Melacca VS Semarang…..kenapa Melacca bisa jadi ‘World Heritage City’ dan Semarang ga bisa ???

Buat yang udah pernah ke Melacca di Malaysia dan Semarang ibukota Jawa Tengah di Indonesia mungkin bisa mengoreksi tulisan saya yang hanya berdasarkan pendangan mata dari orang awam. Bikin tulisan ini juga karena geregetan banget dengan potensi yang kita punya tapi kog ga di maksimalkan siiiy….seharusnya Semarang pun layak menyandang ‘world heritage city’ seperti Melacca.

Berkunjung ke Melacca beberapa saat lalu terdorong oleh penasaran karena rekomendasi beberapa teman yang ‘bangga’ banget dah kesana (sepertinya dia belum pernah menikmati oud batavia di Jakarta, little nedherland di Semarang dan kota lama Surabaia).

Tiba di Melacca di suatu wiken yang cerah, setelah beristirahat sejenak di sebuah hostel mungil yang bersih dan nyaman, saya mulai melangkahkan kaki untuk mulai explore di area konservasi melacca.

Dimulai dari Kampung Masjid Ulu, Masjid kampung Keling hingga menemukan sebuah klenteng tua nan cantik yaitu Cheng Hoon Teng Temple di pecinan.karena hari jumat ini adalah awalwiken, sore itu mulai terlihat keramaian pedagang di sepanjang Jongker walk…..waaah meriah sekali, segala pedagang tumpah ruah, dari kuliner, hingga pedagang souvernir, beberapa toko2 merchandise juga turut meramaikan jongker walk. Selain keramaian pedagang yang semakin malam semakin ramai pengunjung di sepanjang jalan ini, di beberapa sudut kita juga bisa menemukan beberapa pertunjukan yang unik, seperti pertunjukan kungfu di salah satu ujung jalan, dan pentas megah karaoke di ujung jalan lainnya. Selain pedagang, di sebuah persimpangan di tengah jalan terlihat berjejer rapi cafe2 yang terlihat di ramaikan oleh pelancong manca negara asik kongkow2 sambil ngebeer.Di penghujung jalan Hang Jebat terdapat jembatan besar yang dibawahnya dilewatin sungai yang cukup lebar dan rapi, tampak lalulalang kapal dengan lampu2 menarik mengangkut penumpang yang ingin menikmati Melacca dari sisi kanal sungai yang tampak meriak dengan lampu kelapkelip di sepanjang Kanal. Di ujung jembatan terdapat bundaran stadhuys, terlihat semarang juga dengan lampu berkelap kelip dan tampak segerombolan becak wisata menawarkan paket keliling kota, dan uniknya becaknya pun berhiaskan lampu kelapkelip….sungguh semarak kota melacca malam itu, pariwisata benar2 terasa menggeliat.

Perjalanan sore itu mengingatkan saya pada kota Semarang, melihat daerah yang saya jelajahi sore itu teringat dengan daerah pecinan di Semarang, di awali dengan melangkahkan kaki di kampung Kauman yang terdapat masjid peninggalan Arab Gujarat dengan masjid kunonya, dan Klenteng Tay kak Sie yang megah serta klenteng2 kecil cantik yang beserakan di seluruh area Pecinan, dan saat wiken pun di jalan Warung di gelar ‘Pasar Semawis’ yang merupakan pesta kuliner khas semarang yang semarak dengan beragam kuliner dari yang halal hingga yang haram, serta beberapa cinderamata khas cina (bukan khas semarang) di jajakan dan di tengah Pasar Semawis pun ada pentas Karaoke (walau tak di bikin panggung megah tapi sangat menghibur) dan peserta Karaokenya walau kebanyakan oma dan opa yang udah niat pake baju rapi untuk nyanyi di Semawis. Di sebelah klenteng tay kak Sie pun mengalir sebuah sungai yang kanal nya sudah tertata rapi. Namun sayangnya semua yang di miliki Semarang terasa kurang populer dan tidak terawat. Pasar Semawis yang seharusnya semarak, mulai kehilangan greget, terasa ramai sekali hanya di kala perayaan Tahun Baru Imlek, dan hari-hari weekend lainnya memang ramai tapi biasa saja.

Kembali ke Melacca di pagi hari…kami memulai pagi dengan jalan santai berawal di seputaran kanal sungai, sungai yang bersih dan tidak bau, nyaman untuk berjalan di sisinya dan ramai dengan lalu lalang kapal kayu wisata, di sepanjang kanal kami menemukan banyak sign board informasi yang menarik, bahkan ada spot poto yang bisa jadi inspirasi semua orang untuk berpoto disana, ada juga beberapa map wisata, dan petunjuk-petunjuk lainnya yang ramah untuk wisatawan. Kami tiba di bundaran stadhuys, yang terkenal dengan bangunan berwarna pink mencolok. Terdapat museum negeri dan gereja Christ Chuch Melacca peninggalan Belanda, bundaran yang ramai, karena di bundaran ini tumpah ruang pelancong lokal dan mancanegara. Terdapat fountain kecil ditengahnya yang menyejukkan. Bundaran ini lagilagi menginatkan pada taman di Srigunting di sebelah Gereja cantik kebanggaan kota Semarang, Gereja Blenduk, bahkan kalo saya bandingkan, gereja Blenduk jauh lebih unik dan cantik di bandingkan dengan Gereja ini, dan untuk kecantikan gedung2 peninggalan Belanda di kawasan kota lama Semarang pun tak kalah dibandingkan apa yang kami temukan disini, hanya sayangnya perawatan dan perhatian saja yang kurang,seperti biasanya, para pemerintah kita kurang sadar wisata *sedih*.

Kami sempatkan untuk masuk ke dalam museum negeri Melacca dan mendapatkan gambaran singkat mengenai kota Melacca dan sejarah Hang Tuah bersaudara yang menjadi Pahlawan dan Pujangga kebanggaan masyarakat Melacca (padahal Hang Tuah bersaudara berasal dari Indonesia, tapi karena memang pada masa Kesultanan Melayu dahulu, tidak ada batasan negara karena kita serumpun). Dihalaman belakan museum saya di kejutkan dengan Patung Laksamana Cheng Ho berdiri tegak (persis dengan yagn terdapat di Klenteng Sam Poo Kong di Semarang, hanya saja di klenteng sam poo kong, patung Cheng Ho terpenjara dalam rantai besi, sehingga ga bisa poto2 dekat dengan patungnya, entah kenapa) dan ternyata terdapat museum khusus Cheng Ho di sini, untuk mengenang perjalanan beliau yang mampir di kota Melacca saat itu. Kalo mengingat museum barulah terasa bedanya, di Semarang minim sekali museum, hanya ada museum ronggo warsito yang terlalu besar, sehingga ga fokus dengan meteri museumnya sebenarnya apa yang di jelaskan dan ada juga museum Abri di depan Lawang Sewu. Ada beberapa museum lainnya seperti Museum Muri dan Jamu Jago di Ungaran, tapi tutup di hari minggu, gimana kita mo mengunjungi??… Di Melacca kita menemukan banyak museum, ga terlalu besar, tapi fokus dengan isi museumnya, jadi kita memasuki museumpun jadi paham satu persatu dan bisa memilih apa yang menarik untuk kita ketahui. Sehingga museumpun menjadi tempat yang menarik untuk di kunjungi walau harga tiket masuk terasa cukup mahal dibanding harga tiket masuk museum di Indonesia(RYM 10 = Rp 27.000)

Kita melanjutkan menuju benteng A Fermosa, sebuah benteng di atas bukit hanya 5 menit jalan kaki dari museum. Dan sungguh terperajat menemukan reruntuhan A Fermosa yang bentuknya ‘hanya berupa runtuhan’, tapi sangat terpelihara, bahkan reruntuhan ini di jaga kekuatan strukturnya sehingga tidak rubuh di kemudian hari. Miris kalo memikirkan gedung2 tua cantik di Semarang yang malah di sengaja dirubuhkan, sementara di Melacca malah di pertahankan dengan tambahan perkuatan struktur dan menjadi salah satu objek teramai. Dari benteng A Fermosa ini kita bisa menikmati kota Melacca secara lokasinya yang cukup tinggi. Dibanding dengan Semarang yang bentuknya berbukitbukit, bisa juga menikmati kota semarang dari ketinggian, bisa kearah Gombel atau dari Siranda, tapi tempat menikmati pemandangan tampak atas ini dari restoran-restoran yagn lmayan mahal harganya…hehhehehee…

Yang unik di Melacca adalah Menara sightseeing, bentuknya seperti UFO ,untuk menaikinya, nanti piringannya akan turun, dan penumpangnya duduk berkeliling dengan kaca didepan untuk menikmati keindahan kota Melacca dan lmayan tinggi juga, kalo di Semarang mungkin Menara di Masjid Agung Jawa Tengah, cukup tinggi juga tuh menaranya, dan mencangkup hampir seluruh kota semarang.

Satu lagi hal unik yang ditemukan di Melacca adalah Beca wisata, atau saya nyebutnya odong2 prewed…heheheeee…karena beca berpenumpang 2 orang ini dihias ramai dengan bunga2 seperti kendaraan prewed dan sepanjang perjalanan akan dihibur dengan lagu2 hahahaa….persis odong2 bocah yang di kayuh dengan lagu2…beca wisata ini tertib, ada tarif khususnya, dan mereka mengumpul di beberapa tempat sehingga tidak berebut penumpang, dan beca ini pun menjadi favorit wisatawan mancanegara.

Kalo secara potensi siy Semarang ga kalah dengan Melacca, tapi perbedaan mencolok sadar wisata yang sangat terasa. Di Melacca semua terlihat tertata, papan informasi wisata tersebar di mana-mana, dan semua yang memilki potensi di maksimalkan, semua seperti memiliki kesadaran untuk mengembangkan pariwisata, ga setengah2 mengelola wisata, dan yang paling utama adalah jarak tempuh dari satu tempat ke tempat lainnya bisa di akses cukup dengan jalan kaki saja, jadi sangat mudah. Yang paling penting juga adalah bersih dan nyaman, aman untuk berwisata. Di beberapa tempat terdapat souvernir shop yang ditata menarik tidak kumuh.Dan herannya adalah tak banyak terlihat mobil lalu lalang dengan ramainya, sehingga sepertinya pemerintah di Melacca

Bagaimana dengan semarang, memang kita punya itu semua, tapi coba lihat bagaimana keadaan di kota lama, bangunan cantik peninggalan Belanda banyak kondisinya yang memprihatinkan,tak terurus dan di sengaja runtuh dan tak terawat, padahal setiap gedung memiliki nilai historis yang luar biasa, ditambahlagi kala rob menyerang. Jarak antar lokasi wisata di Semarang lumayan jauh dan akses pun sulit, kalo di paksa jalan kaki dari kota lama ke lawang sewu misalnya, lumayan bikin gempor, belum lagi ke sam poo kong (yang sekarang sudah sangat komersil sekali..hhhmmmmm) bahkan untuk ke daerah gombel untuk menikmati pemandangan Semarang dari atas harus di lanjut dengan naik angkot yang kadang kurang bersahabat….dan untuk menikmati Kota Lama Semarang serta Pecinan dan Kauman seharian pasti akan terasa sangat kurang, karena banyak sekali tempat dan hal menarik yang bisa di temukan. Dan di seputaran kota Semarang ga pernah saya temukan map wisata dijalan2 atau di tempat umum, dan juga sepertinya yang temen saya bilang, di mana bisa cari souvernirSemarang selain makanan di jalan Pandanaran?? Kalo begini gimana semarang bisa menjadi ‘World Heritage City’??????

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s