Ekspore Jawa TImur ke arah TImur – Trowulan, Madakaripura waterfall, Ijen Crater, Tanjung Papuma

Malam 23 Desember 2010 kita memulai perjalanan kita menuju Timur, trip kita kali ini adalah explore jawa timur, dan akan menjadi perjalanan paling jauh yang pernah kita tempuh dari Semarang. Menjelang pagi 24 Desember 2010 kita baru saja keluar dari nganjuk, dan istirahat di sebuah SPBU yang cukup ramai untuk sekedar rebahan, shalat subuh dan mandi. Usai semua beres,kita kembali pack barang2 kita dan melanjutkan ke timur, rencana awal untuk mampir di Kediri bertemu dengan teman2 di Kediri terpaksa di batalkan karena kita harus mengejar perjalanan yang lebih jauh, sehingga kita langsung menuju tujuan pertama, yaitu Trowulan, tempat dimana Kerajaan Majapahit pernah bertahta.

Memasuki kawasan Trowulan, kita di bingungkan dengan tak di temukannya petunjuk arah yang bersabata menuju Museum Majapahit, tapi kita menemukan petunjuk arah menuju Candi Brahu.

Candi Brahu terbuat dari Batu Bata, candinya cukup kecil dan minim ornamen. Tapi beruntung taman di sekeliling candi sudah di tata dengan baik sehingga sekeliling candi terlihat sangat bagus. Memasuki Candi Brahu kita tidak di kenakan biaya masuk, cukup mengisi buku tamu dan membayar sekedarnya. Tak berlama-lama kita disini ,karena tak banyak informasi yang bisa kita dapatkan, bahkan tak ada guide yang bisa bercerita mengenai candi ini *sayang banget*.

Kita melanjutkan perjalanan menuju Museum Majapahit setelah mendapatkan petunjuk arah yang benar. Setibanya di Museum Majapahit, ternyata museum tutup, padahal masih tanggal 24 Desember, alasannya adalah ‘cuti bersama’…huhuhuhuhuuuu…udah jauh2 ga bisa masuk museum, tapi kita tak menyerah, setelah di paksa dan rayuan akhirnya kita di perbolehkan melihat koleksi candi di pelataran belakan museum, lumayan buat mengobati keresahan hati akibat ga boleh masuk museum.

Museum Majapahit terbagi dalam 2 ruang pamer, indoor dan outdoor, nah pada kesempatan ini dengan di kawal sepasang satpam, kita di perbolehkan untuk menikmati koleksi outdoor museum berupa koleksi batu-batu dan informasi-informasi candi-candi di area Majapahit. Karena tidak ada guide *memang museum tutup* lagi-lagi kita ga dapat informasi berharga mengenai koleksi museum selain membaca ‘informasi sekedarnya’ yang terdapat pada papan-papan informasi. Cukup berpuas diri kita akan menuju beberapa candi yang terletak tak jauh dari Museum Majapahit yang di sebelahnya terdapat kolam yang berfungsi sebagai reservoir.

Hanya sekitar kurang dari 1 km kita sudah tiba di sebuah candi kecil yang terbuat dari batu bata bernama wringin lawang tapi sayang pagarnya di kunci jadi kita Cuma bisa menimati dari luar gerbang saja, dan memuaskan diri dengan memotonya dari luar.setelah lewat di depan candi wringin lawang kita lanjut ke candi Tikus, sekitar 500m dari sini dan tibalah kita…beruntung di candi Tikus buka, dan dengan gembira kita melangkahkan kaki memasuki area Candi Tikus.

Memasuki area Candi Tikus dengan taman cantik yang terhampar membuat kita jadi kagum juga dengan niat pemerintah…tamannya di bikin dengan niat, jadi walau candinya kecil tapi dengan dukungan taman yang cantik jadi semakin bagus. Lagi-lagi di candi ini tak menemukan sedikitpun informasi yang bisa membawa kami ke jaman jayanya Majapahit, tak ada informasi yang mengisahkan siapa yang mendirikan candi ini dan untuk apa candi ini di buat.

Usai berpanas2an di Trowulan, kami melanjutkan perjalanan ketimur,tujuan berikutnya adalah air terjun Makaripura di Probolinggo. Perjalanan menuju Probolinggo tidak selancar yang di harapkan, perjalanan harus berputar menuju Surabaya dan terjebak macet di Porong.

Mumpung udah nyampe di Porong yang jadi daerah korban Lumpur Lapindo, kitapun tak menyianyiakan Kesempatan ini,kita sempatkan untuk melihat lumpur Lapindo yang tanggulnya tampak membentengi jalan raya porong. Di beberapa sisi jalan tampak terlihat tanda panah yang menunjukkan tempat parkir untuk dengan tulisan ‘wisata lumpur’, serta merta kita pun melipir untuk memarkirkan mobil di sisi jalan tersebut.

Dengan membayar sejumlah rupiah ke tukang parkir, kita segera mendaki tanggul yang membentengi lumpur Lapindo, dan setibanya di atas, terbentang pemandangan spektakuler namun miris, terlihat sejauh mata memandang Cuma endapan lumpur dengan bau belerang. Yang terlihat di depan kita adalah atap bangunan (mungkin gudang) yagn tersembul atapnya dari balik endapan lumpur. Di kejauhan terlihat juga asap mengepul padat menebarkan bau belerang.

Tak berlama-lama kita disini, karena perut lapar dan perjalanan masih jauh dan terlihat di depan, jalan begitu macetnya. Kita segera kembali ke ,mobil dan melanjutkan perjalan. Dengan bersabar dan menahan keroncongan, dangdut dan rock, akhirnya kita terlepas dari kemacetan yang sungguh melelahkan, dan tibalah kita di pasuruan (kampungnya inul niy katanya….asssiiikk ngeebooorr….) dan segera kita melipir begitu melihat beberapa warung makan yang berjejer di pinggir jalan. Dan kita pilih salah satunya yang terlihat ramai.

Dari banyak menu yang ditawarkan, akhirnya Cuma pesan soto aja, karena pengen makan hangat, secara perut dah kelaparan berat, jadi sepertinya pengen makan yang hangat dan berkuah.

Perut kenyang dan perjalanan masih jauh, akhirnya kita segera kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju timur.

Karena kita dah kemalaman dan probolinggo masih sekitar 2 jam, maka kita memutuskan memutar haluan kita untuk naik ke bromo, di sana ada banyak penginapan back packer murah meriah. Maksudnya siy naik ke bromo juga sebagai bonus buat addi yang kepengen banget ke Bromo. Dari probolinggo kita mulai mendaki melalui Tongas dan sesampainya di desa sukapura terlihat situasi yagn tidak menyenangkan. Dari dalam mobil terasa benget hujan pasir menerpa mobil, sehingga kaca depan jadi kabur. Tapi kita lanjut naik ke atas, dengan di iringi hujan pasir, semakin keatas situasi semakin terlihat mencekam, di jalan kita menemukan tiang listrik yang roboh, menyebabkan desa di atas terputus aliran listriknya, dan mengakibatkan desa seperti desa mati. Kita tiba di atas yang merupakan desa terakhir , dan saat mencapai terminal di desa candisari ini, kita menyaksikan kondisi desa yang sangat parah (sayangnya karena dah malam jadi ga terlihat parahnya) tapi hujan pasir tu
run dengan deras, dan beruntung kita dah menyiapkan masker untuk melindungi pernapasan dari debu. Karena situasi desa yang dah ngeri dan teman2 juga resah, akhirnya kita turun kebawah, berharap menemukan penginapan yang terjangkau dengan kondisi budget kita yagn sangat terbatas, akhirnya kita turun dan mulai mampir2 di beberapa penginapan. Hujan pasir semakin deras terasa (selain hujan pasir yang dulu pernah di rasakan juga waktu di jogja, hujan pasir kali ini terasa lebih lebat) sehingga kita memutuskan untuk terus turun kebawah.

Seiring dengan perjalanan turun, kita menemukan petunjuk arah menuju air terjun makaripura, sempat terniat untuk buka tenda aja di area air terjun, pasti ada camp area dan toilet yang mendukung (penting untuk mengetahui keberadaan toilet saat buka tenda). Maka kita arahkan mobil mengikuti petunjuk arah. Setelah sekitar 10 KM akhirnya tibalah di gerbang air terjuan Makaripura, tapi ternyata juga gelap gulita….hhhmmmm..bingung niy, ga ada tanda2 kehidupan, ya sudahlah akhirnya di putuskan untuk kembali ke probolinggo.

Memasuki kota probolinggo, kita berjalan pelan untuk hunting penginapan, hingga akhirnya mendaratlah kita di sebuah hotel di sisi jalan raya probolinggo, setelah bertanya2 rate kamarnya, ternyata mereka memiliki kamar kelas ekonomi (fan kamar mandi dalam) dan segera saja kita ambil 4 kamar untuk kita semua, karena badan dah letih dari kemaren malam belum rebahan dan belum bobo yang baik dan benar…phhiiieewww…senangnya ketemu kasur dan bantal serta bisa mandi dengan benar. Buat ganjel perut malam ini kita masak mie instan aja, beruntung bawa kompor yang sangat portable, sehingga di tempat paling sempitpun bisa dengan mudah masak2..heheehhheee…

Istirahat yang nyaman memang penting saat traveling, percuma memaksakan badan untuk terus bergerak, nanti malah ga fit, secara perjalanan masih jauh bener niy…

Pagi ini kita dah bersiap untuk melanjutkan perjalanan, dengan badan yang lebih segar, dan mendapati kota probolinggo yang berwarna abu-abu, rupanya hujan debu Bromo semalam beneran deras, hingga pagi ini kota probolinggo bernuansa kelabu masih turun hujan abu rintik2, ga sederas semalam. Dan hari ini adalah tanggal 25 desember..its supposed to be white christmast tapi di sini ternyata gray christmas dengan saljunya berupa rintikan debu bromo.

Saat menyelesaikan administrasi di lobby, Mendapati satu eksemplar koran di lobby dan terdapat poto2 keadaan kota candisari yang porakporanda membuat kita jadi tertegun, secara semalam kita sempat sampai disana…

Pagi ini kita kembali menuju Tongas, kita akan kembali mengunjungi air terjun Makaripura, karena sayang kalo kita ga kesana, Cuma kurang dari 1 jam saja dari probolinggo. Sepanjang jalan kita di guyur rintikan debu gunung bromo dan di sisi jalan, tanpak tanaman yang daunnya terlapir debu sehingga pemandangan yang seharusnya hijau segar menjadi abuabu pucat. Sempat khawatir juga kalo air terjun makaripura ternyata di tutup sebagai dampak dari letusan bromo, tapi sesampainya kita di gerbang ternyata air terjuan makaripura masih dibuka untuk di kunjungi, dan pagi ini hanya kita pengunjung yang masih nekat dan niat untuk berwisata di situasi yang porakporanda ini.

Memasuki kawasan air terjun, kita langsung di sambut segerombolan warga/ penunggu air terjun, dan mereka menanyakan apakah semalam kita sempat tiba disini, ternyata mereka lihat kita datang, tapi saat mereka menghampiri kita dah ngacir meninggalkan gerbang…hehehee….tau ada mereka kita beneran nekat ngcamp di sini, ternyata tempatnya nyaman banget.

Memasuki kawasan air terjun makaripura, kita di sambut dengan patung mahapatih gajahmada dengan posisi semedi. Untuk yang masih bertanya-tanya apakah istimewanya air terjun ini, perlu di ketahui bahwasanya di air terjun inilah Mahapatih Gajah Mada menikmati masa tuanya dengan bercocok tanam dan bersemadi di air terjun yang luar biasa cantik. Ga salah gajah mada memilih tempat ini, karena sesaat kita tiba di kawasan ini,langsung terasa kedamaian kawasan ini.

Untuk bisa menikmati air terjun Makaripura yang masih sekitar 20 menit jalan kaki dari parkiran, kita harus ‘dikawal’ dengan guide yang di paksakan oleh para penduduk lokal yang tampak mengerumun di area parkir. Begitu turun mobil, kita langsung di sambut oleh mereka, dan dengan memaksa menawarkan jasa ‘guide’ menuju air terjun, sebenarnya siy penting ga penting pake guide, tapi kalo ternyata mereka maksa gitu siy ya terpaksa siy, tapi yang paling penting adalah kudu di tawar, dan di pastikan berapa nilai jasanya.

Menuju Air terjun di mulai dari Patung Besar Gajah Mada, sebenarnya sudah ada track yang di buat bagus, tapi ternyata akibat longsor jalannya kandas, sehingga harus turun di sungai dan menyeberangi sungai, jadi inilah alasannya kita harus diantar oleh guide, karena turun dari jalan setapak menuju sungai lumayan terjal dan melintasi sungai juga licin, jadi si mas guide yang ngbantuin kita melewati rintangan-rintangan tersebut.

Setelah trekking sekitar 20 menit akhirnya mulai terdengar gemuruh air dan dari jauh terlihat aliran air terjun yang paling besar. Jadi tambah semangat dan sesampainya di ujung sungai yang merupakan gerbang air terjun, perjalanan kita berakhir di sebuah tebing besar. Dari tebing besar ini kita akan memasuki celah air terjun abadi…waaaah….hati jadi luar biasa gembira, karena dari hujan abadi ini lah kita memasuki ruang air terjun utama Makaripura…melewati hujan abadi ini kalo ga mau berbasah2, sebaiknya membawa payung dan kantor kresek untuk menyimpan barang bawaan dan gadget canggih yang dibawa (HP, kamera, dll) atau kalo ga bawa semua itu, ada penyewaan payung dan penjual kantong kresek disana, jadi santai saja..hehheehheee…

Melintasi hujan abadi, kita langsung di hadapkan pada pemandanga spektakuler luar biasa cantik…air terjuan Makaripura…tempat yang cantik dan tenang, ga salah Gajah Mada menemukan tempat ini sebagai tempat bersemadi dan menghabiskan hari tuanya…terasa damaaaiiii banget. Air terjuan utama terdapat di pojokan yang di sisinya terdapat gua yang konon di gua itulah Gajah Mada Bersemadi.Air terjun ini di kelilingi tebing yang menghijau lumut, jadi seperti ruang rahasia dengan kecantikan mempesona. Kita saja yang saat tiba di sana benar-benar terkagum-kagum dengan kecantikan lanscape air terjun ini, dan kalo ga inget bahwa kita masih harus melanjutkan perjalanan ke timur, pasti rela deh untuk berlama-lama disini…rasanya kog sayang banget tempat cantik begini tapi di mampiri hanya satu jam saja.

Kembali ke parkiran, kita segera ganti baju, karena baju kita dah basah semua akibat main air dan terpaan hujan abadi. Setelah selesai dengan ganti baju kitapun kembali melanjutkan perjalanan dengan tujuan semakin timur. Siang ini kita langsung menuju kawah ijen, perjalanan masih jauh, dari probolinggo masih sekitar 5 jam melalui paiton, bondowoso dan kawah ijen. Kita mampir di dekat perbatasan probolinggo – situbondo ada rumah makan yang cukup menggoda untuk mengisi kekosongan perut yang dah merontaronta minta di isi.

Setibanya di Paiton kita sempatkan juga untuk berhenti sejenak melihat PLTU yang sungguh luar biasa megah dan menakjubkan…dan pemandangannya juga bagus, jadi kita berhenti sejenak,
poto2 di gerbang tulisan ‘selamat datang di kabupaten situbondo’ 🙂 selanjutnya kita kembali istirahat di sebuah spbu yang cukup besar dengan fasilitas hebat, di spbu yang megah ini tersedia beberapa penginapan dengan fasilitas layaknya villa, toilet yang bersih serta di dukung juga dengan jejeran cafe2 nyaman, cocok banget buat istirahat setelah perjalanan panjang dari probolinggo, sekalian melegakan pantat yang dah di siksa duduk berjamjam di mobil.

Hari dah semakin sore dan perjalanan kita masih jauh, kita kembali melanjutkan perjalanan, melalui bondowoso. Perjalanan menuju bondowoso kita mendapati pemandangan yang menyejukkan dan bagus, jalan yang berkelokkelok di dalam hutan jati yang rindang,tak terasa waktu 1.5 jam sudah kita tempuh dan sekarang kita akan segera berbelok menuju desa wonosariyang merupakan pintu masuk menuju kawasankawah ijen. Masih memerlukan sekitar `1,5 jam lagi untuk tiba di paltuding yang merupakan camping ground dan camp terakhir untuk memulai pendakian ke kawah ijen.

Perjalanan dari dari desa wonosari ternyata tidak berjalan lancar seperti yang diharapkan. Dari total 70 KM menuju camp Paltuding, sekitar 20 km jalan sangat hancur,hal ini sangat menghambat perjalanan kita, dari estimasi waktu yagn diharapkan hanya sekitar 1 – 1,5 jam menjadi lebih dari 2 jam dan mobil yang kita gunakan harus bersusah payah melewati jalan yang sangat rusak parah dan di dalam hutan yang cukup lebat,dan konon katanya si mas Gede, sang driver, ada yang ‘mengganggu’ perjalanan kita (ada yang ngikut katanya…hiiiiyyy…beruntung d, gw ga bisa ngrasain hal2 mistis begitu), sehingga sempat mesin mobil mati beberapa kali kali saat melalui lubang2 terjal di jalan yang porak poranda. Lolos dari jalan rusak, jalan kembali licin dan akhirnya tibalah kita di sebuah pos dengan portal yang mengharuskan kita untuk turun dan mengisi buku tamu. Ternyata kita sudah sampai di perkebunan kopi yang merupakan area tertutup (tapi ini adalah salah satu jalan umum untuk menuju kawasan kawah ijen selain jalur lainnya melalui banyuwangi). Sambil mengisi buku tamu kita sempatkan untuk bertanya-tanya mengenai penginapan di kawasan perkebunan, karena dari info hasil googling, ada rekomendasi untuk menginap di wisma arabica di kawasan perkebunan ini, jadi sepertinya kasian, semua dah letih dengan perjalan jauh, sehingga kita memutuskan untuk menuju wisma arabica sebelum melanjutkan menuju pos poltuding malam ini.

Dengan mengikuti petunjuk arah yang cukup mencolok, kita menemukan wisma Arabica, terlihat teratur dan nyaman, dan yang paling nikmat adalah saat kita memasuki area ini, wangi semerbak coffie yang sedang di bakar terasa memenuhi atmosfer udara…hhhmmm….sedaaaap.

Sesampainya di lokasi, tanya sana sini, ternyata resepsionisnya terletak di café yang terlihat ramai di penuhi pengunjung tamu penginapan, terlihat ramai ngriung. Berutung kita berhasil mendapatkan 2 kamar, 1 kamar 2 bed untuk mas driver n adi, dan 1 kamar 3 bed untuk kita para perempuan (bobo’ umpel2an deh, tapi ga papa biar anget). Segera kita mengisi kamar kita dan menurunkan semua barang bawaan. Beruntung kamar kita berada di pintu belakang, sehinga malam ini kita bisa gelar makanan dan masakmasak, secara memang dah waktunya makan malam, dan kita punya banyak stok makanan instan yang harus dihabiskan..hehhehehee….

Malam ini kita bobo’ segera, dengan harga kamarnya lumayan terjangkau, sekitar 125rb untuk kamar yang kecil dan 175rb untuk kamar besar, tapi tiap kamar di sediakan waterheater, jadi enak mandi malam sebelum tidur, biar badan bersih dan hangat…harus tidur cukup malam ini karena besok harus bangun subuh2 persiapan untuk trekking di ijen.

Beruntung alarm udah di set 1/2 5, dan saat alarm berdering dengan berisiknya, kita semua langsung terbangun dan bersiap. Semua logistik sudah di siapkan semalam, sehingga pagi ini kita langsung berganti baju dan tak berlama-lama sekitar jam 5 kita sudah di mobil dan menuju camp Paltuding.

Camp Paltuding pagi ini sudah ramai, walau kabut masih mengambang dingin di permukaan, setelah mengurus administrasi memasuki kawasan, kita memulai trekking…phhhiiieeewww bismillah…dengan perlahan tapi pasti kita menapaki satu persatu track menanjak. Sesekali kita berpaspasan dengan pengangkut batu belerang yang memanggul puluhan kilo belerang di pundaknya. . Track yang harus kita tempuh sekitar 3 km dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam.Semakin tinggi pemandangan mulai terkuak dan memperlihatkan kecantikannya.

Sesekali kita sempatkan untuk berpoto, bagus banget pemandangannya. Setelah sekitar 1 jam menanjak, kita dapat banyak bonus berupa jalan datar mengitar punggungan hingga tibalah kita akhirnya pada bibir kawah ijen….spektakuler pemirsaa…inddaaaahhhh banggeeett….subhanallah…ga henti2 bersyukur atas kesempatan menikmati kecantikan dan keindahan alam yang terbentang. Sejauh mata memandang Cuma keindahan alam yang terlihat.

Dari atas ini kita bisa menyaksikan keindahan warna hijau telur asin kawah ijen yang terkuak lebar,dinding kawah dan juga terlihat aktifitas para penambang yang melelehkan belerang agar dapat diangkut dengan keranjang-keranjang pikul untuk di bawa turun para pengangkut batu.Sesekali angin bertiup sangat kencang dan dingin, membawa serta kepulan asap belerang dari permukaan kawah. Saat terperangkap dalam kepulan asap ternyata bikin napas sesak juga dan baunya ga nahan euy dan pemandangan di sekeliling pun tertutup awan, hingga kita harus bersabar menantikan angin kencang berikutnya yang akan menjernihkan pemandangan. Pemandangan jernih kadang waktunya hanya sebentar jadi kita akan dengan sesegera mungkin berpoto-poto mengabadikan pemandangan cantik ciamik yang tersungguh…karena dah jauh banget perjalanan kita, maka kesempatan berada di puncak kawah ijen tak kita siasiakan, kita santai sejenak menikmati pemandangan, sambil kita makan bekal yang sudah kita siapkan.

Tanpa terasa hari semakin siang dan asap belerang pun terus mengganggu, sehingga kita memutuskan untuk turun saja. Perjalanan turun ga sesulit perjalanan naik, Cuma tetep harus hati-hati karena jalannya licin. Sesampainya di parkiran, kita mampir di warung untuk sarapan pagi menjelang siang, the hangat, nasi pecel dan telor ceplok..hhhmmm eeenaaak banget.

Akhirnya setelah selesai istirahat dan sarapan, kita kembali ke penginapan, segera mandi, dan packing untuk melanjutkan perjalanan kembali (trip kali ini beneran habis waktu di jalan…phhiiieewww). Tujuan berikutnya adalah Jember, kita mengarah menuju selatan. Setelah menikmati gunung kita akan turun ke Pantai, ada pantai cantik di selatan Jember, Tanjung Papuma namanya.

Perjalanan kembali tak sesulit perjalanan semalam, tapi kita jadi bisa melihat betapa rusaknya jalan yang semalam kita lalui. Segera setelah menemukan jalan yang mulus, perjalanan tak berhenti, hanya sesaat istirahat untuk mengisi bbm saja, dan terus di lanjutkan hingga kita memasuki kota jember. Tiba di kota Jember hari sudah sore, mulai lapar lagi rasanya, tapi ga pengen makan nasi…hhhmmm abis ujan gini enaknya cari yang anget yaaa…setelah bertanya2 kita menemukan bakso pojok yang tempatnya persis di pojokanlampu merah, dan sepertinya lumayan tenar niy, secara di pojokan lampu merah ini aja ada di dua tempat, jdi pengunjung warung bakso tinggal menyesuaikan dari arah mana datangnya…hebat marketing niy warung yaaaaa….

Usai makan dan kenyang *ternyata baksonya beneran enak, slrrupps..nyam* kita lanjut lagi, kita dah dapat sedikit contekan dari warga bagaimana menuju tanjung papuma dengan mudah. Jadi kita tinggal cari ancer-ancer yang dimaksud.

Dari kota Jember menuju pantai Tanjung Papuma hanya sekitar 30 menit saja, dan menjelang maghrib tibalah kita, di gerbang Tanjung Papuma, bayar tiket dan melewati tebing terjal untuk memasuki kawasan wisata Pantai Tanjung Papuma. Kita berencana untuk buka tenda saja di pantai, secara udah bawa tenda sayang kalo ga terpakai. Setelah bertanya sanasini ke petugas, kita di antar menuju area yang bisa untuk mendirikan tenda, dan kita pilih yang terdekat dengan toilet (pastinya donks, untuk memenuhi panggilan alam yang sewaktuwaktu mendesak). Setelah menyelesaikan administrasi untuk berkemah, kita segera mendirikan tenda, beruntung tenda doom mudah sekali di bangun, jadi sebentar saja sudah berdiri manis di pantai yang berpasir lembut.

Malam ini adalah Final 1 Piala AFF, Indonesia – Malaysia yang di gelar di Malaysia, jadi kita para supporter setia merasa harus menyaksikan pertandingan ini, setelah tanya2 akhirnya kita beramai2 menyerbu pendopo untuk nonton bareng disana. Sudah ramai penonton yang mengerumuni tivi 14 inch menayangkan pertandingan Final piala AFF, dan karena kita telat, jadi kebagian di posisi yang sudah terbelakan, hhuuuffft…..ga asik niy…tipinya kecil dan di belakang pula, tapi tetep semangat, karena berbaur dengan beberapa pengunjung lainnya yang juga bermalam di Tanjung Papuma. Walau semangat nonton, tapi sayang pertandingan ga berhasil baik, jadi setelah usai nonton kita pulang gontai ke tenda. Beberapa teman sudah pulang lebih dulu ke tenda, tapi malam ini kita coba jalan-jalan iseng di sekitaran pantai dekat sambil ngobrol2.

Saat kita kembali ke tenda ternyata beberapa teman terlihat sudah rebah2an bobo, waduuh padahal malam ini kan kita mo gelar dapur, hehehehe….sepertinya asik ngriung santai di pantai dengan pemandangan yang alhamdulillah terang langit bertabur bintang diiringi irama ombak yang mengalun teratur. Kita gelar matrass untuk alas duduk, mulai menyalakan kompor, dan masak…hoooreee…mulai dari cemilan ringan berupa roti bakar, hingga mie instan, minuman hangat pun di gelar, di makan iseng rame-rame gini memang paling enak yaaa….ssllrruuppss…sambil ngobrol ga jelas juntrungan, ketawaketiwi, nyanyinyanyi dan berakhir dengan kembali ke tenda masing-masing untuk bobo…zzzzz

Bobo di alam terbuka khususnya pantai memang beda, begitu matahari mengintip di ujung cakrawala, bias sinarnya langsung menerpa tenda, dan bikin mata langsung melek. Maka kitapun juga langsung bangun dan bersiap untuk menikmati kecantikan panorama Tanjung Papuma. Tapi sebelum pergi, ritual cantik harus tetap dilakukan, hehehehhehe…..

Setelah semua siap, perjalan pagi ini dimulai dengan napaktilas jalan iseng semalam untuk mencari baterai kamera digitalnya aawaaw yang terjatuh, perlahan tapi pasti kita menyisir lintasan semalam, dan akhirnya di temukanlah baterai tersebut…hoooreeee….

Karena udah nanggung jalan, kita pun lanjut mengeksplorasi pantai tanjung papuma, memulai dari sisi timur pantai, dengan pasirnya yang halus hingga ke sisi karang dengan penampakan atol raksasa yang menghias garis pantai membentuk panorama yang luar biasa cantiknya…sambil terus berjalan menyusuri pantai, kita naik ke view point karena penasaran untuk lihat pemandangan dari atas, dan ternyata….oooohhh my god…sungguh spectakuler. Spechless saking kagum dengan keelokan alam yang membentang, sejauh mata memandang cantik luarbiasa…..di birunya laut dengan putihnya buih ombak, terdapat atol-atol karang yang menjulang memperlihatkan panorama yang beda dan luarbiasa. Ga puas2 mengabadikan photo di sini, seakan-akan asal jepret aja pasti hasilnya ciamik. Menikmati pemandangan alam yang luar biasa memang ga akan membosankan.

Mengingat hari yang semakin siang, kita pun turun dan melanjutkan susur pantai sisi selatan yang pantainya selain memiliki pantai putih yang lembut juga karang-karang besar, jadi kalo yang hobi berenang, dan snorkeling sepertinya ga akan puas ke pantai Tanjung Papuma, karena ombaknya ganas, tapi kalo sekedar berenang dan main2 air aja siy masih bisa di pantai sisi timur.

Di perjalanan kita susur pantai, kita bertemu dengan rombongan fotografi untuk sesi photo kalender promosi wisata jember, dengan model dari Jember Street Fashion, luar biasa kostum yang dikenakan dan ornamennya kreatif banget. Kita sempat berfoto dengan salah seorang model yang kebetulan masih mengantri pemotretan, dan masih takjub dengan kostum yang dikenakan oleh sang model yang menjadi ‘kupukupu’ ini.

Kembali ke tenda kita sempatkan masak makanan instan (ngabisin bekal niy) untuk ganjel perut, secara belum sarapan niy dan juga langsung beberes untuk perjalanan pulang semarang, bakalan jadi perjalanan super panjang menuju semarang dari Jember, jadi harus berangkat siang ini juga.

Perjalanan pulang beneran perjalanan panjang, dari Jember kita lewat lintas selatan, jadi rutenya adalah Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Kediri, Nganjuk, Solo dan Semarang. Total perjalanan dengan beberapa kali berenti untuk makan dan sekedar istirahat pipis adalah 12 hingga 14 jam…

-vi-

Iklan

4 pemikiran pada “Ekspore Jawa TImur ke arah TImur – Trowulan, Madakaripura waterfall, Ijen Crater, Tanjung Papuma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s