Ruteng – Aimere – Bajawa (overland flores 2)

Image

D3 –

Pagi kami sudah bersiap untuk kembali trekking pulang dari Wae Rebo, sebenarnya masih belum puas menikmati surga kecil ini, tapi waktu kami terbatas, masih banyak tempat yang harus dikunjungi. Setelah berpamitan dengan mama yang bertugas di rumah tamu, kami pun menapaki kembali jalan berliku kembali menuju desa Denge.

Sesuai janji kami kemarin untuk menjemput,  Driver kami yang baik hati, Jimmy sudah menanti dengan sabar kedatangan kami, dengan senyum jenakanya meyambut kedatangan kami yang berjalan gontai keluar dari hutan yang melindungi Wae Rebo.  Kami kembali ke penginapan om martin untuk menyelesaikan pembayaran dan berpamitan. Sangat terpuaskan dengan service yang diberikan om martin, keramahannya menyambut kami, penginapannya yang nyaman, dan makanan nikmat, juga terimakasih kami kepada timu yang mengantar kami Wae Rebo.

Perjalanan kami berlanjut. Dari unjung selatan pulau Flores, kami mengarah ke utara, kembali ke jalan utama lintas Flores. Menyusuri jalan kecil desa, sesekali kami berjumpa kerbau yang bermalasan, bahkan disalah satu desa kami menemukan banyak monyet macaca yang bermain-main dipepohonan, kita jadi ikutan girang melihat mereka.

Salah satu spot terbaik dari perjalanan menuju Ruteng adalah saat kami memasuki hutan wisata Ruteng, menaiki titik tertinggi dari perjalan ini, udara dingin menyapa dan  kabut menyambut kami,  begitu tersibak, pemandangannya cantik sekali. Kami tak berhenti mampir disini, tapi menikmatinya dari dalam mobil yang berjalan tak terlalu kencang sudah cukup menyenangkan. Keluar dari Hutan Wisata Ruteng, kami sudah tiba di kota Ruteng, kota kecil yang asri.

Ruteng, kota kecil ini mengingatkanku pada rektor tempatku kuliah, pak Thobby Mutis (akhirnya saya menjejakkan kaki di kota kelahiranmu pak). Sebagai Rektor Universitas Trisakti, pak Thobby sangat dekat dengan mahasiswanya, semasa saya kuliah dulu pak Thobby biasa jalan-jalan sore untuk menyapa mahasiswanya, dan tak canggung untuk ikut duduk kongkow sambil bercakap-cakap santai. Disatu kesempatan sore, kami sedang bernyanyi-nyanyi diiringi gitar, dan beliau lewat, lalu dengan santainya beliau bergabung bernyanyi bersama, bahkan meminjam gitar, memainkannya  dan kami bernyanyi bersama. Sewaktu saya wisuda, pak Thobby masih mengenali sosok saya diantara ratusan wisudawan, jadi terharu saat antrian salaman para wisudawan masih panjang mengular, beliau sempat menyapa saya secara personal.

Kota Ruteng, kota kecil ibukota kabupaten manggarai merupakan kota yang dikelilingi bukit, sehingga menjadikan kota ini cukup adem, seperti bukit tinggi di sumatera barat. Kita transit untuk makan siang dan istirahat sejenak disini.  Entah kenapa warung nasi padang begitu populer disini, tapi tetap saja kami menghindari makan warung nasi padang, bukannya ga doyan, tapi please deh…masak dah jauh-jauh sampai flores tetep makan nasi padang sssiiiiyyy…. Pilihan kita jatuh pada warung nasi lokal yang menjual makanan dengan menu seadanya, lumayanlah, walau secara rasa ya pas-pasan aja.

Kita masih punya waktu cukup longgar, sehingga ada sedikit waktu untuk menikmati kota kecil ini. Berdasarkan rekomendasi yang kami dapat, ada kathedral yang wajib di kunjungi di kota ini, yaitu kathedral lama dan katherdral baru, jadilah setelah makan siang kami meluncur menuju kedua kathedral tersebut.

Siang itu kathedral sepi, kami mengunjungi kathedral lama terlebih dahulu, seluruh aktifitas di kathedral ini sudah berpindah ke kathedral baru yang lebih besar dan lebih megah. Di Kathedral ruteng baru kami disambut patung yesus yang cukup besar di halaman mukanya. Halaman luasnya cukup teduh, dan di ujung taman terdapat goa maria. Cukup lama kami disini, om doni dan eddi yang memang beragama katolik terlihat sangat antusian menikmati setiap sudut kathedral ini, sementara aku cukup menikmatinya dari salah satu sudut untuk dapat memuaskan mataku dengan arsitektur kathedral yang masih terasa eropa.

ImageImage

Dari kota Ruteng kami melaju ke timur, lagi-lagi mata kami dimanjakan dengan indahnya pemandangan sepanjang jalan lintas Flores, sawah-sawah tersusun rapi dibalik berlipat-lipat bukit. Tiba-tiba jimmy menghentikan mobil disalah satu sudut jalan, dengan santai dia bilang, kita lihat danau dulu dari sini. Kami semua turun dari mobil, dan jimmy menuju ke balik dinding yang menutupi tikungan tajam tadi, dan nampaknya pemandangan danau renemese, indah sekali. Sayang pojok panorama ini malah tidak dibuat khusus, melainkan tersembunyi dibalik semacam baliho besar yang sepertinya sengaja menutupi keindahan pemandangan danau renemese. Sejenak mengabadikan pemandangan danau, kamipun melanjutkan perjalanan.

Image

Naik turun bukit dan jalan berliku kami lahap dan pemandangan indah yang bergantian antara pegunungan dan pantai mengobati badan lelah kami. Sore itu kami mampir di Aimere, disini terkenal dengan pembuatan minuman arak tradisional, sopi namanya. Kami mampir disini, karena jimmy akan memborong beberapa botol sopi untuk pesta tahun baru di Moni. Karena kami sudah berada ditempat pembuatan arak, rasanya tak ada salahnya untuk icip-icip, sekedar mencoba aja, heheheeheee….. Sopi di Aimere, terbagi dalam tiga kadar alkohol, dan tiap kadar alkohol memiliki harga yang berbeda. Yang paling ringan adalah 20% dengan harga Rp. 50.000 / 1.5 Lt (botol aqua besar), untuk kadar alkohol 40% dihargai Rp. 100.000 / 1.5 Lt dan yang sangat jarang sekali adalah sopi dengan kadar alkohol 60%, yang ini jarang diproduksi. Untuk yang tersedia saat itu, adalah sopi 20% dan 40%, jadi dengan ijin pemilik,kami diperbolehkan untuk mencoba sedikit kedua jenis sopi tersebut. Pertama kami coba yang 20%, hhhhmmm…..enak, manis seperti air tape, jadi penasaran ni mo coba juga yang 40%, gleg….hhhmmm berasa ya lebih panas lewat di tenggorokan…tapi enak….hahahahaaa….jadilah kakak Jimmy beli 4 botol sopi, sepetinya nanti di Moni boleh ikutan nyoba sopi niiy…asiiik..

Aimere adalah desa pesisir, dan tujuankami adalah bajawa, ada diatas bukit sana, kami melintasi aimere sore hari, sebenarnya agak nanggung niy, mo nunggu sunset di pantai nanti kemalamam tiba di bajawa, padahal matahari sore ini bagus dan sepertinya langit mendukung. Tapi kami tetap melanjutkan perjalanan, dengan harapan akan mendapatkan spot cantik untuk menikmati sunset sore ini.

Seperti yang sudah di duga, perjalanan menanjak kami disuguhkan pemandangan matahari menjelang sunset, pertama kami sempatkan berhenti di sebuah tikungan yang ramai mama-mama yang menikmati sore, sehingga, ketika om doni dan eddi sibuk berfoto-foto, saya asik ngobrol dengan mama-mama yang ramah menyapa kehadiran saya disana, sama sekali tak canggung dengan orang asik, kami bisa ngobrol dengan santainya. Kami melanjutkan perjalanan untuk kembali mendaki, dan kali ini, matahari semakin tenggelam, dan lagi-lagi kami menemukan spot cakep untuk santai menikmati sunset yang sempurna, the golden momen. Aku selalu suka sunset, mungkin karena selalu telat dapat sunrise, sehingga sunset menjadi idola. Tapi suasan sunset memang lebih syahdu, lebih mistis dan penuh warna. Driver kami Jimmy yang awalnya bertanya-tanya apa yang kami nikmati dari sunset akhirnya mengerti, betapa sinar matahari terbenam begitu diburu, dan seperti yang selalu aku suka dari matahari terbenam, walau kami tak mendapatkan the golden momen of perfect sunset tapi lembayung senjanya begitu memukau….i wish I can kiss someone in a golden momen…someday.

Image

Kota Bajawa, kami memasuki saat hari sudah gelap, jimmy langsung membawa kami ke Hotel Eidelweis, salah satu hotel yang cukup baik dengan harga yang tak terlalu mahal. Setelah meletakkan tas dan langsung mandi, kami keluar untuk makan malam. Tak disangka kota Bajawa ternyata lebih tourist friendly dibanding Ruteng, disini kami menemukan tempat makan yang jauh lebih baik, bahkan salah satu restoran menyediakan masakan internasional, untuk harga, bila dibandingkan dengan harga jakarta, masih ditoleransi lah.makan malam nikmat kami disuguhi ‘keributan kecil’ tapi hal ini tak mengganggu, bahkan menjadi pembelajaran bagi kami, betapa para driver dan guide di Flores sudah sangat sadar wisata dan berusaha untuk tidak mengecewakan tamu, bagi mereka tamu tidak boleh di abaikan atau tidak boleh di kecewakan, walaupun ada masalah, akan berusaha untuk diselesaikan, bahkan antar driver terbangun suatu persaudaran dan pertemanan untuk saling mendukung satu dan lainnya bila ada yang bermasalah. Salut juga untuk mereka.

Di kota Bajawa yang sejuk ini, kami beristirahat setelah menempuh beberapa puluh kilo meter, dari selatan flores sekarang kami sudah semakin ketengah. Sepetinya istirahat kami akan nikmat malam ini, beralas kasur empuk dan bersih. Besok masih banyak tempat akan kami lalui.

Image

Iklan

2 pemikiran pada “Ruteng – Aimere – Bajawa (overland flores 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s