Silly Guide for Silly Female Traveler (first time) in Singapore

Ini sebenarnya cuma sekedar sharing pengalaman menjadi silly unplanned traveler in Singapore…hehehehe….but it happened ^_^
Kenapa ini di buat dengan silly guide for silly female traveler??karena ini yang terjadi pada gw, dan ini beneran silly guide buat silly traveler. Makanya sebenernya malu juga, tapi Sepertinya untuk para perempuan yang pertama kali ke sin, sedikit catatan ini bisa dijadikan guideline (ceilee…sok bener ya gw), karena ada yang bilang ma gw ‘woman cant read map’ but I can…dan sudah sering gw buktikan. Nah itulah alasannya makanya guideline ini buat para perempuan yang ‘kalo boleh pinjem bahasa temen gw’ rempong dengan bawaan dan celotehannya, suka ga tahan untuk mampir kalo liat sesuatu yang menarik, kurang cerdas membaca lingkungan/situasi, sering lost orientation, ga mudeng baca sign yang dah tertera gede2, bingung dengan map yang garis2nya tabrakan dimana-mana, sakit mata liat warna-warni jalur MRT di Sin, serta malas membaca dan browsing info2 pendukung….. heheheeee….kayanya yang tipe gini ikutan tour aja d, biar aman :p 
Sebenarnya ke Sin bukan my first time, kata ortuku siy, waktu gw balita pernah ke sin juga (buktinya ada di pasport jadul mama yang ada poto gw yang imut tertempel disana), but what do you expect from balita travel to Sin?hahahaaaa…..jadi bisa dibilang, it’s my first travell to Singapore dalam keadaan sadar travelling.
My travel to singapore bulan May lalu, sebenarnya bisa dibilang Cuma transit ajah, karena Cuma semalam dan hanya sekitar 24 jam saja kita disana. Kita ke Sin bertiga, perempuan semua, dan karena ada seorang teman yang dah pernah ke Sin sebelumnya, jadi ‘awalnya’ rada tenang, karena berharap teman tersebut dapat menjadi guide saat nanti kita di sin. Tapi kenyataannya, tidak seperti yang diharapkan 😦 memang salah kalo biasa mandiri dan ngurus ini itu, berubah menjadi ketergantungan pada seseorang…karena yang terjadi adalah salah besar, dan bagusnya ini jadi pengalaman berharga banget buat gw….never be unplanned and depended person.
Cerita ini bermula tepat saat kita mulai naik pesawat tujuan Sin setelah lelah menikmati Phuket dan Bangkok (kondisi kita memang sudah exhausted dan sulit fokus…hahahahhaaa). Di pesawat tujuan Sin kita diberikan ‘arrival card’ yang sebaiknya segera diisi sesuai dengan Passport dan tujuan kita di Sin. Di salah satu isian dari arrival card tersebut adalah alamat tujuan/tempat menginap. Ini harus diisi supaya kita ga dapat masalah saat di Imigrasi Singapore yang terkenal ketat dengan pengunjung, atau nanti malah di curigai sebagai ‘pendatang gelap’ (saat masuk Sin memang gw dah menggelap akibat norak sok2an menikmati matahari saat ke dan di PhiPhi island, tapi ini ga ada hubungannya ding…hehehehee) Nah inilah pertanyaannya…dimana kita akan menginap di Sin??
Awalnya kita mo nyoba ‘numpang nginep’ dengan fasilitas coushsurfing ke seorang teman (sudah konfirmasi dan menyatakan available), tapi hingga hari keberangkatan, kita hilang contact dengannya, no. HaPe nya tidak dapat dihubungi, dan email kita hingga malam sebelum keberangkatan tidak dijawab. Berharap ke teman yang dah pernah ke sin tersebut untuk memberikan referensi ternyata tidak memberikan solusi baik, karena tempat yang disarankannya ternyata lmayan mahal, sementara kita adalah budget traveller dalam artian sebenarnya yaitu duit paspasan, dah bokek blanjablanji ga jelas juntrungan di Bangkok…hahahaaaa….
Beruntung saat malam sebelum keberangkatan ke Sin, vi dan seorang teman sempat googling ‘cheap hostel Singapore’ dan mendapatkan beberapa referensi hostel murmer di kawasan gaylang road, jadilah kita jawab ‘isian di arrival card’ tersebut dengan alamat hostel tersebut (walau sebenarnya ga nginep juga disana, gapapa yang penting nanti mereka liat bahwa kita punya tujuan jelas di sin, ga nggembel….heheheheee)
Terdapat perbedaan waktu antara Jakarta dan Singapore, yaitu lebih cepat 1 jam, sehingga bila di jam tangan kita masih menunjukkan waktu Jakarta, maka harus di geser lebih cepat 1 jam, supaya bisa menyesuaikan dengan waktu yang berlaku di Singapore.
Mendarat di Changi, kita mendapatkan sebuah airport yang luas dan kinclong blingbling. Pertama kita akan digiring untuk pemeriksaan barang bawaan kabin. Karena kita travelling begaya backpaker super irit, jadi backpack segembolan gede kita bawa ke kabin, sehingga saat ada pemeriksaan barang bawaan gini, rada ribet juga masukin tas dalam alat pemeriksa itu. Beruntung kita sudah pack barang kita dengan baik dan benar juga ga bawa barang aneh2 dan mencurigakan, sehingga lolos aja dalam keadaan tak bermasalah saat screening. Di airport Changi yang sepertinya lebih luas dari mall Grand Indonesia ini, memang nyaman, tersedia air minum pancur (tinggal nganga aja di keran kalo kehausan) dan beberapa fasilitas internet gratisan di beberapa pojok yang boleh di pake oleh siapa aja.
Selanjutnya yang harus kita hadapi adalah Imigrasi…banyak yang bilang imigrasi di singapore ini sangat kejam dan detail. Kita sempat deg2-an juga karena salah satu teman kita masa berlaku passportnya hanya tinggal 5 bulan lagi (seharusnya saat masa berlaku passport menjelang 6 bulan habis, harus segera di perpanjang…jadi perhatikan masa berlaku passport kalo ga mau deg2an saat bertemu imigrasi atau parahnya adalah dideportasi dengan biaya sendiri atau yang paling sedih adalah tidak di ijinkan berangkat saat di Imigrasi Indonesia). Menjelang loket imigrasi antrian panjang terlihat. Yang harus disiapkan di loket imigrasi ini adalah Passport, arrival card dan boardingpass pesawat yang kita naiki, pastikan surat2 itu sudah di pegang ditangan, sehingga saat menghadap petugas sudah tidak ribet. Saat sudah mendekati meja pendaftaran, ada sepasang pengunjung yang bermasalah dan digiring oleh petugas, sempat bikin ngeri juga, karena jadi parno dengan cerita2 temen. Tapi ternyata setelah menghadapi petugas imigrasi yang ternyata seorang ibu melayu, beliau memberikan senyum ramahnya dan menyapa dengan bahasa melayu saat di lihat bahwa gw adalah orang Indonesia dan muslim. Sertamerta kecemasan gw lenyap dan berganti dengan senyum lega. Saat meninggalkan loket, passport akan dikembalikan beserta robekan arrival card yang harus disimpan karena akan diminta saat nanti kita akan meninggalkan Sin.
Kita bertiga sudah lolos di imigrasi. Saat kita melewati loket money exchange, kita sempatkan juga untuk tukar uang. Untuk perjalanan ini, agar lebih aman vi menyiapkan USD, agar currency -nya rata2 di tiap negara, ada baiknya juga untuk langsung menukarkan RP menjadi SGD saat di Indonesia, bila tujuan perjalanan langsung ke Sin. uangku yang tersisa adalah USD 50 yang ditukarkan mendapatkan SGD 68 (cukuplah untuk waktu 24 jam di Sin, tapi ga bisa jajan dan ketempat yang seru…hiks….sepertinya kudu balik lagi dengan niat lebih!!). Kalo ternyata merasa kurang cukup, bisa juga ambil uang di ATM. Untuk mengambil uang di ATM, cari saja yang memiliki fasilitas Mastercard atau Visa, dan pastikan bahwa Bankmu memiliki kerjasama dengan salah satu merchant tersebut, juga di rekeningmu ada uang yang cukup untuk diambil. Pengambilan uang di ATM persis sama dengan kita mengambil uang di ATM di Indonesia, hanya ada penambahan biaya adiministrasi sebesar lebih kurang Rp. 50.000 dan kita mendapatkan nilai currency yang berlaku di Indonesia.
Bandara Changi sebagai Bandara transit terbesar, sangat ramah bagi pengunjung yang akan menikmati kotanya. Di beberapa pojokan akan dengan mudah di temui city map dalam beberapa versi, guidance to enjoy Sin for tourist, dan booklet lainnya. Bisa diambil dengan gratis dan dipelajari, sehingga dapat membantu saat kita akan mengunjungi beberapa tempat favorit di Sin (misalnya merlion, esplanede,chinatown, raflles, etc).
Selanjutnya kita mencari MRT, karena menurut info dari beberapa teman, lebih baik naik MRT untuk menikmati Sin, terasa bedanya dan lebih murah. Karena kita mendarat di terminal 1 (T1) maka kita harus transit ke Terminal 2 (T2), karena disanalah terdapat MRT Station. Transit dari T1 – T2, dapat menggunakan skytrain yang gratis. Skytrain ini bentuknya persis dengan skytrain yang ada di Taman Mini Indonesia Indah, yang digunakan untuk keliling Taman Mini, sayang kita tidak memaksimalkan teknologi yang sudah kita miliki untuk dapat di manfaatkan di negera kita.
Setibanya di T2, perhatikan sign yang banyak tertera yang menunjukkan lokasi MRT station yang terdapat di lantai dasar airport. Setibanya di MRT station kita harus membeli tiket. Karena belum pengalaman dan menurut rekomendasi, kita membeli tourist ticket pass. Untuk 1 day kita membayar seharga SGD 8 + guarantee SGD 10 yang akan dikembalikan saat kita mengembalikan tourist pass. Tourist tiket ini merupakan 1 day pass untuk semua kendaraan, termasuk bus. Jadi memang menguntungkan kalo kita beneran start dari pagi buta dan end tengah malam dan menggunakan angkutan umum secara terus menerus. Tapi kalo ternyata mendarat di Sin sudah siang menjelang sore sebaiknya beli aja one way ticket yang bisa di dapatkan di mesin2 yang terlihat seperti mesin ATM berjejer tak jauh dari pintu masuk MRT station.
Cara menggunakan mesin tiket ini cukup mudah. Sebelumnya pastikan dulu bahwa di tangan sudah tersedia uang receh (mesin tidak menerim uang besar yang memerlukan kembali lebih dari 4 SGD, ada keterangannya di mesin). Bila tidak memiliki recehan, kunjungi dulu costumer service yang bersedia menukarkan uang besar menjadi recehan SGD 1. setelah memiliki uang ‘kecil’ tersebut, maka kita bisa bersiap di muka mesin tiket. Berhadapan dengan mesin tiket, akan tampak tampilan dengan beberpa tombol, tempat kartu, dan tempat memasukkan uang kertas juga koin. Di sebelah kiri akan terdapat pilihan jenis tiket, pencet (touch screen mode on) pilihan one way ticket, lalu pilih stasiun tujuan yang terdapat di peta sebelah kanan (pastikan dah punya tujuan mo kemana), setelah itu akan tertera berapa jumlah yang harus dibayarkan. Harga one way tiket tidak lebih besar dari 4 SGD (pengalaman gw yang Cuma trip tak terlalu jauh), misalnya dari gaylang – chinatown = SGD 2.80. lalu masukkan uang sejumlah tersebut atau senilai SGD 3 (bisa dalam bentuk uang kertas SGD 2 + koin SGD 1), maka kita akan mendapatkan 1 buah kartu tiket berwarna hijau serta uang kembali senilai SGD 20 cent. Harga tersebut sudah termasuk guarantee senilai SGD 1 yang bisa kita ambil di stasiun tujuan. Saat akan masuk kedalam station, tinggal tempelkan saja kartunya di atas jalur, dan bila lampu hijau menyala pintu akan terbuka. Namun bila lampu merah menyala, berarti kartu bermasalah. Tapi jangan panik, langsung saja ke costumer service, dan bilang kartu trouble, nanti akan di perbaiki dan kartu dapat digunakan kembali.
Didalam peron kita akan berada di antara 2 jalur (seperti kalo naik KRL Jabotabek aja) perhatikan peta yang ada dan petunjuk arah, sesuaikan tujuan kita dan berdirilah di sisi kedatangan kereta. Di petunjuk arah terdapat alur kereta dan stasiun2 yang akan di kunjungi serta waktu tempuh tiap stasiun. Perhatikan berapa stasiun yang akan kita lewati supaya ga kelewatan waktu kita keasikan ngobrol di dalam MRT.
Bila harus transfer jalur kereta, saat keluar di interchange station perhatikan alur perpindahan kereta. Misalnya saat ini kita berada dijalur hijau dan akan pindah ke jalur ungu. Perhatikan sign yang tertera (akan ada warna ungu-nya) dan ikuti hingga nanti kita tiba di jalur ungu. Saat tiba di peron kembali perhatikan sisi mana kita harus berdiri dengan melihat peta/petunjuk arah.
Pastikan kita tiba di station tujuan yang benar, karena kalo ga, ga bakalan bisa keluar…hehehehee….karena tiketnya kan one way. Dan setibanya di station tujuan, segera tukarkan kembali tiket kita di tiket mesin dengan cara memilih pada menu ‘refund’ dan masukkan tiketnya di tempat yang benar (karena ada 2 slot tiketm jangan salah masuk) dan kembalian kita akan keluar…clink…mudahkan….
Ukey…selanjutnya adalah mencari penginapan di Sin. Paling benar adalah sudah booking tempat. Baik di hotel, hostel ataupun menumpang pada teman. Jangan seperti yang terjadi pada kita. Yang kita punya infonya adalah sebuah hostel murmer untuk backpacer di dekat MRT al junied, di gaylang road, dan kita belum book. Berdasarkan info yang cukup jelas yang kita baca di web.nya, dengan rekomendasi yang cukup bagus serta foto2 yang mendukung, beneran bikin kita percaya diri melangkahkan kaki menuju tempat tersebut. Tapi ternyata hostelnya berada di sebuah ruko di di atas toko. Hostel yang pertama kita hampiri bikin kita ilfill, karena harga yang tertera di web dengan kenyataannya beda bener (yang tertera SGD 14 tapi yang kita dapatkan SDG20) dan tempatnya pun tidak senyaman yang di rekomendasikan di web (menurut pandangan kita yaaa)…..hingga akhirnya kita menemukan hostel yang juga di ruko (lokasinya persis berhadapan dengan hostel yang pertama kita kunjungi) atas saran 3 orang bule yang kebetulan ketemu di jalan pas kita makan siang. Hostel yang kita inapi ini ga besar, Cuma 1 lantai saja di lantai 3 sebuah ruko dan setelah kita tawar,kita dapat harga SGD 15. karena keuangan mepet, kita ambil kamar mix dorm, yang artinya adalah kamar campur (cewe dan cowo barengan) yang berkapasitas 8 orang dalam 4 tempat tidur tingkat. Setelah mengisi form administrasi, kita diberi kunci yang terdiri dari 4 kunci. 1 kunci card yang harus di scan untuk membuka pintu muka, 1 kunci untuk masuk ke dalam living room, 1 kunci kamar, dan 1 kunci loker (banyak yaaa). Untuk kunci2 ini kita harus deposti sebesar SGD 40 atau kalo duitnya mepet bisa juga menjaminkan passport, yang nantinya akan disimpan dengan aman oleh pemilik hostel.
Kamar di hostel ini cukup bersih secara keseluruhan, kasur, bantal, sprei serta selimut bersih. Ada living room buat nonton tivi bareng, 1 unit kompi buat internetan (gantian aja, liat situasi pas kosong), 2 kamar mandi yang bersih, serta sarapan gratis (ada the, kopi, roti +jam/honey, sereal). Kita boleh pake kompor kalo mo masak, dan bisa nyimpen makanan di kulkas.
Enaknya nginep di hostel adalah bisa dapat kenalan mudah dari sesama penghuni, dengan ngobrol2 ringan. Jadi ga perlu malu-malu untuk memulai percakapan dengan mereka, karena akan dapat pengalaman luar biasa dari mereka yang dah travelling lebih dari 1 bulan bahkan ada yang dah memutuskan untuk bekerja di Sin.
Karena kamar kita dihuni bersama, jadi kita juga harus memperhatikankenyamanan penghuni lainnya, seperti toleransi yang ditujukan kepada kita, saat kita tidur duluan, sementara penghuni lainnya belum ada, mereka dengan sopan tidak membuat keributan, mematikan lampu kamar, bahkan berbisik2 saat ngobrol diantara mereka. Kita juga harus turut menjaga kebersihan kamar sehingga terasa benar saling toleransinya disini.
Kalo mo jalan2 menikmati kota, baca dulu panduan yang bisa diambil di bandara. Di panduan tersebut jelas tertera dimana lokasi2 dan stasiun atau shalter bis terdekat. Misalnya kalo mo ke MERLION, di panduan di tulis ‘rafless’ namun setibanya kita di stasiun MRT Rafless kita malah kebingungan, akhirnya kudu tanya-tanya juga ke orang sekitar. Hingga tibalah kita di Merlion, tempat wajib buat narsis kalo lagi berkunjung di Sin.
Sewaktu kita di Singapore kita memang ga sempat menggunakan bis kota, sehingga ga bisa share disini, tapi secara keseluruhan info diatas cukup untuk menjadi panduan simple saat menjejakkan kaki pertama kali di Sin.
Jadi buat yang dah bersiap untuk ke Sin, dan belum punya pengalaman, semoga bisa membantu, dan selamat menikmati Singapore.
-vi-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s