I must be dreaming, wiken @ Borobudur-Paris-Malioboro

Wiken seru mang kadang ga terduga…..padahal cuma rencana mo nyikat kamar mandi di hari minggu pagi, tapi nyatanya hari minggu gw terbangun n I’m in jogja…..whheeeww….what happened on me…
Begitulah kenyataannya, bermula dari sebuah pesan di inbox FB dari mba’ santy ‘sang TFT (Traveller For Traveller) ambassador’ (beruntungnya gw mengenal dirinya sewaktu acara di Lawang Sewu 2 minggu YL) yang mengajak ke Borobudur karena kedatangan teman TFT dari Singapore yaitu Shasya, yang berencana ke Jogja dan pada hari sabtu akan ke Borobudur….hoooreee….Cuma itu satu kata yang pantas mewakili kegirangan gw….hahahha…..sebagai pendatang baru di Semarang dan penggila jalan-jalan, tawaran ini bagaikan oase di padang pasir *ceeileee…lebay banget ya gw* dan sepertinya gw adalah orang pertama yang menyatakan kesediaan untuk join ke Borobudur *cannot missed d fun*…daaaannn…setelah konfirmasi by phone mengenai titik pertemuan, maka janjianlah kita di sebuah tempat bernama ‘PLN Jatingaleh” (yang kalo naik angkot dari kost adalah naik angkot jurusan sampangan trus lanjut kearah jatingaleh…mudah bukan???)
Semarang, sabtu 5 Desember 2009
Jam ½ 8 brangkat dari kost dan skitar jam 8 dah nyampe di PLN Jatingaleh, ternyata dah ada 2 mahasisinya mba’ santy yang sedang menunggu disana, beruntungnya kita, ga lama nunggu ternyata mba’ santy n suami dah menghampiri kita dengan mobilnya. Tanpa berlama-lama, langsung naik dan perjalanan menuju Borobudur pun dimulai…jeng jeng….
Perjalanan Semarang – Borobudur ditempuh dalam 2,5 jam, melewati beberapa tempat menarik, diantaranya adalah sebuah klenteng Budhaghaya di Ungaran (I will b there one day), klenteng ini memiliki pogoda yang cukup tinggi dan cantik banget, kalo pinter berfoto, dijamin hasilnya berasa di hongkong atau Taiwan gitu d, dan juga kota ambarawa (pengen banget ke kota ini, liat museum kereta api dan juga ada goa bunda maria, yang konon menurut cerita, goa-nya bangus…hhhmmmm got to be on my schedule trip).
Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, di kelilingi oleh 5 gunung dan pertemuan 2 sungai. Sedikit kutipan mengenai Candi Borobudur (dikutip dari http://www.wikipedia.com dan http://www.yogyes.com)
Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 dan baru dapat diselesaikan oleh putrinya Ratu Pramudawardhani. Diperkirakan pembangunan candi Borobudur memakan waktu setengah abad. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.
Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka.
Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna : Karmawibhangga (cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat), Lalitawistara (Penggambaran riwayat Sang Buddha), Jataka dan Awadana (Cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta) dan Gandawyuha (cerita Sudhana yang berkelana)
Candi Borobudur ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Britania Raya di Jawa, dan memerintahkan H.C Cornelius untuk membuka kawasan, baru pada tahun 1907 pemugaran dilakukan dengan dipimpin oleh Theodoor Van Erp.
Setibanya kita di candi Borobudur, membayar tiket masuk seharga Rp.15.000/orang, kl bawa temen dari luar negeri kudu masuk dari gerbang yang berbeda karena harga tikenya Rp. 120.000/orang dengan beberapa kelebihan fasilitas, yaitu coffee break dan lounge room yang nyaman.
Sambil menunggu rombongan dari Jogja , kita iseng naik kereta mini,dengan membayar Rp. 5000/orang, kita mendapatkan sebotol aqua uk.350ml dan keliling daerah Candi yang menunjukkan beberapa fasilitas pendukung Candi Borobudur, yaitu kandang gajah tunggang, serta beberapa museum. Selesai dengan trip kereta wisata kita menunggu di Pusat informasi. Cukup kagum dengan fasilitas yang dimiliki, ruang tunggu yang nyaman dari kursi kayu yang lebar, brosur dalam 5 bahasa berbeda, dan 1 unit PC untuk internet gratis dan juga free WiFi yang lmayan kenceng…manteeep bener.. ^^…menunggu jadi ga berasa d.Menjelang jam 12 siang, tibalah rombongan dari Joga, dan ternyata mereka ramai juga yaitu Shasya dan mamanya (yang ternyata orang Indonesia asli, namun menetap di Singapore) teman2 TFT yang menemani perjalanan shasya di Jogja yaitu Ali, Anton dan Luluk…jadi totalnya kita ber-10…rame niy..
Hal pertama yang kita lakukan adalah menonton film di theater dengan membayar Rp. 5.000/orang, mengenai riwayat candi Borobudur, serta hal2 lainnya. Baiknya sebelum menuju candi memang nonton dulu ni, sehingga kita mengerti mengenai tingkatan dan cerita2 yang ada di candi Borobudur. Tayangannya berdurasi skitar ½ jam saja.
Selesai menonton, saatnya memasuki Candi Borobudur. Demi alas an keamanan, kita harus melewati ‘iron gate’ (ternyata ga Cuma ke bandara n ke mall aja yang harus lewat iron gate) dan dengan berjalan kaki di taman yang cantik skitar 250 m saja, tibalah kita di kaki Candi Borobudur. Hhhmmm….lets start d hiking…Siang ini kita beruntung karena matahari sangat bersahabat, di awali dengan mendung dan sedikit rintik2 (ga terlalu perlu pake payung, topi saja cukup kog) lalu cerah, memberikan udara yang cukup sejuk di siang hari dan langit yang biru. Kita mulai menapaki tangga-tangga candi dan bergerilya dengan camera, mencari beberapa titik2 foto dan menikmati keindahan candi Borobudur. Dengan mengikuti petunjuk, maka kita masuk dari pintu timut candi, berputar searah jaram jam (belok kiri yaaah) di setiap lantai sambil menikmati relief yang terukir cantik di dinding candi.
Tanpa terasa akhirnya kita tiba di puncak, pemandangan yang terhampar cantik banget, sambil terus berusahamengabadikan keindahan dengan berfoto sana sini tak lupa pula untuk mencoba peruntungan dengan memegang sang budha yang ada di dalam stupa. Ga gampang untuk melakukan hal ini, karena harus mencari patung budha yang masih memiliki tangan, padahal di dalam stupa ini rata2 telah terjadi ‘vandalisme’, yaitu hanya tersisa badannya saja sementara kepala dan tangan sang Budha telah raib, jadi dengan tekun harus mengintip tiap2 stupa yang berbentuk belah ketupat, dan bila telah menemukannya maka siap2 untuk menyelipkan tangan menggapai sang Budha…..dan itupun ga mudah, karena gw ga nyampe…hhuuuuu
hhhuuuu…..ga jadi buat ‘permohonan’ T_T hiks…tapi jangan bangga dulu kalo ternyata beruntung menggapai tangan sang Budha, kerena itu artinya ‘anda adalah seorang yang panjang tangan’…wajar aja banyak patung2 yang hilang……hehehehe….it’s just a joke ^_^.Puas di puncak Borobudur, kitapun kembali, menuruni candi dan berjalan menuju barat (pintu keluar) dan langsung disambut dengan beberapa ibu2 dan bapak2 penjual souvernir yang ‘rada maksa’ walau dah berusaha tersenyum dan bilang ‘tidak, terimakasih’ atau ‘udah bu’. Dan di pintu keluar ini juga kita disambut dengan beberapa toko souvernir yang menjajakan beragam barang; baju2, tas hingga ‘batu ulekan’.
Sehubungan dengan waktu telah menunjukkan lewat jam makan siang, kita pun menuju salah satu tempat makan di area parkir. Ada banyak pilihan tempat makan, tapi kita pilih yang bernama ‘Belimbing’ tepat di gerbang pintu keluar, karena di warung makan ini menyediakan beberapa pilihan makanan dengan harga yang tercantum jelas, jadi ga merasa di boongin pas bayar. Sambil makan mba’santi mengambil laptop-nya dimobil sehingga kita bisa langsung share foto2 kita tadi, dan ternyata pas di cek, WiFi nya lumayan juga looo, dan di warung ini juga kita bisa numpang caz (kamera, HP atau laptop)…mantep kaan.
Ngobrol2 di warung mang paling enak, kenapa???karena bisa menghasilkan ide2 gila yang ga terbayangkan sebelumnya. Buktinya adalah, gara2 ngobrol rencana perjalanan berikutnya dari tim Jogja yang mo ke Paris (Pantai Parang Tritis) jadilah gw ngikut ma mereka hingga ke jogja, padahal ga bawa persiapan apapun…Cuma charger kamera…edaan….
Skitar jam 3 kita harus melanjutkan perjalanan, dan dengan gembira gw pindah mobil ikut tim jogja. Duduk di belakang bertiga ma Ali dan Luluk, perjalanan Borobudur – Paris bener2 bikin keram pipi…ketawaaaa….terus, dan luluk terus2an jadi korban kita, karena dia rencana mo bobo di mobil (salah besar tuh bobo di perjalanan bareng ma gw) alhasil perjalanan 1,5 jam dilalui tanpa terasa.
Tiket masuk kawasan Paris Rp. 3.000/orang dan Rp. 4.000 untuk kendaraan, dan dibayarkan saat memasuki kawasan. Setibanya kita di Paris, ternyata dah sepi. Bagus juga siy, jadi ga keramean dan kita bisa puas di pantai. Tapi sayangnya langit berawan, sehingga ga bakalan dapat sunset.
Penamaan Parangtritis memiliki kesejarahan tersendiri. Konon, seseorang bernama Dipokusumo yang merupakan pelarian dari Kerajaan Majapahit datang ke daerah ini beratus-ratus tahun lalu untuk melakukan semedi. Ketika melihat tetesan-tetesan air yang mengalir dari celah batu karang, ia pun menamai daerah ini menjadi parangtritis, dari kata parang (=batu) dan tumaritis (=tetesan air). Pantai yang terletak di daerah itu pun akhirnya dinamai serupa.
Pantai Parangtritis merupakan pantai yang penuh mitos, diyakini merupakan perwujudan dari kesatuan trimurti yang terdiri dari Gunung Merapi, Kraton Yogyakarta dan Parangtritis. Pantai ini juga diyakini sebagai tempat bertemunya Panembahan Senopati dengan Sunan Kalijaga sesaat setelah selesai menjalani pertapaan. Dalam pertemuan itu, Senopati diingatkan agar tetap rendah hati sebagai penguasa meskipun memiliki kesaktian.
Disarankan untuk tidak mengenakan baju berwarna hijau untuk menghormati penduduk setempat yang percaya bahwa baju hijau bisa membawa petaka.
Aktifitas kita di Paris lebih didominasi dengan berfoto2, segala gaya di kerahkan dan beruntung anton rela untuk jadi tukang poto untuk pose2 gila kita, mulai dari pose2 standar, hingga yang loncat2an ala terbang (beruntung ga terjadi gempa local pas motoin gw n shasya yang lagi loncat….hahahahaha)
Menjelang sunset yang tak terlihat, kita menuju Jogja, perjalanan sekitar 1 jam, dan karena mamanya shasya mo nyari batik, jadi kita mampir dulu di daerah Jl. Notosuman (kalo ga salah yaaa….) deket alun2 utara, disana ada beberapa toko butik batik, dan kita menuju salah satunya yang bernama ‘Rumah Batik’.
Usai nunggu shasya n mamanya blanja batik, kita lanjut makan, dan anton menyarankan untuk makan ‘Bakmi Kadin’….sip2, sepertinya enak tuh. Bakmi Kadin cukup kondang di jogja, mi goreng atau mi rebusnya dimasak dengan arang, jadi kalo dah mesen n pengunjungnya rada rame, harap bersabar aja y….serunya di bakmi kadin ada live music dan boleh request lagu apapun, mo keroncong, pop, lagu2 jadul, semua bisa di nyanyikan, bahkan kalo mo ikutan nyanyi juga boleh kog, tapi harap sadar diri ya, jangan sampe bikin pengunjung mual n bubar..^_^
Malam ini jogja diguyur hujan yang lumayan deras, menurut anton, jarang2 jogja hujan di malam minggu, dan saat hujan turun dengan derasnya di bakmi kadin, jadi berisik banget, karena atap sengnya ribut terhantam derasnya hujan, dan live musicnya pun kudu berhenti berdendang, karena mereka berada di trotoar, jadi terkena ‘cipratan air hujan.
Perut dah kenyang dan hati gembira, itulah akhir dari perjalanan hari ini, dan selanjutnya adalah mandi dan bobo. Beruntung Luluk berbaik bati mengijinkan gw nginep di rumahnya, dan kebetulan dia lagi sendiri pula. Setelah mengantar shasya dan mamanya ke hotel di sosrowijayan, kitapun menuju ke rumah luluk di daerah Gd. Kuning (bener ga yaa???). Dengan berbekal sebuah kaos bergambar ‘semar’ yang baru dibeli dari Anton, malam ini bisa berganti baju dan sebuah celana tidur pinjeman dari luluk (beruntung celananya muat….secara gw kan besar…heheehhe). Nginep di jogja ga modal jadi begini. Mandi di rumah lulu dengan handuk pinjeman, di kasi sikat gigi baru dan pake sabun, odol punya luluk (makasi ya luk) dan malam ini sebelum bobo kita masih aja nyempetin ngobrol2 hingga akhirnya tewas…..zzzzz

Jogja, Minggu 6 Desember 2009
Duuuh….malees banget bangun pagi ini, dan dengan bermalas2 baru bangkit dari tempat tidur jam ½ 8, dan berburu sarapan di deket rumah luluk, ada ibu2 penjual beranekan jenis makanan sarapan…nyamnyam…ada risol, martabak telor,tahu isi, kue sus, bolu kukus, brownies, dan makanan enak lainnya, juga ada susu kedelai….bener2 bikin bingung apa yang mo dibeli. Sempat terbengong2 dulu, hingga akhirnya menentukan beberapa pilihan makanan untuk dibawa pulang.
Pagi ini beneran bermalas2an ma luluk, sambil sarapan kita masih ngobrol aja (dasr perempuan, ngobrol aja, ….hehhehehee) padahal kita dah janji lagi ma yang lain, sekitar jam 11 di malioboro, hingga akhirnya ali sms, menanyakan keadaan kita. Baru jam ½ 10 vi mandi dan usai mandi pun masih ngobrol sambil nunggu kedatangan ali,yang mo ngjemput.
Jam 11 Ali dah nongol di muka rumahnya Luluk, dan kitapun kembali kumpul untuk ngobrol2, sambil upload foto2 kmaren. Hingga akhirnya skitar ½ 12 shasya sms ali, barulah kita beranjak berangkat. Luluk dan anton ga ikut ke malioboro hari ini, mereka dah ada acara lain.
Mendarat di hotel, ternyata Shasya dan mamanya dah siap, tanpa berlama-lama kita meninggalkan hotel. Pas ngobrolin foto2 kmaren, ternyata mamanya shasya mo liat foto2nya dulu, jadilah cari warnet, dan vi lebih memilih untuk nyari Koran hari ini, seperti biasanya Koran hari minggu pagi , lumayan padat berisi, jadi kudu baca.
Nyari tukang Koran di malioboro rada susah juga, setelah tanya2 ternyata ada satu penjual di depan pintu hotel Inna Garuda, dan segera setalah mendapatkan Koran hari minggu, cari tempat yang nyaman dan rindang, ada banyak banget tempat duduk santai2 di pedestrian jalan malioboro, jadi bisa pilih tempat yang paling nyaman dan mulai ritual baca Koran…
Ga terasa dah lebih ½ jam baca Koran, ada sms dari ali, kalo mereka dah selesai diwarnet n menuju malioboro, mo jalan2 santai menikmati dagangan yang di gelar di sepanjang pelataran, sambil iseng2 liat2 n nawar2, padahal ga da juga yang di beli, nyenengin diri aja hehehehe.^^
Di ujung jalan malioboro berdiri sebuah pasar yang cukup tenar di seantero jagad dengan dagangan batiknya, yaitu pasar Beringharjo….yaaa…pas
ar yang isinya macam2 batik, harus menyiapkan mental dan ilmu negosiasi tinggi disini, palagi ga bisa bahasa jawa macam gw, heehehehee…
Pasar yang terkenal lengkap ini awalnya merupakan hutan beringin, dan seiring dengan di bangunnya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada 1758, wilayah pasar ini sering dijadikan tempat transaksi ekonomi. Baru pada tahun 1925 dibangun dan diberi nama ‘Beringharjo’ oleh Hamengku Buwono IX, yang memiliki arti ‘wilayah yang semula pohon beringin (bering) dan diharapkan dapat memberikan kesejahteraan (harjo).
Pasar yang lumayan padat di hari minggu siang ini, dengan pedagang yang tersebar di banyak los2, ternyata langka juga menjual ‘baju’ ukuran gw *legaaa* jadi ga ada alasan untuk belanja…hahahahaha dan beruntung ga terlalu lama disini, karena shasya mo liat ‘toko mirota’ yang terletak di sebrang Beringharjo. Toko MIrota ini merupakan toko serba ada khususnya souvernir khas jogja, ada beraneka batik, pernik2, bahkan makanan kecil.
Setelah berpuas diri dengan batik, ternyata kaki pegel juga ya, dan sepertinya mamanya shasya dah kecapean, jadi kita naik delman aja kembali ke sosrowijayan. Menikmati perjalanan dari andong mang beda, asik benget dan karena jaraknya ga jauh, sebentar aja kita dah nyampe, tapi sebelum kembali ke penginapan kita makan dulu di malioboro. Ada banyak pilihan makanan di pelataran malioboro, tapi demi amannya pilih warung yang memperlihatkan menu serta harganya. Pilihan makan siang ini adalah ayam bakar serta nasi, karena sore ni harus kembali ke semarang, jadi biar ga kelaparan…heheheeh…
Walaupun shasya itu lahir dan besar di Singapore, tapi nasionalisme tetep lo, terbukti dari kosmetik yang dia pake, yaitu ‘sari ayu’….hehehehe, dan mumpung lagi di Indonesia, maka diapun berminat untuk hunting satu set perawatan wajah ‘sari ayu’ karena menurut info darinya, kalo di Singapore harga untuk tiap productnya mahal bener…walah…dan karena waktu dah menunjukkan hampir pukul 4, jadi gw ma shasya kudu bergegas ni nyari…pertama kali kita coba cari di mall malioboro, tapi ga ada, dan menurut mba’ SPG, counter sari ayu ada di Ramai dept.store. Satu hal yang harus di perhatikan saat orang jogja memberikan navigasi adalah perhatikan caranya menunjukkan jalan, karena semua tempat akan di bilang dekat …. Padahal …. Setelah mencari2 di sepanjang malioboro, toko tersebut terletak nyaris deket ma pasar Beringharjo..phhiieeeww…kudu bergegas balik ke penginapan, karena Ali dah ngingetin bahwa dah jam 4.15, padahal kan gw kudu ngejar kendaraan yang jam 5 menuju Semarang, gawats…
Setibanya kita di penginapan, mamanya shasya malah nyuruh nginep aja bareng ma mereka n pulang ke semarang besok pagi…waadduuh, yang kaya gini yang bikin iman goyah, tapi gw kudu keukeuh, sore ini juga pulang ke Semarang, dengan di antar Ali, kita menuju jalan Magelang, disana ada counter Cipaganti, sempat mampir tanya2, ternyata baru aja jalan mobilnya dan kudu nunggu lebih dari 1 jam lagi untuk mobil berikutnya, dan saat mo ke ‘Joglosemar, bisnya berangkat tepat saat kita nyampe, aaahhh….akhirnya vi dianter ke terminal dan naik bis ‘Nusantara’ yang jam keberangkatannya jam 17.45.
Sebenernya rada ragu juga naik bis ini, karena berakhir di terminal Terboyo Semarang. Masalahnya adalah, gw ga tau di sebelah mananya Semarang terminal tersebut, dan gimana caranya gw pulang ke kost dari terminal itu yaa…..tapi pasrah ajalah, ntar tanya2 aja.
Perjalanan naik Bis Nusantara dilalui dengan mata tetep melek, berusaha untuk bobo ga bisa, karena supirnya kalap, segala kendaraan diterabas tanpa hambatan, dan karena posisi duduk yang sangat strategis alias paling belakang pojok pintu (dah kehabisan tiket, Cuma itu yang tersisa, jadi terpaksa diambil juga) jadi gw bisa menyaksikan adegan kebut2an sang supir sepanjang perjalanan.
Memasuki Semarang di Banyumanik, sempat kepikiran juga untuk nekat turun disitu n nanya2 untuk nyambung ke daerah yang gw kenal (beginilah kalo orang baru tinggal di Semarang, tapi sok tau) tapi karena gw tanya2 ma si kondektur bahwa gw mo ke simpang 5 (buat gw ini adalah kawasan teraman yang harus dituju, karena ada angkot yang menuju kost dari sini) dia bersikeukeuh menahan gw supaya turun di kaligawe aja, lebih mudah nyari angkotnya dari sana ke pasar johar…ya udah d, gw pasrah aja, menuruti saran kondektur gw turun di kaligawe, langsung naik angkot yang lagi ngtem di pinggir jalan dengan tujuan Ps. Johar.
Secara ini adalah kawasan baru buat gw, jadi bener2 waspada dan memperhatikan jalan2 yang dilalui oleh angkot, dan tiba2 dengan surprisenya angkotnya muncul di depan Gereja Bleduk yang ternyata cantik banget saat malam hari, dan mendarat di depan kantor pos depan jembatan mberok. Beruntung disana ada angkot yang jurusan sampangan, jadi langsung pindah angkot dan berasa lega banget dah diangkot yang menuju ke kost, berarti gw bisa pulang dengan selamat…amin…
Sesampainya di kost, langsung hujan lebat melanda Semarang. Alhamdulillah dah tiba di kost dengan selamat, walau baru berasa bahwa badan ternyata peugeul2 dan berasa luluh lantah. Masih terbanyang kegilaan yang baru aja terjadi dan senangnya dapat teman2 baru.
-vi-

Iklan

2 pemikiran pada “I must be dreaming, wiken @ Borobudur-Paris-Malioboro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s