kota Malang yang tidak semalang namanya dan wisata alam Coban Rondo

Kota Malang ternyata tidak semalang namanya, kota yang didominasi banyak kampus ini ternyata cukup ramai juga, bahkan kampus-kampusnya pun termasuk kampus bagus di tanah air, seperti Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang – Kampus Muhammadiyah terbesar di Indonesia, dan kampus-kampus lainnya.

Kota Malang, yang sejuk ini berlatar belakang Gunung Semeru yang mempercantik landscape kota. Pagi ini, kita mendapati langit kota Malang yang Biru banget, dan sambil kita keliling cari sarapan, melewati alun-alun dan hinggap di depan museum Brawijaya, dengan tugu ‘Kembang Kol’ di puncaknya (jujur gw ga ngerti itu kembang apa yang di jadiin lambang di atas tugu, jadi asal aja nyebutnya kembang kol…hahahahaa). Berfoto-fot sejenak, selanjutnya kita melewati gereja tertua di Malang, dan menemukan tugu TRIP (tentara Pelajar) hingga akhinya kita menemukan tempat sarapan pagi yang menyediakan beraneka ragam makanan sarapan pagi. Berlokasi di depan Taman Budaya, ada beberapa pilihan makanan, yaitu Nasi Campur, nasi kuning, nasi pecel, lontong sayur, bubur sumsum, somay, bubur kacang ijo…pokoknya enak dan murah meriah.

Kita kembali lagi ke Kota malang sepulangnya dari Pulau Sempu, dan kita menginap di batu.

Ada lokasi yang menjadi pusat penginapan murah disana, namanya Songgoriti. Lucunya untuk mencari penginapan berupa rumah2 paviliun yang bisa di sewakan, kita kudu tanya ma ojek2 yang mangkal di beberapa simpang, karna kalo nyari sendiri, dijamin ga bakalan dapat contact person si pemilik paviliun tersebut. Itulah yang terjadi pada kita. Memasuki songgoriti kita dah dihadapkan dengan beberapa ojek yang menawarkan paviliun (mereka siy nyebutnya vila), tapi karna mo coba cari2 sendiri kita acuhkan saja si tukang ojeg, setelah berputar ternyata ga ada tanda2 keberadaannya paviliun yan g idsewakan tersebut. Dan akhirnya kitapun bertanya pada ojek2. dengan menanyakan harga sewa semalamnya, kita pilih yagn murah aja RP. 200rb/malam untuk 3 kamar, lmayan murah meriah siy, dan kita pun diantar. Ternyata di lingkungan tersebut ada banyak banget penyewaan rumah paviliun ataupun kamar, memang kalo ga seksama memperhatikannya ga akan terlihat dengan jelas, tapi setelah kita dapat paviliun barulah kita menyadari bahwa ada banyak rumah, tapi ga ada contact person untuk menghubungi pemilik rumah tersebut,jadi memang memerlukan jasa si ‘calo yang nangkring di pangkalan ojek.

Setelah mendapatkan rumah untuk kita bermalam, kita pun mulai membongkar muat bawaan kita, dan sambil santai ada tukang bakso malang niy, heehehee….yuk ah kita cobain dulu bakso malang ini, sekalian buat makan malam niy…nyaaam….

Awalnya kita nginep di batu karena mo cari tempat untuk berendam air panas, tapi ternyata kalo malam tutup, padahal paling enak berendam air panas saat malam, kalo siang dah panas dengan matahari kan???Tapi ternyata kita cukup beruntung walau ga berendam air panas, tetep bisa nyobain air panas, karena ada ‘pancuran airpanas gratisan milik umum’ yang langsung kita serbu malam itu, dan karena pancurannya Cuma 1 di tiap tempat (laki dan perempuan) jadi kita kudu ganti2an. Dan karena mo berpuas2, vi rela nunggu jadi yang paling terakhir. Dan bener aja, satu persatu kembali ke penginapan setelah merasa cukup bermandi air panas, dan yang terakhir adalah vi dan tati yang akhirnya kita saling bergantian mengguyur badan dengan air panas…enak…

Hari minggu adalah hari terakhir kita di Malang,dan ternyata saking capenya badan, baru bangun sekitar jam 8an, secara adem, jadi bobonya enak…hehheeee *alesan padahal mang tukang molor* dan pagi ini kita ga banyak kegiatan, pada malas bergegas, tapi akhirnya dengan kesadaran penuh satu persatu kita antri bergantian mandi, dan lagi2 kita ‘brunch’ (breakfast and lunch) dengan bakso malang yang lewat depan penginapan…..heheheee….

Tujuan kita hari ini adalah ‘Coban Rondo – Air terjun Janda’ ada sedikit kisah menarik di balik penamaan air terjun ini, ni dia kisahnya :

Coban Rondo memiliki legenda yang romantis. Pada sebuah “prasasti” yang ada di lokasi itu, disebutkan bahwa Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi menikah dengan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro. Setelah pernikahannya berjalan selapan (35 hari), Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro.

Orangtua Dewi melarang keinginan tersebut, tapi pengantin baru itu tetap bersikeras untuk melakukan perjalanan yang diinginkan. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Joko Lelono yang tidak jelas asal-usulnya. Melihat kecantikan Dewi Anjarwati, Joko Lelono terpikat dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia langsung akan merebut dari tangan Baron Kusuma, yang dengan tegas juga ingin mempertahankan istrinya.

Perkelahian pun tidak terhindarkan. Sebelum duel berlanjut, Baron Kusuma minta kepada ponakawan (pelayan) yang menyertai untuk menyembunyikan Dewi Anjarwati di tempat yang ada cobannya (air terjun). Pikirnya, setelah mengalahkan Joko Lelono ia akan menyusul istri dan pelayannya itu ke tempat persembunyian mereka.

Akan tetapi, ternyata dalam perkelahian itu mereka berdua mati bersama, dan Dewi Anjarwati pun menjadi janda (rondho). Sejak itulah mereka menyebut tempat persembunyian Dewi Anjarwati itu sebagai Coban Rondo (Air Terjun Janda). Batu besar yang terletak di dasar coban itu konon merupakan tempat Dewi Anjarwati duduk menantikan sang suami.

Pasted from <http://www.perumperhutani.com/index.php?option=com_content&task=view&id=89&Itemid=2>

Dan ada juga yang bilang bahwa bila ‘pasangan/pacaran’ di tempat ini, sepulangnya pasti akan bubaran, waah…waspadalah yaa….heheeheheee…..

Retribusi tiket masuk untuk wanawisata Coban Rondho adalah Rp. 8.000/orang dan R
p. 5.000/ mobil. Saat kita tiba di parkiran coban rondho ini, secara kebetulan kita bertemu dengan segerombolan teman2 CS dari Malang, ternyata ada yang mengenali Mba’ eny ‘the Queen of CS Smg’ jadi tambah ramailah kita. Dan enaknya bergabung dalam komunitas ini, kita bisa langsung akrab walau baru kenalan. Jadilah kita menikmati Coban Rondho bersama-sama dan tak lupa untuk foto bareng juga.

Lokasi Wanawisata Coban Rondo yang terletak di Desa Pondesari, Kecamatan Pujon, ini berada pada ketinggian 1.135 meter di atas permukaan laut. Suhu rata-rata sekitar 22 derajat Celcius dengan curah hujan kurang lebih 1.721 milimeter per tahun. Air terjun dengan ketinggian 84 meteri ini, Airnya berasal dari sumber di Cemoro Dudo, dengan debit 150 liter per detik pada musim hujan dan 90 liter per detik di musim kemarau. Obyek ini memang berada di kawasan yang dikuasai Perum Perhutani, sehingga pengelolaan wisatanya pun ditangani pihak Perhutani.

Pasted from <http://www.perumperhutani.com/index.php?option=com_content&task=view&id=89&Itemid=2>

Dari pintu parkiran menuju air terjun cukup dekat Cuma sekitar 100 m saja, dengan jalan jalan setapak yang nyaman dan di kelilingi dengan pohon-pohon yang cukup rapat, ada juga beberapa keluarga monkey meramaikan suasana.

Sesampainya di Air terjun, dimulailah aksi poto-poto, tiap orang sibuk masing-masing. Air terjun yang sejuk dan airnya yang dingin memang bikin betah dan berlama-lama. Setelah yakin kita berpuas diri main air dan poto-poto, kitapun segera beranjak pulang. Di parkiran ada banyak toko2 yang menjual souvernir dan makanan murah meriah. Kerajinan kayu yang dibentukmenjadi lokomotif, mobil dan lainnya menarik hati ni, kebetulan keponakan ulang tahun, jadi sempat beli juga dan untuk lokomotif yang berukuran rada besar harganya Rp. 12.000 saja, dan tipe mininya Rp. 3.500, murah meriah banget, jadi senang. Mba eny yang doyan banget ma jagung memborong beberapa bongkol jagung bakar (untuk di konsumsi sendiri aja abis 4..ckckckckc….eling mba’…heheheee) dan saat liat dewi beli susu segar, jadi ikutan beli, hhhhmmm….enak, susu segar hangat…nyam

Tak lama hujan langsung turun dengan lebatnya, beruntung kita dah dimobil dan bersiap untuk kembali ke kota Malang, janjian ma temen-temen CS Malang untuk makan bareng di ‘Hot Cwie Mie’. Diperjalanan pulang kita mampir untuk beli beberapa penganan oleh-oleh, yaitu Apel Malang…..apel ranum ukuran sedang di bandrol (setelah di tawar) rp. 10.000/kilo. Kita semua beli apel, dan ada juga yang beli kripik aneka buah (ada rambutan, apel, salak, nangka, dll) trus kerupuk tahu, dan lainnya.

Sesampainya di Hot Cwie Mie, ternyata temen2 CS Malang dah kumpul dan pesan makanan, kita pun bersatu bersama mereka dalam rangkaian meja panjang, setelah pesan ini itu akhirnya kita menunggu pesanan datang. Dan sempat bikin malu saat pesanan yang kita juga pesan datang dengan cepat dan langsung habis, ternyata itu pesanan dari teman CS Malang…heheheee…

Perut kenyang, ramah taman pun dah cukup, saatnya untuk pulang Semarang. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 5 sore, waduh, telat ni, kita bakalan nyampe menjelang pagi di Semarang. Setelah kita anter Tati kembali ke kosnya, kita pun melaju pulang menuju Semarang. Ternyata kota Malang persis seperti Bandung kala weekend, di penghujung hari ini ternyata untuk keluar kota kita terhadang macet mobil2 asal Surabaya yang pulang berlibur, wadduuhh….

Perjalanan pulang menuju Semarang akhirnya mulai lancar setelah kita berhasil keluar dari kota Malang kita terus ke arah Barat. Karena masih belum terlalu malam, kita masih bisa ngobrol bareng, becanda2 ma aww..aww..yang terus jadi bulan2an kita dan lumayan memberi keceriaan di perjalanan pulang ini hingga hampir mencapai perbatasan Jawa Tengah hingga akhirnya satupersatu terlelap, kecuali sang driver yagn kudu tetep melek…eheheheee

-vi-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s