Trip May’12 :Transit di Kuala Lumpur dan selamat datang di Phnom Penh

Perjalanan dari stasiun Butterworth di seberang pulau Penang kami nikmati dengan tidur pulas di atas kerete Senandung mutiara dengan fasilitas tempat tidur. Ini pertama kali aku naik kereta dengan tempat tidur. Walau kami hanya menempati kelas 2, tapi tempat tidur dengan alas putih bersih dan selimut di gerbong bersih berpendingin udara/AC cukup membuat kami terlelap. Bagi kami budget traveller, tidur di kereta lumayan menghemat biaya dan waktu perjalanan.

Menjelang tiba di KL Sentral, bapak kondektur berjalan sepanjang kereta dari gerbong pertama hingga akhir untuk membangunkan penumpang. Tidak perlu berisik sudah cukup membangunkan kami yang memang sudah terjaga oleh sinar matahari yang mengintip dari jendela kereta yang membawa kami memasuki kota Kuala Lumpur. Dari balik jendela terlihat kota Kuala Lumpur mulai menggeliat di hari rabu pagi, mobil mulai ramai dan memadati jalan raya.

Setibanya di KL sentral yang merupakan stasiun terbesar di Malaysia tempat berkumpulnya semua kereta yang melintas di semenanjung Malaysia, kami mengikuti arus penumpang yang memburu ke atas. Berdasarkan pengalamanku berkereta api lintas kota/propinsi di Jawa, tiap stasiun besar pasti memiliki fasilitas kamar mandi, sehingga bisa segar saat memasuki kota, sehingga yang kami cari pertama kali adalah kamar mandi / bilik mandi, dan voila…tak sulit mencarainya, mata kami tertumbuk pada sebuah papan in

formasi ada bilik mandi di lantai 1, yeeeeiii…kesanalah kami menuju.

Bilik mandi di stasiun KL Sentral terletak di pojok lantai 1, ikuti saja petunjuk arahnya, atau bila ragu, tanya ke petugas informasi. Bilik mandi ini mengenakan biaya MYR 5 tiap orang, lmayan mahal ya, eh tapi, sesuai dengan harganya, bilik mandi ini juga memiliki fasilitas yang bisa di kasi jempol.

Tiap orang yang akan mandi, harus antri dulu, atau bila sepi bisa langsung masuk. Kita mendaftarkan diri dulu, karena akan di beri kunci bilik ganti yang aman untuk menyimpan barang2 saat kita mandi. Kamar mandinya berupa shower dengan pilihan air panas n air dingin. Disediakan juga sabun cair n shampoo bila ternyata tidak membawa. Oiya, bila menginginkan pakaian kita rapi, ada setrika juga di luar, sehingga bisa setrika pakaian dulu sbelm mandi. Bila lupa bawa handuk, tersedia juga handuk di sewakan, tapi lupa tanya itu sewanya berapaan, karn kebetulan perlengkapan mandi kita lengkap, jadi tak ada masalah.

Selesai mandi dah segar niy, saatnya sarapan. Tak mau terlalu repot dan jauh karena kita siang harus ke bandara LCCT, jadi kita sarapan pagi di kantin stasiun saja yang terletak di lantai 3. ada banyak pilihan makanan di foodcourt stasiun ini. Dari sekedar kue2 manis hingga nasi campur khas malaysia, atau kalo di indonesia biasa disebut nasi rames. Harga makanan pun masih standar, jadi kita bisa lbh santai menungu waktu di stasiun dari pada mundar mandir memboyong backpack kami yang tidak ringan untuk sekedar sarapan pagi. Sehubungan kami juga adalah fakir wifi, dimana ada signal wifi, langsung aja kami sibuk online, apdet status n twit info perjalanan kami. Penting ga penting siy, tapi setidaknya teman2 tau kabar kami disini n kami juga tau kabar teman2 di sana dan tetep apdet info yang terjadi di dunia.

Siang ini kami harus mengejar penerbangan selanjutnya, yaitu ke Phnompenh, Cambodia. Karena jauhnya bandara LCCT dari kota Kuala Lumpur dan penerbangan kami adalah penerbangan internasional, maka jam 10 kami sudah bergegas menuju terminal bus yang berlokasi di bawah sisi luar stasiun KL sentral. Ada 2 pilihan bis untuk menuju LCCT, euro bus dan skybus dengan harga MYR 8 dan MYR 9, selisih yang tak terlalu berarti siy. Kami pilih bis yang nyaris penuh saja supaya tak lama menunggu, karena bis baru akan bergerak meninggalkan KL sentral setelah penuh penumpang.

Perjalanan dari KL Sentral menuju LCCT sekitar 1 – 1,5 jam, melalui jalan bebas hambatan. Sekilas menikmati sisi kota Kuala Lumpur dan selanjutnya kami telah memasuki kawasan luarkota dengan pemandangan hamparan pohon kelapa sawit yang tiada habisnya.

Tiba di LCCT, waktu masih panjang, penerbangan kami jam 3 sore nanti, jadi kami masih bisa santai. Bagi kami, lebih baik tiba awal di bandara dibanding mepet n degdegan ketinggalan pesawat.Meluangkan waktu yang cukup panjang Lagi-lagi kita menuju kantin bandara yang berlokasi tak jauh dari bis menurunkan kami. Kami harus mengenyangkan diri sebelum melanjutkan perjalanan panjang kami, dengan harapan di pesawat bisa bobok nikmat selama lebih kurang 2 jam. Skitar 1 jam menjelang boarding kami langsung menuju imigrasi, beruntung kami sudah web-check in sehingga tak memerlukan check in di counter airasia, dan kami juga hanya membawa backpack yang ukurannya tak melebihi persyaratan untuk cabin carry.

Melewati petugas imigrasi yang biasanya tak terlalu ramah dan petugas bagasi scan dengan antrian yang cukup panjang dan teliti, akhirnya kami masuk di ruang tunggu. Tak menunggu terlalu lama dan pesawat kami delay hampir 1/2 jam, kamipun memasuki pesawat yang akan menerbangkan kami menuju ibukota Cambodia, Phnompenh.

Mendarat di bandara Internasional Phnom Penh sore jam 5. Bandaranya tidak terlalu besar, mungkin seperti di bandara internasional Minangkabau di Sumatera Barat. Dibanding negara ASEAN lainnya, Cambodia termasuk negara terakhir yang memberikan ijin bebas visa bagi warga ASEAN. Tahun lalu bagi warga ASEAN masih di kenakan biaya VOA USD 20, tp tahun ini sudah bebas, tapi tetep mengisi form Visa on Arrival yang nanti akan di ambil saat meninggalkan negara Cambodia. Proses imigrasi di bandara, sama seperti di negara lainnya, kami mengantri rapi, tapi kita cukup takjup dengan fasilitas self imigration gate bagi penduduk cambodia yang pulang ke negaranya. Kalo di Indonesia n negara Malaysia (entah di negara lainnya), penduduk asli yang pulang berpergian dari luarnegeri tetap antri untuk cap imigrasi di passport, hanya di bedakan antriannya saja. Tapi di bandara internasional Phnom Penh ini, bagi penduduk asli, ada gate khusus dan mereka bisa melakukan semacam self check-in, antri di belakang booth, lalu masuk dan passportnya tinggal di cemplungin ke semacam alat scanner, trus scanner jempol n done, selesai boleh pulang, sem
udah itu….aku pun menjadi kagum, hebat, dan salut untuk negara yang baru membuka dirinya di pertengahan tahun 1980 tapi sudah memiliki teknologi yang sangat ramah untuk warganegaranya, kalo di bandingkan di Indonesia (terminal 2 n 3 bandara soetta), proses manual, antrian panjaaang banget, n petugas imigrasinya jutek, serahkan passport ke petugas, di lirik dengan tatapan sinis dan akhirnya di cap passportnya, bahkan di dinding loket imigrasi malah pernah ada spanduk “selamat datang pahlawan devisa”.

IMG-0406-Small IMG-0412-Small_001

Kami keluar dari bandara, seharusnya sudah ada penjemput dari hotel yang kami booking, sesuai informasi yang di berikan. Teliti satu demi satu nama2 yang di pegang oleh para penjemput tamu, kog namaku tak ada…huuffftt. Akhirnya setelah mundar mandir n baca informasi, kami memutuskan naik tuktuk saja. Harga tuktuk flat untuk mengantar ke manapun di jagat kota Phnom penh yaitu USD 7 dan ini akan menjadi awal yang menggembirakan bagi kami, karena kami mendapat tukang tuktuk yang bisa berbahasa inggris. Dengan semangat mas tuktuk yang bernama Pheng Sophon mengambil alih backpackku dan menata backpack kami di kolong tempat duduk, sehingga memberi tempat yang lapang bagi kami bertiga di atas tuktuk.

IMG-0415-Small IMG-0417-Small IMG-0424-Small

Memasuki kota Phnom Penh di sore hari membawa kegembiraan dan semangat baru bagi kami. Kota yang tidak terlalu besar tapi cukup ramai seperti Semarang. Hal pertama yang kami sadari di kota ini adalah, jalur jalan menggunakan setir kiri, dan pengendara motor serta tuktuk cukup banyak dan rada sembrono, kukira di Semarang aja yang asal pengendara motornya sembrono, ternyata di sini lebih parah lagi, lalu lalang pengendara asal banget, sempat beberapa kali saya harus berpegang erat dan menjerit tertahan serta terbelalak melihat etika pengendara motor di kota ini.

IMG-0422-Small

Perjalanan kami menuju penginapan yang tak jauh dari Royal Palace sekitar 30 menit. Penginapan kami bernama Number 9 hotel, di lokasi yang sarat penginapan murahmeriah. Saya langsung check in dan protes, knapa saya tidak di jemput di bandara. Sambutan yang cukup ramah dari resepsionis hotel cukup meredakan dengan menunjukkan kertas yang bertuliskan nama saya, ternyata penjemputnya sudah pulang duluan sblm saya muncul di area penjemputan, hadeeeeeh. Kami menempati kamar di lantai 2, triple bed room, kamar yang bersih dan nyaman berpendingin udara. Dengan harga USD 30/nite, berfasilitas jacussi n sarapan yang enak mnurut kami cukup murah , apalagi di hotel ini juga memiliki cafe yang keren banget, pas banget buat santai.

IMG-0428-Small_001 IMG-0431-Small

Sore itu kami santai dulu, menikmati fasilitas hotel dan mandi, baru malam kami keluar sambil mencari makan malam. Setelah mendapat informasi dari staff hotel, mereka mengarahkan kami untuk berjalan-jalan di sepanjang promenade sungai dan kesanalah kami menuju. Jalan2 malam di sekitar sungai dekat dengan Royal Palace kota Phnom Penh cukup nyaman, tak banyak kendaraan lalulalang dan promenadenya juga nyaman, cukup luas untuk berjalan kaki.

IMG-0439-Small IMG-0434-Small_001 IMG-0441-Small

Kami mulai awas untuk melihat-lihat pedagang makanan, hingga akhirnya kami memutuskan untuk makan malam tak jauh dari State Museum, berupa warung pinggir jalan dengan menu lokal. Berdasarkan gambar dan keterangan jenis makana, kami memesan menu yang menurut kami cukup halal, yaitu pineapple friedrice, Fried basil beef with rice dan Fried rice shrimp paste alias nasigoreng terasi :p

IMG-0451-Small IMG-0453-Small_001 IMG-0452-Small_001 IMG-0450-Small

Sambil menunggu makanan kami datang, kami melihat penganan lainnya yang di hantarkan, tertumbuk pandangan mataku pada setumpuk telur di atas anglo (kompor berbahan bakar bara). Sebagai penyuka telur, saya begitu tertarik, yang terpikir itu adalah telur bakar seperti di daerah tegal/brebes yang nikmat. Saya coba pesan, tapi oleh pemilik tempat makan hanya di beri senyum dan menggeleng dan bilang ‘baby duck egg’…duh penasaran, tapi pesanan kami sudah datang. Dari 3 pesanan, ada 1 yang ternyata ada daging babinya, duuuh…beruntung addi bukan muslim, jadi bisa menghabiskan hidangan tersebut. Makanan yang kami pesan lmayan nikmat, habis tak bersisa, tapi telur tadi tetep bikin penasaran. Pengunjung di sebelah kami memasan telur tersebut, jadi saya perhatikan dengan seksama, mereka mengupas telur seperti telur 1/2 matang, di taburi garam dan lada…tambah penasaran, saya hampiri mereka dan ternyata telur tersebut isinya adalah baby duck, seperti yang di bilang pemilik tempat makan, telur yang sudah jadi bayi tapi blm menetas….:(..beruntung kami sudah makan, jadi ga pake eneg ngbayanginnya. Katanya temenku kl di Philipine namanya ‘Balut’.

IMG-0447-Small_001 IMG-0454-Small

Usai makan, kami kembali jalan kaki menuju penginapan, lumayan memutar agak jauh, tapi walau gelap dan sepi, kota Phnom Penh cukup aman, mungkin karena kami di seputaran wilayah Royal Palace. Kembali ke penginapan langsung istirahat, karena besok banyak yang akan kami Eksplore di kota yang menyimpan banyak cerita ini.

-vii-

Next ..banyak taman di kota Phnom Penh

Iklan

2 pemikiran pada “Trip May’12 :Transit di Kuala Lumpur dan selamat datang di Phnom Penh

  1. aniadami said: makasih sharing catpernya, bisa buat contekan kalo nanti ke cambodia. salam kenal mba 🙂

    makasi dah membaca, masih berlanjut lho cerita perjalanannya….pantau aja terus, byk yg menarik di cambodia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s