Bangkok – Suvarnabhumi airport, Chatuchak weekend Market, khaosan road

Pertengahan bulan Mei ini sebenarnya situasi Bangkok sedang rusuh dengan demostran yang dikenal dengan Kaos Merah yang sudah menduduki pusat kota Bangkok selama 6 minggu. Tapi karena dah kadung punya tiket yang dah di pesan dari jauh-jauh hari, kita tetap nekat untuk ke Bangkok, namun sebelumnya kita minta beberapa referensi mengenai keadaan kota bangkok dari kenalan di suatu komunitas silaturahmi traveller Couchsurfing yang berdomisili di Bangkok. Dan untuk lebih meyakinkan diri, kita juga mendaftarkan kedatangan kita ke KBRI Bangkok.

Mendarat di Bangkok jam 8 pagi, masih lumayan pagi, ada waktu yang cukup untuk kita kalo mo exploring the city hari ini.

Kita mendarat di bandara International Svarnabhumi, bandara besar yang megah, canggih dan kinclong. Kagum banget pas kita memasuki bandara ini, seperti masuk mall di Jakarta (norak mode on). Luaas banget dan pas ngintip keluar, ternyata konstruksinya pake rangka baja yang mengelilingi di luarnya, pantesan bagian dalamnya terasa lapang ga ada kolom dan balok beton yang menggangu.

Di bandara besar yang sangat ramah terhadap pengunjung ini, menyediakan banyak city map, yang dapat diambil secara gratis (lamayan buat panduan saat jalan-jalan nanti)dan juga terdapat tourist information center yang langsung dibawah ‘kementerian pariwisata Thailan’ melayani setiap pertanyaan dan keingintahuan pendatang/tourist yang berkunjung ke Bangkok, baik untuk tujuan bisnis maupun wisata.

Untuk melanjutkan perjalanan dari bandara menuju pusat kota, terdapat beberapa pilihan, taksi, atau bis bandara (kalo di indonesia kita menyebutnya dengan Damri Bandara). Bis yang menghubungkan pusat kota dengan tujuan khusus bandara, yang berangkat dengan tujuan tertentu dan waktu yang telah di tetapkan. Bis bandara di Bangkok sangat nyaman sekali. Tidak seperti bis Damri Bandara yang sempit, bis disini lebih lega, dengan bagasi barang yang terletak di tengah (depan pintu masuk yang lapang) barang tidak harus bertumpuk2, tapi diatur dalam rak bertingkat 2. ongkos untuk naik bis bandara ini adalah Bt 150/person.

Dari Bandara kita akan menuju daerah Khao san Road, kawasan yang terkenal sebagai tourist area, seperti halnya jl. Jaksa di Jakarta atau Jl. Sosrowijayan di Jogja. Kita akan mencari hostel disini.

Ada banyak hostel di sepanjang jalan ini, sehingga kita bisa dengan mudah mencari dan menentukan hostel seperti apa yang kita inginkan sesuai dengan budget. Setelah keluar masuk beberapa hostel, kita memutuskan untuk menginap di sebuah hostel bernama Ka Win…hehehehe..nama yang unik ini yang bikin kita melangkahkan kaki memasukinya. Dan ternyata hostelnya bersih dan murah meriah. Kita ambil kamar Private AC dengan kamar mandi luar, yang terdiri dari 1 single bed dan 1 double bed untuk kita berempat dengan harga Bt 520/nite dan kita mendapatkan 3 handuk bersih.Sebenarnya ini kamar untuk 3 orang saja, tapi kita bandel dengan menyeludupkan 1 orang tambahan, dan beruntung tidak memberikan masalah, hehehee..nakal….

Setelah menyelesaikan administrasi, kita istirahat sejenak. Siang ini kita akan blanjablanji di weekend market yang terkenal lengkap dan murah meriah ‘Chatuchak’. Tapi karena sudah jamnya makan siang, dan lapar, kita hunting makan siang dulu. Tak jauh dari penginapan kita ada sebuah pasar yang sepertinya banyak jajanan yang menggugah selera. Kitapun melangkahkan kaki menuju kesana. Ada banyak penjaja makanan, kita mulai dengan beli beberapa cemilan yang terlihat enak, ada gorengan, juga pisang penyet (seperti di semarang aja) tapi di beri cairan karamel yang bikin tambah nyammiee….karena kebanyakan tempat makan menyediakan makanan mengandung babi, agak sulit juga buat kita, hingga akhirnya kita makan di pojokan jalan.

Perut sudah kenyang dan setelah bertanya sana sini,kita mendapatkan informasi bis yang akan menuju chatuchak market. Bagus juga ni, kita jadi bisa nyobain naik bis…

Kita naik bis dengan no. 4, berwarna kuning dan bisnya lumayan bersih dan lapang. Petugas kondekturnya pun rapi (jangan dibandingin ma kondektur bis di bis patas AC jakarta, jadi malu) si kondektur menggenggam sebuah tabung, yang ternyata tempat menyimpan uang receh (koin) dan tiket.kalo kondektur di bis jakarta uang koin logamnya untuk krecekan, maka, salah satu fungsi tabung itu adalah untuk krecekan saat menagih uang ke penumpang. Jadi saat kita bilang tujuan perjalanan kita menuju chatuchak, dengan membayar sekitar Bt 17 kita akan mendapatkan sebuah tiket kecil yang di sobek ujungnya dengan menggunakan ujung penutup tabung tersebut.

Perjalanan dari Khaosan Road menuju Chatuchak market sekitar hampir 1 jam, dan jalanan sebenarnya cukup lengang, hingga kita terjebak macet di suatu tempat, yang bisnya nyaris ga jalan. Katanya siy karena di pusat kota ada kerusuhan besar (saat itu Bangkok lagi panas2nya dengan demonstran kaos merah yang menduduki pusat kota) sehingga kendaraan mengalihkan jalannya ke kawasan tersebut.

Tiba di chatuchak weekend market (disebut weekend market, karena hanya buka di hari sabtu dan minggu saja dari pagi hingga sore)ternyata panas gila2an, dan ramai dengan orang lalulalang (berasa di blok m ajah). Pasar Chatuchak seperti halnya pasar tradisional di Indonesia, selain kios2 yang tersedia, di sekeliling pasar juga banyak penjual kaki lima, mulai dari kain lap. Rokok made in Indonesia yang dijual ketengan (alias satuan), minuman segar, cemilan, dan lain sebagainya.

 

Tujuan kita ke chatuchak market ini karena kita mo beli oleh2 dan atas rekomendasi sejumlah umat yang dah pernah ke Bangkok sangat menyarankan untuk menyempatkan datang ke Pasar ini. Pasar yang terkenal den
gan barang-barang murah meriah ini beneran sangat menggoda. Kalo ga inget ma budget yang seret, pasti dah bolak balik ke atm untuk tarik tunai sejumlah bath dan blanjablanji. Segala keinginan tersedia disini, dari baju2 mulai dari kaos simple sampai yang trendi dan up to date, pernik2, rok2 cantik, celana, tas, sepatu, sandal, penganan kecil, jepit2 rambut, hingga makanan. Bahkan kalo mo cari binatang piaraan pun tersedia, mulai dari reptil hingga anak anjing yang lucu.

Tak terasa 4 jam sudah kita mutermuter pasar chatuchak, dan perutpun kembali lapar….kita mencari makan di pasar chatuchak yang banyak juga terdapat tempat makan yang nyaman dengan pelayanan ala restoran tapi masih ringan di kantong.

Setelah puas dengan pasar Chatuchak kita kembali ke Khaosan Road. Khaosan Road di malam hari ternyata sangat meriah, di kawasan yang terbagi dalam beberapa gang ini memiliki kemeriahan yang berbeda di tiap gangnya. Di salah satu jalan terdapat resto yang nyaman yang menggelar kursi2nya di sepanjang jalan, sehingga jalan di tutup untuk kendaraan. Ditambah dengan ramainya kaki lima menjajakan baju2 kaos, dan souvernir lainnya, dan makanan (mie goreng Pad Thai, buah segar, es krim, makanan lainnya yang ga ngerti apa itu)ada juga beberapa tempat pijat thai dan refleksi. Khaosan road ini saat malam terasa sangat hidup, sepertinya semua orang tumpah ruah untuk memenuhi jalan-jalan , baik yang hanya berlalu lalang menikmati keramaian, hingga yang menjajakan makanannya. Ga salah juga kalo kawasan ini menjadi tempat berkumpulnya beragam bangsa, eropa, asia, afrika, amerika, timur tengah, pokoknya semua bangsa di dunia dan semua berbaur tumpah ruah meramaikan khaosan road.

Kalo dapat kenalan di sini juga enak, sesama traveller mancanegara, tinggal ngobrol dan share pengalaman dengan mereka. Pasti akan terkagum-kagum dengan pengalaman mereka setelah traveling berbulan-bulan, sementara kita Cuma hitungan hari aja.

Waktu saya di Bangkok situasi kerusuhan ‘kaos merah’ sedang parah2nya, tapi di beberapa tempat yang saya kunjungi seperti weekend market Chatuchak serta Kawasan Khaosan Road ini, sama sekali tak terasa, memang di tiap sudut jalan banyak terlihat polisi yang berjaga-jaga, tapi hal ini tak membuat suasana menjadi terasa ‘tidak nyaman’. Sehingga kita sama sekali tidak merasa ada ‘kerusuhan yang mencekam’ kalo saja tidak nonton tivi yang bahasanya lokal (ga ngerti juga, Cuma liat tayangannya aja) dan baca koran (beruntung menemukan koran berbahasa inggris – Bangkok Post). Tapi tetap saja hal itu tidak terlalu berpengaruh terhadap keriaan dan keamanan di khaosan road, yang tiap malam selalu seru dengan turis yang berseliweran, kongkow-kongkow.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s