Berlibur ke Bangkok, tak lengkap bila belum Mengunjungi Grand Palace, naik longtail boat keliling kanal, makan durian monthong yang sebenarnya

Pagi ini di Bangkok dimulai dengan hujan, menunda rencana kita untuk berangkat pagi-pagi ke Grand Palace. Segera setelah hujan reda dan sarapan di pinggir jalan Khaosan Road kita naik tuktuk menuju area Grand Palace.

Grand Palace merupakan salah satu tempat wajib kunjung di Bangkok, tempat yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Thailand ini, terkenal dengan kecantikan arsitektur dan ukiran khas Thailand.

Terletak di Na Phra Lan Road, Rattanakosin, Grand palace sangat mudah di jangkau dari seluruh pejuru kota Bangkok. Naik bis, atau naik perahu, tapi kita pilih naik tuktuk, karena dari khaosan Road tidak terlalu jauh, hanya Bt 60 saja.

Dari luar komplek Grand Palace terlihat di kelilingi tembok tinggi berwarna putih, hanya pucuk-pucuk atapnya yang menjulang memamerkan keindahan, bikin tambah penasaran untuk segera masuk kedalamnya.

Untuk memasuki komplek Grand Palace, kita diwajibkan untuk mengenakan pakaian yang sopan. Bagi perempuan dilarang mengenakan pakaian seksi. Dan juga harus menggunakan sepatu, kecuali bagi perempuan diijinkan mengenakan sendal /selop perempuan atau sepatu sendal.

Dengan membayar tiket masuk seharga Bt350 (setara dengan Rp. 100.000), kita mendapatkan tiket yang berlaku untuk beberapa tempat, yaitu Emerald Budha Tample, Grand Palace, Vimanmek Mansion dan Abhisek Dusit Throne Hall. Jam buka Grand Palace ini adalah pukul 09.00 hingga 15.00, tapi bila sudah di dalam, kita bisa menikmati hingga jam 17.00. Untuk menikmati Grand Palace Sebenarnya ada fasilitas free english guide yang disediakan, tapi hanya tersedia jam 09.00 dan 10.00.

Memasuki gerbang, terlihat ramai wisatawan yang antusias. Di gerbang dalam ini saja sudah terlihat kecantikan arsitektur gerbang dalam yang menjadi gerbang masuk dengan arsitektur eropa yang kental, pintu dan jendela dengan hiasan lengkung pada kusen ditambah dengan pilar-pilar besar khas arsitektur eropa.

Dari gerbang masuk tiket, tempat pertama yang kita kunjungi adalah komplek Emerald Budha Temple. The Emerald Budha yang bahasa lokalnya Wat Phra Kaew atau disebut juga Wat Phra Sri Rattana Satsadaram. Baru masuk aja, kita dah langsung mendapatkan pemandangan bangunan megah dengan warna emas dominan, beberapa ornamennya memang terbuat dari emas murni. The Emerald Budha merupakan tempat ibadah utama bagi keluarga kerajaan, sehingga menjadi bagunan termewah di antara seluruh bangunan yang terdapat di dalam komplek Grand Palace ini. Koridor dalamnya memiliki pilar-pilar ramping berkilauan, dan ornamen hanoman yang mendominasi mengelilingi dinding luar. Di dalam ruang sembahyang kita tidak diijinkan untuk mendokumentasikan Emerald Budha, patung budha yang memancarkan emerald, terbuat dari Batu Zambrut. Komplek Wat Phra Kaew ini Selain temple utama, terdapat beberapa temple lainnya yang juga megah dan mewah, sebagai temple pendukung, luasan areanya mencapai 945 meter persegi. Dibangun bersamaan dengan pembangunan Grand palace. Interior yang mendominasi adalah patung-patung berbentuk seram, mungkin kalo di versi kita adalah para bhuto/barong, atau mungkin juga dewa penjaga. Beberapa patung besar berdiri di beberapa pintu gerbang utama. Disini juga kita bisa menemukan banyak pagoda-pagoda khas thailand tinggi menjulang. Di komplek Wat Phra Kaew ini kita juga dapat melihat lukisan cerita, mungkin cerita rakyat atau Ramayana versi Thailand (ga ngerti ni ceritanya mengenai apa, karena kita tidak dengan guide dan tidak ada keterangan gambar) yang terlukis di sepanjang kooridor di beberapa tempat. Lukisan2 menampilkan beberapa sosok berwajah seram, berpakaian mewah dan juga raksasa-raksasa. Ada juga lukisan mengenai kehidupan di dalam istana, peperangan, pertapaan hingga lukisan bertema kamasutra.

Dari komplek Emerald Budha kita memasuki area Grand Palace, dengan melewati Borom Phiman Mansion yang gerbangnya terlihat tertutup, bangunan ini berarsitektur sangat eropa sekali dengan halaman luas mengelilinginya. Selanjutnya kita menuju Area Grand Palaceyang terbagi atas bangunan Phra Maha Montien yang sangat tertutup dengan pagar tembok dan bangunan Chakri. Bagunan Chakri terlihat paling besar ini juga memberikan bentuk perpaduan arsitektur eropa yang kental dengan atap khas thailand. Di area Grand Palace pun kita tak bisa masuk ke dalamnya, jadi kita hanya berpoto-poto di halaman muka. Walau hanya di halaman muka, tapi kemegahan istana tetap menjadi daya pikat kita berpoto
-poto. Tak lupa pula kita berpoto dengan para penjaga istana yang terlihat berdiri kaku di beberapa pos penjagaannya (padahal kalo di istana negara ga bakalan boleh poto ma penjaga….tampangnya galak bener…hhiiiiyyyyy).

Grand Palace didirikan tahun 1782 –pada Periode Rattanakosin (atau Periode Bangkok) –oleh King Taksin sebagai ibukota ke tiga setelah Ayutthaya dihancukan oleh Burma pada tahun 1767, dan Thonburi di sisi kanan sungai Chao Phraya tidak lagi digunakan sebagai ibukota (Dumarcay, 1991). Kompleks ini berada di atas 218.000 meter persegi lahan Pulau Rattanakosin yang dikelilingi kanal-kanal, dan dibangun dengan mengikuti lay out tradisional kompleks istana di Ayutthaya, salah satunya terlihat pada arah hadap Grand Palace ke utara dengan sungai Chao Phraya mengalir di sisi kirinya.

Pasted from <http://myrhythm.wordpress.com/2007/07/02/grand-palace-bangkok-jantung-kota-malaikat/>

Komplek bangunan selanjutnya yang kita nikmati adalah Dusit Building, walau hanya menikmatinya dari luar saja, tapi bagunan cantik ini, kaya dengan arsitektur eropa dan ukiran-ukiran khas Thailand sebagai pelengkap ornamennya.

Tempat terakhir yang kita nikmati di komplek Grand Palace ini adalah museum, bagunan berarsitektur eropa ini menceritakan mengenai sejarah perkembangan kerajaan,khususnya saat istana lama di Ayutthaya. Di tempat ini kita bisa beristirahat sejenak, meringankan kaki yang lelah di paksa untuk berjalan menikmati keindahan Grand Palace yang megah.

Hari telah semakin siang dan saat akan keluar dari komplek grand palace, kita ditawari wisata dengan longtail boat di sungai Chao Phraya, menarik juga ni, setelah tawar menawar, kita mendapat harga lmayan murah untuk ber-4, maka kita diantar menuju pelabuhan wisata yang merupakan titik awal cruising kita yang terletak hanya sekitar 150 meter di belakang Grand Palace.

Mencoba naik long tail boat menyusuri kanal-kanal kota Bangkok memiliki keasikan tersendiri, seandainya Proyek banjir kanal jakarta ada paket seperti ini pasti ga kalah asik yaa (asal bisa di jaga agar tidak bau busuk ajah). Sungai utama chaophraya sangat lebar dan bersih. Dari sungai utama, kita memasuki kanal-kanal, tidak terlalu luas, dengan kiri kanan rumah penduduk, taman di sisi kanal, beberapa temple kecil, tambatan perahu, dan uniknya adalah tiang listrik pun tertancap di dipinggir sungai . Karena sudah menjelang sore, kita jadi ga kebagian asiknya ‘floating market’, andai saja lebih pagi, pasti lebih ramai pedagangnya. Penyusuran kanal ini sekitar 30 menit – 1 jam, dah bikin kita puas menikmati sisi lain kota Bangkok.

Setelah puas exploring kanal, perahu kita mampir di salah satu Temple besar, Wat Arun – Temple of Dawn, konon tempat ini adalah tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbit dan terbenam dari menara-menara tingginya. Berlokasi di seberang Grang Palace, Wat Arun terlihat sangat megah sekali. Beberapa bangunannya terlihat sedang di renovasi, tapi tak mengurangi kecantikan Wat Arun dengan menara-menara besarnya yang kaya dengan ukiran.

Cruising di sungai Chao Phraya berakhir di sebuah dermaga persisi di seberang Wat Arun. Dermaga ini terletak dekat dengan pasar, pasar ikan sepertinya, karena banyak pedagang ikan asin…hehehheee…

Di pojokan jalan pasar kita lihat seorang ibu yang menjajakan durian, benar-benar menggoda niy, durian besar-besar dengan isi kunin, durian asli Bangkok..hhhmmm..ssllrruuupss . Jadi kitapun mampir. Awalnya Cuma mencoba 1 belah saja, makin lama kog makin nagih dan asik yaa…heheheee…tanpa terasa kita ber-4 menghabiskan 2 buah durian montong besar dan nikmat, dan ternyata beruntungnya kita, harga untuk 1 durian montong seharga Bt 60 (setara dengan Rp 18.000), beneran murah meriah euy…hahahhaa…memang ga lengkap kalo dah di bangkok ga nyoba makan durian monthong, selain harganya yang murah meriah, rasanya pun orisinil…mantap lah.

Perjalanan sore ini masih berlanjut, karena dah tanggung jalan. Walau kaki rasanya dah perih dan udara seharian ini yang sumuk alias gerah tapi tak m
enyurutkan kita untuk lanjut jalan.

Grand Palace sudah tuntas dijelajahi, naik longtail boat keliling kanal pun sudah, dan yang penting dah nyobain durian monthong asli Bangkok…hhhmmmmm selanjutnya adalah exploring the temple………

Iklan

2 pemikiran pada “Berlibur ke Bangkok, tak lengkap bila belum Mengunjungi Grand Palace, naik longtail boat keliling kanal, makan durian monthong yang sebenarnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s