Pertunjukan Tari Musikal Ariah

Setelah sukses dengan pertunjukan Matah Ati yang spektakuler, kali ini ibu Atilla kembali akan membuat pagelaran tari musikal, kali ini dengan berlatar belakang budaya Betawi – Jakarta. Konon pagelaran ini permintaan khusus dari Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo kepada ibu Atilla, setelah beliau sukses membuat pagelaran Matah Ati versi open stage di Halaman Mangkunegaran, Solo. Mungkin pagelaran saat itu memberi kesan yang luar biasa bagi Jokowi yang saat itu menjabat sebagai walikota Solo.

wpid-PhotoGrid_1374133941411.jpg

Pagelaran kali ini bertajuk ARIAH, bercerita mengenai seorang perempuan Betawi yang tinggal di kampung Paseban. Cerita mengenai kehidupan keluarga betawi miskin dalam tekanan mandor dan cukong tanah. Berdasarkan pengalaman menonton pagelaran Matah Ati di Solo yang begitu luar biasa membuat saya terpesona, maka daya tarik untuk menonton ARIAH tak mungkin untuk dilewatkan.

Panggung Besar dengan bentuk yang tidak biasa didirikan di Monas, sehingga secara langsung panggung mendapat latar belakang Monas yang indah. Kreasi Dimas Jay ini patut mendapatkan acungan jempol, karena dengan bentuk panggung yang berkontur, dan kemiringan panggung mencapai 45′ akan memberikan tantangan tersendiri bagi setiap pemain yang berpartisipasi pada pertunjukan ini. Dengan melibatkan lebih dari 200 penari yang telah berlatih sekurangnya tiga bulan, ARIAH siap digelar dalam rangka ulang tahun Jakarta pada 28 – 30 Juni 2013.

Demi mengulang kekagumanku akan petunjukan buah karya ibu Atilla, maka pertunjukan kali ini tidak akan dilewatkan. Dengan berjanjian bersama beberapa kawan, kami janjian untuk menonton dimalam terakhir, yaitu 30 Juni 2013 dan kami pilih duduk di kursi kelas 2, walau sebenarnya aku tau bahwa ada tiket gratis yang dibagikan untuk duduk lesehan didepan panggung, seperti halnya disolo tempo hari, tapi dimana dan bagaimana mendapatkan tiket tersebut tidak ada kejelasan, sehingga daripada mempertaruhkan keberuntungan jadi aku ambil yang pasti saja, walau harus merogoh kocek cukup demi menonton pertunjukan Ariah.

30 Juni 2013

Matahari baru saja terbenam, dan berdasarkan informasi dari beberapa teman yang sudah menonton di hari sebelumnya, pintu masuk sudah dibuka pada jam 18.00 sehinga lebih leluasa untuk memilih tempat duduk yang nyaman untuk menonton, mengingat kelas kami yang paling rendah, tapi tetap berusaha mendapatkan pemandangan maksimal, tapi kenyataannya pada hari ini sudah lewat dari jam 18.00 dan antrianpun sudah mengular, tapi pintu masih saja ditutup, membuat resah kami yang menunggu.

Akhirnya gerbangpun dibuka, dengan semangat kami masuk, dan mencari lokasi duduk yang sekiranya strategis, kursi depan tengah terlihat sudah mulai terisi, dan daripada duduk ditengah, mengingat kami bersepuluh akan ramai, maka kami memutuskan untuk duduk palingbelakang namun dengan posisi persis di tengah panggung, sehingga kami bisa lebih bebas untuk berfoto dengan berdiri demi haril foto yang maksimal, tapi ya kembali ke jenis kamera apa yang di pake siy…heheehheheeee

Sambil menunggu dimulainya pertunjukan, gambang betawi didendangkan, menghibur penonton yang sudah lebih dahulu menempati kursinya, dan sementara itu kami sudah riuh sendiri. Hingga akhirnya pembawa acara menyapa persis jam 19.30 menandakan pertunjukan akan segera dimulai.

Ledakan kembang api dan semburan api membuka pagelaran, langsung terasa megahnya, ratusan penari turun dan mengisi tiap sudut panggung, lagu berlatar betawi pun mengisi, dan cahaya lampu menari-nari mengikuti gerakan penari. Kami terpukau melihat pembukaan yang luarbiasa mengagetkan dan mengundak decak kagum.

Ariah adalah kisah seorang gadis Betawi yang sedang tumbuh remaja dan cantik. Tinggal di kampung betawi di kawasan Paseban, Ariah biasa meluangkan waktunya bersama teman-temannya bermain dan berlatih silat. Latar belakang keluarga Ariah yang miskin dan rumah mereka hanya menumpang ditanah mandor, membuat ibu Ariah tak kuasa menahan tekanan mandor yang jatuh hati atas kecantikan Ariah dan menyatakan niatnya untuk meminang Ariah. Namun Ariah jatuh hati pada Bang Juki seorang pemuda desa yang mahir bersilat, dan mengajarkan silat kepada pemuda pemudi di sekitaran kampung tempat Ariah tinggal . Dilainpihak, kecantikan Ariah mendapat perhatian dari tuan tanah Oey Tambak sia yang pada suatu kesempatan melihat ariah sedang bermain bersama teman-temannya. Hingga akhirnya tuan mandor membuat suatu acara dan meminta Ariah untuk menari bersama teman-temannya.  Acara yang dihadiri tuan Oey Tambaksia ini mempertemukan kembali dirinya dengan Ariah. Acara tersebut berakhir dengan kerusuhan yang mengakibatkan seluruh tamu kucarkacir, begitupun dengan Ariah, yang berniat untuk pulang dihadang oleh para preman suruan mandor untuk membawa Ariah kembali, namun Ariah melawan, dengan mengandalkan ilmu silat yang dilajari dari bang Juki Ariah berusaha, namun duel tak seimbang itu menyudutkan Ariah, sehingga akhirnya Ariah meninggal ditangan suruhan mandor.

Image

Image

Image

Secara keseluruhan pertunjukan yang menampilkan permainan cahaya luarbiasa, diiringi musik orkestra Erwin Gutawa dan didukung ratusan penari berhasil memukau para penonton. Namun entah kenapa, saya merasa agak tidak puas, entah karena jalan ceritanya yang seperti ‘menggantung’ dengan akhir cerita kematian ariah dan bang Juki yang merana, atau karena saya terlalu berharap tinggi setelah melihat pertunjukan Matah Ati yang sangat spektakuler dipanggung terbuka di Mangkunegaran Solo.

Tapi dibalik ketidakpuasan saya, pertunjukan ini berhasil, memberikan tontonan spektakuler di Jakarta dengan panggung  terbesar di Indonesia, dan konon riset yang dilakukan tim Ibu Atilla untuk membuat skenario Ariah cukup singkat, didukung ahli budaya Betawi bapak Ridwan Saidi, berhasil mengenalkan Ariah yang selama ini tak dikenal oleh masyarakat Jakarta.

Iklan

5 pemikiran pada “Pertunjukan Tari Musikal Ariah

    1. ehehheee….iya, nulisnya dah lama, cuma nyari photonya yang malas, photo yg di dslr belm transfer dari rotua, jadi photo dari pocket camera aja deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s