Trip May’12 : Georgetown, the World Heritage City yang unik

Mendarat di pulau penang malam itu menjadi awal perjalanan kami,kali ini tujuan kami adalah negara Kamboja, namun karena keterbatasan penerbangan menuju negara tersebut mbuat kami harus transit di negara malaysia. Akhirnya kami memilih mengawali perjalanan kami dari pulau Penang,yg memiliki sebuah heritage city yang telah diakui unesco,Georgetown.

Sekelumit cerita sejarah penang :

Before Penang, the Pearl of the Orient, was known to the world as a beautiful, exotic holiday destination, she was Pulau Pinang – a virgin paradise that got her name from the abundance of betel nut palms scattered across her soft, sandy beaches.

Literally translated, Pulau Pinang means the “Isle of the Betel Nut” in Malay – Malaysia’s national language. Steeped in history, “Penang” was born when charismatic English captain Francis Light persuaded the Sultan of Kedah to cede Pulau Pinang to the British East India Company.

In 1786, Light landed on what is known as the scenic Esplanade today. Local folklore tells of how he fired gold coins into the surrounding jungle to induce his men to clear the area. Fourteen years later, the Sultan of Kedah further ceded a strip of land on the mainland across the channel to a very persuasive Light.

The state of Penang then comprised of an island originally named Prince of Wales Island, after George V, and the strip on the mainland which was christened Province Wellesley, after the Governor of India. The former was later named George Town, after King George III.

In 1832, Penang formed part of the Straits Settlement with Malacca and Singapore. The Penang maritime port was among the busiest in the region, attracting rich merchants involved in the lucrative trade of tea, spices, porcelain and cloth.

Settlers and fortune-seekers from the all over called Penang home and it was from this interesting mix of Chinese, Malay, Indian and Siamese (to name a few) cultures that Penang became a melting pot for hybrid communities – the most famous being the Baba Nyonya, Jawi Peranakan and Eurasians.

For more than a century, the major trading post remained under British colonial rule until 1957, when Malaysia gained independence. George Town was accorded city status by Queen Elizabeth II on January 1, 1957, thereby becoming the first town in the Federation of Malay – after Singapore – to become a city.

Although she is Malaysia’s electric and electronic manufacturing hub, Penang has successfully retained her old world charm. As recognition of her rich heritage, George Town, together with Malacca, was listed as the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) World Heritage Site on July 7, 2008.

Pasted from <http://www.tourismpenang.net.my/index.php/About-Penang/

Malam itu kami langsung menuju penginapan di kawasan lebuh muntri yang cukup di kenal dengan kawasan penginapan murah bagi budget traveller spti kami, kami menginap di Star Lodge. beruntung tersedia kamar triplebed fan & kamar mandi dalam dengan harga yg cukup terjangkau MYR 65 ~ rp.190rb. Tak banyak yang dapat kamilakukan malam ini selain makan malam nasi kandar – nasi india khas Penang n santai karena besok kami akan xplore georgetown the heritage city.

Perbedaan waktu 1 jam lebih cepat dr wib mbuat kami tergagap mnyesuaikan. Usai mandi dan sarapan waktu setempat mnunjukkan jam 09.00, tak terasa sudah mjelang siang, dan matahari sudah bersinar cerah di luar sana. Kami langsung checkout kamar kami di starlodge, tapi menitipkan tas backpack kami yang berat ke pemilik penginapan, lamyan jadi tak usah berberat-berat membawa tas untuk mengeksplore Goergetown, dan nitip tas hingga sore nanti adalah gratis.

Tak jauh dari penginapan kami, hanya 100 m terdapat klenteng yg cantik,Hainan Temple, kamipun tak melewatkannya, berikut informasinya : the temple founded in 1866 is dedicated to the patron saint of seafarers, the goddess Mar Chor. The present building was build in 1895, restroed in 1995. Berbekal kgemaranku mngunjungi klenteng2 kecil nan cantik di kota seratus klenteng,Semarang, aku sangat menikmati ornamen2 yang ada di dalam Klenteng. Disini terdapat makco yg besar sebagai tuan rumah yang merupakan dewa laut dan makco pendampingnya di kirinya.klenteng yg penuh ornamen 3dimensi pada dindingnya ini tidak terlalu memancarkan warna merah spti klenteng yang sering saya temui.

Melanjutkan berjalan, di pojokan jalan penginapan kami terdapat masjid Benggali, yang konon dibangun tahun 1803, nanti kami akan shalat disana. Kami mneruskan perjalanan menuju jl.penang,dsini kami menemukan tempat ibadah Hindu India dg Krishna, dewa utamanya. terdapan lambang ‘om’ yang besar di.pintu masuk. Seorang penjaga kuil berperawakan india mempersilahkan kami masuk untuk melihat2 kedalam. Di mimbar sembahyang terdapat Krishna & pasangannya dan di bilik belakang terdapat Ganesha dengan ukuran patung yg lbh kecil.

Selanjutnya kami menumpang bis gratis bertuliskan ‘hop on free cat’ bus berpendingin ac yg nyaman disediakan pemerintah daerah untuk memfasilitasi warga n turis berkeliling ‘corezone of heritage city’ di georgetown, lmayan buat budget traveller spti kami 😉

kami mnumpang ‘freecat’ mnuju jetty untuk membeli tiket kereta malam menuju Kualalumpur. Kami membeli tiket Kereta Senandung Mutiara 2nd class sleepless train sharga MYR 40 untuk upper bed n MYR 46 untuk lower bed, lumayan kami jadi menghemat biaya menginap dengan tidur di kereta malam ini.

Dari Jetty kami mulai bjln.kaki. Berbekal peta heriage city yang tlh ku download n.print sblmnya (peta ini juga bisa diperoleh di Tourism board di kota Goergetown), lorong demi lorong kami jalani dan satu persatu bangunan yang memiliki nilai sejarah kami kunjungi.

Salah satunya adalah Musium peranakan, yg menempati sebuah mansion cantik milik Kapitan Chung Keng Kwee, khas china peranakan. Mansion ini mengingatkanku pada rumah-rumah peranakan di Lasem -Jawatengah. Museum peranakan menampilkan koleksi2 khas peranakan,perlengkapan makan,baju2 kebaya encim, kamar pengantin hingga interior n furniture yg msh sangt terawat. Sepertinya di Indonesia banyak deh peninggalan peranakan, harus mulai di buat ni museum peranakan di salah satu pecinan besar dan khas di Indonesia.

Selanjutnya kami memasuki.kawasan Little India yg ramai,lorong dipenuhi penjual pakaian khas india; sari, dvd lagu2 hingga makanan murah meriah.kami menyempatkan makan siang di salah satu warung makan India, dengan menu yg mirip dg warung nasi Padang. Bruntung kami berasal dari ranah minang sehingga kami sangat mnikmati makanan sarat rempah, nikmat sekali.

Adzan dzuhur berkumandang skitar jam 1 siang.Dari lokasi kami makan tak jauh menuju Masjid Kapitan Kling, masjid yang berdiri tahun 1801 ini termasuk salah satu Masjid raya di Georgetown. Sekilas masjidnya memiliki kubah yg mirip dg Masjid raya Medan di Sumatera Utara. kami berkesempatan untuk shalat Dzuhur di Masjid ini.

Usai menjalankan kwajiban, kami melanjutkan ekplorasi. Menelusuri jl.kapitan keling kami menemukan sebuah klenteng yg terlihat sdh sangat tua, The Goddess of Mercy Temple, mulai didirikan tahun 1728 dan selesai pada 1800, Klenteng ini didedikasikan untuk Dewa Kebaikan, Kuan Yin. Kali ini kami tidak mampir krn mengejar waktu yang tak banyak lagi. Diseberangnya terdapat tempat ibadah Hindu yang indah, Mahamariamman Temple, dibangun tahun 1883 merupakan kuil hindu tertua di Georgetown, namun sayangnya pintunya tertutup shingga kami tidak bisa masuk.

Dipenghujung jalan terdapat gereja putih menjulang, St.George Church. Dibangun tahun 1818 dan merupakan Gereja Anglican tertua di Asia Tenggara. Kami masuki halamannya dan mulai sibuk berfoto. Kebetulan ada rombongan turis berkumpul di teras muka, langsung saja kami bergabung dan masuk ke dalam gereja. Gereja Anglican ini memiliki ruang ibadah dg atap yg tinggi memeri kesan sangat megah,tapi saya tidak terlalu terpeson, karena pernah melihat gereja yg jauh lebih megah di indonesia, yaitu misalnya Gereja Blenduk di Semarang dan Gereja Immanuel di seberang Stasiun Gambir, Jakarta. Sebuah bangunan in memorial di halaman muka St. George Church,menambah kecantikan tampak muka gereja St.George bila dilihat dari arah.muka. Bangunan kecil ini seperti di Kebunraya Bogor,makam istri tercinta Thomas S Raffless.

Melanjutkan perjalanan, kami mengunjungi State Museum, buat saya, salah satu tempat wajib kunjung di suatu kota adalah museum,untuk mengenal sejarah n budaya setempat. Dengan membayar Myr 1 untuk 1 org.Bilik pertama museum menceritakan asal muasal nama pulau penang yang awalnya bernama pulau ka satu dan berganti menjadi Penang / Pinang yang diambil dr nama pohon yg ditanam dipulau ini,pohon pinang. bilik selanjutnya adalah sejarah,budaya n khidupan msyarakat Penang yg tlah berbaur antara penduduk asli melayu serta pendatang dari negeri yang lebih jauh yaitu India dan China bahkan Inggris.

Perjalanan sore itu berlanjut menuju Esplenade di pinggir pantai, sepanjang perjalanan banyak bangunan khas peninggalan Inggris, yang paling seronok tentu Town Hall dan City Hall. City Hall dibangun tahun 1903 sebagai gedung dewan kota dan Town Hall dibangun 1880 merupakan tempat bersosialisasi dan pesta dengan ballroom untuk berdansa di dalamnya.

Esplenade pantai Georgetown sangat rapi sekali. Kami pun menikmati santai sebentar melepas penat menikmati pemandangan darataan semenanjung Malaysia di seberang sana dan Banyak burung berterbangan bebas, burung
dara dan gagak bercampur meramaikan public space yang nyaman dan bersih. Sore-sore jadi ramai di sepanjang bibir pantai ini terlihat banyak orang yang dudukduduk santai. Berjalan santai di promenade yang rapi dengan angin laut yang menari membuat perjalanan sore ini jadi enak.

Di penghujung jalan kami mendapati fort conrwallis, beteng tua yang sekarang menjadi tempat wisata dibangun oleh captain Francis Light saat pertama kali mendarat di Penang. Kami tidak masuk ke dalamnya, karena waktu kami tak lama lagi di Georgetown. Jadi kami lanjut berjalan menuju sebuah jam besar di perempatan jalan. Saya menyebutnya ‘jam gadang’ hehehee, karena bentuknya seperti jam gadang di bukit tinggi tapi di letakkan di perempatan jalan yang cukup ramai. Jam Gadang ini bernama Queen Victoria Memoria Clock Tower, dibangun tahun 1897. Terakhir kami menuju shelter pemberhentian free hop on cat, lmayan naik bis nyaman n ngadem hingga tiba di daerah penginapan kami.

Sambil menunggu waktu maghrib, kami mampir di salah satu rumah makan india, sekedar makan sore mencicipi roti cane, martabak dan minum teh tarik. Di negeri jiran ini begitu mudah menemukan rumah makan india yang rasanya kaya rempah dan kami sangat menikmatinya, nyam nyam banget deh 🙂

Sore itu kami kembali ke penginapan untuk mengambil tas, shalat maghrib di masjid Benggali, dan melanjutkan perjalanan kami dengan menggunakan free hop on cat menuju jetty. Kami akan melanjutkan perjalanan menuju Kuala Lumpur dengan menggunakan Kereta.

Menyeberang menggunakan ferry dari Pulang Penang ke daratan semenanjung Malaysia gratis, tanpa di pungut biaya, karena yang membayar adalah dari Butterworth menuju pulau Penang di bayar PP, jadi kalau seperti kami yang hanya sekali jalan saja dari pulau penang beruntung bisa gratis. Dari Jetty kami tinggal jalan kaki menuju stasiun. Menunggu tak lama, kereta kami sudah siap di peron. Kami menggunakan kereta Senandung Mutiara dengan fasilitas tempat tidur, karena ini adalah kereta malam. Pengalaman pertama niy naik kereta tidur, sepertinya akan asik. Dalam rangka penghematan kami mengambil kelas 2, tapi ternyata cukup nyaman, kereta dengan pendingin udara dan tempat tidur yang bersih dan nyaman. Di kelas 1 bentuknya compartemen untuk tiap 2 orang. Harga untuk kelas 2 ini adalah MYR 40 untuk tempat tidur atas dan MYR 46 untuk tempat tidur bawah. Bila berbadan standard Asia seperti kita siy pas deh ukuran tempat tidurnya, bahkan adikku yang agak tinggi aja paspasan banget tempat tidurnya dg kaki mentok, hehehehee..

Perjalanan kereta ini berangkat jam 23.00 dan akan tiba jam 06.40 di KL Sentral, lumayan lah bisa istirahat nyaman dan menghemat biaya penginapan. Tempat tidur yang bersih dan nyaman, spertinya kami akan bobok dengan pules malam ini seiring berjalannya kereta menuju Kuala Lumpur.

-vii-

Next….KL to Phnompenh

Iklan

2 pemikiran pada “Trip May’12 : Georgetown, the World Heritage City yang unik

  1. lilass1051 said: waahhh, ga mbayangin naik kereta dg sleeping bag. Bisa tidur enak kah? Berapa hari jalan2 episode yg ini, vi?

    bobok di keretanya ga pake slipingbag kog, ada selimutnya 🙂 nantikan saja episode2 yang segera tayang ya, kl mau budget nanti akan ku share juga deh, banyak yang tanya soalnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s