Candi Sukuh – Candi Eksotis di Tengah Jawa

Jawa tengah memang terkenal dengan Candi, baik candi Hindu maupun Budha. Mengunjungi Candi di Jawa Tengah mungkin merupakan hal yang biasa. Dan menikmati keindahan candi serta relief yang menceritakan cerita mahabarata, ramayana adalah khas dari candi Hindu sedangkan cerita mengenai kehidupan Sidharta Gautama sang Budha merupakan khas dari candi Budha.

Dari semua candi yang pernah saya kunjungi di Jawa, khususnya Jawa tengah, baru kali ini saya menemukan sebuah candi yang memiliki bentuk unik, berbeda dengan bentuk umum lainnya Candi serta relief yang berbeda dari candi lainnya di Jawa Tengah.

Candi unik ini, bernama Candi Sukuh. Terletak di kabupaten Karanganyar, lereng gunung Lawu dengan panorama yang cantik di ketinggian 910 mdpl, jadi dah pasti adem dan kalo beruntung akan sangat berkabut (seperti yang terjadi pada kita saat berkunjung ke Candi Sukuh).

Perjalanan menuju candi sukuh dari kota Surakarta sekitar 1,5 jam, menuju arah Tawangmangu. Sepanjang perjalanan akan didominasi pemandangan cantik dan tanjakan-tanjakan curam, khususnya saat mendekati lokasi candi Sukuh. Perlu mobil yang kuat nanjak dan driver yang handal agar dapat melaluinya.

Setibanya di lokasi kita di harusnya membayar tiket seharga Rp. 2.500 untuk tamu lokal dan Rp. 10.000 untuk tamu mancanegara. Lmayan murah siy. Di candi ini kita di temani oleh seorang guide bernama pak Joko Suyanto, guide yang menyenangkan, dengan cerita-cerita seputar candi Sukuh.

Candi sukuh merupakan candi yang cukup kecil bila dibandingkan dengan candi lain yang lebih masyur, tapi keunikan candi Sukuh ini, adalah bentuk candinya yang berbentuk seperti piramida mini atau bangunan candi suku maya di Peru atau inca di Maxico.

Sukuh berarti terburu-buru. Itulah arti dari nama candi Sukuh, ada juga yang bilang artinya ‘tak selesai – unfinished’.Diartikan demikian karena bentuk candi yang sepertinya dikerjakan dengan terburu-buru dan beberapa ukiran batu yang dikerjakan tidak selesai atau ukiran yang terlihat kasar – bila di bandingkan dengan kecantikan ukiran di beberapa candi lainnya di jawa tengah.

Candi sukuh tidak melambangkan salahsatu agama (bukan hindu ataupun budha yang memiliki banyak candi cantik yang tersebar di Jawa Tengah), sehingga di yakini lebih kepada agama ‘primitif’ atau pencampuran agama hindu dengan agama lokal yanglebih mengutamakan ‘penyucian diri’ atau ruwat. Bila kebanyakan candi menghadap ke barat, maka candi Sukuh menghadap ke Timur, dengan pemandangan lembah yang memperlihatkan kecantikan pemandangan dibawahnya.

Memasuki candi Sukuh yang terdiri dari 3 turap (mengingatkan pada punden berundak)ini, kita akan melalui sebuah gerbang kecil. Di gerbang ini terukir sebuah relief yang terdiri dari gambar gapuro, butho, nguntal, jalmo (gapuro = 9, butho = 5, ngunthol = 3 dan jalmo = 1) yang diartikan sebagai 1359 merupakan tahun pembuatan awal gapura yaitu 1359 saka atau sekitar 1437 masehi merupakan tahapan awal dari pembangunan candi secara keseluruhan, dimasa akhir pemerintahan kerajaan Majapahit dan awal masuknya islam di Jawa melalui Kerajaan Demak.

Di dalam gapura ini (saat ini tertutup gerbang) terdapat relief yang cukup unik yaitu relief lingga-yoni dalam ikatan rantai. Diartikan sebagai awal mula kehidupan yang dimulai dari pria dan wanita dalam suatu ikatan. Relief unik ini termasuk salah satu yang dikeramatkan, karena konon diyakini dapat memprediksi ‘keperawanan’ seorang wanita. Ada salah satu ritual yang dulu sangat diyakini untuk mengetahui keperawanan seorang perempuan, maka seorang perempuan dengan menggunakan kain/jarik saat akan melangkah di atas relief tersebut, bila dia perawan maka akan ‘berdarah’ namun bila tidak lagi perawan, kain yang di gunakannya akan tercabik-cabik (mohon di koreksi bila ternyata saya salah). Hebatnya orang jaman dulu itu, sudah bisa membuat virginity detector.

Selanjutnya kita akan menuju undakan kedua, yang merupakan fase kehidupan manusia, diawali dengangerbang kecil dengan 2 butho penjaga yang bentuknya tidak sempurna. Bukan rusak akibat kerusakan alam, tapi memang pembuatannya yang tidak sempurna, karena menggunakan tukang batu lokal.Di sini kita akan menemukan relief kecil menggambarkan binatang, gajah, babi dan sapi.

Lanjut menuju undakan ketiga yang merupakan undakan terakhir. Terlihat banyak patung, relief dan disinilah terletak candi utama yang berbentuk seperti piramid terpenggal. Kita mulai dengan relief yang terletak di sisi kiri begitu memasuki areal undankan ketiga, yang merupakan tempat penyucian diri.

Terdapat relief pembentukan hewan, cerita mengenai dewi yang dikutuk dan melakukan penyucian diri untuk menghilangkan kutukannya. Yang paling mempesona disini adalah relief rahim yang terpampang besar. Luar biasa takjum melihat orang awal abad ke 15 masehi mampu mendeskripsikan bentuk rahim secara tepat tanpa bantuan USG, dan di sisi relief rahim ini (dulunya) ada aliran air suci.

Pindah ke sisi kanan candi terdapat altar kura-kura di bawah candi dan sebuah altar besar yang harus mengililingi belakangnya untuk melihat sisi mukanya. Di belakang altar ini terdapat patung seorang pria (kepalanya hilang) menggenggam lingga. Dan di sebelahnya terdapat altar lebar dengan patung yang sudah hilang, konon katanya di atas altar ini terdapat patung lingga yang besar (entah dimana patung itu berada sekarang???)

setelah mendapat penjelasan semua altar ini barulah kita di ijinkan untuk mendaki menaiki Candi Sukuh atau menuju Moksa / Nirwana. Lorong tangga yang sempit dan undakan tangga yangtinggi benar-benar tantangan tersendiri. Untuk mencapai suatu puncak memang harus melalui kerjakeras. Dan setibanya kita di puncak, terpampang pemandangan indah hingga di bibir lembah, memang Nirwana itu digambarkan memiliki keindahan yang luar biasa….sayang waktu kita di sana, kabut menghalangi pemandangan kita ke lembah. Dan konon juga, diatas candi ini dulu di yakini terdapat sebuah bangunan dari kayu, dapat di lihat bekas tancapan tonggak di ke-4 sisi. Mungkin bangunan kayunya sudah rapuh dan hancur.

Kembali ke pelataran muka candi, kali ini kita di ajak di patung garuda yang berdiri kokoh. Bentuk patung ini mengingatkan saya pada sebuah penghargaan televisi ‘panasonic award’ 😛 mungkin terinspirasi dari patung garuda di Candi Sukuh. Di patung garuda ini terdapat prasati yang menceritakan mengenai ritual pembersihan diri/ruwat.

Menuju pintu keluar pak Joko sang guide menutup ceritanya dengan menunjukkan patung wanita yang melakukan ruwat dengan mengusap yoni dan sebuah pancuran air sebagai pelambang pembersihan.

Candi Sukuh, walau hanya berupa komplek candi yang kecil, ternyata menyimpan banyak sekali cerita terpendam di dalamnya. Kita menghabiskan waktu 3 jam untuk mendengarkan rangkaian cerita pak Joko dan menikmati keindahan Candi Sukuh. Luar biasa kepandaian yang dimiliki oleh orang pada masa itu, dan kepercayaan lokal yang dianut.

Sebuah kesimpulan yang di ambil dari keseluruhan makna di candi Sukuh adalah (versii guide kita, pak Joko) Perjalanan Hidup manusia semenjak di cipta, kehidupan dunia, pembersihan diri dari dosa hingga kembali kepadanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s