Surga Kecil itu bernama Wae Rebo

Image

salah satu deskripsi mengenai surga yang bisa kita baca di dalam kitab suci adalah tempat yang sangat indah dan damai yang dihuni oleh orang-orang berhati bersih,  saya menemukannya di Wae Rebo, kampung kecil ditengah lembah yang cantik.

Kehadiran kami di kampung Wae Rebo disambut oleh empat ketua adat yang sudah menunggu kami di salah satu rumah adat berbentuk kerucut (aku menyebutnya rumah tumpeng). seperti biasanya, setiap tamu yang berkunjung ke Wae Rebo, ketua adat akan menyambut, mendoakan sang tamu agar tidak membawa kejahatan dari luar dan menerima tamu seakan warga wae rebo yang kembali pulang,  artinya, kehadiran kita, para tamu di lingkungan wae rebo sudah seperti di rumah sendiri, hinga nanti keluar dari Wae Rebo untuk kembali ke tempat asal.

Adalah pak Alexander Ngadus, Rafael Niwang, Rofinus Nompor dan *maaf saya lupa satu lagi namanya* yang menyambut kami. Dengan dibantu Timu, kami dikenalkan kepada ketua adat, nama kami, asal kami, dan maksud kedatangan kami disini. komunikasi ini terjadi dalam bahasa manggarai, sehingga kami tak mengerti sampai di jelaskan oleh Timu. Tiap-tiap kepala adat menjelaskan mengenai adat istiadat dan sejarah Wae Rebo, bahkan kami boleh bertanya banyak hal, dan kesempatan ini ku manfaatkan untuk mendengar langsung sejarah nenek moyang masyarakat wae rebo yang berasal dari Minangkabau, sama dengan leluhurku (walau saya berdarah campuran, salah satu darah yang mengalir di darahku adalah darah minangkabau), apakah ada adat istiadat minangkabau yang kukenal dibawa hingga ke Wae Rebo ? Ternyata tak satupun. Sepertinya nenek moyang Wae Rebo yang disebut Empo Maro sudah sangat membumi dengan masyarakat Manggarai – Flores, karena sebelum akhirnya menetap di Wae Rebo, Empo maro sudah berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung lainnya, mulai dari pertama berlabuh di flores barat. Saat penerimaan  tamu ini, kami menyerahkan beberapa buku bacaan anak-anak kepada kepala adat, karena kami mendapat informasi bahwa di wae rebo sedang dibuat perpustakaan, namun masih sangat kekurangan buku.

Usai penerimaan oleh ketua adat, kami diatar ke salah satu Mbaru Niang yang dikhususkan bagi tamu-tamu yang berkunjung ke Wae Rebo. untuk hari ini tamu yang datang hanya kami bertiga. rumah bulat ini mampu menampung tamu hingga 40 orang, dan karena peruntukannya sebagai rumah tamu, maka desain dari rumah ini sudah disesuaikan untuk kenyamanan tamu, seperti dibuatkan dapur terpisah agar tamu lebih nyaman tanpa terganggu asap dan kamar mandi bersih di belakang. untuk tempat tidur, disediakan kasur beralas tikar pandan dengan selimut dan bantal yang bersih, berjejer membulat sesuai bentuk rumah. tinggal pilih mau tidur disisi mana. disisi lain terlihat hasil karya ibu-ibu wae rebo, yaitu kain tenun, ada syal dan sarung. kain tenun berlatar hitam dengan warna-warna menarik ini dijual bagi tamu yang berminat membeli kain, untuk harga bisa ditanyakan kepada mama yang bertugas memasak di dapur. untuk melayani tamu, setiap harinya dibuat kelompok yang terdiri dari tiga hingga lima orang mama, tergantung jumlah tamu yang berkunjung. mama ini akan bertugas terhadap kebersihan rumah, dan memasak makanan bagi tamu. selain itu mereka juga akan berjaga di rumah, bila ada hal-hal dibutuhkan oleh tamu.

IMG_0711 (Small)

IMG_0697 (Small)

IMG_0719 (Small)

IMG_0730 (Small)

Masih dengan euforia menggebu-gebu, begitu memasuki mbaru niang, kita jadi sangat norak sekali. begitu meletakkan tas, eddi langsung menjejakkan kakinya ke tangga bambu untuk mencoba naik ke lantai dua dan tiga. bentuk tangga yang sangat kecil sepertinya hanya diperuntukkan bagi orang yang berbadan ramping, sehingga aku cukup sadar diri untuk melihat mereka mamanjat saja. sementara itu, pak Rofinus yang menemani kami di rumah hanya bisa senyum-senyum saja melihat perangai norak kami di dalam rumah.  Sebagai suguhan pembuka, kami dihidangkan kopi wae rebo, dan sambil santai-santai kami melanjutkan ngobrol dengan pak Rofinus. Di sesi ngobrol ini, aku menemukan hal mengharukan bagiku, ketika om doni mengeluarkan sebuah mainan mobil, yang menjadi semacam icon perjalanannya (mainan mobil ini sudah diincer anak mama juliana dari awal perjalanan melihat mobil om doni bertengger lucu di tasnya). mobil yang bila di mundurkan dengan agak tekan akan meluncur kencang ini menjadi hal baru bagi pak Rofinus, dan dengan mata berbinar dan senyum merekah, beliau sangat antusias mencoba memainkan beberapa kali. Lalu pembicaraan kami berlanjut ke macetnya Jakarta, dan kembali matanya terbelalak ketika aku dan om doni menunjukkan poto jalanan Jakarta yang macet dipenuhi mobil, dan tambah takjub demi melihat padatnya gedung-gedung tinggi sehingga tak ada lahan lapang untuk anak bermain dan tak ada pohon-pohon hijau yang membuat pak Rofinus bertanya, apa tak ada lahan kosong di jakarta itu ?

IMG_0738 (Small)

20131228_131218 (Small)

Ngobrol – ngobrol kami harus terhenti, seiring dengan datangnya hidangan makan siang. makan siang sederhana tapi begitu nikmat kami nikmati bersama. Sisa siang ini kami habiskan dengan berbaur bersama masyarakat Wae Rebo. kebetulan ada pembangunan Niang Gendang, Rumah utama, sehingga para bapak-bapak bergotong royong membangunnya, untukku dengan berlatar belakang pendidikan ‘kuli bangunan’ pekerjaan pembangunan ini adalah berkah, karena bisa melihat secara langsung detail-detail dari bangunan tradisiol, mendokumentasikan setiap detail dari bangunan, sambungan kayu, ikatan rotan, pondasi kayu yang berbungkus ijuk dan bagaimana kerjasama dilakukan oleh bapak-bapak untuk tiap-tiap pekerjaan sulit. disaat istirahat disore hari, kami diundang untuk minum kopi bersama, awalnya agak sungkan karena saya perempuan sendiri, tapi setelah berbaur, malah saya yang paling  cerewet bertanya mengenai detail metode pembangunan rumah tradisional Niang Gedang yang pembangunannya masih menggunakan metode tradisional namun mampu bertahan bertahun-tahun dan memberikan kehangatan bagi penghuni didalamnya.

IMG_0755 (Small)

20131228_170316 (Small) 20131228_164508 (Small) 20131228_165755 (Small) 20131228_170224 (Small)

Selain menikmati pekerjaan pembangunan, aku juga bermain bersama anak-anak Wae Rebo yang kebetulan liburan sekolah ini pulang ke Wae Rebo. Sebenarnya bukan bermain siy, tapi aku bernyanyi bersama mereka, eeehhhmm… lebih tepatnya mengajarkan anak-anak itu bernyanyi lagu anak-anak. Agak miris hatiku ketika anak-anak berkumpul dan aku ajak bernyanyi tapi mereka tak mengenali lagu-lagu yang ku nyanyikan, seperti ‘aku seorang kapiten, naik-naik ke puncak gunung, kupu-kupu, kulihat awan, ambilkan bulan. tiba-tiba jadi aku ingat dengan notes kecil dan pulpen yang ku bawa, ku catatkan beberapa lagu tersebut, tiap lagu ku tulis tiga kali, lalu kubagikan. karena lagu-lagu tersebut berirama mudah, setelah ku contohkan sekali dua kali, mereka dengan gampang mereka sudah mengenali iramanya, sehingga kami bisa berlanjut menyanyi bersama. walau masih ada beberapa salah nada tapi tak apa, yang penting mereka bisa menyanyikannya. Sebenarnya ada beberapa lagu yang mereka kenali, seperti kasih ibu, yang langsung kami nyanyikan bersama ‘kasih ibu…kepada beta…tak terhingga sepanjang masa..hanya memberi..tak harap kembali…bagai sang surya menyinari dunia..‘ dan lagu nasional seperti ‘Indonesia Raya, Garuda Pancasila’ tapi ketika aku menyanyikan lagu nasional lainnya sepeti ‘berkibarlah benderakau, dari sabang sampai merauke’ mereka kembali bungkam, ketika ku tanya lagu lokal, mereka juga tak dapat menyanyikannya. Ada satu lagu yang mereka bisa, lagu rohani yang diajarkan di sekolah minggu, hhhmmm ‘kasih yesus’ kalo ga salah judulnya, kali ini mereka bernyayi untuk saya, sementara saya hanya menatap eksresi wajah mereka yang gembira menyanyikan lagu yang bisa mereka nyanyikan…. aaahh…miris hatiku, melihat anak-anak tak mengenal banyak lagu-lagu yang ceria, bagiku anak-anak harus banyak bernyanyi, khususnya lagu anak-anak. mungkin ibu-ibu sekarang sudah jarang mendendangkan lagu-lagu untuk anaknya, sehingga anak-anak ini tak lagi mengenal lagu-lagu sederhana yang menyenangkan hati tersebut, sungguh untukku hal ini miris sekali….Syedih.

20131228_170929 (Small) 20131228_163057 (Small) 20131228_163911 (Small) IMG_0750 (Small) IMG_0778 (Small) IMG_0787 (Small)

Setelah sesi menyanyi, seorang nenek menghadiahkan anak-anak beberapa potong tebu, yeeiiii….aku suka tebu, dimakan dengan cara menghisap-hisap dan membuang ampasnya. maka jadilah sore itu kami duduk meriung bersama anak-anak menikmati tebu manis yang setiap anak mendapatkan sepotong-sepotong. menjelang senja, wae rebo kembali sepi, semua anak masuk kerumah dan tak ada lagi yang berkeliaran. malam di wae rebo cukup dingin, karena letaknya di lembah yang dikelilingi bukit-bukit. Kami pun menghangatkan badan dirumah, di dapur lebih tepatnya, menyaksikan mama yang memasakkan makan malam kami. sebenarnya asik ngobrol-ngobrol di dapur, tapi apa daya, mata manjaku tak tahan dengan asap yang mengepul dari pembakaran kayu, sehingga ketika mata sudah pedih, akupun mengundurkan diri dari dapur.

Malam hari di Wae Rebo tak berlangsung lama, karena genset yang disediakan dirumah tamu hanya menyala dhingga pukul 22.00; dirumah lainnya masih menggunakan dian atau petromak untuk penerangannya, sehingga sungguh kemewahan bagi para tamu di wae rebo mendapat suguhan istimewa.

IMG_0743a (Small)

Walau hanya sehari di Wae Rebo, tapi kesan yang kami dapat sungguh sangat dalam. pengunjung yang berniat untuk mengunjungi Wae Rebo, sangat disarankan untuk berbaur dan melebur sebanyak mungkin dengan masyarakat, jangan hanya sibuk dengan grup sendiri. kami bertiga saat di wae rebo sibuk dengan kegemaran masing-masing, sehingga kami hanya berkumpul saat malam hari di rumah, itupun tetap kami manfaatkan untuk banyak ngobrol dengan mama yang bertugas masak. Masyarakat Wae Rebo sangat terbuka dan tulus untuk menerima tamu, kami tak dianggap asing. setiap bapak akan bersuka cita menceritakan perihal dunia laki-laki seperti berkebun dan membangun rumah, mama akan mengenalkan perihal kopi, bagaimana menumbuk kopi, memisahkan biji dari kulitnya, menyangrai hingga menumbuknya hingga menjadi kopi nikmat, dan anak-anak tingkah laku bocahnya begitu mempesonaku. Mungkin tak ada bidadari berparas cantik sebagai penghuni surga Wae Rebo, tapi kami menemukan orang-orang bermata seindah mata bidadari, senyum secantik dewi dan berhati bersih laksana peri.

 

Iklan

13 pemikiran pada “Surga Kecil itu bernama Wae Rebo

    1. Sblm banyak d kenal wisatawan lokal masy wae rebo sdh terbiasa d kunjungi wisatawan mancanegara, shg secar mental mereka sudah biasa dg wisatawan

      1. iya mbak….persiapan mental itulah yang paling penting. Dan juga kesadaran wisatawan sendiri untuk menghormati tradisi mereka. Salam kenal ya mbak 🙂

      2. Bener…yg paling penting mental wisatawannya. Jujur siy wisatawan lokal agak kurang dlm menghormati tradisi atau adat setempat.
        Salam kenal juga mbak

  1. sungguh mempersonakan ceritanya tentang Wae rebo. Kami sekeluarga akan mengunjungi pulau Flores bulan juli nanti. Apakah di Flores juga high season? untuk bisa menginap di Wae Rebo apakah harus dipesan jauh sebelumnya?

    1. Wah asiknya k flores, tp sy kurang tau perihal highseason, mungkin tak terlalu ramai krn flores blm tlalu populer bagi wisatawan lokal.
      Ke wae rebo tak perlu pesan, tpnpnginapan d dintor yg hrs pesan krn tbatas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s