Jepara – Kota lahirnya Kartini, Pusat Ukiran, Pantai yang cantik hingga Surganya Sea Food

Berlibur ke kota Jepara mungkin belum masuk dalam agenda travelling kebanyakan orang. Untuk para traveller, kota jepara hanya terkenal sebagai kota transit bila akan menyeberang ke Karimun Jawa, start dari pelabuhan pantai Kartini,  tapi kali ini teman2 CS (CouchSurfing) Semarang mengagendakan untuk exploring kota kecil di pantai utara jawa ini, setelah di iming-iming seafood segar dan pantai putih yang menggoda…

Jepara hanya sekitar 2 jam saja dari kota Semarang, melalui Demak.Supaya ga terlalu cape di perjalanan, lebih hemat dan agar bisa lebih maksimal, kita sepakat untuk patungan sewa mobil saja  Kondisi jalan yang ditempuh cukup baik, walau saat musim hujan beberapa wilayah terendam banjir hingga sepinggang orang dewasa.

Kita menginggalkan kota semarang sekitar jam 8.30 setelah mampir sanasini langsung menuju Jepara tanpa mampir2 lagi. Seperti biasanya, sepanjang jalan kita ketawaketiwi hingga keram pipi. Memasuki kota Jepara sekitar jam 10.30 langsung menuju Alun-alun kota Jepara. Disini kita dah janjian ma beberapa teman yang akan join plesiran bareng ma kita. Ada Bektash (teacher asal Turky di sekolah Semesta Semarang), Hera dan Werner – Traveller Italy yang dah 3 bulan warawiri ga jelas juntrungan di Semarang dan Jepara, dan sering gabung ma kita kalo lagi kongkow2 di Semarang – yang ternyata mo pamit pulang ke negeranya, karena visa dah habis dan dapat tiket murah pulang.

Tempat pertama yang kita kunjungi pagi menjelang siang ini adalah Museum RA Kartini, memang ga afdol kalo ke Jepara tapi ga mampir dan ga mengenali kartini lebih dalam. Museum yang udah seumur ma gw ini, terlihat sangat suram dan minim koleksi, tapi beberapa informasi yang ada dan penjelasan dari guidenya cukup untuk melengkapi keingintahuan kita lebih dalam mengenai masa lalu kartini,khususnya saat beliau masih lajang dan tinggal di Jepara. Di Museum ini kita tidak akan menemui barang-barang pribadi milik kartini seperti poto masa kecil (ada siy, tapi foto bareng dan hanya ada 1 saja), baju2, foto koleksi pribadinya, bahkan  copy surat2 legendarisnya.

Selain mengenai kartini, di museum ini juga diulas mengenai kakak pertama kartini, serta koleksi barang antik, fosil ikan raksasa, dan ukiran muka kartini dari beragam pengrajin.

Setelah keliling museum, rasanya ga lengkap kalo kita ga berkunjung ke rumah Bupati Jepara, untuk melihat rumah masa lajang Kartini. Rumah Bupati Jepara hingga saat ini masih digunakan sebagai rumah tinggal dinas Bupati, terletak persisi di muka alun-alun jepara. Hanya perlu jalan kaki saja untuk menuju rumah legendaris ini dari Museum Kartini.

Sebelum masuk, teman2 sempat ga PD juga untuk bisa masuk ke dalam rumah Bupati Jepara, tapi dengan meminta ijin kepada penjaga, kami pun di perbolehkan untuk masuk dan melihat-lihat, awalnya hanya di pendopo muka yang luas, lalu diantar untuk masuk ke dalam kamar Kartini, serta teras belakang tempat diselenggarkannya pendidikan khusus bagi perempuan. Di dalam rumah selain kamar kartini, kita juga merajalela di dalam rumah Bupati, hingga akhirnya kepergok oleh pak Hendro sang Bupati….dan kesempatan ini pun tak kita sia-siakan, kita juga minta untuk poto bareng bersama bapak Bupati (narsisi mode on).

Setelah kita puas melongok rumah Bupati Jepara, kita pun melangkah ke luar, tapi ternyata ada kandang Merak di halaman muka, isinya 3 ekor merak, 2 betina dan 1 jantan. Awalnya merak2 itu sok jaim, tapi akhirnya si jantan pun merekahkan ekornya yang cantik, dan jadi objek poto kita siang itu. Rasanya beruntung sekali kita bisa mampir ke sini, banyak bonusnya…heheehee..

Siang ini kita lanjut untuk shalat dzuhur di masjid Kalinyamat, konon ini merupakan masjid kuno, bentuknya perpaduan antara arab dan hindu sangat kental. Seperti di masjid Kudus, di belakang masjidnya ada makam kuno dengan nuansa hindu yang sangat kental, kalo bukan di belakang masjid pasti udah di kira pura. Masjid ini merupakan peninggalan Ratu Kalinyamat yang pernah menjadi penguasa Jepara.

Sedikit cerita mengenai Ratu Kalinyamat hasil googling (Ratu Jepara Pemberani – Chusnul Hayati, FIB – UNDIP):

Ratu kalinyamat atau Ratu Jepara merupakan wanita yang memiliki penaran penting di bidang Ekonomi dan Politik di Nusantar pada era abad 16. nama Masa Mudanya adalah Retno Kencono, merupakan Putri Sultan Trenggana, Raja Demak yang memimpin pada pertengahan abad-16 serta cucu dari Raden Patah, Sultan Demak Pertama.

Ratu kalinyamat memimpin Jepara menggantikan suaminya Pangeran Hadiri yang tewas di Bunuh oleh Arya Panangsang, Murid Sunan Kudus.

Pada masa Ratu Kalinyamat, masyarakat Jepara mengenal ukiran yang di bawa dan di ajarkan oleh Pangeran Sungging Badar Duwung, bernama asli Tjie Hwie Gwan yang merupakan cina muslim ayah angkat dari Pangeran Hadiri.

Pada masa kekuasaannya selama lebih kuran 30 tahun, Ratu Kalinyamat berhasil meningkatakan perekonomian wilayahnya dan menjadikan Pelabuhan Jepara sebagai pusat perdaganga. Selain itu  juga memperkuat armada militernya. Beliau pernah 2x mengirimkan pasukan militernya ke Malaka membantu raja Johor dan Raja Aceh untuk menyerang Portugis

Usai shalat, lapar mendera niy, udah hampir jam 1 ternyata. Jadi kita langsung saja menuju pantai Bandengan. Sesaat akan sampai di pantai bandengan, mba’ eny ngajak untuk mampir ke sentra Ukir, sekalian jalan, jadi tak apalah.

Memasuki jalan Sentar Ukir ini, sepanjang jalannya mata akan dimanja dengan pajangan ukir-ukiran cantik hasil kreasi seniman pahat lokal. Selain memajang hasil ukirannya, di beberapa workshop juga terlihat beberapa seniman pahat menyelesaikan ukirannya.

Kita mampir sejenak, liat2 beberapa workshop, dan ngobrol dengan pengrajin ukir. Beberapa ukiran yang di pajang tampak udah berdebu, menunggu pesanan untuk di furnish. Walau stok hasil ukirnya terlihat banyak teronggok, tapi kegiatan mengukir ga putus, tetep ada barang baru yang harus di kerjakan, seperti patung naga dengan sisiknya yang menonjol, dll. Selain ukiran di sini juga banyak furniture, meja dan kursi kayu yang sederhana tapi memikat, ada juga ayunan yang menggoda, serta aneka jenis kerajinan dengan bahan dasar kayu lainnya.

Setelah puas melihat-lihat di sentra ukir di hari yang panas terik ini, kitapun melanjutkan untuk makan siang. Makan siang terlaksana di sebuah rumah makan alias warung seafood yang lokasi nya terletak persisi di sebelah sebuah restoran nyaman bernama Sunset. Dengan membayar Rp. 4.000 kita masuk ke area warung yang berada persisi di pinggir pantai….pantainya bersebelahan dengan restoran, resort mahal dan pantai wisata umum ‘Bandengan’ yang saat ini sesak pengunjung karena ada hiburan dangduts…

Karena kita makan saat jam makan udah lewat, jadi warungnya dah rada sepi, tapi sialnya pilihan makanan pun dah abis. Kita beruntung masih dapat ikan (apalah namanya) yang rada besar (sepertinya cukup untuk kita ber-8) dan 1/2 kg udang yang ukurannya rada mantep. Ikannya kita minta di bakar dengan bumbu lokal dan udangnya di bikin asem manis (pilihan lainnya adalah di goreng tepung). Sambil nunggu hidangan kita disajikan yang memerlukan waktu lebih dari 1/2 jam, ga da salahnya ni buat main2 dan poto2 dulu di pantai, kebetulan memang pantainya putih, bersih dan landai. Hera (temannya asep yang ketemu ma kita di Jepara) langsung PDKT ma pemilik perahu, nego harga untuk kita nyebrang ke pulau panjang, dan kita dapat harga Rp. 100.000 (lamayan lah buat kita ber-8).

Saat hidangan hadir di antara kita, ga banyak cingcong langsung di serbu, meja yang tadinya riuh ketawa-ketiwi langsung hening. Dan ga sampe 1/2 jam pun sesi makan selesai.

Ga mau buang2 waktu karena dah sore, kita pun langsung tancap gas nyebrang ke Pulau Panjang. Perjalanan perahu dari pantai Bandengan – Pulau Panjang di tempuh sekitar 15 – 20 menit. Kalau dari Pantai Bandengan, pulau panjang ga akan terlihat, karena tertutup semenanjung di arah barat, baru setelah kita melaut 1/2 waktu perjalanan, akhirnya pulau panjang langsung terlihat di depan mata. Seperti biasanya kalo dah di perahu, norak tak bisa di tahan. Baru aja menjejakkan kaki di perahu dah sibuk poto-poto, ambil pose senarsis dan senorak serta seseronok mungkin, ada yang serius, ada yang buat lucu2an pokoknya semua senang dan gembira…

Pulau panjang memiliki pasir putih yang halus, sehingga bikin ga sabar untuk berenang saat kita menjejakkan kaki di pulau ini. Tapi kita harus menahan diri dulu, karena kita mau explore the island. Ada track yang rapi yang sudah di sediakan, jadi tinggal mengikuti saja. Di pulau panjang ini ternyata juga ada tempat peziarahan. Ada baberapa rombongan pengajian niat datang kemari untuk ziarah (ga perhatiin banget siy siapa yang diziarahi itu) dan selain itu juga ada light tower alias mercusuar (ga boleh ya naik ke atasnya). Kita terus berjalan dengan tanaman perdu bermain di kaki kita dan kita pun sampai pada sisi barat dari pulau, konon katanya ini adalah spot terbaik untuk melihat sunset. Karena dah kesorean dan kita niat mo berenang-berenang dulu, kita ga melanjutkan perjalanan keliling, kerena menurut penduduk (keluarga penjaga light tower) kita baru menjelajahi 1/4 dari keliling pulau, masih jaaauh…akhirnya kita mundur teratur kembali ke posisi dermaga.

Ada dermaga kayu di sini (jadi ingat foto2 di pulau tidung yang juga ada dermaga kayunya) dan disinilah kita akan berenang…assiiikkk…..pantai putih dan lembut, air yang jernih dan hangat…cocok bener buat berenang, dan asiknya udah ga panas, karena sinar matahari dah condong di barat, tertutup oleh pohon2….bbyyuuuuuurr….

Berenangnya ga boleh terlalu puas, karena kita mash harus balik ke pantai bandengan. Kitapun kembali menuju Perahu, dan perjalanan kita pulang kali di habiskan dengan  poto2 siluet, karena sunset sore ini tertutup awan, jadi Cuma dapat sunset sebagian saja.

Sesampainya di pantai, kita lanjut berenang di pantainya restoran Sunset…ternyata di sini pantainya lebih enak…wwwwaaaahh…landai dan pasirnya lembuut banget. Jadi tambah betah berenangnya. Sebenarnya pantai di restoran ini bukan untuk umum, hanya untuk pengunjung retoran (seperti pantai lippo carita) tapi karena dah sore dan kitapun masuk dari sisi pantai,jadi kehadiran kita tidak terlalu menjadi perhatian para pelayan restoran.

Saat hari mulai menggelap, kitapun segera keluar dari air, dan numpang mandi di restoran Sunset. Enak numpang mandi disini, ada shower room di sebelah kolam renang yang kosong. Walau air yang keluar rada seret, tapi kalo mo sabar mandinya bergantian, airnya jadi maksimal juga kog.

Selesai urusan mandi dan bersih-bersih, saatnya untuk makan malam ni, dan sesuai dengan janjinya mba’ Eny, kita akan pesta seafood lagi..hoooreeeee…..

Kita menuju alun-alun, ternyata disini merupakan pusat jajanannya Jepara. Tempatnya enak, lega, banyak pedagang dengan aneka masakannya, dan yang paling penting adalah tidak ada pengamen, dan disini duduknya lesehan serta mayoritas makanannya adalah seafood…gleg..ssllrruuup…

Makan malam kita adalah seafood aneka jenis, 2 ember  kerang aneka bentuk, ada kerang dara, kerang dara yang ada bulunya, kerang putih, kerang hijau, siput, kepiting ukuran kecil, dan ikan bakar…mantaaap….*ini makan malam apa kalap yaaa…heheheeee*

Malam sudah menunjukkan pukul 8, saatnya untuk bersiap-siap pulang. Sebelum kita pulang semarang, kita berpisah dengan Hera. Perjalanan pulang ga banyak aktivitas, karena dah cape, jadi kita bobo aja dan menyiksa Dicky sang driver untuk membawa kita hingga tiba di Semarang.

-vi-

Iklan

Satu pemikiran pada “Jepara – Kota lahirnya Kartini, Pusat Ukiran, Pantai yang cantik hingga Surganya Sea Food

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s