Plesiran di Kota Makassar

Berkesempatan mengunjungi kota Makassar, yang artinya menambah ensiklopedi daerah jelajahku. Sebelumnya ke Makassar hanya sekedar transit penerbangan dari Palu saat ada kunjungan ke Sulawesi Tengah, dan saat itu hanya transit tukar peswat, tak sampai satu jam menunggu boarding.

Kali ini ke Makassar dalam rangka plesiran bersama papamama, kebetulan ada adik bungsu papa yang dinas di Makassar, sehingga sudah pasti kenyamanan kita selama di kota Makassar akan ditanggung….hooreeeey

Image

Walaupun judulnya plesiran bersama orangtua, tapi untuk urusan tiket, tetep cari tiket termurah yang ditawarkan maskapai penerbangan, dan konsekwensinya adalah jam terbang yang tidak lazim, kita mendarat di Makssar jam 01.00 WITA dan Boarding jam 03.30 WITA.

Bandara Sultan Hassanudin di Makassar adalah salah satu bandara internasional yang sudah di bangun ulang, dengan desain yang lebih modern dan bentuk bangunan yang menerapkan konsep Green Building, kalo di bandingkan dengan bandara Soetta yang sudah uzur sangat jauh lebih baik. Sehingga sebagai pusat transit untuk penerbangan wilayah indonesia Timur, Bandara Sultan Hassanudin cukup nyaman dengan fasilitas yang sangat mendukung; mulai dari check-in counter, kooridor menuju boarding hingga toilet yang bersih bahkan juga tersedia shower room bagi penumpang yang transit cukup lama ataupun penumpang yang tiba di Makassar pagi hari.

Kawasan wisata populer di Makassar adalah Pantai Losari, pantai yang telah di tata dengan promenade yang rapi menjadi icon wisata kota, selain promenade juga disediakan masjid cantik di ujung pantai untuk memudahkan wisatawan beribadar, khususnya saat maghrib, dikenal dengan masjid terapung. Pemandangan sunset dari lokasi ini sungguh indah, wajah saja bila sore hari sepanjang pantai losari ramai dikunjungi warga baik sekedar bersantai dan juga berphoto-photo. Selain ramai saat sore, kawasan pantai losari juga menjadi kawasan ‘Car Free Day’ setiap hari minggu pagi, beragam jajanan bisa ditemukan disini, karena masyarakat Makassar sepertinya tumpah ruah memadati kawasan Losari.

ImageImage

Tak jauh dari pantai Losari terdapat Fort Rotterdam yang terkenal. Beruntung benteng ini segera di revitalisasi oleh pemda, sebelum menjadi hancur dan rusak. Fort Rotterdam juga merupakan salah satu icon wisata kota Makassar, sepertinya belum lengkap plesiran di Makassar bila belum berkunjung ke Benteng ini.

ImageImage

Mengutip keterangan id.wikipedia.com, berikut sejarah singkat Fort Rotterdam :

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota MakassarSulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.

ImageImage

Diseberang Fort Rotterdam terdapat Societeit de Harmonie yang merupakan Gedung Kesenian peninggalan Belanda, sayangnya gedung ini tampak tak terawat, selain itu saya juga menemukan Museum Negeri Sulawesi Selatan yang tampak tak terurus, hari minggu pagi saat melewatinya untuk sekedar mampir, museum tampak tutup, padahal biasanya hari minggu museum buka untuk pengunjung.Tak banyak bangunan heritage yang saya temukan di kota Makassar. Tak jauh dari sini terdapat kawasan pecinan yang cukup padat, ada klenteng yang sangat besar di pojokan jalan, dengan pagoda yang membuat takjub juga melihatnya seperti bangunan 3 lantai dengan ornamen merah yang mencolok, ada warung kopi tiam yang bikin penasaran pengen mampir, tapi paling wajib kunjung adalah restoran/toko kue mama di jalan Serui, karena disini tempatnya sangat homey dengan kolam ikan koi di halaman mukanya juga penganannya enak- enak dan ada home made ice cream yang rasanya enak banget, cocok buat siang-siang di makassar yang panas.

Image

Salah satu tempat yang sangat bikin penasaran buat saya adalah Benteng Somba Opu tak berhasil saya temukan saat gowes hari minggu pagi di kota Makassar, terjebak di ramainya pantai losari dan berusaha mengikuti petunjuk arah, tapi tetap tidak menemukannya, mungkin saya nyasar sehingga seiirng dengan semakin panasnya siang di kota Makassar, saya memutuskan pulang saja. Sepenggal sejarah benteng Somba Opu dari portalbugis.wordpress.com

Benteng Somba Opu dibangun oleh Sultan Gowa ke-IX yang  bernama Daeng Matanre Karaeng Tumapa‘risi‘ Kallonna pada tahun 1525. Pada  pertengahan abad ke-16, benteng ini menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan  rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa.

Pada tanggal 24 Juni 1669,  benteng ini dikuasai oleh VOC dan kemudian dihancurkan hingga terendam oleh  ombak pasang. Pada tahun 1980-an, benteng ini ditemukan kembali oleh sejumlah  ilmuan. Pada tahun 1990, bangunan benteng yang sudah rusak direkonstruksi  sehingga tampak lebih indah.

ILMUWAN Inggris, William Wallace, menyatakan, Benteng Somba Opu adalah benteng terkuat yang pernah dibangun orang nusantara. Benteng ini adalah saksi sejarah kegigihan Sultan Hasanuddin serta rakyatnya mempertahankan kedaulatan negerinya.

Tak Jauh dari Kota Makassar, kita menuju Gowa, untuk berziarah di makan raja Gowa yang didalamnya terdapat makam Sultan Hassanudin. Makam raja Gowa terpelihara sangat baik berlokasi di kecamatan Somba Opu. Terdapat meriam kecil di pagar muka, dan begitu memasuki pelataran kita disapa dengan patung Sultan Hasnuddin dengan baju merahnya. Terdapat beberapa makam raja Gowa disini, dengan nisan batu besar diatasnya. Konon makam sultan Hasanuddin yang sebenarnya tidak diketahui, sehubungan dengan gencarnya Sultan Hasanuddin berjuang melawan Belanda. Di komplek pemakaman ini terdapat makam ayah, kakek serta anak sultan Hasanuddin, khususnya keturunan raja Gowa yang telah muslim. Seoraong pemandu mendampingi kami selama berada di makam raja Gowa, beliau menuturkan banyak cerita mengenai keluarga raja Gowa. Dari lokasi ini kita bisa menyaksikan bentangan kota Makassar, ternyata lokasi makam terletak diatas bukit, padahal dalam perjalanannya kami tak merasa menaiki bukit.

ImageImageImage

Selanjutnya menuju Museum Balla Lompoa, yang didalamnya areanya terdapat replika istana Tamalate, namun sayangnya siang itu keduanya tutup, bahkan yang lebih menyedihkan, kondisi bangunan replika istana sudah jelek, beberapa kayu tampak lapuk. Berkat kesabaran kami yang tak segera beranjak pergi, tak lama kami melihat kuncen museum datang dan membukakan pintu, yeeeei…beruntung kami jadi bisa mengunjungi Museum. Balla Lompoa berarti rumah besar, di dalam museum ini kami dapat melihat koleksi peninggalan kerajaan Gowa, tulisan Lontarak, dan yang menyenangnkan adalah disediakan penyewaan baju adat Gowa atau Baju Bodo, jadi tak melewatkan kesempatan cantik ini, sayapun segera menyalin baju mengenakan baju bodo dan berubah menjadi seorang putri yang cantik….hahahhahaaa.

ImageImage

ImageImage

Selain mengunjungi beberapa tempaticon wiata di kota Makassar, tak lupa untuk berkuliner ria, karena masakan makassar terkenal lezat juga. Begitu mendarat di Makassar, kami langsung diajak makan Coto, karena di Makassar ga ada soto yang gurih dan segar, tapi dengan mudah menemukan coto yang lezat dengan rempah-rempah yang harum pada kuahnya tak lupa percikan jeruk nipis untuk menyegarkan. Harus coba juga Palumara di rumah makan Ulu Juku, sedap tak terkira sup serta gulai kepala ikan. Ada juga Sup ubi yang gurih nikmat kami temukan di gang sempit tak jauh dari pantai Losari, walaupun tempatnya sempit dan biasa saja, tapi masakannya juwara deh.

ImageImageImage

Kalo suka mie, harus coba mie titi, mie kering dengan kuah kental yang lezat, seperti ifumie. Seporsinya cukup berlimpah dan di jamin bikin kenyang. Yang ga boleh terlupa ada juga konro, sup saudara dan palumara ini bentuknya hampir sama kalo menurutku, semacam sup iga kaya rempah dan segar dengan tambahan siraman jeruk nipis…sllrrruuupss

Untuk es ada es pisang hijau, dan es palu butung, cocok untuk siang menjelang sore karena kota makassar panas sangat, dijamin segar setelah menikmati seporsi es tersebut. Tak ketinggalan penganan cemilan di kota Makassar ada pisang epe yang dengan mudah bisa ditemukan sepanjang jalan di muka benteng fort Roterdam atau di jalan dekat pantai losari. Selain itu ada Jalangkote, semacam Pastel kalo di Jakarta dan yang terkenal adalah Jalangkote Larinsang…nyams….

ImageImageImage

oiya, di Makassar juga ada beca, ada 2 macam becak, becak yang di kayuh, becah dengan motor, bentuk becaknya pun beda dengan becak yang biasa ditemuka di Jawa.

ImageImage

sewaktu di Makassar saya tak sempat ke TransStudio yang terkenal itu, selain karena waktu yang mepet, juga karena tak ada teman seru untuk menikmatinya. Dua hari keliling kota Makassar untuk kunjungan pertama cukup untuk memuaskan penasaranku selama ini, selain kota Makassar kami sekeluarga juga diajak bersantai ke Maros, tapi ceritanya nanti ya, karena keseruannya beda niy.

– vii –

Iklan

6 pemikiran pada “Plesiran di Kota Makassar

      1. baguslah, waktu itu sempat ngecek sama ibu² penjaga stand di JHCC doi juga bilang sudah jadi. nanti tak cek ‘n ricek kondisinya saat mudik hihihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s