Xplore Lombok – part 4 : cantiknya Pantai Selatan Lombok, desa Sade, kota Mataram n wayback home

#ini adalah episode terakhir dari rangkaian panjang cerita jalan-jalan di Lombok, semoga tidak bosan membacanya 🙂 #

Minggu, 5 Juni 2011

Subuh alarm dah bernyanyi, subuh ini harus bersiapsiap, kita mo nganter addi ke Bandara. Jam 1/2 6 taksinya dah datang, dan kitapun berangakat. Setiba di bandara sudah ada neng ndah yang juga mengantar ali dan masrur yang berangkat subuh ini. Kita menunggu keberangkatan addi hingga jam 1/2 7 dan kitapun lanjut untuk jalan-jalan menikmati Car Free Day kota Mataram di jalan Udayana.

Ternyata sekarang Car Free day sudah menjadi trend dimanamana, berarti jelas bahwa semua kota di Indonesia tidak memiliki lahan yang cukup luas untuk menampung warganya berolahraga hari minggu pagi, sehingga perlulah di block suatu ruas jalan sebagai tempat kumpul warga menikmati olahraga pagi, dengan bersepeda santai, jogging, jalan santai bahkan ada yang senam juga.

Pagi ini di jalan Udayana ramai sekali, semburat sinar matahari pagi dari celah gunung Rinjani mempercantik pagi ini. Kita jalan santai saja, menikmati keramaian dan yang terpenting, tujuan utama dari jalan pagi ini adalah sarapan, heehheheeheee…ada area taman yang di jadikan tempat kumpul segala pedagang, mulai dari mainan hingga penganan, dari yang khas lokal maupun internasional, tumpah ruah dan ramai.aku mulai sarapan dengan pisang goreng panas dan enak, dan selanjutnya setelah berputarputar melihat aneka penganan, aku pilih nasi kuning campur.

Usai makan kita kembali jalan dan setibanya di penghujung jalan, kita kembali ke rumah Nita. Karena tadi pagi bangun kepagian, jadi setibanya di rumah Nita, kog jadi ngantug banget, akhirnya lanjut bobo sebentar, dan baru bangun jam 10, hehehehe…langsung mandi dan siap2. siang ini mamanya Nita bikin Plecing Kangkung, khas lombok banget niy, asssikk…jadi bisa nyoba makanan khas lombok. Kangkung rebus dan toge (jangan kematangan rebusnya) di kasi bumbu kelapa (semacam urap) dan di kasi sambal plecing (seperti sambel trasi gitu deh), hhhmm…lezaaat, enak banget buat makan siang kita.

Jam 11 kita sudahsiap untuk kembali jalan-jalan, karena Cuma berdua aja dengan Nita, jadi kita pake motor Vario andelannya Nita, heheheheeee. Kita akan eksplore selatan Lombok kali ini.

Perjalanan melalui sawah-sawah yang menguning siap panen, dan kunjungan pertama kita adalah desa adat Sade, merupakan desa wisata yang menjadi salah satu tujuan wisata di selatan Lombok. Desa yang bangunannya berupa rumah asli lombok. Di desa Sade ini kita bisa menemukan pengrajin tenun kain lombok, dan juga di jual beraneka kain warnawarni khas lombok.

Melanjutkan perjalanan tak berapa lama tibalah kita di pantai Kuta Lombok, waaah, pantainya bagus, dengan pantai putih yang lembut, serta ada batu-batu karang besar melesak ke pantai. Pantai yang tenang, enak untuk berenang, bening airnya.

Di wilayah Kuta Lombok banyak di temukan penginapan dan café-café, sepertinya kuta Lombok mulai berkembang dan di kenal, sesekali terlihat wisatawan mancanegara berseliweran dan beberapa juga menenteng surfing board. Laut selatan memang terkenal dengan ombaknya yang tinggi jadi cocok untuk surfing.

Kita lanjut lagi, ke pantai yang terkenal dengan ritual Nyale, pantai berkarang dan berbukit batu ini sekilas mirip dengan ‘Teletubies hills’ heheheee dengan berlatar belakang langit yang biru. Pantai untuk ritual Nyale ini memiliki laut yang biru, memang ga asik untuk berenang karena berkarang, yang kalo ritual nyale, di karang-karang ini lah keluar cacing-cacing yang di buru dalam ritual Nyale.Kita santai sejenak disini menikmati kelapa muda dan ngobrol-ngobrol. Satu butir kelapa seharga Rp. 5000 setelah di tawar dari Rp. 10.000.

Ada yang harus di perhatikan saat berkunjung di pantai selatan ini. Ada banyak anak-anak yang menawarkan souvernir gelang manik2, mereka rada memaksa siy, kalo memang tertarik untuk memb
eli bisa menawar dengan murah, tapi kalo tidak berminat di acuhkan saja, memang agak mengganggu, karena mereka akan mengekori kemana kita berjalan dan terus menawarkan. Bila kita tak membeli ujung2nya mereka akan minta uang saku RP. 1.000, terserah siy mau kasi atau ga, tapi ini tak hanya berlaku sekali, begitu si bocah pertama pergi, maka akan datang bocah lainnya yang akan melakukan hal yang sama, jadi cuek ajaaaah…jalan terus ga usah terlalu di perdulikan, memang rada kejam tapi nikmati saja, heheheheeee….

Sepanjang pantai selatan ini ,bila di teruskan ke timur kita akan menemui pantai Tanjung Aan dan pantai-pantai cantik lainnya. Di pantai-pantai ini kita akan menemukan pasir-pasir yang berbutir besar, dikenal dengan pantai berpasir merica.

Menjelang sore kita kembali ke Mataram, selanjutnya kita ke pura air Narmada, pura ini terkenal dengan sumur awet mudanya, hhhmmm..aku perlu ga yaa, sepertinya tampangku dah cukup awet muda heheheee….

Pura narmada ini selain memiliki pura yang Indah sekarang telah juga berfungsi sebagai tempat hiburan keluarga, dengan kolam renang untuk umum menjadikan Pura Narmada ini ramai di akhir pekan.

Kembali ke Kota Mataram, kita sempatkan untuk beli oleh2, terinspirasi dari sarung khas lombok di desa Sade. Nita mengantarkan ku ke jejerapan toko souvernir di samping Mall Mataram, padahal kemaren dah kemari, tapi ga beli apa2. setelah di tanya2, ternyata memang lebih murah beli sarungnya disini, dengan menawar rada ngotor berhasil dapat sarung Rp. 30rb (di Sade di hargai Rp. 80rb – belum di tawar). Aku beli 2, yang satu buat papa dan satunya untukku.

Usai beli oleh2, kelaparan melanda, jadi di perjalanan pulang kita melewati tukang bakso langganannya Nita, katanya dah dagang dari dia masih SD, hhhmmm layak di coba, jadi mampirlah kita. Pesan masing-masing 1 porsi dan ssllrruuuppss…enaaak…

Malam kembali ke rumah Nita dan aku langsung packing karena besok pagi pesawat jam 7.00, yang artinya kudu bangun subuh, semua di bereskan malam ini, sehingga hanya tersisa cerita-cerita saja dengan nita. Semakin larut, aku diingatkan oleh nita, ada satu lagi kuliner wajib di coba, yaitu Nasi Puyung, yaaa…nasi khas Lombok yang konon katanya pedes benget niy.

Dengan jalan kaki dari rumah Nita kita menghampiri warung Nasi Puyung yang memang buka hingga jam 12 malam. Masing-masing 1 porsi, yang isinya nasi putih, serundeng, suiran ayam dengan bumbu sangat pedas, dan kacang kedelai,dan aku tambahkan dengan telur asin untuk meramaikan, hehehehee…ternyata enak, mungkin karena aku orang minang jadi terbiasa dengan rasa pedas gurih, jadi makanan pedas di lombok cukup nikmat di lidah.

Malam ini ga berani ngobrol hingga larut, jadi kami bobo lebih awal agar dapat terjaga awal besok pagi.

Senin, 6 Juni 2011

Subuh sudah bangun dan langsung mandi, jam 1/2 6 aku dah siap, dan dengan diantar motor oleh Nita, Cuma 15 menit saja sudah sampai di bandara Selaparang. Aku langsung berpisah dengan Nita, makasi banget dah jadi tuan rumah yang luarbiasa untukku.

Sesampainya di Bandara, langsung cari counter Merpati tujuan Denpasar, yup aku pulang naik Merpati dalam rangka menyiasati tiket agar murahmeriah. Begitu cek in, aku dapat 2 boarding pass, 1 untuk transit di Denpasar (seharusnya ga pake transit Denpasar, tapi ada perubahan dari pihak Merpati sehingga harus transit dulu, haduuuh).

Begitu pengumuman penumpang Merpati segera masuk pesawat, aku perhatikan hanya sedikit penumpangnya, dan begitu berjalan di parkiran pesawat, terlihatlah bahwa ternyata pesawat Merpatinya adalah jenis yang tempo hari jatuh di Papua, haaduuuh parno deh, pesawat baling-baling dengan kapasitar 56 penumpang…begitu masuk dalam pesawat terdengar samar lagu mandarin, lah ini pesawat kog ga memutar lagu lokal aja siy, mang ga ada yang bagus apa buat menghibur penumpang dari pada pake lagu mandarin, ngerti juga ga, heran…

Saat ku perhatikan pramugari dan pramugara merpati ternyata sangat senior dibanding maskapai lain yang terliat sangat belia, dan di penerbangan yang hanya sekitar 1/2 jam ini, dengungan baling-baling menguasai suara diatas pesawat dan dasar parno dengan berita mengenai jenis pesawat merpati buatan cina ini, tiap melewati awan pasti kan pesawat gemeteran, tapi ini parnonya 2x lipat, hahahahaa…konyol banget siy gw.

Mendarat di bandara I gusti Ngurah Rai, aku kebelet pipis, padahal pesawat kita aja dah telat landing dari jadwalnya, jadilah buru2 ngacir,daftar ke transit counter,dan wuuuzzzz ngacir dulu ke toilet. Fiiiuuuwww…legaaaa…Pas udah selesai pipis langsung menuju gate 15 seperti yang tertera di boarding pass, tapi kog terlihat sepi, Cuma ada sepasang petugas, haaadduuuh, rada panik, langsung menyerahkan tiket ke petugas dan dengan santai senyum2 mba’nya bilang 1/2 jam lagi mba…heeedeeeeh….kukira orang2 dah pada naik, ternyata malah belum di buka gatenya, eheehehheee…udah ngacir kaya amazing race ternyata masih belum berangkat pesawatnya.Sambil nunggu waktu, aku iseng muter2 liat toko souvernir, jadi ingat addi pesan white wine Bali, jd sempatkan untuk beli dulu, dengan santai masih liat2 dan memilih2 dan saat ku melongo ke gate 15 ternyata penumpangnya dah baris rapi, hadeeeh…kog bisa2nya ga denger yaa ada pengumumannya, langsung deh ngurus pembayaran dan ngaciiir menuju pesawat. Kali ini naik Merpati Fokker 100 menuju Surabaya yang Cuma 1/2 jam penerbangan saja.

Sampai di Surabaya masih jam 8 WIB, yaaa….walau di Bali tadi berangkat jam 08.15 tapi nyampe di Surabaya tetep jam 08, secara beda waktu, kalo di Bali pake WITA di Surabaya pake WIB yang jelas2 beda 1 jam lebih lambat. Rada males mengingat lalulintas kota Surabaya yang pasti macet di senin pagi, jadi nyantai2 dulu di Bandara Djuanda nunggu hingga jam 9, barulah naik Damri menuju terminal Bungur Asih. Kembali di kota Surabaya berarti kembali ke rumah Anes karena keretaku baru jam 5 nanti menuju Semarang. Dari Bungur asih lanjut naik Damri lagi dan turun di Tunjungan Plaza dan lanjut ke rumah anez, dengan maksud mo lanjutin bobo aaah…ngantug berat niy 😦

Sesampainya di rumah anes ternyata dia juga baru pulang tadi pagi dari Alas Purwo, jadilah dia juga tewas, hahahaaaa…trus saat dia bangun malah cerita-cerita serunya Alas Purwo dan Merubetiri.

Jam 4 diantar Anez menuju Stasiun, naik kereta Gumarang kelas bisnis aja dan kembali memasrahkan diri dalam perjalanan 5 jam menuju Semarang. Di stasiun Cepu kereta berhenti sejenak dan aku juga sibuk mencari Addi, karena kita janjian untuk memberikan titipannya dari bali. Karena kereta tak henti lama, jadi Cuma serah terima dan langsung bye bye. 2 jam kemudian tibalah aku di St. Tawang Semarang.

Kembali ke Kos dengan letih, ternyata hari ini hari yang hebat. Hari ini adalah prestasi terhebatku, dalam satu hari aku ada di 4 propinsi, yaitu Mataram, Bali, Surabaya d
an Semarang, 3 bandara yaitu Selaparang, Igusti Ngurah Rai, Djuanda, 3 Stasiun yaitu Stasiun Pasar Turi Surabaya, Stasiun Cepu dan Stasiun Tawang, serta 1 terminal, terminal Bungur Asih…hahahahaaa….

-vi-

Iklan

4 pemikiran pada “Xplore Lombok – part 4 : cantiknya Pantai Selatan Lombok, desa Sade, kota Mataram n wayback home

  1. dari mataram ke denpasar dari denpasar ke surabaya trus lanjut pake kereta? owaaaaaaaalllllllllllaaaaaaaahhhhhhh emang kgk ada akses dari surabaya ke smrg yak pake pecawat ape muwahal…patut di coba ah?

  2. lediana81 said: dari mataram ke denpasar dari denpasar ke surabaya trus lanjut pake kereta? owaaaaaaaalllllllllllaaaaaaaahhhhhhh emang kgk ada akses dari surabaya ke smrg yak pake pecawat ape muwahal…patut di coba ah?

    yup, biar irit, heheheee..naik kereta kelas bisnis smg-sby rp. 70rb kog, mayan banget kan, 5 jam saja perjalanannya…kan traveling murah meriah ala elvi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s