Membangun Mbaru Niang – Rumah Tadisional Wae Rebo

Image

Sebagai seorang berlatar belakang kuli bangunan atau bahasa kerennya siy katanya Teknik Sipil, saya sangat suka sekali melihat detail dari suatu bangunan, baik itu bangunan modern yang tinggi menjulang maupun bangunan rumah tradisional. Saat kunjungan saya ke Wae Rebo, masyarakat sedang bahu membahu untuk membagun Mbaru Niang – Mbaru = rumah ; Niang = tinggi dan bulat dan kebetulan yang dibangun adalah Niang Gedang yang merupakan rumah utama dari tujuh rumah yang terdapat di Wae Rebo.

Mbaru Niang  adalah rumah bulat yang menjadi rumah tinggal bagi masyarakat wae rebo. hanya ada tujuh buah mbaru niang, dan ketujuh buah itu berdiri dalam satu lingkaran, jadi seperti planet, yang mengelilingi matahari, tapi ketujuh mbaru niang berada dalam satu orbit. setiap mbaru niang diperuntukkan bagi 6 – 8 keluarga yang membagi ruang pribadinya dalam sekat kamar di lantai satu. Mbaru niang terdiri dari lima lantai. berikut adalah susunannya.

ImageImage

untuk membangun sebuah mbaru niang, masyarakat wae rebo mempersiapkannya hingga satu tahun, karena keseluruhan bahan bangunan diambil secara bijaksana dari hutan yang mengelilingi kampung wae rebo. seperti kayu utama yang menjulang ditengah setinggi 15 meter, diambil dari satu pohon utuh, dan sebelum di pakai, kayu tersebut telah dipersiapkan secara tradisional agar menjadi kayu yang baik dan kuat (bingung menjelaskan proses mempersiapkan dari sebuah pohon utuh menjadi kayu gelondongan yang siap pakai) dan dipilih kayu yang cukup umur. selain kayu, masyarakat juga mengumpulkan bermeter-meter rotan untuk mengikat, ijuk dan alang-alang untuk atap dan bambu. seluruh bahan ini dipersiapkan dan dikumpulkan sedikit-sedikit sesuai yang disediakan alam yang dapat diambil secara bijaksana oleh masyarakat.

Berdasarkan hasil ngobrol-ngobrol saya dengan bapak-bapak wae rebo, dimensi dari Mbaru Niang adalah lebar lantai pertama 11 m dan terus mengerucut hingga kepuncaknya, tinggi dari tanah hingga pucuknya 15 meter, pondasi menancap hingga kedalaman 2 meter.

Bagaimana rumah wae rebo atau mbaru niang dibangun ? pembangunan mbaru niang bisa disebut sebagai ‘knock down’ istilah kerennya, atau bangunan yang dapat di bongkar pasang tanpa merusak bahan utama dan bisa dipergunakan kembali.berikut adalah kesimpulan saya hasil ngobrol dan pandangan sekilas dari pekerjaan yang dilakukan bapak-bapak (tidak bisa di jadikan acuan teknis ya, karena pantauannya hanya sehari saja)

Pondasi.

Pondasi dari mbaru niang terdiri dari beberapa bilang batang kayu yang ditanam ke tanah sedalam 2 meter. terdapat permasalah pondasi pada bangunan lama, yaitu kayu yang membusuk karena lembab atau rapuh, sehingga tak kuat menahan keseluruhan bangunan rumah. seiring dengan kedatangan tamu dan beberapa masukan dari ahli, pondasi mbaru niang sekarang dibungkus dengan plastik dan ijuk untuk melindungi kayu bersentuhan langsung dengan tanah wae rebo yang lembab.

Image

Image

Lantai Pertama

lantai pertama ini berdiameter 11 meter, dan merupakan lantai utama, dimana disinilah kehidupan sosial masyarakat berlangsung. lantai pertama ini dibuat segera setelah pondasi selesai dilaksanakan, berlandaskan balok-balok dan hamparan papan kayu dan dikelilingi glondongan rotan besar sebagai dudukan utama atap. Di atas lantai pertama inilah didirikan tiang utama hingga kepucuk mbaru niang / Ngando yang dilngkapi dengan tangga bambu untuk menaiki setiap tingkatnya.

Image

ImageImage

Tiang Utama / Bongkok

Tiang utama berdiri diatas lantai pertama. untuk menyangga tiang utama ini, ditahan dengan tali rotan yang diikatkan pada tiga hingga 4 pasak.tiang utama ini akan menjadi penyangga dari keseluruhan aktivitas pembangunan rumah, sehingga harus sangat diyakinkan ikatan pada pasaknya benar-benar kuat.

Image

Image

Penyangga Dinding dan dinding (atap)

Penyangga dinding yang sekaligus berfungsi sebagai atap ini adalah kumpulan rotan dalam satu ikatan, ukurannya sangat besar, dan panjangnya disesuaikan dengan keliling lingkaran, jadi yang paling panjang adalah pada lantai satu, sepanjang 34,54 m (keliling lingkarang = 2 phi  r) dan semakin keatas semakin pendek. kumpulan rotan inilah yang membentuk bulatan pada mbaru niang.

ImageImage

selain kumpulan rotan besar itu sebagai penyangga utama, ada juga bambu-bambu / buku bambu yang berfunsi sebagai ‘reng’ atau penyangga yang mengikat sekumpulan-kumpulan ijuk atau alang-alang yang disusun bergantian

Image

Pekerjaan Lanjutan

setelah lantai pertama dan tiang utama berdiri, pembangunan tiap-tiap lantai akan menyesuaikan, dibangun secara simultan dari lantai terbawah, terus hingga keatas. setelah keseluruhan struktur utama selesai, hingga bambu-bambu pengikat atap siap, barulah pemasangan ijuk dan alang-alang dilakukan untuk menutupi keseluruhan rumah.

Image

Image

Demikian gambaran pembangunan Mbaru Niang. Bangunan ini hanya menggunakan rotan untuk mengikat pertemuan-pertemuan balok atau kayu dan pasak atau kunci kayu. Waktu pekerjaan dari pondasi hingga selesai sekitar tiga bulan, yang dilakukan secara gotong royong oleh para laki-laki. setiap malam hari ada pertemuan untuk membahas kelanjutan pekerjaan, dimana orang tua akan memberikan saran atau metode pembangunan kepada yang lebih muda dan apa yang harus dilakukan keesokan harinya. setiap pekerjaan akan dimulai dan diakhiri dengan bunyi gendang, bahkan saat istirahat sore dimana disediakan kopi enak khas wae rebo pun gendang dibunyikan, dan kami, para tamu mendapat kehormatan untuk bergabung bersama menikmati kopi sambil ngobrol santai bersama bapak-bapak

Image

ImageImage

Image

Image

Iklan

4 pemikiran pada “Membangun Mbaru Niang – Rumah Tadisional Wae Rebo

  1. halo kak, mau nanya dong, itu bukunya judulnya apa ya? dan bisa dibeli dimana? saya lagi butuh untuk tugas kuliah tentang rumah Mbaru Niang nih. trimakasih 🙂

    1. Bukunya kita temukan d rumah tamu wae rebo, ada LSM yg mbuat buku itu, sptinya tdk d jual bebas. Itupun saya photo beberapa halaman yg diperlukan untuk tulisan ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s