Sima yang cantik di kaki gunung Slamet

Berkunjung ke rumah seorang sahabat di selatan Pemalang, ternyata memberikan penyegaran yang berbeda setelah hectic dengan rutinitas kerja. Wiken ini ku berkunjung ke sebuah desa di Selatan Pemalang, tak jauh dengan wisata alam yang terkenal dengan airpanasnya, yaitu Guci.

Nama desanya Sima, jadi mengingatkanku pada nama seorang ratu hebat penguasa jawa, Ratu Shima tapi sepertinya ga ada hubungan antara ratu tersebut dengan penamaan desa ini, tapi ada satu kesamaannya, desa Sima ini juga memiliki kecantikan yang tersembunyi. Desa Sima terletak di kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, di kaki gunung Slamet, Jawa Tengah.

Menuju kota Sima dari kota Pemalang memakan waktu sekitar 1 jam ke arah Selatan, luruuus. Kami tiba sore hari, dan langsung di sambut hujan yang menurut penghuni rumah, hujan pertama setelah cukup lama panas mendera. Udara jadi adem sekali bahkan saat mau mandi di sore hari aja, (masih jam 4 lho!!) air yang mengguyur badanku membuat kaget sekujur tubuh, brrr…dingin…norak ya, maklum orang kota, jarang kena air sejuk pegunungan, usai mandi badan jadi segar luar biasa, padahal perjalanan dari kota pemalang sekitar 1 jam ditempuh dengan motor yang ga terlalu ngebut ugal2an, dan sepanjang perjalanan di suguhi pemandangan surga yang indah mempesona, hamparan sawah dengan latar belakang berderet bukit dan gunung slamet di kejauhan membiru.

Memulai petualangan menikmati seputaran desa Sima di pagi hari, pagi yang cerah. Setelah sarapan ringan yang nikmat, the hangat, serabi dan tempe goreng enak, kami menggunakan motor matik, menuju tempat pertama, yaitu curug cibedil.

Curug Cibedil terletak hanya 10 menit saja naik motor dari rumah Catur, temanku yang orang asli desa Sima, Pemalang. Setelah parkir motor di sebuah rumah penduduk, kita jalan menurun menuju air terjun. Setibanya di airterjun…waaah..seger sekali, walau air terjunnya kecil karena kemarau, tp kolam kecilnya terlihat segar sekali. Sewaktu kita disana beberapa bocah terlihat berenang kesana kemari berbugil ria, enaknya, aku jadi pengen berenang juga, airnya segar banget. Selain berenang bocahbocah itu juga beratraksi loncat bebas dari atas airterjun…wiiiihhh…mereka yang loncat aku yang jejeritan girang…hahahaha…senangnya…

Konon ada mitos yang beredar di masyarakat setempat mengenai curug Cibedil, nama cibedil di ambil dari kata Bedil yang artinya senapan. Bila di perhatikan di tebing air terjun tampak sebentuk senapan terukir di dinding tebing, dan konon lagi adalah sewaktuwaktu dimalam jumat kliwon terdengar suara tembakan senapan…dooor…

Selanjutnya Catur membawaku ke tempat pemandian di sebuah sungai yang jernih, namanya Cempaka Wulung, beneran deh, kalo bawa baju ganti pasti dah berkali-kali nyebur, di air terjun dan di cempaka wulung, secara airnya jernih banget, mengingatkan masa kecilku di Padang, Sumatera Barat, kita sering di ajak papa mandi di sungai ‘Lubuk Minturun’. Mandi berendam di sungai yang jernih enak banget, menikmati arus diantara batu-batu bikin badan serasa di pijet. Selain mandi di aliran sungai juga terdapat aliran irigasi yang jenis banget, dan dimanfaatkan untuk cuci pakaian oleh masyarakat, berjejer deh ibu2 membilas bajunya di tepi sungai sambil ngrumpi apdet pergosipan yang beredar…duuuh terasa banget deh nuansa desanya…

Naik ke atas dari Cempaka wulung kita menemukan bukit pinus, ternyata perkebunan pinus untuk diambil getahnya. Hutan pinus yang rapat kalau di photo bagus banget, batang-batang pohonnya yang ramping berjejer memberi gambaran yang bagus . Ga Cuma menikmati hutan pinus yang adem, tapi kita juga trekking di atas bukit, melewati kebun-kebun dan tibalah kita di puncak bukit. Waaah pemandangannya apik tenan…terlihat blas bebas tanpa halangan pemandangan daerah kecamatan Moga, dengan petak-petak sawah mendominasi pemandangan. Sayup-sayup terdengar suara pengajian di kejauhan dari sebuah menara masjid di bawah sana. Sayupsayup terdengan hembusan angin semilir dari dedaunan pinus…wuuuzz lembut gitu…damai banget, bikin betah berlama-lama…kalo saja pas sunset dari atas sini, pasti spektakuler banget deh pemandangannya, melihat matahari terbenam dari balik bukitbukit yang berjajar rapi mengepung kecamatan Moga.

Dari bukit pinus Cempaka Wulung kita lanjut lagi, kali ini menuju perkebunan the…waah jadi ingat daerah Puncak di Jawa barat niy. Perkebunan the milik PTPN IX ini luas banget, tapi tidak seperti di Puncak yang di lalui jalan raya, perkebunannya di area yang tertutup, jadi lebih sepi, tapi pemandangannya ga kalah cantik. Kalau saja ke sana ramai bersama teman-teman pasti asik kita teawalk di area ini, karena udara perkebunan yang sejuk dan suasanan kebun the yang asri.

Puas berwisata keliling kita kembali ke rumah Catur. Sudah tersedia makan siang dengan sayur asem, tempetahu, ayam goyeng dan sambel serta ikan asin….enaaak, bikin lahap makan setelah keliling2 desa…dan siang itupun hujan deras mengguyur desa Sima, membuat kita harus beristirahat sejenak berbalut dinginnya hawa desa dalam derasnya hujan.

-vi-

Iklan

4 pemikiran pada “Sima yang cantik di kaki gunung Slamet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s