Candi Gedong Songo

Gedong Songo merupakan salah satu komplek candi Hindu yang berlokasi tidak jauh dari kota Semarang, hanya sekitar 1 jam perjalanan, terdapat di dataran tinggi bandungan di ketinggian 900 – 1200 mdl, komplek candi Gedong Songo memiliki pemandangan yang luar biasa cantik banget. Berlatar belakang gunung lawu, sumbing dan merbabu memberikan pemandangan kaki langit yang luar biasa.
Liburan tahun baru islam yang jadi long wiken malah bingung mo ngapain, Karena ga jelas mo kemana, tiba2 aja cheko (temen Oi Semarang dari mas Budi OiCC-Wabi) ngajakin ke candi Gedong Songo di Bandungan, langsung aja semangat….hahahahhaa…. Jadilah kita janjian jam 9 pagi di depan PLN jatingaleh pada suatu hari sabtu yang cerah ceria. ^^
Ternyata di depan PLN jatingaleh ini ada banyak sekali bis lintas kota yang lewat tujuan kota-kota di Jawa Tengah, dan karena gw telat, jadi bis yang langsung menuju candi gedong songo udah lewat, yaitu bus ukuran ¾ tujuan Sumowono sehingga kita harus naik bis yang alternative lainnya. Kita akhirnya naik bis ukuran ¾ tujuan salatiga atau ambarawa, dengan membayar ongkos Rp. 4.000 saja, kita melaju melewati kota ungaran dan turun di pertigaan Bandungan, yaitu lemah abang. Dari sini kita kudu lanjut lagi dengan bis tujuan sumowono untuk langsung turun di pertigaan candi Gedong Songo dengan membayar ongkos Rp. 4.000. Selain naik bis tujuan somowono yang nunggunya rada lama, bisa juga naik angkot warna ijo yang banyak terparkir di pertigaan ini, dengan bayar Rp. 4.000 akan tiba di pasar bandungan dan kudu lanjut lagi naik mobil sejenis L-300 untuk mencapai pertigaan candi Gd. Songo dengan bayar Rp. 2.000.
Dari pertigaan ini, perjalanan masih 3 km lagi, kalo bokek boleh jalan kaki nanjak, tapi sebaiknya naik ojek aja dengan membayar Rp. 10.000 bisa menghemat banyak tenaga hingga tiba tepat di muka pintu masuk Candi Gedong Songo.
Sebelum masuk ke area candi, cheko memutuskan untuk makan dulu, karena katanya perjalanan mengunjungi candi-candi ini lumayan kerjakeras. Dengan memilih salah satu warung yang banyak berjejer di parkiran motor, kita mengisi perut dengan menu seadanya.
Dah yakin perut kenyang dan badan pun dah segar kembali, kita langsung menuju loket penjualan tiket masuk, seharga RP. 7.000 untuk pengunjung local (diatas 5 tahun bayar penuh) dan Rp. 25.000 untuk pengunjung mancanegara. Dan dengan berbekal sebotol minuman segar kita siap tancap gas dengan penuh semangat.
Sesaat memasuki pintu gerbang pemandangan yang terhampar adalah tawaran dari penyewaan kuda tunggang. Ada kandang kuda yang kudanya banyak banget, berasa liat iklan rokok Marlboro Country yang berlatar belakang kuda dan gunung2. Menggoda siy untuk naik kuda menikmati candi-candi, tapi setelah memperhatikan tarif sewa kudanya, ternyata lumayan mahal *hiks*…..untuk mengunjungi candi gedong 1 saja tarifnya Rp. 10.000 itu untuk lokasi yang paling dekat, sementara ada mengunjungi 5 lokasi candi yang lumayan berjauhan dan berundak2 tarifnya Rp. 50.000 untuk keliling seluruh area candi gedong songo…*phhhiiiwwww …lumayan tuh….demi penghematan dan alesan lebih afdol menikmati perjalanan, kita memutuskan untuk jalan kaki ajah…*siap-siap napas dan lutut gempor*
Komplek Candi Gedong Songo Ditemukan kembali oleh Loten pada 1740 dan oleh Rafless pada 1804 diberi nama Gedong Pitoe Karena saat itu baru ditemukan 7 bangungan candi, baru pada 1865 oleh Friederich dan Hoopermans menuliskan tentang Gedong Songo. Candi Hindu yang dibangun pada abad ke-8 ini memiliki kesamaan dengan candi-candi yang terdapat di Dieng. Namun, menurut pengamanat pribadi gw niy, kalo di dieng penamaan candi menggunakan nama tokoh epos Mahabarata (Nakula, Sadewa, Arjuna, dll) nah kalo di gedong songo ini, memang tidak ada nama pada candi-candi, namun ada sesosok patung ‘Hanoman’ yang masih sangat utuh di dalam sebuah hutan pinus *jarang ada yang menemukannya karena tersembunyi dan diluar jalur yang di paving* sehingga mengingatkan pada epos Ramayana, dimana Hanoman merupakan penjaga Dewi Shinta.
Sesuai dengan urutannya, kunjungan pertama adalah komplek Gedong 1, dan perjalanan dari pintu masuk hingga candi beneran ‘pemanasan’ mulai nanjak. Kita beruntung hari ini langit biru banget,jadi bisa berfoto dengan maksimal. Di Gedong 1 ini hanya terdapat 1 bangunan candi, kalo di perhatikan dinding candinya minim relief dan bentuknya pun tidak terlalu utuh, puncak candinya tak ada dan diruang dalamnya kosong. Beberapa sambungan batu tidak membentuk relief yang nyambung, jadi aneh kalo diperhatikan. Tapi sebagai candi pembuka, lumayanlah bikin bersemangat foto.
Setelah yakin puas berfoto dan napas dah teratur kembali kita melanjutkan menuju komplek gedong II. Dari Gedong I tak terlihat letak komplek gedong II, dan perjalanan semakin menanjak, dikelilingi pohon2 pinus dan warung-warung yang menjajakan makanan dan minuman, akhirnya dari balik bukit muncullah gedong II dan Gedong III, jadi kembali bersemangat, padahal jarak masih lumayan jauh. Perlahan tapi pasti menapaki tanjakan-tanjakan yang lumayan bikin pegel, tibalah kita di komplek Gedong II. Di area ini ada 1 candi yang utuh dan di muka candi terdapat reruntuhan, seperti ‘pelataran’ di muka candi. Ukuran candi 2 ini sepertinya lebih besar dibandingkan dengan candi 1.
Karena kompleks gedong 3 terlihat dekat dari candi 2, jadi kita langsung berangkat nanjak menuju gedong 3 yang didalamnya terdapat 3 bangunan candi. 2 berbentuk candi utuh, lengkap dengan patung-patung yang walaupun menjadi korban vandalism tapi setidaknya bangunan candinya sangat lengkap hingga kepuncaknya. Sepertinya ini komplek gedong yang paling lengkap dan utuh. Kita bisa menemukan Ganesha disini dan patung-patung lainnya. Selain kedua candi utuh itu, ada juga 1 bangunan yang seperti peti besar yang berdiri tepat di muka pintu candi yang besar, dan ada juga sekelompok puing2 reruntuhan yang tidak jelas bentuknya.
Untuk menuju komplek gedong 4 dan 5 ternyata dipisahkan oleh jurang yang mengeluarkan uap panas bumi, sehingga dijadikan tempat berendam air panas, tp sebelum menyebrang, cheko menunjukkan tempat ‘rahasia yang rada tersembunyi di luar jalur umum, yaitu tempat patung’Hanoman. Terletak 100 meter nanjak di balik pos menuju hutan pinus. Kalo pengunjung biasa dijamin ga bakalan menemukan si ‘Hanoman ini, karena hanya berupa ‘Hanoman seorang diri dan berlumut, jadi terkamuflase dengan pohon-pohon pinus . Dari Lokasi Patung Hanoman di tengah hutan pinus ini kita bisa memandang seluruh area candi, seakan-akan Hanoman ini mengawasi area ini, dan kalo mengikuti arah pandangan mata Hanoman, kita akan melihat komplek Gedong 4 yang terletak di seberang jurang.
Sebelum mencapai komplek Gedong 4, kita harus menuruni jurang yang terdapat ‘kawah condrodimuko. Jangan kaget dengan sebutan kawah, karena bentuknya bukan seperti kawah galunggung atau tangkuban perahu yang luas. Kawah disini hanya berupa celah patahan bukit yang mengeluarkan uap panas dan ada semburan air panas kecil di celahnya. Di tempat ini juga menyediakan tempat rendam air panas, dengan tempat yagn lumayan nyaman. Sempat juga kita melongok2 di celahan itu, tapi karena suara yang seperti ‘peluit bising sekali dan ‘bau belerang yang pekat, jadi malas untuk berlama-lama, jadi kita lanjut untuk kembali menanjak menuju komplek Gedong 4.
Gedong 4 terdapat 4 candi dan 2 onggok puing2 reruntuhan candi. 2 candi terdapat agak terpisah, 1 utuh dengan ukuran kecil dan 1 lainnya berupa ¼ bangunan berdiri bersisian. Dari candi ini bisa didapatkan foto candi dengan latar belakang undakan gunung-gunung, cantik banget. Kembali ke komplek utama gedong 4, bila diperhatikan candi disini merupakan candi terbesar dari seluruh candi yang ada, dan diantara candi besar ini terdapat beberapa onggokan puing2 reruntuhan dan sebuah candi yang tidak lengkap. Bila p
engambilan fotonya tepat, dari candi 4 ini bisa didapat foto candi utuh dengan latar belakang komplek gedong 3 di belakangnya….
Tujuan terakhir kita adalah komplek gedong 5, yang merupakan candi ke 8 dan 9 dan ini adalah tanjakan terakhir yang harus kita lalui…phhiieeww….tibalah kita di candi ke -9 (katanya yaaa….coba aja itung sendiri d, ada berapa jumlah candi yang sebenarnya). Di area ini terdapat 1 bangunan candi utuh, 1 bangunan ¼ utuh dan seonggok puing2 di muka pintu candi. Di area candi ini kita beristirahat cukup lama, dan pemandangan yang terhampar juga luar biasa. Kita memilih untuk memandang gunung ungaran yang berdiri sangar melatar belakangan candi-candi.
Puas beristirahat, saatnya untuk turun gunung….dan ternyata tidak melalui jalan yang sama, jalannya langsung menurun dan tiba di dekat kandang kuda. Karena tidak menumukan tempat yang nyaman untuk bersantai2, kita memutuskan untuk langsung saja keluar dari area candi. Jalan keluar di buat agak memutar, sehingga tiba di sekumpulan warung2 menajajakan makanan dan oleh-oleh. Kalo di perhatikan ternyata banyak yang menjajakan ‘sate kelinci’, pantesan aja beberapa kali menemukan beberapa ekor kelinci yang bebas makan di rerumputan, ternyata kelinci2 itu korban berikutnya…hiks.
Perjalanan pulang kita kembali ke Bandungan, tapi kali ini niat mo liat pasar bandungan yang berasa di bogor, sepanjang jalan berjejer warung-warung yang menjajakan buah-buahan segar menggoda, dan ternyata salah satu buah khas dibandungan adalah ‘klengkeng’ dan ada banyak juga manggis ‘sllurrpp’…salak, nangka yang sudah dikupas, pisang, ubi jalar yang isinya ungu, hingga delima pokoknya meyenangkan berjalan di sepanjang jalan ini….bikin ‘lapar mata’ dengan buah2an yang dijajakan.
Puas, pegel, dan haripun semakin sore. Hari ini menjadi luarbiasa, secara tak terencana. Perjalanan pulang lebih santai karena bisnya lewat depan RS.kariadi yang deket ke kos, jadi bisa cepat sampe untuk istirahat.

Iklan

6 pemikiran pada “Candi Gedong Songo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s