Curug Lawe dan Curug Benowo, kecantikan yang tersembunyi di hutan gunung Ungaran

Gunung Ungaran di Kabubaten Semarang, menyimpan banyak sekali kecanting tersembunyi di dalamnya, baik yang sudah terekplorasi menjadi tempat wisata yang ramai di kunjungi maupun potensi wisata alam lainnya yang masih tersembunyi di balik rimbunnya hutan gunung Ungaran.

Salah satunya adalah Curug Lawe dan Curug Benowo, 2 curug cantik di kaki gunung Ungaran ini, masih belum terlalu ramai di kunjungi, namun memiliki kecantikan air terjun yang luar biasa. Terletak di Ungaran Barat, Kabupaten Semarang (agak rancu ni, kalo di googling lokasinya masuk di wilayah Temanggung).

Hari minggu pagi kami ber-13 dengan mengendarai 7 motor sudah siap untuk menuju Curug cantik ini. Kami berangkat dari daerah Sampangan, Semarang. Cara termudah menuju kedua curug ini adalah lewat kampus Unnes, Sekaran – Gunung Pati, kami terus menuju Ungaran, hingga tiba di pertigaan ujung jalan ini, yang bila ke kiri akan menuju kota/alun2 Ungaran, dan ke kanan menuju Boja, kita belok kanan, dan tak jauh dari sana kita sekitar 100m saja ada petunjuk arah kecil ke kiri, memasuki jalan desa. Dari sini teruuuus saja, jalan mulai menanjak terus hingga akhirnya kami masuk dalam perkebungan cengkeh yang merupakan pintu gerbang menuju curug benowo dan curug lawe.

Kami parkir kendaraaan kami di pos penjagaan, dengan membayar Rp. 5000/orang dan Rp. 1000/motor. Dari sini kami bersiap untuk trekking, melalui trek perkebungan cengkeh dengan pemandangan indah di sekeliling. Makin keatas pemandangan bisa jatuh jauh ke bawah, ke arah utara terdapat kota semarang dengan batas lautnya dan dataran tinggi ungaran hingga terus ke selatan dengan pegunungannya.

Trek yang terlihat landai namun mendaki ini cukup menjadi pemanasan bagi kami yang memiliki kemampuan fisik untuk trekking yang pas-pasan, lumayan membuat keringan mengucur dan napas tersegal.Menimati pemandangan perkebunan cengkeh berakhir di pertigaan menuju kedua Curug. Jalur yang lebar berubah menjadi jalur setapak yang lumayan sempit, dan cukup beruntung karena di jalur awal trekking ini kami menuruni tangga-tangga yang telah di buat dari pasangan batu, sehingga aman.

Di penghujung tangga yang curam ini kami menumukan saluran irigasi yang sepertinya sudah cukup tua (tidak menemukan monumen tanggal pembuatan pintu air dan irigasi, jadi Cuma menilai dari bentuk fisiknya saja sepertinya sudah lebih dari 20 tahun) dan selanjutnya jalan menuju kedua Curug mulai menghabiskan stamina.

Kami menemukan pertigaan pertama untuk menuju Curug Lawe dan Benowo. Menuju Curug Lawe kami harus turun dan menuju Curug Benowo tanjakan telah menunggu kami. Karena kami berhasrat untuk mengunjungi kedua curug ini, kami bersepakat untuk menuju Curug Benowo terlebih dahulu, karena medannya terlihat lebih sulit.

Trek menuju curug Benowo cukup sulit dan sempit, beberapa kali harus menaklukkan tanjakkan terjal, turunan yang licin, menyebrangi sungai mundarmandir, melintasi jembatan bambu dan kayu yang labil, kami menemukan pertigaan kedua menuju curug lawe, dan setelah melewati jembatan kayu, menyebrangi sungai hingga akhirnya sebuah tanjakan yang terlihat tinggi sekali harus kami daki…phiiww…tapi keceriaan sepanjang perjalanan terus memompa semangat kami. Hingga akhirnya tibalah kami di Curug pertama, yaitu Curug Benowo…

Whooooooww….luar biasa…cantik..serta merta letih trekking sirna, larut bersama indahnya air terjun. Kami berencana istirahat cukup lama disini, setelah trekking 1,5 jam yang cukup melelahkan. Sebelum menikmati kesegaran percikan airterjun, kami kumpulkan dulu tas kami di area yang cukup lapang bagi kami nanti berkumpul. Lalu kami dengan santai menghampiri air terjun, menikmati segarnya air, berpoto, bergembira, main air, dan bersenang-senang, hingga akhirnya lapar juga yang mengakhiri aktifitas kami.

Kembali ke tempat pengumpulan tas, kami mulai mengumpulkan logistik makan siang. Aku mulai mengeluarkan kompor kecilku, dan kita mulai memasak, senangnyaaa…memang paling asik wisata piknik, sharing makanan bersama teman-teman dengan pemandangan indah, membuat nuansa makan jadi asik. Selain masak, ada juga yang membawa bekal nasi dan laukpauknya, semua di share berbaur menjadi satu, semua senang, gembira dan makan sederhanpun menjadi luarbiasa.

Usai makan, kami kembali bersiap-siap, masih ada satu curug lagi yang harus kami kunjungi. Kembali ke jalan semula, melalui tanjakan curam, menyebarangi sungai dan setelah jembatan kayu kami bertemu dengan pertigaan kecil dengan petunjuk arah Curug Lawe, jalan setapaknya cukup kecil namun curam dan kami terus mendaki hingga kami tiba di puncak bukitnya. Setelah dari puncak bukit kami kembali harus menuruni bukit, lebih waspada karena jalur yang sempir, longsor dan licin. Perlahan tapi pasti satu persatu dari kami berhasil melewati trek yang cukup ekstrim ini, hingga akhirnya terlihatlah Curug lawe dari kejauhan…

Tak cukup kata mengungkapkannya, luar biasa cantik, curugnya tinggi sekali, berbeda dengan curug Benowo yang b
erbentuk melebar, curug Lawe berbentuk air terjun tunggal yang tinggi sekali, sepertinya ini adalah salah satu air terjun tertinggi yang pernah kulihat. Kami terus menghampiri Curug Lawe, karena kita harus menyebrang melewati persis di depan curug untuk menuju trek yang akan membawa kita ke jalur pulang.

Seperti saat di curug benowo, kita pun menyempatkan untuk sekedar istirahat, dan berfoto-foto sejenak, kita beruntung matahari bersinar cerah, sehingga biasan air dari curug lawe menghasilkan pancaran pelangi-pelangi kecil di sekeliling curug, menambah indah pemandangan.

Istirahat sejanak, menikmati kesegaran air dan kami pun sekali lagi mengeluarkan bekal kami yang masih ada, berbagi kembali dan tak lengkap tanpa sendagurau yang selalu memberi semangat perjalanan.

Hari semakin siang menjelang sore, kami pun mempersiapkan diri untuk trekking pulang. Jalur kami yang berbeda membuat kami harus membaca arah trekking. Beruntung ternyata trek pulang tidak terlalu berat, trek cenderung landai dengan mengikuti pinggir sungai , beberapa kali menyeberang sungai hingga akhirnya tiba di pertigaan pertama setelah jembatan bambu. Selanjutnya kami berjalan santai menuju pintu air kecil dan tanjakan terakhir yang mencekam, phiieeww…nanjak dengan tangga-tangga besarnya, perlu usaha yang lebih karena setelah melalui tanjakan maut ini, kami kembali ke jalur perkebunan cengkeh yang sejuk…tinggal turuuuun teruuus, dengan sukaria dan melepaskan langkah bebas kami menyelesaikan trekking seru di curug Lawe dan Benowo gunung Ungaran.

Iklan

4 pemikiran pada “Curug Lawe dan Curug Benowo, kecantikan yang tersembunyi di hutan gunung Ungaran

  1. waktu ke sana ga sempat jalan2, kecapekan dan dah kehabisan budget juga hahahaha jadi ga ke mana2, istirahat saja dehh…. thanks infonya nte Elvy, jadi tambah nie yang bisa diexplore di Ungaran

  2. lilass1051 said: Waaahhh…. Asiknyaaaa masak di tempat wisata. Serasa berpetualang brsama lima sekawan hahaha… Sayang ngga bisa ikut ya…hiks

    iya…kita niat banget piknik….masak di bawah air terjun, air tinggal ciduk aja, sweegeeer banget

  3. fjaco said: waktu ke sana ga sempat jalan2, kecapekan dan dah kehabisan budget juga hahahaha jadi ga ke mana2, istirahat saja dehh…. thanks infonya nte Elvy, jadi tambah nie yang bisa diexplore di Ungaran

    ada banyak banget airterjun di kaki gunung ungaran tante…dan semuanya memiliki keindahan yang beda….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s