le petit Chinois Lasem

Setelah melewati tambak garam yang menjadi andalan pesisir Rembang, akhirnya kami memasuki Kota Lasem. Kota kecil yang ramai sebagai pelintasan di jalur Pantura menuju Timur. Tujuan perjalanan kami adalah blusukan di kota Lasem, yang di kenal dengan Tiongkok kecil, atau ada juga yang menyebutnya dengan le petit Chinois.

Dari jalan utama memasuki kota Lasem, mata kami tertumbuk pada petunjuk arah Klenteng Gie Yong Bio” (GYB) di Kp Babagan. Langsung membuka catatan kecil yang telah kami persiapan, yang berisi ringkasan mengenai lasem, khususnya tempat-tempat wajib kunjung. Kami menemukan informasi mengenai klenteng Gie Yong Bio, sehingga langsung saja kami arahkan motor kami memasuki halaman Klenteng.

Klenteng Gie Yong Bio ini terlihat sederhana, tapi istimewanya, Klenteng ini didirikan untuk menghormati 3 serangkai pahlawan Lasem, yaitu Oey Ing Kiat, Tan Kee Wie dan R Panji Margono dan di Klenteng ini terdapat Kongco (Dewa Suci Dimuliakan) Raden Panji Margono, kongco pribumi satu-satunya di Indonesia.

Selain Klenteng Gie Yong Bio, ada juga Klenteng Cu An Kiong yang merupakan Klenteng tertua di Jawa.

Di sekitar Klenteng ini, kami menemukan nuansa Pecinan yang sangat kental, beda dengan pecinan di Semarang dan Jakarta, di Lasem suasananya jauh lebih terasa. Kami memasuki kampung Babagan, dan sepanjang jalan ini tertutupi tembok-tembok tinggi, dengan pintu kecil yang berarsitektur Tionghoa. Sesekali kami mengintip ke dalam, dan melihat sebuah rumah besar di dalamnya yang sangat khas Tionghoa, berupa rumah utama di tengah dengan teras besar dan rumah-rumah kecil di sekelilingnya serta halaman luas dan teduh. Berjalan di antara pagar tembok tinggi ini mengingatkan saya pada film2 kungfu yang jagoannya bisa melompatlompat terbang melewati tembok. Berfoto di jalanan kecil bertembok tinggi dan gerbang-gerbang mungil ini, pasti akan menjadi poto menarik.

Di kampung babagan ini kami sempatkan untuk berkunjung ke rumah Bapak Sigit Wicaksono, seorang sesepuh Tionghoa dan Batik tulis Lasem. Kami di jamu dengan hangat oleh beliau di rumahnya yang berarsitektur Tionghoa dengan halaman yang teduh.

Lasem selain dikenal dengan suasana Tionghoanya yang kental, juga dikenal dengan Batiknya. Batik tulis Lasem terkenal dengan corak warna merah menyala, yang di sebabkan pencampuran kimiawi air lasem dengan pewarna alami merah, yang bila di daerah sentra batik lainnya tidak akan menghasilkan warna merah sebaik di Lasem. Ada banyak rumah Batik di Lasem, dan dengan mudah dapat terlihat di sepanjang jalan utama Lasem. Kebanyakan rumah-rumah batik ini adalah rumah lama yang usianya ratusan tahun, tapi masih dalam kondisi baik.

Selain rumah-rumah berasitektur Tionghoa yang masih terawat, kami juga menemukan banyak rumah berarsitektur eropa, rumah besar, dengan teras luas dan pilar-pilar. Sayang banyak rumah-rumah tersebut tidak terawat. Melihat kondisinya yang kumuh jadi prihatin juga.

Meninggalkan Pecinan, kami mencari Stasiun Lasem, konon pada masa jayanya, Lasem sebagai salah satu kota sibuk, sehingga dibuatkan sebuah stasiun untuk mengakomodir kebutuhan transportasi dan perdagangan. Kami menemukan stasiun Lasem dalam keadaan yang menyedihkan. Halaman luasnya dijadikan parkiran truk-truk besar, dan relnya sudah tidak ada. Secara fisik bangunan stasiun lasem masih bagus. Konon peron di stasiun lasem yang asli di tukar dengan stasiun purwodadi seiring tidak di jalankannya jalur kereta yang melalui Lasem. Saya perhatikan fisik struktur bangunannya masih bagus, kayu-kayu jendela dan atap peron masih bagus dan utuh, tak ada yang rusak. Bahkan engsel jendela di bangunan kantor masih baik, hanya kaca-kaca saja yang sudah pecah. Memperhatikan bentuk detail arsitekturnya dan berdasarkan info yang saya peroleh, stasiun Lasem ini memiliki percampuran arsitektur Tioanghoa dan Eropa, terlihat dari ujung atapnya yang melengkung dan atap tapal kuda khas Tionghoa.

Dipenghujung siang yang panas, panggilan lapar membawa kami untuk menyicipi kuliner khas Lasem yang wajib di coba, Lontong opor Tuyuhan, langsung di pusatnya, desa Tuyuhan, yang sudah dibuatkan semacam foodcourt khusus lontong opor Tuyuhan. Tinggal pilih saja mau makan yang
mana, semua menunya sama, hanya pedagangnya saja yang beda :). Lontong opor Tuyuhan, menyediakan semua bagian ayam, dari kepala hingga kaki, jadi pilih bagian ayam favoritmu. Kuah lontong opor ini gurih layaknya opor biasa, tapi lebih pedas tidak manis seperti opor biasanya.

Menjelang sore kami menuju penghujung timur kota Lasem, ada pesujudan Sunan Bonang, salah seorang dari 9 wali penyebar agama Islam di Jawa. Lokasinya persis pojokan jalan menuju laut, ya bila lurus saja ke timur, maka akan tiba di sisi jalan yang di kirinya adalah jurang laut, buat sunset pasti pas banget, dengan pemandangan laut lepas di sisi jalan, tapi jangan berharap bisa berhenti, karena tak ada tempat peristirahatan di sisi jalan berjurang laut tersebut.

Kembali ke gerbang Pesujudan sunan Bonang, menyapa titian tangga yang tinggi sekali, haduuh..peugeul niy spertinya. Meniti satu persatu anak tangga hingga akhirnya tibalah kami di puncaknya. Terlihat beberapa peziarah, dan sebuah mushalla mungil di kiri dan bangunan dengan tulisan ‘pesujudan sunan Bonang’ yang di dalamnya tersimpan sebuah batu alas Sunan Bonang untuk shalat / bersujud >> pesujudan. Kami istirahat sejenak di sebuah pendopo, mengatur napas yang ngos2an usai mendaki. Area peziarahan ini cukup rindang, banyak pohon=pohon besar, diantaranya sawo kecil yang rajin berbuah. Aku sempatkan juga untuk berkeliling. Di belakang terdapat sebuah bangunan lainnya, yaitu makam putri Cempo, yang konon adalah putri dari Bi Nang Un bernama Bi Nang Ti. Bi Nang Un adalah salah seorang Tionghoa muslim pertama yang datang ke Lasem.

Malam itu kami menuju desa Dasun, ada undangan dari Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem untuk menonton pertunjukan Laesan, pertunjukan rakyat yang sudah langka. Setibanya di rumah pak Samino, ternyata pertunjukan belum dimulai, jadi kami bisa ngobrol-ngobrol dulu di teras, ditemani mas Agus, dan Firman tuan rumahnya, dan menyusul teman2 Fokmas lainnya. Dari sini kami banyak mendapat cerita-cerita menarik lainnya mengenai Lasem, ternyata apa yang kami kunjungi hari ini belum seberapa, masih banyak sekali tempat menarik untuk di datangi.

Semakin malam di sekeliling halaman rumah semakin ramai, sudah berkumpul warga, dan juga beberapa tamu yang berminat menyaksikan, diantara ada mahasiswa UnBrawijaya yang membuat dokumentasi.Pertunjukan Laesan akhirnya baru di mulai sekitar pukul 20.30 dan di buka oleh pak Yon sebagai ketua kesenian rakyat Laesan.

Malam semakin larut, dan perjalanan kami masih jauh. Sekitar jam 10.30 kami pamit. Kembali menuju Pati, melalui jalur pantura yang semakin ganas di malam hari.

Ada satu hal menarik yang kami lewatkan saat di Lasem, yaitu menikmati kopi Lelet, kebetulan kami bukan penikmat kopi sejati dan bukan perokok jadi tak apa. Tapi bila anda adalah Penikmat kopi dan perokok berat, mencoba kopi lelet di Lasem hukumnya wajib, mengapa demikian ?? Di Lasem ada tradisi ngopi lelet, yaitu kopi dengan bubuk yang sangat halus. Larutan ampas kopi ini akan di kreasikan untuk di batik pada batang rokok, dengan menggunakan ujung tisu yang di pilin halus ujungnya. Katanya rokoknya jadi lebih nikmat dengan aroma kopi.

Iklan

4 pemikiran pada “le petit Chinois Lasem

  1. nuragni29 said: duh, mata tua ada bagian yg susah dibaca, ketika bayangan hijau menjadi hitam…. :(belanja batik gak?

    sudah di edit ma oen, tenyata latar belakangnya menyulitkan membaca ya….ga belanja batik ma oen, ga persiapan duit lebih soalnya, tapi nanti mau diniatkan cari batik lasem yang bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s