Road to Derawan

Taksi sudah menunggu d muka rumah eddi, sementara kami; aku, Rotua – sahabatku dr jaman masih SMA, Yaya – adik rotua, dan Addi masih sibuk packing dan meyakinkan bahwa smua barang sudah terangkut untuk perjalanan kami menuju kepulauan Derawan. 4 daypack padat muatan, 1 tas perlengkapan tambahan milik rotua, 1 tas kresek perlengkaptan snorkel milik mba’dini – tetanggaku yang mejadi begitu mupeng dengan rencana liburan ke derawan, dan masih ada 1 keresek penuh makanan untuk cemilan kita di derawan, berisi kue-kue dan Kacang Natal di rumah Addi, roti, dan brownies kukus yang lezat. sep semua dah masuk, mari kita berangkat.
Perjalanan menuju bandara berjalan tanpa hambatan, dengan cepat mengantar kami ke bandara Sepinggan Balikpapan, dan langsung check in.
Pesawat kami take off tepat waktu jam 09.00 dr Balikpapan mnuju Berau. Penerbangan dengan langit yang cerah dan biru, namun pemandangan ke bawah tertutup awan-awan kecil seperti shaun the sheep di giring ke padang rumput, padahal pengen liat hutan kalimantan yang konon dah botak terkalping-kapling oleh penambangan.

kapling penambangan, tampak dari pesawat
kapling penambangan, tampak dari pesawat
kapling site penambangan di tepi sungai, tampak dari atas
kapling site penambangan di tepi sungai, tampak dari atas

Tiba di Berau, kami memasuki bandara kalimarau yang masih fresh, baru resmi digunakan 6 Desember 2012 lalu. Bandara mungil di kota kabupaten ini, berdesain modern dengan konsep green building. atap rangka baja yang tinggi dan jendela-jendala kaca di sekeliling, sehingga menghemat penggunaan lampu disiang hari, karena sinar matahari dapat menembuskan cahayanya melalui kaca-kaca tersebut. Kalo perbandingannya bandara Kalimarau ini mirip dengan Terminal 3 Soetta, bahkan kota Semarang aja bandaranya jauh lebih kuno dibanding dengan bandara Kalimarau.

Bandara Kalimarau yang baru diresmikan 6 Desember 2012, minimalis & green building
Bandara Kalimarau yang baru diresmikan 6 Desember 2012, minimalis & green building

Keluar dari bandara tanpa harus menunggu bagasi, karena semua barang kami cukup masuk kabin, kami mencari guide kami yang menurut info dari Addi akan menjemput kita. setelah bertelpon-telponan, akhirnya seorang bapak-bapak menghampiri kami dan ternyata beliaulah yang menjemput. Pak Kasim namanya, menjemput kami dengan mobil Rush-nya, langsung sigap menaikkan barang bawaan kami berikut kami ke dalam mobilnya. Begitu mobil bergerak kami meminta untuk menjemput seorang teman kami – Mba Eny – yang telah lebih dulu tiba di Berau dengan penerbangan semalam, sehingga harus menginap di Tanjung Redep. Tiba-tiba tanggapan tidak menyenangkan menampar, pak kasim terlihat emoh untuk kembali ke Tanjung Redep, karena menurut perjanjian dia hanya menjemput di bandara dan langsung ke Tanjung Batu, lalu pak Kasim meminta tambahan biaya, karena harus mundar mandir dan lokasi bandara – Tanjung Redep lumayan jauh, sekitar 20 – 30 menit perjalanan. sempat pak kasim mengancam untuk membatalkan mengantar, tapi kami tak takut, malah nantangin balik, lalu dia mulai nego, minta tambahan Rp. 100rb, tapi kami tawar 1/2nya. sambil misuh-misuh pak Kasim sibuk telpon sanasini laporan ke temennya kalo dia harus ke Tanjung Redep, lalu kembali misuh-misuh bilang bahwa dia aja janji jemputan di Tanjung Batu jam 12 siang, tapi kita cuekin aja, bodo amat, yang penting jemput mba Eny di Tanjung Redep dan antara kita ke Tanjung Batu.
Tiba di Tanjung Redep, ternyata tak sulit menemukan Wisma Rahayu, penginapan kecil yang bersih d Jl. Gajah Mada, Tanjung Redep, Berau. langsung kami mengangkut mba Eny yang juga sudah siap di lobby, dan tak berbasabasi kami lanjut menuju Tanjung Batu.
Perjalanan Berau ( Tanjung Redep ) – Tanjung Batu berjarak sekitar 125 km, dan dengan kondisi jalan yang cukup mulus walau ada jalan jelek di beberapa lokasi, dapat kami tempuh sekitar 2 jam. suasana yang awalnya tidak menyenangkan dari Pak Kasim terus berlanjut dengan tambahan ‘aroma asam’ yang sangat menyengat menguar dari tubuh pak Kasim *perlu pernapasan buatan niy, sehingga kami harus membuka jendela mobil demi mendapatkan ‘udara segar’ dari pada keracunan asam. Demi mengalihkan ‘tindak kejahatan’ yang dilakukan pak Kasim terhadap kami, sepanjang perjalanan kami habiskan dengan ngobrol seru,banyak cerita mengalir, khususnya apdet teman-teman di Semarang dengan segala suka duka dan kelucuannya.

Gerbang Pelabuhan Tanjung Batu
Gerbang Pelabuhan Tanjung Batu

Kami tiba di Tanjung Batu jam 13.00, matahari lagi cihuy-cihuynya, cakep deh untuk kita menyeberangani laut menuju Pulau Derawan siang ini. Mas Silo – Guide kami – menyambut kedatangan kami dengan ramahnya, dan siap untuk mengantar kami menuju Pulau Derawan. Tapi sebelum berangkat melaut, kami lapar, sehingga perlu amunisi untuk mengganjal asam perut yang meningkat di tambah udara asam pekat yang kami hirup selama dua jam, daripada kami tewas sesampainya di Derawan.

Sebuah Warung tak jauh dari gerbang Dermaga Tanjung Batu menjadi tempat kami bersantai sejenak untuk makan siang. menu yang kami pesan ikan goreng dan cumi asam manis. Tak terlalu lama menunggu, karena bahan makanan sudah tersedia tinggal diolah, seekor ikan ukuran sedang terhidang nikmat disertai dengan sambal yang segar serta cumi asammanis yang lezat menjadi makan siang yang nikmat, tanpa terasa kami sudah melupakan siksaan perjalanan dua jam yang beru saja kami lalui, dan mood pun kembali positive.

Walau matahari bersinar sangat cihuy, tapi tak mengurangi sedkitpun kegembiraan kami. perut kenyang, hati senang itulah yang terjadi. kami langsung kembali ke habit semula, keluarkan kamera dan photo-photo dimulai. Langit biru menjadi latar yang begitu ciamik sehingga sepanjang dermaga Tanjung Batu kami disibukkan dengan jepret sanasini.

dermaga Tanjung Batu
dermaga Tanjung Batu
sekelompok perahu layar sedang bermain dibirunya laut
sekelompok perahu layar sedang bermain dibirunya laut

Saatnya kami berangkat menuju Derawan, mas Silo yang baik hati dengan sigap mengangkat 4 bagpack kami sekaligus, lebih tepatnya diisengi aja siy, tapi mas Silo rela-rela aja, hahahaaaa….. kami langsung menuju boat yang telah sandar di dermaga dengan deck warnawarni. boat yang cukup untuk kami ber-5. saatnya berangkat menyeberangi laut biru yang jernih…yeeeeeiiiii..

ngerjain mas Silo....ehheehehhee
ngerjain mas Silo….ehheehehhee
siap-siap berangkat
siap-siap berangkat
berangkaaaat....yeeeeeiiiii
berangkaaaat….yeeeeeiiiii

Derawan, kami datang…….

-vii-

Iklan

6 pemikiran pada “Road to Derawan

    1. Berutungnya kita…god bless us with bright n blue sky
      Kmrn kt ga pake tour, penginapan n makan lgs byr n boat + mobil jemputan da pesan. Jd murah

    1. sabar ya om, rampungin dulu ceritanya nanti ku share biaya yang dihabiskan berapa….ehheheheee…pokoknya kl sama aku dijamin murah dan bahagia…hahahahahahah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s