Kota para Wali – Kudus

Hari sabtu yang agak mendung ini (beruntung ga ujan) gw janjian ma beberapa temen2 yang baru gw di kenal di komunitas CouchSurfing (CS), komunitas traveling yang mendunia, yang menurut gw siy cukup ramah, karena mampu mengenalkan travelmate yang menyenangkan di manapun kita berada di seluruh belahan dunia ini, tanpa pernah bertemu secera fisik sebelumnya. Sebenarnya siy gw juga baru gabung di komunitas ini, walau dah kenal dari lama, Cuma baru gabung, karena perlu punya teman baru di kota yang akan menjadi bagian dari hidup gw beberapa saat kedepan, dan karena komunitas ini adalah komunitas traveler, jadi sepertinya cocok ni ma gw (berharap)…
Hari sabtu ini di forum CS Semarang ada yang berencana mo main ke pantai di Jepara,yang memang dikenal dengan pantainya yang bagus. Karena gw adalah orang yang selalu bersemangat untuk di ajak plesiran, maka saat ada tawaran untuk melongok ke kota yang tak terlalu jauh dari Semarang, sepertinya seru juga niy, dan gw pun join ma mereka yang berencana jalan tersebut. Awalya ada 3 orang yang mencetuskan untuk plesiran iseng2 ini, ditambah gw dan seorang cewe cantik lainnya, jadi kita berlima akan melakukan perjalanan seru ini. Oiya kita adalah Elvi, Dewi, Danang, Lukas dan Sony.
Pagi ini kita janjian jam 7-an di pos polisi depan Terminal Terboyo, dan ini akan jadi kali pertama gw menjejakkan kaki di terminal Terboyo. Berangkat jam ½ 7 dari Kos, dan beruntung karena dari depan RS. Kariadi ada bis kota yang langsung dengan tujuan terminal, jadi ga terlalu ribet d. setibanya gw di terminal, gw telp Danang (semalem dia dah sms bahwa rencana ke Jepara jadi, ternyata ada sediki bad habit di sini, sering batal di ‘last minutes’…hal yang paling gw benci) bahwa gw dah nyampe, dan ternyata dia masih di perjalanan. Jadi dari pada bengong, iseng nyari tempat duduk yang lumayan ‘aman’ dan beli Koran. Ga berapa lama, Danang dan Lukman menghampiri (setelah telp konfirmasi dimana keberadaan gw, dan meyakinkan bahwa gw orang yang tepat, secara kita ga pernah ketemu secara fisik sebelumnya, Cuma melalui forum CS aja) dan kitapun langsung kenalan. Ada 2 orang lagi niy yang belum ketemu, dan mereka berada di seberang RS. Sultan Agung, jadi yang dimaksud dengan pos polisi di depan terminal itu adalah di sebrang RS. Sultan aAgung, secara terminalnya berada persis di belakang RS. Setelah kita berlima berkumpul, sedikit ngobrol2 dan iseng gw nyeletuk aja, ‘kita nanti nglewatin Demak dan Kudus ga??boleh mampir ke sana dulu ga, secara masih kepagian juga kalo sekarang langsung main di pantai’, yang langsung semangat nyautin adalah Dewi, dan yang lainnya Cuma ‘liat aja nanti’. Tak berlama2 kita langsung ni mo nyari bis (ternyata gada yang tau juga mo naik bis apa), jadi kita nunggu di pinggir jalan, yang diyakini oleh mereka (sebagai para warga Semarang asli) sebagai jalan keluar bis dari terminal. Nunggu tanpa kejelasan, akhirnya seorang kondektur angkot nanya kita mau kemana, dan setelah ngobrol ma si kondektur, barulah kita tau, kalo bis arah TImur ga keluar melalui jalan itu, tapi lewat jalan belakang yang nantinya tembus di sisi yagn lebih timur dari jalan itu….walhasil akhirnya kita kembali menuju ke dalam terminal, dan menemukan sekumpulan bis yang lagi nunggu muatan. Ada beberapa tujuan kota, dan masih pada dilemma mo kemana, jadi gw keukeuh maksa untuk mampir ke kudus dulu, mumpung ada bis AC tujuan ke kota Kudus, dibanding bis ke Jepara. Akhirnya setelah tanya2 ongkos bisnya, kita naik ke dalam bus AC ekonomi yang akan lewat Kudus. Horreeee pagi ini kita akan ke Kudus dulu, dengan tarif Rp. 6.000. Menjelang keberangkatan bis mencapai jalan raya, kita dah di cegat beberapa pengamen yagn rada ‘maksa’ dan itu lumayan ngabisin recehan di dompet (sial ni…). Perjalanan Semarang – Kudus sekitar 1,5 jam dan melewati Demak, sayang kita ga bisa mampir disini (padahal mo liat masjid Agung Demak yang masyur itu).
Kota kudus terletak 51 km timur kota semarang. Disebut juga Kota para Wali, karena 2 dari 9 wali (wali songo) berasal dari Kudus. Selain disebut kota para wali, kota kudus juga terkenal dengan sebutan kota ‘kretek’, karena kota kudus merupakan penghasil rokok ‘kretek’ terbesar di Indonesia, terbukti dari aroma ‘kretek’ yang kental sempat tercium saat kita berjalan2 di kota Kudus.
Sejarah Kota Kudus tidak terlepas dari Sunan Kudus hal ini di tunjukan oleh Skrip yang terdapat pada Mihrab di Masjid Al-Aqsa Kudus ( Masjid Menara), di ketahui bahwa bangunan masjid tersebut didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Mengenai asal usul nama Kudus menurut dongeng / legenda yang hidup dikalangan masyarakat setempat ialah, bahwa dahulu Sunan Kudus pernah pergi naik haji sambil menuntut ilmu di Tanah Arab, kemudian beliau pun mengajar pula di sana. Pada suatu masa, di Tanah Arab konon berjangkit suatu wabah penyakit yang membahayakan, penyakit tersebut menjadi reda berkat jasa Sunan Kudus. Olek karena itu, seorang amir di sana berkenan untuk memberikan suatu hadiah kepada beliau, akan tetapi beliau menolak, hanya sebagai kenang-kenangan beliau meminta sebuah batu. Batu tersebut menurut sang amir berasal dari kota Baitul Makdis atau Jeruzalem (Al Quds), maka sebagai peringatan kepada kota dimana Ja’far Sodiq (Sunan Kudus) hidup serta bertempal tinggal, kemudian diberikan nama Kudus. (dikutip dari kudus.multiply.com).
Setibanya di terminal luar kota Kudus, kita langsung di cegat beberapa kondektur angkot. Beruntung Dewi punya teman di kota ini,jadi dia telp dulu untuk nanya ancer2 tujuan perjalanan kita. Jujur kita ga punya plan apa2 di Kota ini, dan gw Cuma mo liat ‘Menara Kudus’ yang fenomenal itu, yang merupakan peninggalan para Wali SOngo. setelah dapat ‘pencerahan’ dari Ibu Mili temennya Dewi, kita menuju tempat yang bernama ‘dept.store Matahari’ (hahahaa….kayanya bersinar di mana2 ni dept.store) agar bisa meneruskan naik angkot menuju Menara Kudus. Dari terminal luar kota kita naik angkot, Dengan membayar ongkos sebesar Rp. 3.000/orang kita turun persis di depan tangga escalator naik menuju Dept.Store, tapi kita ga masuk, karena ada beberapa security dan mas2, jadi kita bisa langsung nanya kalo mo ke menara gimana caranya. Ada seorang mas2 yang ‘sangat’ membantu memberi petunjuk jalan, tapi karena dah lapar jadi kita memutuskan untuk makan dulu sebelum ke menara kudus.berdasarkan info dari Dewi , di kudus terkenal dengan ‘soto kerbau’ jadi kita kudu cari tuh makanan yang enak. Menurut rekomendasi si ‘mas2’ tersebut, ada sebuah warung soto yang enak di pasar, tak jauh dari situ, maka dengan petunjuk darinya, kita langsung menuju sasaran, tapi apa daya, yang ada kita kebingungan di tengah pasar tanpa menemukan warung soto kerbau, akhirnya kita Tanya ma orang2 dipasar. Mereka merekomendasikan warung soto di seberang SPBU, dan berbondong-bondonglah kembali kita keluar pasar.
Sewaktu jalan keluar pasar, gw melihat ada sebuah menara air yang ga terlalu tinggi, dan waktu gw Tanya ke temen2, ‘mau coba naik ke menara itu ga?, ternyata mereka juga ga keberatan. Dengan menumpang lewat pada pedagang buah yang tepat berada di tangga naik yang sempit, kita menaiki menara air yang sangat tidak terawat itu. Dari atas menara air ternyata Cuma terlihat pemandangan pasar dan sedikit pemandangan di sekitarnya, tapi kita bisa liat warung soto kerbau yang ada di seberang SPBU hehehee…secara kita dah berada diatas, maka tak lupa pula kita untuk mendokumentasikan diri…kegiatan dokumentasi merupakan agenda wajib dari perjalanan ini…heheheee….
Atas dorongan rasa lapar, maka kita tak menunda waktu untuk segera menuju warung soto Kerbau. Di kota Kudus, kita ga akan menemukan makanan yang berbahan dasar sapi, karena menurut kabarkaburnya, sapi di sucikan di kota ini, dampak dari kuatnya pengaruh Hindu di daerah ini pada masa Pra-islam. Soto kerbau yang k
ita coba lumayan enak, jadi berasa ga rugi d, walau Cuma warung di tepi jalan. Sewaktu makan soto kerbau ini, Lukman nyomot ‘otak goreng’ yang sempat gw kira ‘perkedel’ dan penasaran juga mo nyoba ni, jadi gw juga ngambil sebuah ‘otak goreng’. Secara ini merupakan makanan baru buat gw (beda ma gulai otak ala minang yang lezat itu), di gigitan pertama gw berusaha untuk mengenali rasanya (doyan atau ga ni yaaa….) dan tanpa gw sadari ternyata temen2 pada merhatiin ekspresi di muka gw yang terlihat berusaha keras menemukan rasa dari ‘otak goreng’ tersebut, dan saat gw dah ‘back to earth’ yang gw liat ke-4 temen baru gw ini lagi bengong ngliatin gw dan pertanyaan yang keluar adalah ‘gimana’??…hehehe….dengan muka yang terkaget nyaris keselekan gw Cuma bilang, ‘hhmmm ga da rasa khas-nya yaaa’…jadi lanjut aja semua makan lagi, gw perhatiin cara Lukas dan Danang makan ‘otak goreng’, ternyata di ceburin dalam kuah soto, ikutan nyobain ‘otak’ di ceburin dalam kuah soto, dan ternyata…hhmmm…’enak’ ya, rasanya jadi ‘ngangkat banget’. Seporsi soto Kerbau + nasi Rp. 6.000, otak goreng Rp. 2.000 dan es the manis serta kerupuk kulit/rambak, jadi total gw harus gw bayar adalah Rp. 12.500
Perut kenyang maka semangatpun bangkit kembali dan kita lanjut untuk eksplorasi kota Kudus. Sewaktu kita mulai jalan, menemukan sebuah ‘tunggul’ penunjuk jarak kota di pinggir jalan, jadilah ‘tunggul’ tersebut jadi korban buat kita berfoto2. Kebetulan di belakang tunggul tersebut kita menemukan ‘klenteng’ yang sepertinya cantik untuk berfoto2. Klentengnya bernama ‘Hok Tien Bio’ terletak di pojokan jalan perempatan depan menara Identitas Kota Kudus. Dengan permisi pada seorang bapak2 yang terlihat sedang membakar di tungku HIO besar, masing2 dari kita mulai mengeksplore tiap sudut klenteng.
Puas berfoto dengan berbagai gaya edan dan narsis, kita lanjut ke sebuah tugu besar tepat di seberang Klenteng. Namanya Tugu Identitas Kudus. Tugu identitas kota Kudus ini dibuat mirip dengan bentuk Menara Kudus,hanya lebih tinggi . Untuk bisa masuk kedalamnya dikenakan biaya tiket Rp. 2.000/orang dan kita boleh naik hingga ke puncak Tugu.. Asik…jadi semangat niy… dari tugu setinggi 27 meter ini kita bisa menikmati pemandangan seluruh kota Kudus hingga ke Gunung Muria yang terlihat membiru dikejauhan sana.
Di puncak menara ini ternyata space yang tersedia lumayan sempit, jadi kita agak ‘berjejalan melipir dengan ‘tralis pengaman’. Enak banget menikmati pemandangan dari atas sini, dan angin yang berembus pun sejuk, bikin betah berlama-lama, walau tempatnya ga terlalu nyaman untuk duduk2 bareng.
Tujuan berikutnya yang akan kita kunjungi adalah ‘Masjid Menara Kudus’. Dengan menggunakan angkot warna ‘ungu’ dari depan Menara Identitas Kudus,dan membayar ongkos Rp. 3.000/orang, kita tiba di daerah Kauman, di depan jalan Menara.
Memasuki kawasan Masjid Menara Kudus yang terletak di desa Kauman, kecamatan Kota, kabupaten Kudus akan menemukan kawasan ‘kota lama’ yang masih meninggalkan sisa kecantikan bangunan, yang sayangnya dalam kondisi sangat memprihatinkan. Dari ujung jalan menara, Masjid Menara Kudus belum terlihat, karena terhalang bangunan-bangunan lainnya, tapi ada petunjuk jalan yang sangat membantu.setalah memasuki jalan kecil itulah baru terlihat Masjid Menara Kudus yang saat itu ramai oleh warga yang baru saja usai shalat Dzuhur.
Masjid yang didirikan pada tahun 956 Hijriah atau 1549 Masehi ini bernama Masjid Al-Aqsa yang kemudian sekarang lebih di kenal dengan nama Menara Kudus. Nama Al-aqsa merupakan nama yang di berikan oleh pendirinya yaitu Ja‘far Sodiq, atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Kudus. Dimana nama Al-Aqsa di pilih oleh sunan kudus karena pada peletakan batu pertamanya di gunakan batu yang di peroleh dari Baitul Maqdis di Palestina.
Menara Kudus yang berdiri di tengah komplek masjid ini, mendominasi pemandangan di komplek masjid ini, memiliki bentuk bangunan khas candi di jawa Timur, dengan gapura khas Bali (pengaruh budaya jawa-Hindu yang kental) terbuat dari bata merah yang dipasang tanpa perekat semen, hanya di gosok-gosok saja hingga lengket. Ciri arsitektur jawa tradisional muncul juga pada menara ini, yaitu suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menompang dua tumpuk atap tajuk. Bila lebih diperhatikan lagi bagian puncak atap tajuk, terdapat semacam mustoko (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu. (dikutip dari http://www.kudusterkini.com) di dinding menara juga menempel beberapa piring keramik yang sepertinya berasal di negeri China. Jadi Menara ini bener2 complete, perpaduan Hindu, jawa tradisional dan china.
Selain masjid Agung dan menaranya, di komplek masjid ini juga terdapat komplek makam Sunan Kudus, yang ramai oleh para peziarah. Khususnya pada bulan ramadhan dan muharram, karena ada ritual penggantian ‘selubung kelambu’ makam, yang akan menjadi ‘rebutan’ para umat yang percaya bahwa akan membawa keberuntungan.
Kerena sudah di ‘tanahnya’ Sunan Kudus, ga da salahnya untuk sedikit mengenal salah satu Wali Songo ini. Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Jaffar Shadiq. Dia adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung, adalah panglima perang Kesultanan Demak Bintoro dan Syarifah adik dari Sunan Bonang. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550. Sunan Kudus pernah menjabat sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, dan dalam masa pemerintahan Sunan Prawoto dia menjadi penasihat bagi Arya Penangsang. Selain sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, Sunan Kudus juga menjabat sebagai hakim pengadilan bagi Kesultanan Demak. (dikutip dari http://www.wikipedia.com) ada juga cerita menarik lainnya mengenai sunan kudus dalam bentuk ‘dongeng’, bisa lihat di link ini yaa.. http://www.dongengkakrico.com/index.php?option=com_content&view=article&id=391:sunan-kudus-raden-jakfar-sodiq&catid=58:kumpulan-kisah-wali-songo&Itemid=91
Di komplek masjid ini gw menyempatkan untuk shalat dzuhur dan sekaligus menjamak shalat ashar. Karena bingung dengan komplek masjid, jadi gw shalat di sebuah pendopo di area dalam yang menuju komplek pemakaman Sunan Kudus. Usai shalat, gw juga ziarah ke makam Sunan Kudus. Komplek pemakaman ini rapi sekali. Di bagian depan terdapat makam para pangeran, makin kedalam, semakin tinggi jabatannya, dan pusatnya adalah makam Sunan Kudus. Makam sunan kudus diselubungi kelambu berwarna putih dan terletak di dalam pendopo. Para peziarah cukup nyaman untuk berdoa, yasinan, atau wirid di atas lantai yang bersih, walau di sekelilingnya penuh dengan makam2 lainnya. Saat ini makam tidak terlalu ramai, mungkin karena hari sabtu, tapi ada beberapa kelompok pengajian ibu2 yang terlihat berdoa dan wirid yang di imami oleh perwakilan dari pihak masjid Sunan Kudus. Gw sempatkan untuk ikut kelompok ibu2 itu ber-syalawat dan dzikir, dan ga lama Dewi pun nyusul, dan ikut di sebelah gw.
Setelah shalat dan dilengkapi dengan ‘retouch dandanan muka’ kita kembali melanjutkan perjalanan. Rencana awal kita ke Jepara sudah pupus, maka berdasarkan saran dari bu Mili, temennya Dewi, kita bergerak menuju Colo untuk menikmati air terjun Monthel.
Dari kompleks masjid menara kudus menuju colo, harus menggunakan angkot jurusan Colo yang berwarna kuning strip coklat, dan angkot itu tidak lewat di dekat kompleks menara kudus. Kita kudu jalan sekitar 1 kilometer untuk mencapai perempatan yang di lalui angkot kuning tersebut. Di perjalanan sepanjang 1 kilometer tersebut, kita mampir ke Alfamart, ternyata para pria ini mo blanja ‘face massage’ yang hanya di jual di Alfamart, gw n Dewi yang cewe Cuma bisa terbengong2 menyaksikan cowo2 itu kegirangan beli ‘product’ yang di kotaknya bergambar ‘perempuan tersenyum’ tersebut.
Setibanya di per4an langsung ada sebuah angkot kuning, ketika di Tanya ternyata benar tujuan ‘Colo’, jadi kita langsung naik aja. Perjalanan menuju colo ternyata adalah bukit yang kita lihat dari atas tugu menara identitas Kota Kudus, sehingga perjalanan seki
tar 45 menit tersebut di dominasi tanjakan dan semakin keatas pemandangan kota Kudus makin nyata dan cantik. Tujuan akhir dari ankot ini adalah pintu depan tempat peziarahan Sunan Muria yang merupakan salah satu dari Wali Songo, sehingga karena sudah mentok tujuan angkotnya, jadi kita pun turun dari angkot, dengan membayar Rp. 8.000/orang dan kitapun langsung di serbu para ojek yang menawarkan jasa menuju tempat tujuan wisata kita (makam sunan Muria atau air terjun Monthel). Sewaktu kita Tanya jam akhir angkot, si bapak angkot menawarkan diri untuk menunggu kita, jadi biar sekalian, si bapak menawarkan untuk mengantarkan kita ke lokasi terdekat menuju air terjun (horreeee….baiknya si bapak). Tapi karena lapar telah mendera kita mo makan dulu.
Makanan khas di gunung Muria ini adalah ‘Pecel Pakis dan Ayam kampong bakar’, jadi sewaktu kita melewati sebuah warung dengan tulisan tersebut, langsung aja kita serbu. Si ibu warung menawarkan porsi ‘paket’ untuk kedua makanan tersebut. Dengan Rp. 75rb, tersedia ayam kampong bakar 1 ekor utuh (hati, ampela, kepala dan cekernya pun tak ketinggalan) sepiring pecel pakis, sambel kecap dan ulek, nasi untuk 2 orang serta teh manis (boleh pake es atau hangat) tapi karena kita berlima, jadi kita tinggal tambah 3 porsi nasi + minum saja, seharga Rp. 5rb/porsi. Pecel pakis ini adalah dari pohon pakis yang kalo orang minang biasanya di bikin ‘gulai paku (sebutan pakis di minang) dan dimakan dengan lontong..hhmm…sllrruupp enak banget’. Kalo di sini daun pakisnya Cuma di rebus segar dan di siram kuah kacang, tapi rasanya jadi enak dan segar…perpaduan ayam bakar dan pecel pakis, sepertinya pas banget ni mengisi perut kita yang lapar di siang menjelang sore itu.
Siang itu waktu sudah menunjukkan jam 3 saat kita bersiap untuk menuju air terjun Colo, dan sebelum kita berangkat jalan, si bapak angkot dah wanti2 ‘saya tunggu sampai jam 5 ya, kalo telat saya pulang (waaksss….gawats)…duh, kita jadi punya sedikit waktu saja ni, hayo teman2 kita harus semangat.
Dari tempat parkir angkot, kita langsung dihadapkan dengan jalanan aspal yang menanjak. Permasalahan terbesarnya bukan pada tanjakan, tapi pada motor ojek yang ngebut gila2an, mengantarkan penumpangnya yang berziarah ke makam Sunan Muria. Bener2 ganas tuh ojek, kita aja yang jalannya dah mepet ngeri ngliat mereka kebut2an dan saat kedua arahnya rame sempat ada yang nyaris saling serempet…wiih, ngeri banget d, ga bakalan d gw naik tuh ojek kalo lain kali mo ziarah ke makan Sunan Muria, yang ada nyampe makam, gw di makamin Karena jantungan ‘ketok meja 3 kali toktoktok’, mending gw jalan kaki aja nanjak sampe gempor.
Ga jauh dari angkot kita dah nyampe di pintu gerbang Air terjun Monthel, ada sebuah pos penjaga disana. Dengan membayar tiket seharga Rp. 5rb/orang kita memasuki jalanan setapak yang dah rapi. Kita masih harus jalan sekitar 500m. diawali jalan datar berliku, tangga berturap dan jalan datar lagi tibalah kita di air terjun Monthel. Waah segarnya…..dan beruntungnya kita ternyata sepi pengunjung…horeee…bisa puas kita berfoto-foto dan menikmati air yang segar dari air terjun setinggi 50m ini. Area air terjunnya ga terlalu luas, karena kalah oleh beberapa warung yang berdiri sangat menjorok ke arah sungai dan air terjun, membuat sempit, ga kebayang kalo lagi rame pengunjung pasti sumpek d disini.
Karena kita di tunggu oleh angkot, maka sekitar jam ½ 5 kita harus meninggalkan air terjun cantik ini. Sore ini kita langsung turun menuju terminal luar kota kudus dengan membayar Rp. 10rb/orang. Setibanya di terminal ternyata bis tujuan Semarang dah habis, hanya tersisa satu bisa saja yang non-AC menunggu penumpang di luar terminal. Karena kapok dengan pengalaman bis yang ngetem + pengamen jadi kita nunggu bis yang dari Surabaya aja, dan berdasarkan saran dari orang2 di terminal, kita tunggu di luar terminal yang dilewati bis asal Surabaya. Ga perlu nunggu terlalu lama, bis sudah datang, dan karena sudah rada rame penumpangnya, jadi kita duduk terpisah-pisah. Gw kebagian duduk di posisi rada belakang, di sebelah ibu dan anak kecil, tak apalah, karena baru terasa bahwa badan ternyata pegel, jadi perjalanan menuju Semarang di lewati dengan bobo di bis. Setibanya di Semarang sempat mo makan bareng, tapi karena rute bisnya tidak strategis, akhirnya kita masing2 pulang, dan janjian untuk ngumpul2 lagi nanti.
Ini perjalanan pertama gw bareng ma CS, dan ternyata menarik. Walaupun melenceng dari tujuan semula, tp semuanya fun menikmati perjalanan. Kalo gw kutip dari bukunya ‘trinity – Naked traveller’ it’s not about the destination, it about the journey. So it’s really great to meet and had a fun journey with u guys.

Iklan

3 pemikiran pada “Kota para Wali – Kudus

  1. nte Elvie, cerita jalan2nya bikin sirik nih he he sayang ya jadinya tidak ke Jepara, baru tahu nie kl di Jepara ternyata sapi tidak boleh dimakan, krn pengaruh Hindu, apakah spt Bali, mereka makan b2 jugakah? Wah harusnya spend 1 malam di Kudus terus lanjut ke Jepara tuhhh khan asyikkkk

  2. fjaco said: di Jepara ternyata sapi tidak boleh dimakan

    bukan di Jepara nte, tapi di Kudus yang melarang makan daging sapi, jadi diganti dengan daging kerbau….enak juga kog…hehehee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s