Muddy Sempu and The Beauty Laguna, Transforming the Beauty to the Beast

Ga banyak orang yang tau perihal pulau sempu selain manusia2 gila travelling yang selalu iri kalo liat poto orang di tempat yang ternyata lebih bagus dengan pamandangan lebih cantik. Itulah yang terjadi sama gw waktu pertama kali liat poto salah satu teman di laguna cantik Pulau Sempu, dan terniat bahwa suatu saat nanti gw pasti akan menjejakkan kaki di laguna cantik dan menggoda tersebut.

Hal ini terwujud waktu buka postingan di group CS Semarang, teryata ada yang punya ide mo ke Pulau Sempu. Hoooreeee….yuk di jadiin.

Dengan semangat vi ngomporin untuk mematangkan trip ke Sempu, kebetulan Dewi juga semangat untuk kesana. Jadilah dia mulai nyari2 kendaraan. Awalnya kepikiran kalo ternyata yang ikut banyak, jadi kita cari mobil yang muat untuk kapasitas max 10 orang, dan ternyata ada temennya Dewi yagn punya Kia Travello….sip d…

Tanggalnya dah ditentukan, pas long wiken liburan paskah di awal bulan April. Dan setelah di posting di CS group Semarang, akhirnya terdaftarlah 6 orang yang akan ikut dari Semarangyaitu elvi, dewi, arifa ‘aaww….awww’, Danang ‘Day, Mba’ Enny dan Adit (ehemnya dewi yang sengaja datang dari Jakarta) serta 1 dari Malang adiknya mba’ Enny – Tatti.

Untuk menghemat waktu perjalanan kita berangkat kamis malam, kumpul di masjid baiturrahman Simpang 5, karena tempat yang persis di tengah kota. Dan perjalanan dimulai tepat jam 10 PM, tancap gas langsung menuju Malang – Jawa Timur…here we come…

Dengan menggunakan mobil sewaan dan driver yang handal Mas Asep, kita pun tertidur sepanjang perjalanan, dan baru terbangun di daerah Kediri saat mobil isi bahan bakar. Dan beruntung kita bangun, jadi bisa kasi tau bahwa kita harus mampir ke kota Malang dulu, jemput adiknya mba’ Enny yang akan join ma kita.

Sampai di kost adiknya mba’ Enny masih jam 5 subuh, jadi ada kesempatan untuk sang driver untuk istirahat sejenak, sementara kita hunting Ssrapan sambil city tour seputaran kota Malang. Ga lengkap kalo muter2 ga poto-poto, dan setelah berputar kesana kemari nyari tempat makan yang rame, akhirnya kita terdampar di taman budaya, ada penjual lontong sayur, nasi campur, nasi kuning, bubur sumsur lengkap, somay dan batagor(sapa ni yang makan sebanyak ini !!! *lirik mba’ Enny* heheheeheee), tak lupa kita bungkuskan juga untuk mas Asep dan ‘aww..aww’ yang tadi lanjut bobo lagi pas nyampe di kostnya tati.

Kembali ke kost, kita langsung mandi, packing untuk persiapan ke Pulau Sempu nanti, karna setibanya kita di Sendang Biru, kita akan langsung nyebrang menuju pulau sempu.

Perjalanan Kota Malang menuju Sendang Biru sekitar 1,5 jam saja, dan tak salah di beri nama ‘sendang biru’ karena Air lautnya terlihat biru banget, beneran menggoda dengan berderet-deret kapan nelayan bersandar di pantainya.

Masuk Sendang Biru kita bayar retribusi Rp. 5.000 / orang dan karena kita mo ke Pulau Sempu maka kita cari kantor Konservasi Pulau Sempu untuk mengurus perijinan (demikian prosedur yang tertulis di beberapa blog yagn gw baca). Saat mengurus perijinan, kita bertemu dengan salah satu petugas (yang tugas sendirian) dan saat kita mengutarakan maksud dan tujuan kita mo ke Pulau Sempu untuk wisata, si mas (lupa tanya sapa namanya) memberikan penjelasan panjang perihal Pulau Sempu, yang statusnya di Departemen Kehutanan merupakan ‘Cagar Alam’. Berdasarkan keterangan dari si mas, Pulau Sempu tertutup untuk kunjungan yang bersifat wisata, dan untuk memasuki pulau tersebut harus memiliki SIMAKSI, yaitu Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi yang bisa diurus di Jl. Bandara Juanda, Surabaya (wwwhhhaaaattt…????jauh bener…!!!) sambil si bapak memberikan contoh sehelai surat sebagai contoh. Tapi setelah penjelasan panjang tersebut, si mas tersebut menjelaskan lagi, bahwa kasian sudah jauh-jauh datang, jadi kita ‘katanya’ di beri ijin khusus, dengan memberi formulir dan buku tamu yang harus diisi. Setelah selesai urusan formulir, si mas juga berpesan agar kita membawa kembali sampah-sampah yang kita hasilkan selama di Pulau Sempu, agar tetap lestari dan tidak menjadi tempat sampah raksasa nantinya. juga dijelaskan rute perjalanan menuju segara anakan dan mengingatkan agar kita selalu berjalan dalam group. Sebenarnya tidak ada retribusi untuk masuk ke Pulau Sempu, tapi si masnya bilang ‘ terserah aja’, jadi kitapunmemberikan beberapa Rupiah kepada si mas. Usai urusan perijinan dan administrasi, kita meninggalkan kantor konservasi untuk segera packing dan makan siang.

Pulau Sempu terletak di selatan Kabupaten Malang, di tetapkan sebagai kawasan konservasi dari tahun . Pulau dengan luasan877 Ha ini memiliki sebuah laguna cantik di tengahnya dan nyaris tidak ditemukan air tawar maupun payau.

Karena di Pulau Sempu tidak ada air tawar, maka sebagai konsekwensinya kita harus bawa banyak air mineral botol.Tiap orang di wajibkan bawa 2 botol besar = 3 liter, selain itu karena kita mo bermalam, maka kita juga bawa beberapa bungkus mie instan, roti, sarden, kornet,sosis, selai coklat, buah-buahan, cemilan, kompor gas mini, serta tenda….(banyak ya ternyata… pphhiiieew)

Supaya seimbang bawaannya maka, harus sharing
logistik, cowo bawa yang lebih berat, yaitu nasting dan tenda. Logistik lainnya dah dibagi, Jadilah kita berangkat menuju Pulau Sempu.. Yyiiippppiiee…

Sebelum kita nyebrang, kita Makan siang di warteg terdekat dengan menu ikan tuna sirip kuning di goreng, dan setelah kenyang kita menuju termpat tambat perahu. Perahu yang akan mengantar kita ke pulau Sempu dengan pintu masuk tanjung semut. Tarif menyebrang 1 perahu Rp. 100.000 muat hingga selusin orang, harga mati ga bisa ditawar, dan tidak bisa piih perahu karna dah di urut. Kita kebagian perahu no. 4 milik pak Narko. Kita harus mengingat no. perahu ini dan tidak lupa mencatat no. telpnya untuk menjemput kita kembali dari pulau, kita harus telp si bapak untuk di jemput.

Dari atas perahu menikmati Langit sore ini indah banget, biru sempurna dengan awan-awan putih kecil menggelantung di langit. Perjalanan di perahu yang hanya sekitar 10 – 15 menit ini sangat menyenangkan, karena euforia, kita langsung berfoto-foto, dan setibanya di Tanjung Semut, perahu hanya bisa merapat hingga di sisi pantai yang agak dangkal, dengan air laut setinggi lutut. kita berjalan menuju bibir pantai dan memulai track memasuki hutan pulau Sempu.

Di pantai kita bertemu dengan sekelompok ‘sepertinya mahasiswa’, mereka menyarankan agar kita cari tongkat untuk membantu saat jalan di track yang becek dan berlumpur…waadduuuh… petanda buruk ni sepertinya. Sambil jalan kita waspada liat kiri kanan untuk cari tongkat, hingga akhirnya tiap orang menemukan satu tongkat untuk menyangga tubuhnya saat jalan becek dan licin. Ternyata seperti yang tadi diperingatkan, kita menemukan track yang cukup becek dan licin, tapi 1 jam pertama perjalanan kita cukup berjalan dengan konstan dan kecepatan cukup (ceilee…) walau terhalang beberapa jalur yang licin dan becek.

Memasuki punggungan ketiga, akhirnya kalah juga. Track dimulai dengan nanjak yang cukup tinggi dan turun yang terjal dan sangat licin dan belumpur (bukan hanya becek). Beberapa kali kaki gw terjebak lumpur sehingga terbenam setinggi betis, mengakibatkan sendal gunung yang gw pake lebih baik di lepas karena jadi mempersulit jalan dengan konsekwensi jadi lebih licin.

Dan akibat terjebak dalam kubangan lumpur ini, waktu dan energi kita jadi banyak terbuang. Waktu dah sore dan kita masih 1/2 jalan. Menjelang punggungan ke-4, malam pun menjelang, walau dah berusaha untuk bergerak lebih cepat apa daya, akhirnya kita ber-6 eterjebak dalam kegelapan ditemani dengan satu senter. Danang dah melesat duluan karena bergabung ma kelompok di depan yang juga memiliki keterbatasan sinar.

Dengan mengandalkan satu senter dan satu pria, perlahan tapi pasti kita berenam melanjutkan perjalanan. Memasuki punggungan kelima ada jembatan rusak menghadang, sepertinya ini yang paling sulit kita tempuh dalam pekatnya malam, dan setelah berjalan dengan estafet, di punggungan terakhir kita terbantu penerangan dari beberapa orang yang menunggu groupnya datang. Dan tak jauh dari sana pun dah terlihat tebingan dengan dasar air di sisi kanan kita, berarti kita dah sampai. Jalanpun menjadi lebih kering dan lebih mudah dilewati karena tidak licin dan datar, tapi harus waspada karena track yang sempit bersisian dengan jurang yang bisa bikin kita nyemplung ke dalam laguna.

Tak jauh terlihat sinar dari arah bawah, pas kita teriak2 panggil Danang, ternyata beneran Danang yang datang dari arah bawah. Dia menyarankan kita agar turun dari tebingan karang saja, karena track turunnya licin. Sebenarnya rada ngeri juga, tapi setelah di kasi tau bahwa air akan segera naik, kita pun jadi bersegera untuk turun di tebingan karang tersebut. Satu demi satu dengan bantuan Danang di bawah kita loncat..plluung…dan tibalah kita di laguna segara anakan yang saat itu sangat tenang dan bulan masih memancarkan sinarnya bersama bintang-bintang…

Alhamdulillah dan hoooreeee…..we finally arrive @ segara anakan…saat malam aja terlihat cantik apalagi nanti pagi yaaa….

Malam itu kita mendarat di segara anakan sekitar jam 1/2 8 malam, dan tak menunggu waktu lebih lama, kita mencari tempat yang tepat untuk mendirikan tenda. Ada banyak tenda yang mengisi tempat2 stategis, dan beberapa orang tampak dah leyeh2 santai menikmati bintang dan bulan di sisi pantai…senangnya

Akhirnya kita menemukan tempat yang sepertinya pas. Langsung bongkar tas, pasang tenda dan tak berapa lama, 2 tendapun berdiri, dan saatnya untuk bikin dapur. Dengan komporkemping andelan, Pertama kita masak air panas aja dulu, sepertinya secangkir the anget perlu niy buat ngebalikin energi yang dah abis2an, maklum dah manula diajak trekking ya begini lah…hehehee

Ditemani the anget, roti keju, saatnya masak mie…hoooreee….ga lengkap kalo kemping tanpa mie instan.

Selesai urusan masak memasak, kita kudu pindah tenda niy, karena air terlihat mulai pasang, dan ga lucu aja kalo ternyata pas pagi airnya dah nyampe di tenda. Jadi dengan bergotongroyong kita angkut tenda menuju tempat yang sepertinya akan aman dari serangan air pasang, dan angkut semua properti kita.

Sebelum masuk tenda sepertinya perlu bersih-bersih, secara lumpurnya melekat pasti di kaki dan celana kita, hasil dari jungkir balik ke pleset sana sini. Main air ditemani bulan di laguna segara anakan ternyata asik, airnya hangat dan tenang. Sebernarnya betah banget niy berlama-lama, tapi ternyata langit tidak bersahabat, bintang-bintangnya digantikan dengan awan dan mulai rintik-rintik kecil gerimis mengundang.

Penghuni tenda kita adalah vi, aww..awww, mba’ eny dan adiknya tati, dan di tenda satu lagi ada Danang, Adit dan Dewi. Karena tenda kita mang cewe2, jadi sebelum bobo kita bugil bareng dulu bersih2in badan yang dah lengket banget, di lap pake tisu basah aja, karna harus irit air mineral yang jumlahnya terbatasdan tak lupa di balur dengan minyak GPU yang anget biar pegel-pegel hasil trekking rada enak besok pagi.

Karena badan dah bersih jadi malas keluar tenda, karena pasti akan berpasir lagi, jadi kita langsung bobo aja, dan ternyata malam inipun kita ditemani hujan yang bikin nyenyak bobo.Tapi ternyata kemping di pantai itu ga enak, karna biasa kemping pake tenda di tempat tinggi dan dingin, jadi pas kemping di pantai kog gerah yaa….sleeping bag yang dibawa akhinya Cuma jadi bantal aja, lebih enak berselimut ‘kain bali’ andelan.

Zzzzzzzz……………………………

Bangun kepagian, keluar tenda masih rada gelap, niatnya siy ngincer sunrise, tapi ternyata mendung pekat, jadi Cuma gumpalan-gumpalan awan aja yang terlihat. Laguna terlihat tenang dan bening, tapi karena masih sepi jadi kembali masuk tenda, lanjut bobo lagi….zzzzz…….

Terlelap lumayan lama, ternyata tenda dah sepi dan terang benderang, waduh ketinggalan niy, buru-buru keluar, ternyata teman2 lagi di atas tebing berfoto-foto…waaahhh gawats, ketinggalan sesi foto. dengan tampang masih bangun tidur dan badan masih sempoyongan akibat nyawa belum 100% ngumpul, berupaya untuk mendaki tebing karang, dan mendapati pemandangan yang indddaaaaahhh…..laut lepas samudera hindia….dengan dinding2 tebing pulau sempu dan sebuah pulau karang / atol menjadi pemanis pemandangan….cantik.

Ga mau ketinggalan, langsung ikutan pose2 (walau tampang masih ancuurr acak2an tapi tetep eksis…xixixixxi…) dan mengabadikan apa yang terlihat mata ke dalam kamera, saatnya kamera digital ku yang dah berusia lebih dari 3 tahun dan menjelang renta ini beraksi…jeprat jepreet sana sini memuaskan hasrat untuk mendapatkan foto2 ciamik, tapi sayang langitnya mendung, padahal kalo dapat langit yang sebiru kemarin pas nyebrang dari sendang biru, pasti fotonya akan menjadi lebih sempurna.

Tak bisa berlama-lama, karena gerimis pun dah menyambut kita, langsung puntangpanting lari ketenda, dan berteduh. Lmayan lebat juga hujannya, dan sambil nunggu hujan reda kita sarapan dulu, masih ada roti tawar, dan mba’eny punya ide cemerlang untuk bikin ‘sarden sandwich…hhhmmmm…ditambah saos sambel…lezzaattt….

Saat hujan dah mulai reda, dewi dah ganti kostum ngajak berenang, waaduuuh gawats niy, sangat menggoda, melihat air yang jernih dah tenang. Jadilah kita ikutan berenang, ganti baju pake baju kotor kemaren dan nyerbu masuk laguna yang bening…waaaah….segar….

Karena stok celana pendek yang terbatas (yang satu dah super dekil buat di pake pulang dan lenging pendeknya buat dobel celana yang dah kotor), vi nekat berendam di laguna dengan bawahannya CD aja dan di tutupi kain pantai..heheheee…pas di ajak berenang untuk liat ikan2 kecil dan terumbu karang di tempat yang agak dalam, sempat semangat, tapi pas lagi enak2nya berenang, kainnya hanyut..hahahaa..jadi buru2 balik d, bikin repot aja, tp apa daya, karena pantainya rame banget, jadi ga enak aja kalo terlihat seksi…hahahahaa….tp yang penting adalah kegembiraan saat berendam dan berfoto2, bermain air bareng dan ketawa2…..kalo ga inget bahwa siang ini kita kudu balik ke sendang biru, pasti ga bakalan beranjak dari air.

Setelah yakin kita puas berenang, dengan setengah hati kita harus keluar dari air, kembali ke tenda dan sambil nunggu antrian ganti baju, vi masak mie instan dulu buat makan siang sebelum berangkat pulang. Dan selesai masak, kita makan bersama, membagi rata makanan yang ada. Perut kenyang, ganti baju ‘tempur’ dan saatnya packing. Bongkar tenda, packing tas, ngumpulin sampah (secara dah berjanji untuk membawa pulang kembali sampah ke sendang biru, walau nyusahin, apadaya harus di kerjain), dan sebelum kembali trekking kita berdoa bersama dulu, semoga perjalanan pulang tidak ada kendala.amin.

Baru saja memulai trekking, kita sudah dihadang track yang becek, rupanya akibat hujan pagi tadi, track yang kemarin kering, siang ini menjadi sangat becek sekali. Kita bertemu dengan beberapa orang yang dah luluhlantah cemangcemong akibat lumpur menuju laguna segara anakan. Sepertinya jalur track hari ini lebih parah dari kemaren…hhuuufffhh….musti semangat niy.

Karena kita dah pengalaman dengan becek kemaren, maka siang ini kita akan nekat untuk nerobos pepohonan di sisi treck yang ada, memang lebih berat karena harus menerobos rimbun pohon, tapi setidaknya jalannya tidak licin dan becek. Jadi dengan langkah pasti kita lewati tiap-tiap trek dengan lebih berhati-hati melalui rerimbunan pohon, memang secara sadar ini salah, karena kita merusak humus yang ada, tapi apa daya, ga ada pilihan yang lebih baik. 4 jam harus kita tempuh perjalanan pulang ini, dengan beberapa kali istirahat dan pada akhir trek kita dah pasrah nyemplung ke dalam kubangan-kubangan lumpur setinggi betis dan licin (tiap langkah serasa gamang,seperti anak baru belajar jalan karena takut kepleset).

Sesampainya di teluk semut, perasaan kita gembira banget, karena dah terbebas dari segala beban dan karena badan yang dekil banget, kitapun berendam di beberapa genangan air di pantai yang sedang surut. Sambil nunggu perahu datang, kita sempatkan bersih-bersih lumpur yang menempel di badan. Beneran luar biasa niy, pulang pergi kita dihadapkan dengan track licin berlumpur. Kalo di musim panas dan jalur kering ‘katanya’ 4 jam itu dah pulang pergi.

Tak menunggu lama, kapal kita datang setelah di telp oleh adit. Berlayar sekitar 15 menit saja, dengan pemandangan pulau jawa dan indahnya gunung Semeru yang menyumbul. kembali menjejakkan kaki di pulang jawa, disambut dengan senyum-senyum geli dari masyarakat yang ngliat bentuk kita sangat dekil dan kecapean.

Tujuan pertama kita setibanya di sendang biru adalah cari tempat mandi karena dah ga sabar mo nglepas pakaian kumel yang melekat dibadan. Sambil nunggu antrian kamar mandi di warung, kita pesan ikan bakar tuna buat makan malam, dan sekalian ngubek2 baju bersih yang akan dipakai setelah mandi nanti.

Beberapa saat kemudian kita dah kumpul lagi, dengan badan yang lebih segar, dan bersih, siap untuk nyerbu santap malam kita yang ternyata ikannya besar 1 1/2 kilo….dan kita lahap dengan semangat, akibat ga ketemu nasi dari makan siang kemaren…hehehehehee…

Malam ini dengan badan letih kita tidak jadi melanjutkan perjalanan ke pacitan, kita mo nyantai leyeh2 aja, jadi kita putuskan bersama untuk cari penginapan di Batu aja, biar dapat istirahat cukup.

Iklan

2 pemikiran pada “Muddy Sempu and The Beauty Laguna, Transforming the Beauty to the Beast

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s