PTD LIttle Nedherlan – Sahabat Museum

Setelah melakukan segala persiapan panjang selama bulan Februari 2010, rembugan bareng mas Agung dan Dicky, survey lokasi, perijinan, koordianasi sana sini, silaturahmi dengan para narasumber dan DP ini itu, akhirnya tiba juga waktunya untuk kita gelar Plesiran Tempo Doeloe : Little Nedherland di Semarang.
Jumat, 26 Februari 2010 merupakan hari pertama PTD Semarang, dari pagi peserta dah kumpul di Gambir untuk berangkat menuju Semarang dengan menggunakan Kereta Argo Muria, tapi karena kali ini vi jadi panitia local yang menyambut peserta di Semarang, jadi pagi ini bisa santai dulu, bangun rada siang, setelah semalam pulang jam 2 pagi. Ceritanya siy smalam mo finalisasi acara ma dicky, tapi apa daya, yang terjadi kita kongkow bareng ma temen2nya dicky ngobrol ngalorngidul di café kopi murah meriah (diskon pula 50% karena baru mo launch)yang caramelchoconya eeennaaak banget Cuma Rp. 9500 (ga kalah ma hot chocolate di Oohlala Jakarta Theater).
Kita para panitia Semarang (Elvi, Dicky, Mas Agung, Uda Indra, mba’ Ana dan si imut Odil) janjian untuk pake kaos item PTD Kla, biar terkesan kompak, hehehe. Secara siang ini panas gila2an, dari kost naik transportasi umum yang nyaman aja, yaitu ‘taksi’ …enak adem. Sesaat taksi berangkat langsung sms Dicky, Mas Agung n uda Indra. Dicky langsung menjawab sigap (kita janjian di wingko babat Kereta Api, karena mo beli penganan kecil untuk peserta) dan mas Agung n Uda Indra memberi jawaban yang sama, ‘baru mo siap2 jalan’. Sesampainya di wingko babat, Dicky dah siap dengan 60 pieces wingko babat, tinggal bayar dan langsung meluncur ke st. Tawang. Pas lewat pintu kereta terdengar suara kereta datang, dan sewaktu kita menoleh melihat kereta apa yang datang, ternyata ‘Argo Muria’….waaahhh gawats niy….keretanya on time bener…terbirit2lah kita masuk ke parkiran st. tawang dan menunggu manis di depan pintu keluar (terkesan dah lama nunggu….hahahahahhaa). Ternyata di pintu keluar sudah ada pak pri yang menunggu, jadi pas bener d.
Karena ini long wiken,jadi penumpang Argo Muria penuh banget…diantara jubelan penumpang itu terlihatlah sekelompok pasukan Sahabat Museum (Batmus) yang dipimpin oleh Adep keluar dari stasiun dan kitapun langsung sigap menyambut, mengarahkan peserta menuju bis. Kedatangan rombongan Batmus di sambut dengan panasnya matahari Semarang, sehingga peserta di naikkan ke dalam bis, untuk kemudian diajak keliling Little Nedheland.
Bus parkir di taman samping Gereja Blenduk, dan beruntung taman ini memiliki banyak pohon, layaknya oase di padang pasir, adem bener. Di sinilah kita membuka acara PTD Little Nadherland di Semarang dan langsung di ambil alih pak Pri sang narasumber yang juga merupakan dosen sejarah Undip. Di mulai dari taman yang adem, tujuan pertama kita adalah Gedung Marabunta. Gedung cantik ini memiliki icon unik yaitu 2 ekor semut merah yang bertengger di atas gedung. Sedikit cerita mengenai Gedung Marabunta; Gedung pertunjukan aslinya dahulu bernama ‘Schouwburg’ terletak persis di sebelah Gedung Marabunta yang baru (saat ini hanya menyisakan puing reruntuhan saja) terletak di jalan komidiestraat merupakan gedung kesenian pada masa jayanya kawasan kota lama, pada awal abad 19. Konon kisahnya, sang spionase ulung ‘Matahari’ saat tinggal di Semarang pun pernah pentas/menari di gedung kesenian ini. Gedung Marabunta yang masih berdiri ini merupakan gedung baru hasil rekonstruksi dan penyelamatan dari Gedung lamanya. Beberapa ornament penting yang berhasil di selamatkan di pasang pada gedung baru ini, seperti langit2/plafon di dalam gedung ini.
Tampak muka gedung kesenian Marabunta memiliki banyak keunikan, yang pertama adalah si semut yang bertengger diatasnya. Kalo di perhatikan tangan si semut menunjuk 1 jari, ada 2 ekor semut berwarna Merah….yang melambangkan partai yang berkuasa pada era kejayaan ‘Presiden Soeharto’ yaitu 1 = PPP, 2 = Golkar dan Merah = PDI (bisa bener daaah..) selanjutnya perhatikan pilar2 yang menjadi ornament dari Gd. Marabunta. Pilar kecil2 di kiri kanan bila di jumlah = 17 dan pilar tinggi di kiri kanan bila dijumlah = 8 dan pilar kecil2 yang berjejer di atas bila di jumlah = 45, sehingga bila di simpulkan semua itu mengartikan 17-8-45..tau donk apa artinya tanngal tersebut…yup, benar tanggal kemerdekaan Indonesia….
Mari kita masuk Gd. Marabunta. Di pintu masuk kita akan di hadang dengan Tokoh Snow white and 7 dwarfs lengkap dengan pangeran dan penyihir yang terlukis di kaca patri pintu. Sesaat masuk, langsung terkagum-kagum dengan bentuk langit-langitnya yang berbentuk lambung perahu terbalik yang terbuat dari kayu (ini asli dari gedung lama), serta meja bar yang berbentuk perahu kecil, saking kagumnya ga sadar kalo kepala dah pegel ngliat ke atas terus. Di jendela sampingpun terlukis gambar putri dan pangeran pada kaca patrinya, dan ga ketinggalan taman samping dengan tangga putar yang antic serta pohon rambat di dinding bikin betah berlama-lama di gedung cantik ini. Sebagai narasumber tak terduga di Gedung ini adalah de’Dicky yang dah siap dengan hasil browsing2 mencari info mengenai Gd. Marabunta dan Spionase cantik Matahari. Ada juga poto lukisan sang Matahari yang tersimpan di dalam kantor pengurus.
Usai berpuasdiri di Gd. Marabunta kita melanjutkan perjalanan menikmati kawasan yang dikenal dengan Little Nederland yang memiliki beragam kekayaan gedung2 dengan interior cantik. Di pojokan jalan yang dulunya di kenal dengan nama Heerenstraat terdapat gd. H. Spiegel, dibangun tahun 1895 oleh Tuan Addler, yang kemudian mengangkat H. Spiegel sebagai manajer perusahaan hingga 5 tahun kemudian menjadi pemiliknya. Tak jauh di seberangnya terdapat Gd.Marba yang diambil dari nama ‘Marta Bajunet”, seorang pengusaha asal Yaman. Mulanya pembangunan gedung ini bertujuan untuk membuka kantor pengelola Ekspedisi Muatan Kapal Laut. Gedung ini juga pernah menjadi toko serba ada pertama dan satu-satunya ‘de Ziekel’. Kita terus jalan ke Belakang Di jalan kecil yang dulu bernama Hoogendorpstraat ini menyisakan banyak sekali gedung2 tua, yang secara struktur masih terlihat baik dan arsitekturnya sangat bervariasi, bahkan di salah satu gedung terdapat tulisan SAMARANG 1866. Di jalan ini juga kita akan menemukan beberapa gedung kantor Oei Tiong Ham Concern sang juragan gula terkaya di Semarang yang salah satunya di akuisisi oleh PT. RNI Nusindo dibangun pada tahun 1930 oleh arsitek asli Semarang, Liem Bwan Tjie. Beberapa teman juga menemukan sebuah gedung tua yang ternyata isinya adalah harta karun buku2 bekas (sepertinya tempat ini perlu ditindaklanjuti di lain waktu). Tapi karena letaknya yang terpojok, jalan yang dipenuhi bagunan cantik ini juga menjadi ‘Pasar Ayam’ yang harus di ‘waspadai’ karena banyak preman yang tidak bersahabat.
Di ujung jalan ini kita akan menemukan kali kecil dan kita terus menuju jembatan mberok. Jembatan yang merupakan gerbang memasuki kota lama semarang. Dari Jembatan ini kita berjalan lurus menuju gereja Blenduk yang merupakan icon kota lama Semarang. Di sisi kanan kiri terdapat beberapa bangunan lama yang masih terawat karena masih berfungsi sebagai kantor dan ada juga yang telah beralih fungsi menjadi restoran, seperti restoran ‘Ikan Bakar Cianjur’ yang bangunan ini dulunya adalah pengadilan rakyat (non-eropa).
Di muka gereja Blenduk terdapat gedung cantik yang dibangun tahun 1916 bernama ‘Gd. Asuransi Nillmij yang dinasionalisasi menjadi Jiwasraya’. Bangunan cantik ini buah karya Arsitek Belanda bernama ‘Thomas Karsten, seorang yang sangat menentukan wajah kota lama Semarang dengan memadukan arsitektur Jawa, Belanda dan Art Deco. Bangunan segi delapan dengan 3 lantai ini merupakan salah satu bangunan yang memiliki lift pertama di Semarang.
Perjalanan ini berakhir di Gereja Blenduk, gereja yang bernama ‘Koepelkerk’ ini awal di ban
gun pada 1753 berbentuk rumah panggung Jawa. Pada 1787 dirombak total, hingga baru pada 1894 oleh H.P.A de Wilde dan W. Westmas merombak menjadi seperti kita lihat saat ini, dengan atap kubah (blenduk) dan 2 buah menara. Sayangnya sore ini kita belum bisa menikmati bagian dalam gereja Blenduk, karena ada prosesi pemberkatan pengantin yang molor lamaaaa bangets….(bikin sebal ajah…huh!!).
Tempat terakhir yang akan kita nikmati sore ini adalah rumah Oei Tiong Ham di jalan, Kyai Saleh d/h jl.Gergaji. Luasan Rumah mewah ini hanya tersisi 1/8 dari keseluruhan luas tanah Oei Tiong Ham yang mencapai sebagian simpang lima arah selatan dan dan Patung Kuda kampus Undip arah Barat. Rumah mewah ini dahulunya selain rumah utama, terdapat juga taman dan Kebun BInatang pribadi. Begitu mamasuki halaman rumah mewah ini, terlihat sebuah rumah dengan pilar2 besar berwarna putih sangat terawat rapi. Bentuk mukanya mengingatkan pada ‘Gedung Kesenian di Pasar Baru’, dan sesaat kita memasuki rumahnya, langsung terkagum-kagum. Nuansa mewahnya masih terasa melekat banget. Di tiap pintu terpasang gorden bludru berwarna ungu, dan yang bikin tambah kaguma adalah beberapa lukisan yang di lukis langsung di dinding. 2 lukisan besar di dinding kiri dan kanan, dan sebuah lukisan kecil di dinding atas belakang (berhadapan dengan pintu masuk). Ruangan ini tampak seperti ball room saking lapangnya. Di halaman belakang kita menemukan ‘hidden paradise’ dengan ‘patung angel kecil pipis’ sebagai pancuran. Sebenarnya siapa siy Oei Tiong Ham yang tajir gila ini, berikut saduran dari http://www.clunning.kapanlagi.com/oeitiongham
Oei Tiong Ham (bahasa Tionghoa Huáng Zhònghán; (Semarang, 1866–Singapura, 1924) adalah pendiri perusahaan multinasional pertama di Asia Tenggara dan orang terkaya pada zamannya di kawasan itu. Selain itu, ia adalah pemimpin masyarakat Tionghoa di Semarang dan belakangan juga dikenal sebagai Raja Gula Asia.

Oei Tiong Ham dilahirkan pada tanggal 19 November 1866 (waaah…persisi sama dengan tanggal ultah gw niy, tepaut 111 tahun) di Semarang, Jawa Tengah sebagai anak kedua dari delapan orang anak di dalam keluarganya. Ayahnya bernama Oei Tjie Sien. Ia berasal dari daerah Tong An di Fujian, Republik Rakyat Tiongkok. Bertepatan dengan jaman Kaisar Tong Tie memerintah pada tahun kelima.

Pada saat masih bayi, ayahnya pergi pada seorang peramal Cina, di situ diramalkan Oei Tiong Ham berpikiran tajam dan akan mendapat kedudukan yang mulia dan selain itu juga akan menjadi seorang hartawan besar.

Masa kecil Oei Tiong Ham dihabiskan di sebuah sekolah swasta Tionghoa dan sewaktu masih kanak-kanak ia pun mempelajari bahasa Melayu. Dia suka sekali dengan wayang Po-tee-hie. Pernah suatu ketika, Oei Tiong Ham dan sahabatnya menonton wajang Po-tee-hie di Klenteng Tay Kak Sie, gang Lombok Semarang. Karena terburu-buru ingin melihat dari dekat perang Loo Thong pada Thie Loei Pat Poo panglima Pak-hwan yang dimainkan sang dalang pada cerita Loo Thong Tjeng Souw Pak, salah seorang sahabatnya melanggar angkringan (tempat jualan) sehingga jatuh terjungkir.

Hal ini menimbulkan keributan, karena para pedagang yang terlanggar meminta ganti rugi. Pada saat sahabatnya ketakutan, Oei Tiong Ham dengan tenang berkata akan membayar semua kerugian yang ada dan meminta para pedagang tersebut untuk tidak memaksakan kehendak pada sahabatnya tersebut. Kemudian dia membawa para pedagang tersebut menghadap ayahnya untuk dimintakan ganti rugi.

Ayahnya bertanya:”Kenapa kita harus yang memberi ganti rugi, bukankah anak itu yang membuat kesalahan?”

Oei Tiong Ham menjawab:”Karena saya yang mengajak mereka nonton wayang, maka sayalah yang harus menanggung kerugian, sebab saya lebih mampu daripada sahabat saya.”

Lantaran jawaban yang cerdas tersebut, sang ayah pun akhirnya memberi ganti rugi kepada para pedagang tersebut.

Ayahnya, Oei Tjie-sien (Huáng Zhìxìn) berhasil meletakkan dasar bagi imperium Oei Tiong Ham. Di Semarang ia membuka usaha dupa dan gambir. Pada tahun 1863 ia mendirikan Kongsi Kian-gwan (Jianyuan Gongsi) di Semarang, Jawa Tengah dengan modal sebesar 3 juta gulden. Kian-gwan Kongsi terutama mengekspor hasil-hasil bumi seperti gula dan ikan. Selian itu ia mengimpor teh dan sutra dari Tiongkok.

Antara tahun 1890 dan 1903 perusahaan ini secara total menghasilkan keuntungan sebesar 18 juta gulden.
Di bawah pimpinan Oei Tiong Ham, putra Oei Tjie Sien, Kian-gwan Kongsi berekspansi secara luas dan menjadi konglomerat multinasional pertama di Asia-Tenggara. Bisnis utama Oei Tiong Ham adalah yang mengekspor hasil bumi dan perdagangan opium.

Melalui pabrik gulanya itu, Oei kemudian mendirikan pabrik alkohol, tepung tapioka, perbankan, dan real estat. Ia juga membuka cabang usahanya di AS, Meksiko, Amsterdam, Karachi, Shanghai, Malaysia, dan beberapa tempat lainnya di dunia.
Makmurnya industri gula ini, membuat Oei Tiong Ham tercatat sebagai kelompok bisnis terbesar di Asia sebelum Perang Dunia ke-II (1942-1945). Dengan ”Oei Tiong Ham Concern”-nya, pengusaha Tionghoa yang dikenal sebagai ‘raja gula’ di mancanegara, mendapat predikat orang terkaya di Asia. Padahal kala itu, belum ada satu pun di Asia yang menyandang gelar konglomerat.

Kian-gwan Kongsi memiliki cabang di Bangkok, Kalkuta, Singapura, Hong Kong, Shanghai, London dan New York. Termasuk aset perusahaan ini adalah tanah dan pabrik-pabrik di pulau Jawa, sebuah bank, sebuah brocker di London. Selain itu ada pula sebuah armada kapal (dagang) yang didaftarkan di Singapura. Salah satu dari pabrik gulanya termasuk yang pertama dan terbesar di dunia. Selain itu, Kian Gwan di Thailand juga merupakan perusahaan pertama yg memiliki gedung bertingkat tinggi di tahun 1960-an di Jalan Suriwong dan terakhir di Jalan Sathorn (keduanya merupakan bisnis distrik seperti segitiga Emas Jakarta).

Keberhasilan Oei disebabkan oleh hubungannya yang baik dengan para penguasa kolonial Belanda, terutama Gubernur Jendral Belanda, Mr. Baron van Heeckeren. Selain itu dia juga merupakan orang Tionghoa perantauan pertama yang mengenakan setelan pakaian barat.

Oei Tiong Ham meninggal 3 Juni 1924 karena serangan jantung konon diracun secara pelan2 oleh salah seorang istrinya, dengan meninggalkan lebih dari 18 istri dan anak-anak sejumlah lebih dari 50. Dia meninggalkan harta yang jumlahnya sekitar 200 juta Gulden Belanda.

Wiiidhhhiiiihhh….wajar aja niy orang tajir abis…sewaktu googling dengan ‘oei tiong ham’ ada beberapa info salah satunya, ternyata di Singapore ad ataman dengan nama ‘oei tiong ham park’….waaah, disana aja beliau sangat di hormati, sayang di tanah kelahirannya tidak banyak yang mengenalinya….
Usai sudah jadwal plesiran siang ini, kita menuju Hotel Antik kita, yaitu ‘Hotel Candi Baru’ yang dahulu bernama ‘Belleview’. Hotel ini salah satu hotel ngetop di masanya, yang dibangun tahun 1919. Setelah pembagian kamar, yang selanjutnya terjadi adalah ‘inspeksi ke setiap kamar, khususnya kamar di atas (15 & 16) yang looeeeaaasss…banget,bisa buat mian futsal sepertinya, dan bikin iri penghuni kamar lainnya.
Jam 7 kita kumpul lagi, mo makan malam ni. Makan malam siy ga terlalu istimewa kali ini, di dekat simpang lima ada foodcourt Manggala, yang menjual beragam makanan, tapi ada juga beberapa peserta melenggang ke restoran Semarang-nya pak Jongkie Tio pengarang buku ‘Kota Semarang dalam Kenangan’ yangmemiliki koleksi foto2 Semarang tempo dulu.
Kembali ke Hotel, dan saatnya pembagian kaos PTD Semarang yang ternyata kali ini berwarna ‘KUning Gonjreng Pemirsa, dengan tulisan gede berwarna merah kontras ‘BATMUS BANGET’ serta logo batmus dan di belakangnya bertuliskan ‘www.batmus.com’ (bertanya2lah gw, mang dah ada yaaa???dan dijawab dengan muka sumringah oleh Adep, ada…ni baru masih ‘under construction’). Rada ricuh waktu pembagian kaos, karena beberapa ukuran body fit dambaan setiap wanita yang berbadan mungil ternyata berukuran sangat mungil sekali alias ga muat, jadi pada tuker dengan ukuran biasa. Katanya Adep karena pedagang kaosnya baru, bukan yang langganan biasanya,
jadi beda d ukurannya. Beres urusan tukar menukar kaos, kita sempatkan untuk kenalan dulu antara semua peserta juga panitia. Daaan…menutup acara malam ini adalah pintong…yeeeaaaa…..awalnya mo pintong depan hotel aja ada café ‘black canyon’ tapi ternyata ga ada tempat untuk menampung kita alias penuh, dan atas saran de’Dicky maka kita jalan sekitar 15 menit menuju ‘café brux’. Café yang terdapat di komplek perumah yang sepi ini ternyata lumayan rame juga, tapi karena ada taman luas di samping, jadi kita memutuskan untuk ngriung aja di taman, lagipula kita kalo dah kumpul pasti riuh ramai sekali, kasian pengunjung lainnya kalo seruangan ma kita. Malam ini bintang utamanya adalah ‘Josef’ yang cerita2 mulai dari ‘serba Raflesia di Bengkulu hingga serba Komodo di pulau Komodo, lengkap dengan ‘gaya komodonya’ yang sensual…aaahhhaaayyyy…..konyolnya adalah, walau ngriung rame2, tetep aja pada update status di fesbuk dan saling comment di tiap2 status…heran!!!

Spoor day
Hari ini bertemakan Spoor alias Kereta Api, dan semua peserta yang sudah berkumpul saat sarapan pagi tampak berkuning-kuning, jadi meriah. Narasumber kita hari ini adalah Pak tjahjono, seorang dosen arsitektur di Unika Semarang yang juga pecinta berat Kereta api, sehingga beliaupun tergabung dalam IRPS (Indonesia Railway Preservation Socieaty atau bahasa gampangnya adalah Ikatan Remaja Pecinta Spoor….hehehee…karangannya irfan niy).
Tujuan pertama kita pagi ini adalah stasiun pertama di Indonesia, namun masih belum diakui oleh Sejarah Perkerataapian, yaitu stasiun SAMARANG. Jangan berharap stasiun ini masih berbentuk stasiun, kondisinya saat ini sudah di duduki oleh para pensiunan pegawai kereta api. Namun kita masih dapat menemukan banyak ornament khas yang setelah di cocokkan dengan gambar/foto terbitan Belanda ternyata sangat pesis sekali, sehingga sangat di yakini bahwa benarlah tempat tersebut merupakan stasiun pertama di Indonesia. Setibanya di TKP, kita disambut oleh mbah Ramlan yang merupakan seorang ketua RW dan juga sepuh yang dihormati di wilayah tersebut. Sesaat akan memasuki gang kecil menuju stasiun SAMARANG, serta merta kita di hadang oleh seseorang yang tiba2 marah-marah dan membentak tak member izin kepada kita untuk memasuki wilayah tersebut. Sempat membuat situasi tidak menyenangkan, walau mbah Lan dengan tidak memperdulikan orang tersebut tetap mengajak masuk kedalam ‘gang’ tersebut, tapi demi menjaga keamanan peserta, maka pak tjahjono mengajak untuk memutar melalui jalan belakang. Berharap bisa muncul di tengah (dekat rumah mbah lan), tapi apadaya ternyata di ‘preman mabok’ dah menghadang, pasukan pun mundur kembali,jadi kucing-kucingan niy. Tapi ternyata pak Tjahjono, Mbah Lan serta peserta lainnya pantang menyerah. Ga bisa lewat depan dan tengah, akhirnya dengan mengendap-endap kita lolos masuk lewat belakang, melalui sumur yang becek dan licin…hooreeee….walau degdegan, dan agak waswas juga kalo nanti pas peserta di dalam di amuk ma si preman, tapi beruntung aman, walau akhirnya si preman muncul juga, tapi beberapa peserta sudah berhasil masuk dan melihat-lihat ke rumah-rumah yang masih memiliki bukti otentik ornament stasiun pertama tersebut. Sambutan para penghuni rumahpun cukup hangat.
Selanjutnya kita di ajak untuk melihat stasiun Gudang dan lokasi stasiun Kemidjen yang diakui oleh sejarah perkeretaapian sebagai stasiun pertama tersebut yang berlokasi tak jauh dari stasiun SAMARANG. Stasiun Gudang masih memberikan bentuk fisik yang masih bisa dinikmati, walau hanya berupa pos, tapi stasiun Kemidjen sudah hilang ditelan kilang-kilang minyak raksasa. Usai melihat stasiun-stasiun bersejarah tapi sayang tidak diacuhkan tersebut, kita kembali ke Bis. Sangat disayangkan kita tidak bisa masuk ke Stasiun Samarang dengan cara normal, karena Mbah lan ternyata sudah menyiapkan ‘welcome drink – aqua gelas’ untuk beramah tamah dirumahnya. Sehingga minum tersebut kita angkut aja ke bis, dan di nikmati diatas bis oleh seluruh peserta. Setelah berpamit, kita melanjutkan perjalanan hari ini.
Pagi ini kita masih memiliki sedikit waktu luang, sehingga kita kembali ke Gereja Blenduk, karena masih hutang untuk masuk kedalam. Sesampainya di Gereja Blenduk, kita sudah disambut oleh pengurus dan langsung memberikan cerita mengenai gereja Blenduk. Beberapa peserta langsung kalap untuk berfoto karena masih pagi dan langit masih biru. Gereja Blenduk memiliki atap kubah yang unik, terbuat dari tembaga. Interior dalamnya terdapat lampu gantung Kristal yang matching dengan bentuk atap kubahnya. Dan yang luarbiasa adalah bangku-bangku ala Belanda dan kursi yang masih asli, perawatannya hanya mengganti jalinan rotan saja. Selain itu juga terdapat orgel Barok yang indah, hampir mirip dengan yang terdapat di gereja Sion dan Imanuel Jakarta, tapi sayang orgel di gereja ini sudah tidak dapat dipakai karena rusak dan tak ada ahli yang mampu memperbaikinya. Menuju tempat orgel melalui tangga besi cor cantik buatan perusahaan Pletterij, Den Haag.
Melengkapi perjalanan kita yang bertema Spoor alias kereta apai maka ga lengkap kalo kita ga berkunjung ke Lawang Sewu yang merupakan kantor NIS – Nedherland Indische Spoorweg Matskapij, perusahaan kereta api pertama di Indonesia yang dibangun pada 1904 dan rampung 1907. Kedatangan kita sudah ditunggu Narasumber dari Tim Konservasi Lawang Sewu, Mba Santy dan Pak Eka. Kedua narasumber ini mengajak kita berkeliling dengan menceritakan baik sejarah maupun arsitektur gedung cantik Lawang Sewu. Dimulai dari halaman belakang (bawah pohon mangga, yang selama ini gw anggap pohon beringin saking besarnya tuh pohon), kamar mandi, langsung ke lantai tiga (menikmati bentuk struktur baja di atap), ngintip menara, hingga balkon, kaca patri cantik (kita poto bareng disini), lobby muka dan gedung belakang. Para Narasumber tidak menyarankan untuk melongok ke ruang bawah tanah, jadi kita ga melihat hingga kebawah. Penjelasan Narasumber berakhir kembali di bawah pohon mangga, dan berpamitan dengan Pak Eka dan Mba’ Santy. Masyarakat sekitar menyebut dengan Lawang Sewu karena gedung ini memiliki banyak pintu (lawang = pintu, sewu = 1000 (walaupun daun pintunya hanya sekitar 800an tapi karena banyak dianggap 1000). untuk yang pintar dengan cameranya (baik SLR maupun pocket), berfoto di Lawang sewu ga akan ada habisnya, banyak banget objek yang menarik, khususnya di kaca patri tangga lobby tengah.
Siang hari ini kita segera melaju menuju Ambarawa, tapi kita mampir dulu di Ungaran untuk Makan siang di Timblo solo. Tempatnya enak, luas dan yang pasti makanannya enak. Walau makan terakhir, tapi bersukur kebagian bagian terenak dari gurame…tulang2 kering yang gurih..ssslluuurrppp…meong…
Jam 1 kita melanjutkan perjalanan menuju stasiun Ambarawa yang dah ½ jam lagi perjalanan. Setibanya di stasiun, beberapa peserta langsung explore stasiun, dan ternyata lagi ada syuting ‘Pak Raden – Tans 7’. Nantinya syuting akan lanjut naik kereta loko uap, bareng ma kita.
Stasiun Ambarawa dibuka pada tahun 1873 dengan nama Koening Willem I (raja Belanda yang bertahta saat itu). Stasiun antic ini sekarang menjadi stasiun sekaligus museum kereta api kuno. Beberapa loko ‘mak item’ antic yang gwedwe-gwedwe mejeng cantik di sekitar pelataran halaman stasiun,ada sekitar 24 loco ‘mak item’ tahun buatan 1891 – 1966. Selain itu juga terdapat museum mini di salah satu ruangnya yang berisikan beberapa koleksi foto stasiun-stasiun Jadoel (termasuk foto stasiun SAMARANG yang tadi pagi kita kunjungi), dan beberapa barang-barang stasiun yang sudah tak terpakai.
Di stasiun Ambarawa ini kita akan naik Kereta Loko uap antic. Perjalanannya menuju stasiun Bedono. Kereta Loko uap ini hanya beroperasi atas pesanan khusus, sedangkan untuk pengunjung umum tersedia kereta yang ditarik lori dengan tujuan Stasiun Tuntang melewati rawa pening. Baru sebentar pak Tjahjono menjelaskan kisah stasiun Ambarawa, si Loko sudah nongol dengan ribut dengan asap hitam mengepul..ttuuiiitt… ttuuiiitt…. serta merta konsentrasi peserta langsung teralih menuju si ‘mak item’. Dan langsung aja ga sabaran
mo masuk ke dalam gerbong yang dindingnya terbuat dari kayu jati.
Loko dan gerbong kereta yang kita pakai umurnya sudah 100 tahun, bekerja dengan menggunakan tenaga uap, menghabiskan 2 kubik kayu bakar dari kayu jati, untuk memanaskan 2.850 liter air. Loco dengan no.B2503 dan gerbong dengan no. CR:72-I (3rd class rack track coach) ini mampu menampung penumpang hingga 40 orang di tiap gerbongnya. Perjalanan Ambarawa – Bedono yang berjarak ± 9 km, ditempuh selama 1 jam, 4 kilo perjalan pertama masih biasa aja, melewati perkebunan. Menjelang sisa kilometer, kereta harus berhenti di stasiun Jambu untuk menukar posisi kepala loco yang tadinya di muka pindah ke belakang untuk mendorong, karena mulai dari stasiun jambu perjalanan akan mulai menanjak dan rel-nya pun akan menjadi rel bergerigi. Mulai dari stasiun jambu ini pemandangan semakin indah. Sawah-sawah terhampar dengan latar belakang gunung Merbabu, jadi inget gambar waktu kecil….hehehee…dan sepanjang perjalanan dari stasiun Ambarawa menuju stasiun Bedono, semua peserta (dan panitia pastinya) sibuk hilirmudik di gerbong untuk berfoto-foto. Setibanya di stasiun Bedono, Kereta akan berhenti sejenak, memberikan kesempatan untuk para pengunjungnya menikmati stasiun Bedono dan beberapa jajanan makanan dan minuman. Stasiun Bedono tidaklah besar, tapi kondisinya bangunannya masih terawatt baik dan hanya berfungsi saat Kereta Loco uap datang.
Kembali ke stasiun Ambarawa ternyata kita di sambut dengan gerimis mengundang. Rencana untuk melihat Depo loko terpaksa batal, dan menunggu hujan reda beberapa peserta terlihat sibuk di sudut souvernir yang menjual kaos2 dengan tema loko antic.
Setelah memastikan bahwa hujan telah reda, barulah kita berangkat menuju Monumen Museum Palagan, terletak tak jauh dari stasiun Ambaraa yang merupakan monument untuk mengenang perang Ambarawa. Disini telah hadir nara sumber kita, yaitu veteran perang Ambarawa ‘Mbah Mudji’. Karena sore itu udara sangat mendukung, jadi kita mendengarkan cerita mbah mudji yang luar biasa itu di bawah tugu monument, sehingga suasanyanya menjadi sangat mendukung sekali. Mbah mudji yang berusia nyaris seabad itu, semangat sekali bercerita kisah Perang Ambarawa. Kita yang mendengarkan pun jadi ikut semangat. Beruntung kita masih bisa mendengarkan kisah perang langsung dari veteran perang, semoga mbah mudji selalu sehat yaaa….
Untuk melengkapi kisah mbah mudji, kitapun masuk ke dalam museum palagan yang di muka pintunya terdapat patung ‘Ishadi’ seorang pahlawan perang Ambarawa. Museum yang tak luas ini memiliki beberapa koleksi senapan, yang walau telah ada peringatan untuk ‘tidak menyentuh senapan’, tapi tetep aja pada pasang aksi berfoto dengan gaya perang-perangan pegang itu senapan, dasar ngeyel…
Kunjungan di Monumen museum Palagan, mengakhiri kunjungan kita di Ambarawa, tapi bukan berarti keseruan hari ini akan berakhir, karena malam ini kita akan makan malam di warung Semawis…horeee… dah kebayang ni mo kalap makan….ada aneka makanan disana.
Untuk menghemat tenaga, sepulang dari Ambarawa kita tidak ke Hotel, tapi langsung aja ke Warung semawis, dengan asumsi bahwa, kita akan tiba sekitar jam 7 kurang, kondisi warung semawis baru buka, dan pengunjung masih belum terlalu ramai. Setelah memberi kesempatan semua orang untuk eksplorasi dan makan ini itu, sekitar jam ½ 9 saat pengunjung warung semawis mulai padat dan ramai, kita akan tarik peserta pulang…..sepertinya itu ide yang baik sekali, secara dah lapar juga ni…
Bis besar kita agak kesulitan untuk masuk ke daerah warung semawis, karena jalannya tidak terlalu lebar, tapi cukup lapang untuk bis kita masuk *beruntung drivernya jago ni* dan parkirlah bus besar tersebut tak jauh dari gerbang SEMAWIS. Beberapa peserta langsung membentuk group-group kecil untuk hunting makan basamo…heheheee…ada yang langsung beli cakwe medan yang besar dan pajang, sambil nyemil xplore sepanjang jalan buat menentukan makanan selanjutnya. Karena gw dah ngebayangin makan bubur sumsum enak dari Ambarawa tadi, maka tujuan pertama di Warung Semawis ini adalah ‘Bubur sumsum lengkap, yang isinya adalah sesendok bubur sumsum, sesendok biji salak, sesendok ketan item, sesendok delima, 4 serabi imut dan kuah santan gula yang sedap…hhhmm..ssllrruuppp…enak…harganya?? Rp. 4.000 saja pemirsa J
Puas dengan makanan pembuka ini, langsung hunting makan selanjutnya. Sepanjang jalan berpaspasan dengan peserta lainnya, ada yang dah bergerombol menikmati hidangan, ada yang masih jalan sambil nyemil ‘risoles garing’. Makan selanjutnya mo nyoba zuppa soup. Sewaktu imlek kemaren sempat lihat ada yang makan ini,jadi penasarang, maka sekaranglah saatnya. 1 mangkokk zuppa soup Rp. 10.000. sambil nunggu pesanan datang, kita beli liang the dulu, yang pake es biar adem…saat beli the, terlihat juga Beberapa peserta penggemar miss piggy, sepertinya senang sekali menemukan beberapa menu yang terlihat lezat, seperti babi rica-rica, sate babi, dan babibabi lainnya, sehingga merekapun bergerombol makan bareng. Jadi sepertinya makan malam di warung semawis semua dapat memuaskan hasrat kulinernya, dengan beragam menu yang ditawarkan.
Menjelang jam ½ 9 saatnya untuk menarik peserta kembali pulang kekandang…heehehehhe…kembali ke bis maksudnya. Vi dan dicky akan sweeping dari ujung barat jalan menuju timur yang terdapat gerbang besar. Beruntung malam ini seragam kita berwarna kuning kinclong, sehingga mudah sekali di kenali. Setelah semua kumplit, maka perjalanan hari ini diakhiri di hotel Candi Baru. Semua langsung menuju kamar, leyeh-leyeh, mandi dan bobo. Sepertinya semua orang kecapean malam ini, sehingga tidak ada aktifitas lain, hotelpun langsung sunyi….zzzzz
Pecinan
Hari terakhir PTD, dan setelah melalui hari yang melelahkan kemarin, pagi ini semua kembali ceria. Jam 7 pagi, beberapa peserta yang berniat untuk ke Gereja dah kumpul, mereka akan ibadah pagi di Kathedral. Seperti pagi sebelumnya, kita sarapan nasi goreng dan jam ½ 9 pagi ini memulai aktifitas pagi dengan foto Keluarga di muka hotel Candi Baru. Hari ini temanya adalah Pecinan. Karena kita akan mengunjungi beberapa klenteng. Hari ini merupakan hari Cap Go Meh bagi warga tionghoa, bila di Jakarta dan beberapa daerah lain, cap go meh akan dirayakan dengan meriah, pawai keliling, tapi ternyata di Semarang beda. Tak ada aktifitas berarti, sehingga kawasan pecinan pun sepi-sepi saja.
Tujuan pertama kita pagi ini adalah mengunjungi Klenteng Sam Poo Kong di gedung batu yang terkenal dengan goa persinggahan Laksama Ceng Ho. Klenteng yang terus membenah diri ini sekarang terlihat sangat megah sekali (detail cerita mengenai klenteng sam poo kong lihat aja di catatan gw dengan judul tersebut ya ^_^). Memasuki klenteng sam poo kong yang megah, konsentrasi peserta mulai pecah, hanya beberapa yang terlihat menikmati cerita pak Pri sang narasumber yang bercerita mengenai kisah persinggahan Laksamana Ceng Ho di sebuah goa kecil di tempat ini yang lainnya langsung tenggelam dalam aktifitas berfoto-foto. Walau waktu masih meninjukkan pukul 9 pagi, tapi matahari bersinar sangat terik, dan ini tetap tidak mengendurkan semangat untuk mengeksplorasi klenteng sam poo kong. Beberapa peserta yang penasaran untuk melihat lebih ke dalam klenteng, membeli sebungkus HIO sebagai pass untuk masuk di gerbang penjaga. Dan ternyata saking semangatnya berfoto, apa lagi dengan kamera DSLR yang besar, aktifitas ibadah merasa terganggu, sehingga ada beberapa orang yang ditegur oleh pengurus klenteng. Kunjungan di Klenteng Sam Poo Kong ini diakhiri dengan berfoto bersama dengan latar belakang klenteng yang berjejer.
Selanjutnya tujuan kita adalah museum Mandala Bakti, yang terletak di seberang Lawang Sewu dan Tugu Muda. Museum ini memiliki cerita yang berkaitan dengan cerita mbah Mudji di Ambarawa. Museum ini juga memiliki koleksi senjata-senjata dan hal-hal yang berkaitan dengan TNI.
Sebelum makan siang kita punya kesempatan untuk belanja oleh-oleh. Parkir di Jl. Pandanaran yang merupakan pusat belanja oleh-oleh, peserta punya waktu untuk memilih oleh-olehnya. Ada beberapa yang khas yaitu Bandeng, Lumpia, Winko
babat dan kue mochi. Secara gw ga perlu oleh-oleh ini, jadi sama dicky kita menyelamatkan diri ngadem di toko dyriana, beli kue2 dan minum dingin…enaak… setelah cukup adem kita jalan ke toko kaset untuk beli pesanan kaset tante adilla yang pengen banget albumnya ‘Jubing’ – instrument gitarnya enak banget di denger, dengan lagu-lagu yang dah familiar di telinga. Dan karena waktunya makan siang telah tiba, maka sudah saatnya untuk menggiring peserta yang masih ngantri penuh semangat di sebuah toko oleh2 ‘bandeng juwana’untuk kembali ke bis.
Sambil menuju ke tempat makan kita yang unik di Bakoel Desa, kita buat list untuk pesanan wingko babat cap kereta api, secara kalo bis mampir lagi ke tempat oleh2 bakalan lebih lama lagi nantinya. Kita makan siang di Bakoel Desa, bangunan depannya bagus banget dan jadoel abis, makanannya pun nikmat, slruup…
Seusai makan, vi dan dicky berpisah dengan peserta yang akan menuju ke klenteng Tay Kak Sie (cerita klenteng ini bisa lihat di catatan dengan judul imlek disemawis). Vi dan dicky langsung ke wingko babat cap kereta api, diantar uda indra. Sesampainya disana, beberapa jenis pesanan ternyata habis, seperti wingko aneka rasa ukuran mini, sehingga terpaksa kita modif aja pesanannya di sesuaikan dengan budget yang ada. Setelah hitung2, ternyata jumlah wingkonya kurang dan baru ada pengiriman lagi sekitar jam 3…waaah gawat ni. Jadilah gw ma dicky menunggui toko oleh-oleh ini untuk waktu yang cukup lama, dan untuk setiap pesanan langsung dipack sesuai dengan pemesan. Yang hasilnya banyak banget bungkusan. Beruntung uda indra jemput kita, dan berbungkus2 wingko masuk dalam bagasi.
Kita langsung menuju stasiun, karena ternyata peserta sudah tiba disana. Stasiun Tawang sudah ramai didominasi oleh peserta PTD dengan tumpukan tas dan oleh-oleh. Penitip oleh-oleh langsung mengambil pesanannya yang di sambut oleh dicky yang membagikan. Tak lama menunggu sekitar jam 15.30 sudah datang keretanya dan mulai masuk peron tunggu. Rombongan kita menguasai hampir seluruh kursi di Gerbong 6 (hanya tersisa 3 kursi kosong). Sempat ada sedikit kericuhan saat 3 penumpang asing tersebut ada di antara kita. Peserta yang tak tau no. kursi, menduduki kursi si ibu2 jutek (mentang2 dianter anaknya yang Taruna Polisi….sombong bener…cih) dan sewaktu kita cek tiket, ternyata ada kekurangan jumlah kursi, sehingga vi, Dicky n Mas Agung menemani ibu untuk confirmasi kekurangan tiket tersebut, saking terburu-burunya kita menuju kantor Kepala Stasiun, ibu jadi sesak napas, secara ibu ada asma *merasa bersalah mode on*, setelah di jelaskan ini itu, akhirnya kita mendapatkan kekurangan tiket tersebut dan kembali tenang. Tiba-tiba ada lagi masalah, kurang 1 kursi, lah tadi sepertinya dah lengkap d, 45 seat, kenapa bisa kurang satu, setelah di selidiki ternyata ada ‘penyusup’ yang salah gerbong tapi cuek aja duduk manis di kursi tersebut…aaah bikin ribet aja…
Tepat jam 16.00 Kereta Argo Muria yang membawa serta rombongan Sahabat Museum bergerak, kita panitia semarang; vi, Dicky, mas Agung, uda Indra, mba’ Ana dan si Imut Odil berdada-dada ke pengumpang kereta dan di sambut dengan dada-dada yang lebih bersemangat dari dalam sana…
Pphhiiieewww…usai sudah PTD Little Nedherland di Semarang, yang tersisa sekarang adalah peugel linu. Pulang dari stasiun vi langsung memisahkan diri dari rombongan, lagian kasian juga mobil uda Indra kalo di isi ma ‘gerobolan super berat’. Naik taksi langsung ke kos. Sampe di kos, langsung tewas…zzzz

-vi-

Iklan

4 pemikiran pada “PTD LIttle Nedherlan – Sahabat Museum

  1. mbak mau minta pendapat.,saya kan udh terlanjur beli tiket singapura PP dan paspornya habis tgl 5 des 2012,. dan saya bru tau stlah beli tiket klu paspor harus diperpanjang setelah 6 bulan..,sedangkan berangkatnya rabu jdi pasti gak sempat untuk memperpanjang.,dan ini pertama kali ke luar negeri..,jadi gimana ya mbak solusinya..,makasih sebelumnya

    1. Mba..maaf bgt baru balas.
      Udah lewat ya brangkat ya.
      Bdasar pengalaman, ga akan lolos d imigrasi indonesia. Krn dl temenmu kurang dr 5 bln aja dah d wanti2 imigrasi kl ttp dilolosin ga tanggung jawab d deportasi oleh imigrasi d luar sana. Apalagi br pertamakali.
      Smga membantu y

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s