian dah wanti2 kudu bangun pagi dan minta di anter ma black, sementara bang Robby masih terlihat sibuk ngutak ngatik laptop, katanya ada yang minta di reparasi dan besok pagi mo diambil pemiliknya…duuuh…sian banged bang Robby, setelah cape nganterin kita jalan masih ada kerjaan aja yang kudu selesai. Masih sempat ngobrol bentar ma Indra, dan saatnya bobo…gudnite..

Senin, 1 Juni 2009
Hari terakhir kita di Medan…bangun tidur masih leyeh2 santai di kamar, mnikmati tempat tidurnya bang Robby, kita memulai pagi ini dengan rumpian permasalahan perempuan. Trus kita lanjutkan dengan aplot poto2 kita kemaren…ternyata kalo di kumpulin niy, foto yang dari kamera vi ajah dah 500an pic..dan hari ini kan masih mo jalan lagi, banyak banged yah…belum yang di kameranya ichy…mungkin totalnya sampe 1000 pic untuk 4 hari perjalanan ..banyak juga
Harini kita baru keluar rumah jam 11 setelah makan pagi yang kesiangan dan riana telah kembali berkumpul bersama kita (setelah berkali-kali sms minta dijemput) dan hari ini masih ada beberapa tempat yang akan kita datangi.
Pertama sekali kita harus ambil pesanan kita di ’House of Durian’ yaitu Pancake Durian, yang katanya bang Robby enak bener (nanti kita buktikan bersama yah), namun pas mo diambil pesanannya ternyata menurut info mba’nya kalo ga dingin, bisa basi, waduh gimana niy…ya sud coba nanti aja ngambilnya. Tapi sewaktu kembali ke mobil, katanya bang Robby langsung aja diambil sekarang, karena nanti kita dah ga lewat lagi (dengan muka galaknya mode on…jadi takkuuttt…) jadilah kita kembali ke toko, minta pesanan kita.
Selanjutnya kita mo ke Museum Negeri Sumatera Utara, ni salah satu kewajiban vi setiap berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia…tapi, ternyata museumnya tutup..oiya..vi lupa bahwa kalo senin Museum memang tutup, berlaku secara nasional ternyata, duuh…padahal pengen masuk banged. Bruntung bang Robby semangat untuk mengusahakan agar kita tetap bisa masuk. Dengan bertanya, izin dan sedikit memaksa akhirnya kita berhasil masuk, walau mba’ penjaganya sempat waswas dan dia bilang jangan lama-lama…Horeee…
Museum Negeri Sumatra Utara ternyata bagus banged…vi sampai terpesona juga menikmati museum yang bersih, pencahayaan yang bagus dan info yang menurut vi cukup update, serta penataan yang ga terlalu kaku. Secara vi lumayan sering warawiri di Museum2 seputaran Jakarta, jadi berasa banged bahwa museum ini memang bagus banged, ga ngbosenin, secara kalo di tanya ke temen2 lain tanggapan mereka tentang museum adalah : kuno, debu, pencahayaan yang kurang dan info yang ga update…dan museum ini menurut vi berhasil menjawab itu semua…Chayoo untuk ibu kepala Museum..
Puas keliling museum, saatnya pulang, tapi ternyata tampak seorang ibu yang sepertinya memperhatikan kita yang warawiri di hari libur museum, langsung aja vi hampiri dan ternyata beliau adalah Kepala Museum SumUt, namanya ibu Sri. Vi langsung menghampiri dan memperkenal kan diri kita semua, dan minta maaf karena tadi memaksa masuk, dan vi juga bilang bahwa Museum ini bagus banged, dengar cerita kita, si ibu tambah semangat, beliau malah kasi kita booklet mengenai museum ini.
Siang ini rencananya mo shalat dzuhur di masjid Raya Medan, jd semangat banged niy pas nyampe di tujuan, tapi baru mo masuk, kita dah diusir ma penjaga masjidnya, karena kita ga pake kerudung…yaaah nasib d, jadi Cuma bisa menikmati masjid dari luar saja. Sedikit info mengenai masjid raya Medan, (dikutip dari sieztha.wordpress.com)

Satu lagi peninggalan Sultan Deli, yaitu Masjid Raya Al Mashun yang berjarak tak jauh dari Istana Maimun (200m). Menurut sebuah sumber, masjid mulai dibangun tanggal 1 Rajab 1324H atau 21 Agustus 1906 dan selesai 10 Sept 1909 oleh Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. beberapa bahan dekorasi dibuat dari Italia dan jerman serta konon dulunya menjadi satu bagian dengan komplek istana. Masjid yang dirancang oleh Dingemans dari Amsterdam (dengan bentuk yang simetris jika dilihat dari keempat sisinya) memiliki gaya yang diambil dari budaya Timur tengah, India, dan Spanyol. Masjid dibangun dengan bentuk segi 8 (oktagonal) dan memiliki 4 sayap disetiap bagian selatan timur utara dan barat yang berbentuk seperti bangunan utama namun berukuran lebih kecil. luas keseluruhan bangunan adalah 5.000 meter.
Konsep bangunan utama beserta bangunan sayap katanya merupakan konsep bangunan masjid kuno di timur tengah. dsana masjid dibangun dengan ruang tengah sebagai ruang utama (disebut sahn) dan empat sayap berupa gang beratap untuk berteduh (disebut mugatha/suntuh). Hiasan di masjid ternyata bukan berupa kaligrafi melainkan ukiran bunga dan tumbuhan. dan berbeda dengan masjid lainnya, kubah masjid ini tidak berbentuk bulat namun persegi 8 dan agak gepeng. kubah berjumlah 5 buah, yang paling besar berada diatas bangunan utama dan 4 lainnya diatas masing2 sayap. disetiap ujung kubah terdapat ornamen bulan sabit sebagai penghias.

Selanjutnya bang Robby membawa kita menuju tempat beli kue bika ambon, hj. Dzulaikha namanya di jalan mojopahit. Lumayan rame disini, padahal hari senin (ga kebayang ramenya kalo hari libur, pasti umpel-umpelan kaya Toko Kartikasari di Bandung). Di beberapa pojokan tersedia potongan kecil kue sebagai tester, dan mengerumunlah kita disana, cuwil sanasini nyobain segala rasa dan bentuk kue, da
n saat seret pun ada tester syrup marquisa dan terong belanda yang rasanya suegeer banged. Vi beli 3 loyang saja (1 buat om echo yang maksa di bawain oleh2 karena kameranya vi pinjem *siap om…*, 1 buat dirumah dan 1 lagi buat dibagi ke kakakku) trus syrup dan manisan jambu (yang katanya riana enak niy) dan pulanglah kita dengan menenteng 3 karton besar oleh-oleh ( 1 punya vi, 1 punya are,dan 1 punya ichy)…siap berangkat bang…mari..
Siang ini kita juga sempat ke pasar sentral yang merupakan pasar besar di Medan, disini kita masih mo hunting souvernir berupa kain ulos kecil pengikat kepala, dan kita beruntung karena bisa mendapatkan harga yang lumayan murah disini.
Kita masih mo berburu kuliner siang ini, katanya bang Robby ada baso khas yang porsi dan rasanya dahsyat sekali, beda ma yang disuguhkan di jakarta, jadi penasaran niy, seperti apa siy ???berangkatlah kita menuju penjual bakso yang dimaksud. (dimana tempatnya ni bang???tanya bang Robby)
Tempat berjualan baksonya ternyata Cuma sepeti pedagang kaki lima, tapi di jalanan yang cukup sepi dan berada di belakang perkantoran. Selain baso ada juga tukang batagor, gorengan dan minuman. Saat kita sampai, ternyata pengunjung masih rame aja, padahal dah jam 2-an yang berarti dah lewat makan siang. Kita yang ga kebagian tempat duduk kudu diungsikan ke warung sebelah yang bersedia menampung kita ber-8. jadi duduklah kita berjajar dalam 1 meja panjang.
Saatnya pesan….campur, mi putih saja, pake kwietiaw, basonya ajah…okeh dan dalam sekejap pun pesanan dah memenuhi meja kita dan terperangahlah kita melihat porsi basonya yang buuaannnyyaakkk bener. Selain baso dan mi, ternyaa masih dilengkapi dengan tetelan, potongan daging dan lainnya, jadi meriah dan luar biasa penuh mangkoknya, dilengkapi pula dengan bawang goreng dan daun bawangseledri. Dan makan pun dimulai, tapi sebelumnya seperti biasa, ada yang masih meracik, tambah garam, tambah cuka, tambah kecap, tambah sambal..hhhmmm…nikmat…

mari makan…sslllrruupp…..
Menghabiskan 1 porsi baso ini ternyata kerja keras..banyak bener..dan takjubnya vi adalah para pria itu makan dengan biasa aja, dan dah habis, sementara vi sepertinya baru makan beberapa suap…dengan berusaha akhirnya tuntas juga, walaupun menyisakan beberapa potong tetelan yagn mang vi ga suka (rada aneh aja kalo makan tetelan, kenyal2 gitu) dan usai pembayaran kita pun pulang kembali ke rumah bagn Robby.
Kita masih punya waktu yang sangat cukup untuk leyeh2 dan bersantai, karena kita dah selesai packing tadi pagi, jadi waktu yang tersisa dihabiskan untuk ngobrol2 ma adiknya bang Robby yang ikut nimbrung ma kita di kamar, hingga skitar jam 5-an kita kembali bersiap untuk berangkat ke bandara.
Sebelum berangkat ke bandara,kita sempatkan juga untuk poto2 bersama keluarga di teras, dan kita juga di beri buah tangan oleh mamanya bang Robby, yaitu sekantong kripik bawang yang rasanya enak itu…..assiiikkk…makasih yah ma…dan kita juga dapat hadiah dari Budi’black, yaitu boneka…waaah, vi ambil boneka anjing kecil yang lucu, jadi senang niy…makasi ya black
Perjalanan dari bandara ke rumah bang Robby lumayan dekat, skitar 20 menit saja kita dah sampai. Sesampainya di bandara, kita langsung menuju check in counter airasia dan disebutkan bahwa saatnya boarding adalah adalah jam 18.45, jadi kita masih punya beberapa saat untuk bersama-sama sebelum kita masuk ke ruang tunggu bandara. Sambil menunggu, kita masih sempat untuk berfoto-foto dan gangguin ichy dengan julukan barunya ’ulat bulu’ yang bikin dia langsung garuk2 badan kegatelan…hihihi…
Saatnya pun tiba, kita menuju check in area dan saatnya berpisah dengan teman-teman yang luar biasa ini..jadi sedih juga niy. Kalo di perjumpaan kita hanya salaman saja, saat perpisahan ini dilengkapi dengan cipikacipiki bagi ke-3 cowo’2 itu, dan kitapun segera masuk ke ruang tunggu bandara.
Jam telah menunjukkan jam 7, tp masih belum ada kabar apapun, secara kabar terakhir adalah pesawat akan boarding jam 07.10 PM yang seharusnya pesawatnya dah nongol niy. Bingung ga da kejelasan akirnya kita tanya lagi ke counternya,dan ternyata pesawatnya delay…again…secara di jadwal 18.35, trus diundur dengan pemberitahuan by sms jadi jam 19.10 dan sekarang di undur lagi jam 20.10…waaduuuhh…akirnya kita jadi ngrumpi aja sambil nunggu pesawat datang, dan vi juga kasi kabar dulu ke adikku yang akan menjemput bahwa pesawatnya delay.
Jam ½ 9 kitapun boading. Perjalanan Medan – Jakarta ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam, jenuh juga..ngantuk…tapi berisik ada baby di belakang kita yang mungkin ga nyaman dengan penerbangan, jadi hampir sepanjang perjalanan, khususnya saat take off dan landing si baby nangis terus-terusan.
Jam 11 kurang kita dah landing dan memasuki term.3 bandara Soekarno-Hatta, nunggu bentar bagasi dan di pintu keluar adikku telah menunggu, ternyata ngajak mama juga, secara beliau sendirian dirumah, jadi sekalian diajak jemput…senangnya…
Jadi kita berpisah disini yah jeung…are, riana dan ichy masih mo nunggu damri menuju Bekasi.
Senang kita masih di beri kebahagiaan yang luar biasa dalam perjalanan ini, menikmati indahnya Indonesia dan terima kasih untuk semua teman2 di Medan, Keluarga besar bang Robby
Sampai di perjalanan berikutnya yah…

-vi-

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s