Mwathirika tak sekedar pertunjukan boneka

Sekelompok lakon berpakaian hitam bertopeng memegang balon dan bendera merah memenuhi panggung, tingkahnya selaras dengan keramaian bersetting tahun 1965 yang muncul pada layar. keramaian panggung lalu berubah, panggung menjadi sepi, hanya ada dua rumah teronggok di sisi kiri dan kanan. Tak lama muncul sesosok tokoh boneka, bocah laki-laki keluar dari rumahnya, dengan tingkah kekanak-kanakannya yang natural, yang ceria bermain dan merajuk saat mainannya rusak. Satu persatu lakon boneka bermunculan seiring jalan cerita yang berhasil mengaduk-aduk perasaan selama lebih kurang 2 jam. Inilah pertunjukan mwathirika persembahan papermoon pupet teater dari Yogyakarta.

Image

Mwathirika berkisah mengenai sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Baba sang ayah, kakak Moyo dan adik Tupu. Walau tak ada ibu, namun mereka terlihat bahagia. Bertetangga dengan Haki dan anak perempuannya yang berkursi roda Lacuna. Kehidupan mereka berjalan normal dan rukun sebagai tetangga, hingga akhirnya terjadi perubahan perpolitikan, dan sebuah tanda segitiga merah yang  mencoreng rumah baba. Tak mengerti dari mana datangnya tanda merah tersebut, namun membuat Haki menjauhi Baba, lalu baba ‘dijemput’ sekelompok hijau dan baba tak pernah kembali. Tupu dan Moyo tak mengerti Baba dibawa kemana, tak ada kepastian mengenai kepulangan Baba, Moyo berusaha mencari baba, dan dalam pencariannya Moyo pun ditangkap pasukan hijau karena Moyo menunjukkan photo baba dan mengenakan peluit merah di lehernya, moyopun tak pernah kembali. Tupu yang tak mengerti kehilangan orang-orang yang dicintainya menjadi kesepian, terus memanggil Moyo dan Baba dengan peluit merahnya yang semakin lama suaranya semakin lirih terdengar, dan dalam kesedihan dan kesendiriannya Lacuna mencoba menghibur namun dilarang oleh Haki. Hingga akhirnya Tupu pun menghilang.

Image

Pada pembukaan pertunjukan tertulis : Mwathirika is dedicated to the victims and the missing family member  of september 1965 tragedy in Indonesia and of any other tragedy in the world caused by political turmoil. Cerita berlatar belakang tragedi penculikan dan kondisi pasca G 30 S PKI. Banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya dan hidup diasingkan karena mendapat ‘label’ PKI. Dan kehidupan di masa itu yang begitu sulit.

Image

Adalah Maria Tri Sulistyani sang sutradara yang berhasil mengumpulkan keping-keping cerita yang selama ini terkubur, takut untuk diceritakan. Papermoon puppet teater , pertunjukan boneka yang tidak hanya menampilkan boneka, namun juga manusia bertopeng yang bermain selaras, tanpa dialog, hanya gerakan boneka yang mampu menciptakan ekspresi-ekspresi yang dapat ditangkap penonton ; senang, gembira, takut, sedih dan kesepiannya.

Beruntung saya bisa menyaksikan pertunjukan Mwathirika dalam Wayang World Puppet Carnival di Gedung Usmar Ismail malam itu. Sesuai dengan pesan dari Ria sang sutradara diawal pertunjukan untuk menikmati dengan seksama, saya pun terbuai dan larut dalam cerita dan berakhir  haru  yang berhasil membuat saya menahan airmata, merasakan kesepian yang dialami oleh Tupu. Rasanya  ingin memeluk sosok mungil tupu untuk meredakan kesedihan dan kesendiriannya yang malam itu tak letih membunyikan peluitnya dengan lirih.

image

image

ps. tiga photo diatas diambil dari :

www.papermoonpuppet.com

www.antarafoto.com

politewardrobe.wordpress.com

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Mwathirika tak sekedar pertunjukan boneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s