Pemalang, kota yang damai di ramainya jalur Utara Jawa

Kereta kaligung dari Semarang tiba di stasiun Pemalang sekitar jam 11siang setelah menempuh perjalanan 2,5 jam. Sebuah stasiun mungil berwarna biru menyambut kedatangan kami, tampak hamparan sawah menguning di sisi stasiun memberi pemandangan damai memasuki kota kecil di lintas Pantura yang ramai.

Karena hari telah siang, kami memutuskan untuk makan siang dulu sebelum jalan-jalan menikmati kota pemalang. Dari stasiun kami naik becak menuju sebuah tempat makan yang konon katanya cukup tenar dan khas di Pemalang, yaitu nasi Grombyang…haduuuh..namanya kog rame bener..GROMBYANG…

Sedikit deskripsi mengenai nasi Grombyang khas Pemalang ini, yaitu sekilas mirip dengan soto kerbau khas Kudus, tapi rasa kuah karinya yang bikin beda. Nasi dan grombyang sapi atau kerbau dengan kuah berbentuk seperti sup kaya rempahrempah gitu dalam sebuah mangkok ukuran kecil tapi kenyang. Untuk makannya di tambah lagi dengan sate daging sapi dengan bumbu yang gurih…enak dan ga bikin eneg atau klbenger…ditambah es jeruk di siang hari…alhamdulillah ya enak..hehehehheee

Usai makan kami melanjut ke alun-alun kota, dan seperti semua alun-alun kota kecil, di kelilingi oleh masjid agung, pendopo/kantor bupati, dan penjara. Alun-alun mungil yang teduh ini memiliki sebuah patung yang bersemangat di tengahnya. Beberapa pohon-pohon yang besar dan ridah memberikan keteduhan untk di pusat kota.

Kami melanjutkan siang ini untuk melihat pantai di kota Pemalang, karena memang kota pesisir, jadi pemalang memiliki tempat wisata pantai. Karena siang hari, pantai jadi sepi, secara panas bener matahari bersinar dengan sukacita. Pantai di utara kota Pemalang ini sudah di blok menjadi beberapa bagian. Di sisi barat adalah pantai yang sepertinya di kelola oleh pemerintah, karena bisa masuk gratis ga peke bayar, sayang pantai yang sudah di sediakan peneduh2 berbentuk jamur2 payung ini tampak kotor akibat sampah (kenapa ya semua tempat wisata selalu berdilema dengan sampah, segitu lekatnya kita dengan sampah sehingga enggan untuk hidup bersih, padahal pantai yang bersih dari sampah jadi sedap di pandang) dan di pantai ini terdapat makam seorang syeh (entah siapakah syeh tersebut, tapi sepertinya ramai di Ziarahi oleh kelompok-kelompok pengajian yang datang dari luar kota, bahkan ada yang dari seputaran Semarang, bisa di lihat dari Plat H pada bis yang membawa rombongan.

Di sisi tengah terdapat pantai yang di kelola dengan sangat baik, di pantainya terdapat jembatan dermaga yang ciamik untuk poto2 dan juga terdapat wahana water bom dengan seluncuran panjang mengular. Dan di sisi barat terdapat wisata pantai Widuri, dengan membayar Rp. 3000 memasuki arena pantai, arena pantai yang rapi dan teduh dengan pohon-pohon pinus, terdapat banyak kursi-kursi yang tersedia untuk sekedar santai bermalasmalasan menikmati udara pantai di bawah rindangnya pohon cemara di sepanjang pantai. Cukup nyaman siang2 di pantai ini, menikmati semilir angin pantai sambil menunggu sore. Kalo mau main air, alias berenang di pantaipun, airnya cukup bersih, walau berpasir hitam (khas pantai di utara jawa).

Puas menikmati pantai, kami harus bergegas untuk menuju selatan, karena disanalah kami akan bermalam, perlu waktu 1 jam untuk menuju tempat tujuan kami, jadi sebaiknya kami segera tiba sebelum terlalu sore.

Walau kota ini tidak seramai kota tetangganya, Tegal dan Pekalongan, tapi sebagai kota lintasan yang ramai, Pemalang cukup damai untuk di kunjungi.

-vi-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s