Trip May’12 : menikmati Phnom Penh yang banyak taman

Pagi saat yang tepat memulai aktifitas kami di kota Phnompenh. Berdasarkan hasil jalan2 semalam, sepanjang sungai dengan promonade yang sangat nyaman, hingga di perjalanan pulang rasanya tak jauh dari penginapan kami ada taman yang luas, jadi pagi ini mo jalan di taman dulu sambil sarapan, sepertinya enak.

Di pojokan taman yang luas ini ada semacam minimarket tapi dilengkapi dengan kursi santai, sehingga pengunjung bisa dudukduduk menikmati jajajnnya. Kami sarapan disini. Usai sarapan , kami berniat berjalan kaki saja menikmati sekeliling kami, yang bila di perhatikan di peta ada beberapa tempat menarik. Taman yang kami singgahin ini adalah taman monumen perdamaian Vietnam-Cambodia. Taman yg cukup luas, memiliki pojok tempat bermain anak yang nyaman dan aman untuk anak2, jejeran kursi-kursi taman yang nyaman dan bersih banget. Sepertinya menikmati sore di taman ini sambil santai adalah pilihan yang tepat.

Ibukota negara Cambodia ini tidak sebesar dan sesesak jakarta, tapi memiliki fasilitas umum yang sangat ramah bagi penduduknya, seperti tempat bermain anak di taman ini, yang selain menyediakan permainan, juga di memiliki alas karpet yang empuk sehingga aman untuk anak2.

Di taman ini terdapat sebuah monumen Cambodia – Vietnam yang menjulang tinggi, dan di sisi kiri taman kami temukan sebuah kuil yang cukup besar, maka kami melangkah menuju wat Botum, sebuah Kuil yang cukup tua, menurut kisahnya Wat Botum di bangun 1422 oleh King Ponhea Yat, dan dinamakan wat Botum tahun 1865. ada banyak sekali stupa di dalamnya, seperti kumpulan memorial dari keluarga kerajaan.

Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan melewati taman lainnya di seberang jalan yang dilenkapi dengan kursi-kursi taman yang berjejer rapi dan bersih. Di penghujung jalan kami menemukan Independence Monument – Vimean Ekareach yang di remikan tahun 1962. Monumen ini merupakan peringatan kebebasan Cambodia dari peranan asing. Indepence Monumen ini brada di perempatan ramai yang merupakan pusat kota Phnom Penh.

Disini kami berjumpa dengan seorang tuktuk driver yang menawarkan mengantarkan kami menuju The Killing Field. Sesuai dengan tujuan kami yang akan menuju kesan, tawaran tersebut kami sambut, namun tetap terjadi tawar menawar harga yang kiranya sesuai untuk mengantarkan kami, karena selain The Killing Field, kami juga mau berkunjung ke S-21 museum dan Wat Phnom. Akhirnya kami sepakat seharga US$ 20, maka segera kami menaiki tuktuk yang cukup bagus ini. Mas Mao supir tuktuk kami cukup pandai berbahasa Inggris, sehingga memudahkan kami berkomunikasi dan di perjalanan pun tak segan dia bercerita mengenai kota Phnom Penh.

Perjalanan menuju The Killing Field sekitar 15 km southwest kota Phnompenh, dah diluar kota dan jalan yang kami lalu cukup berdebu, rusak dan banyak kendaraan besar pengangkut barang. Setibanya di The Killing Field kami sepakat untuk menikmati area ini selama 1 jam, sepertinya sudah cukup. The Killing Field merupkan area pembantaian korban dari Kampucea Democratic yang di pimpin oleh Brother number one, Polpot. Masa yang cukup suram bagi masyarakat Cambodia.

Usai menjelajahi the Killing Field, kami menuju S-21 Museum; Toul Sleng Genocide Museum. Museum yang dahulunya adalah sebuah sekolah menengah atas. Museum ini tampak suram, membuat saya tak nyaman berlama-lama disini, ada 3 bangunan gedung. Gedung pertama ruang kelasnya digunakan sebagai ruang penyiksaan, gedung kedua menampilkan poto2 korban dan gedung ketiga yangmerupakan bekas penjara masih menyisakan kawat berduri yang melapisi gedung ini dari tawanannya. Di gedung ketiga ini, di lantai dua terlihat ruang-ruang kelas yang di sekat dengan bata dan kayu bagi tawanan individu. Kami tak terlalu lama disini, karena dari awal masuk, saya diliputi suasanya yang tidak menyenangkan, mungkin faktor udara lembab usai hujan, tapi membuat saya tidak merasa nyaman.

Sore itu kami berlanjut menuju Wat Phnom, rencana untuk ke Russian Market kami batalkan, karena sepertinya belum berminat untuk melihat2 ataupun membeli souvernir. Di perjalanan menuju Wat Phnom kami sempatkan untuk membeli makan siang yang tertunda dan menikmati makan sore kami diatas tuktuk hingga akhirnya tiba di wat Phnom.

Rintik hujan yang sesekali masih turun sore itu tak menghalangi kami untuk menuju destinasi terakhir di hari ini. Wat Phnom yang basah akibat hujan sore ini, terlihat sangat teduh. Di lingkupi pohon-pohon dari taman di sekeliling wat Phnom. Terletak di atas sebuah bukit kecil di tengah kota, cukup unik dan cantik. Bagi pengunjung mancanegara di kenakan biaya maasuk $1, untuk memasuki Wat Phnom dengan menaiki tangga menuju bangunan yang terletak diatas bukit. Konon Wat Phnom berhubungan dengan kisah awal Phnom Penh. Dikisahkan pada 1372 Lady Penh (Yea Penh) menemukan phon koki yang di dalamnya terdapat 4 patung budha. Lalu Lady Penh membangun sebuah bukit (phnom = bukit) dan sebuah kuil (wal), yang sekarang menjadi Wat Phnom. Di kemudian hari wilayah di sekitarnya dikenal dengan Phnom (bukit) Penh (dari Lady Penh). Stupa terbesar dipersembahkan bagi King
Ponhea Yat (1405 – 1567) yang memindahkan pusat pemerintahan Khmer dari Angkor ke Phnom Penh di awal abad 15.

Menapaki anak tangga menuju Wat Phnom yang terletak di atas bukit, mengawali kunjungan kami. Langsung menuju kuil utama yang terletak persis di muka. Tapi kami tak langsung masuk,karena kami menikmati sekali sekeliling halaman yang teduh. Menikmati sore di Wat Phnom sungguh asik, kuil yang teduh dengan pohon-pohon besar, seperti oase di tengah kota Phnom Penh. Memasuki kuil utama, kami berhadapan dengan dekorasi serba Emas, sang Budha tampak bersemadi dalam pancaran warna emas. Di sekeliling dinding di penuhi warna dan lukisan.

Di bawah Wat Phnom terdapat museum, sambil menunggu hujan, kami berteduh di museum ini, di dalamnya terdapat sejarah awal Khmer, diorama pembangunan Angkor hingga masa suram di bawah kekuasaan Kamphucea Democratic. Satu yang mengejutkan adalah, aku menemukan lukisan jaka tarub dan 7 bidadari, ternyata legenda yang beredar di Cambodia pun sama dengan Indonesia.

Di bawah bukit Wat Phnom ini di kelilingi taman dengan pohon-pohon besar menjadikannya begitu rindang. kursi taman berjejer memberi kesempatan kepada warga kotanya untuk beristirahat sejenak.

sore menjelang malam kami kembali ke hotel kami yang nyaman, lumayan banyak yang telah kami kunjungi hari ini, dan sepertinya malam ini kami akan leyeh2 nikmat saja di hotel yang memiliki jacussi restoran yang nyaman, karena hujan tak kunjung reda malam ini.

-vii-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s