Gunung Padang yang penuh misteri

Image

Puncak tangga yang membuat saya terengah-engah mendakinya seperti lorong waktu yang membawa saya terlempar ke zaman batu, dimana hamparan batu-batu purba berserakan didepan saya. Bangunan tak berbentuk, hanya menyisakan patahan-patahan balok batu segilima dengan ukuran hampir sama dengan lima teras berundak, para ahli arkeologi menyebutnya punden berundak, dan konon berumur lebih tua dari piramida di Mesir.  Untuk lebih jelas mengenai gunung padang, wikipedia menjelaskan sebagai berikut.

Situs Megalitikum Gunung Padang di desa Karyamukti, kec. Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, demikian nama tempatnya. Tempat yang saya kunjungi, buah penasaran saya bertahun-tahun atas tempat yang konon menyimpan beribu misteri peradaban. Akhirnya terbayar sudah hutang untuk berkunjung ke situs gunung padang, namun banyak pertanyaan yang masih tak terjawab, walau saya sudah berada di situs Gunung Padang.

Perjalanan menuju Gunung Padang saya tempuh dengan menggunakan kereta dari kota Bogor. Jalur kereta Bogor – Sukabumi – Cianjur yang kembali di aktifkan Februari 2014 ini menjadi alternatif untuk mengunjungi situs gunung padang, lebih dekat dan nyaman dibandingkan menggunakan bis dari kota Cianjur. Dari kota Bogor ada 2x perjalanan menuju stasiun Lampegan yaitu jam 07.55 dan 12.55, dengan ongkos untuk kelas Eks Rp. 85.000 dan ekonomi AC Rp. 45.000, silahkan menyesuaikan dengan budget. Kalo wiken sepertinya akan penuh, sebaiknya pesan secara online untuk memastikan memperoleh tiket.

ImageImageImageImage

Setibanya di stasiun Lampegan, ada sebuah terowongan yang tidak boleh dilewati untu dikunjungi. Terowongan kereta peninggalan Belanda ini berumur lebih dari satu abad. Untuk sekedar photo-photo di mulut terowongan siy lumayan keren, tapi kalo agak phobia dengan suasana goa, tidak disarankan untuk masuk, khawatir parno dan ngeri-ngeri gimana gitu, karena konon banyak kejadian horor di terowongan ini.

ImageImageImageImageImageImageImage

Dari stasiun Lampegan menuju situs Gunung Padang bisa dilanjutkan dengan Ojek. Sore itu saya mendapatkan ojek dengan bantuan bapak satpam stasiun yang dengan senang hati membantu saya yang jalan sendirian. Ongkos ojeknya Rp. 30.000, bisa di nego, tapi kemarin saya agak malas untuk tawar menawar. Perjalanan menuju Gunung Padang ternyata indah sekali, melalui perkebunan teh. Sore itu usai hujan ,sehingga kabut mewarnai perjalanan menembus perkebunan teh. Udara dingin dan segar bikin saya senyum-senyum bahagia menikmatinya….like a milkyway to heaven

ImageImageImage

Si Akang ojek mengantar saya langsung di gerbang situs Gunung Padang, hari sudah sore saat itu, dan saya disambut beberapa guide yang sedang santai mengopi di sebuah warung persis di seberang gerbang. Sore itu Saya langsung mencari penginapan, berdasarkan info yang saya peroleh di sekitar situs terdapat guest house bagi tamu-tamu yang berminat untuk bermalam, dan saya memilih sebuah guest house mungil persis di depan gerbang masuk. Guest house yang saya tempati ini, muat untuk dihuni bersama-sama hingga 5 orang, walau hanya ada satu kamar dengan tempat tidur queen size, tapi tersedia beberapa kasur gulung dan matras yang hangat untuk berbagi tidur bersama, tapi saya hanya akan menempatinya sendiri. Untuk harga sewa guest house di bandrol Rp 100.000,- jadi bila dihuni bersama-sama bisa di-share harga sewanya…lumayan hemat kan. Untuk makan malam bisa request dengan pemilik rumah yang juga memiliki warung. Makanan yang mudah-mudah saja, pasti bisa disiapkan. Dan untuk tempat yang dingin-dingin siy yang paling juwara adalah indomie rebus rasa soto + potongan cabe rawit…slllurrrp banget.

Image

Image

Usai meletakkan tas di gueshouse, saya kembali ke pos situs gunung padang, menyapa para guide yang tampak ngobrol santai. Sore itu sayangnya tak ada sunset, buah hujan sore tadi masih menyisakan awan kelabu yang bergelayut manja, padahal akan ciamik untuk potret-potret sunset dari atas sana. Ngobrol sore ini dengan para guide menjadi awal perkenalan saya dengan situs Gunung Padang, dan mendapat saran untuk subuh nanti mencoba peruntungan menikmati indahnya sunrise dari teras tertinggi Gunung Padang, baiklah…. Berjanji untuk tidak tidur larut malam ini, setelah memastikan bahwa langit malam cukup cerah dengan bertabur juataan bintang berkelip dilangit.

Waktu menunjukkan jam 5 subuh, berbalut jaket hanget saya sudah siap untuk mendaki tangga-tangga menuju teras tertinggi di situs gunung padang. Beruntung semalam saya berjumpa dengan 2 orang bapak yang sedang ronda, dan bersedia mengantarakan saya subuh ini. Dibantu penerangan senter milik bapak-bapak saya menaiki satu-persatu tangga yang sudah dibuat dengan nyaman bagi pengunjung hingga tiba di teras pertama, dan kami terus menuju teras tertinggi yaitu teras kelima untuk menanti kehadiran sang fajar.

ImageImageImage

Langit masih gelap, purnama masih bersinar  terang diufuk barat, sementara di langit timur, semburat jingga bersiap menyambut kehadiran mentari. Planet venus tampak benderang di 60 derajat ufuk timur, tak mau kalah eksis dari sang surya yang sedang bersiap memancarkan sinarnya. Bersabar menanti akhirnya sambil keliling-keliling di teras lima, akhirnya perlahan tapi pasti sang surya menampakkan diri di ufuk timur. Langit yang bersih tanpa halangan awan memberikan pesona keindahan matahari terbit yang indah sangat. Selamat pagi semesta….

Image

Pagi menjelang dan langitpun sudah bercahaya, saya melanjutkan photo-photo batu-batu yang bertaburan di tiap teras. Batu unik segilima yang tergeletak tak beraturan, saya berusaha menerka-nerka apakah bentuk ruang-ruang kecil yang terbentuk di tiap teras, gerbang batu kecil dan jalur-jalur yang menghubungkan setiap gerbang menuju tiap-tiap teras. Di sekeliling teras terdapat batu-batu balok berdiri yang tertatam entah berapa dalam. Dan konon hasil excavasi terakhir saat sang presiden datang berkunjung, hingga kedalaman 20 m didalam tanah masih terdapat banyak ruang dan batu-batu serupa, yang masih menjadi misteri.

pagi hari setelah mandi, saya mengulang perjalanan ini mulai dari pos jaga. Di hadapan saya terdapat sumur kanuragaan, yang airnya lebih jernih dari kemaren sore. Air sumur ini tak pernah mengering dan juga dialirkan untuk dipergunakan oleh masyarakat setempat. Keberadaan air sumur di muka tangga naik ini, mungkin diperuntukan untuk pensucian diri, sebelum memasuki kawasan situs, yang mungkin merupakan tempat ibadah . Pagi ini saya mengambil jalur asli, yang berupa tangga dengan step-step batu asli yang jarak tingginya berbeda satu anak tangga dengan lainnya. Dibanding menggunakan tangga baru yang memang jaraknya lebih jauh, tangga batu ini lebih melelahkan, tapi jaraknya lebih pendek dan karena tertutup pepohonan, jadi lebih adem untuk pagi yang mulai terik.

ImageImageImageImageImage

Tiba di teras pertama, saya langsung disuguhkan dinding batu yang tersusun rapi, batu-batu besar tersusun rapi dan batu kecil sebagai pengunci menjadi penahan dinding tanah yang masih bertahan hingga kini. Di teras pertama ini terdapat gundukan tanah semacam kubah, dan selain itu terdapat beberapa ruang yang terbentuk dari dinding-dinding batu.

ImageImageImageImageImageImageImage

Dari teras pertama menuju teras kedua, memiliki perbedaan kontur yang cukup tinggi, dan dari kedua teras ini terdapat 5 balkon dengan 5 gerbang. Saat ini pengunjung umum dilarang melalui kelima gerbang ini, dikhawatirkan longsor karena sisi tebing yang terlalu curam. Untuk menuju teras kedua, pengunjung harus melipir di kedua sisi teras. Dan untuk menyangga dinding teras, terdapat dinding batu yang rapi menahan tanah.

ImageImageImage

Diteras kedua, terdapat semacam singgasana persis dipuncak gerbang, dan bila pemandangan cerah, singgasana yang menghadap utara ini akan berhadapan langsung dengan 5 gunung, diantaranya adalah gunung gede, pangrango dan gunung salak (saya lupa 2 lagi gunung apa). Teras kedua ini terdapat pohon cukup besar yang membuat teduh, dari teras kedua hingga teras kedua tiga, empat dan lima cukup landai. Dan bila berjalan melaui jalur yang nampak menghubungkan tiap-tiap gerbang, kita seakan digiring untuk memasuki ruang-ruang yang berbeda ditiap terasnya.

ImageImageImageImageImage

Di teras keempat, terdapat sebuah batu yang digunakan untuk ‘mengetes’ kelayakan orang untuk memasuki teras kelima. Konon batu tersebut dapat menajadi sangat berat sehingga tak dapat diangkat, tapi juga bisa dengan begitu mudah untuk diangkat. Sekarang Batu ini tidak dapat ditemukan ditempatnya, karena belakangan acap kali dijadikan semacam ‘ritual negatif’ oleh pengunjung, sehingga oleh pengelola batu tersebut diamankan disuatu tempat, untuk kemudian setelah rekonstruksi berhasil dilaksanakan, batu tersebut akan dikembalikan ketempatnya semula.

Teras kelima merupakan teras tertinggi dari situs Gunung padang. Bila diperhatikan dari atas, di teras kelima ini terdapat singgasana dikelilingi lima pendamping. Bentuk dan Posisi Singgasana masih masih dapat dilihat dengan jelas, namun kelima pendampingnya sulit dikenali. Bagi masyarakat animisme, Teras tertinggi merupakan tempat suci, karena dianggap dekat dengan langit.

ImageImageImageImageImageImage

Situs Gunung Padang merupakan tempat yang sangat membuat saya penasaran. Ada banyak cerita yang melatarbelakanginya, baik itu cerita mistis, cerita mitos masyarakat hingga cerita ahli arkeologi yang terus meneliti situs ini. Namun bagi saya, situs ini sunggu luar biasa, untuk bangunan yang umurnya diprediksi lebih tua dari piramida di Mesir. Bagaimana caranya batu-batu tersebut dibentuk balok segilima dengan ukuran yang hampir serupa dengan peralatan yang sangat sederhana, dan penyusunan batu menjadi suatu bangunan yang ukurannya masih misteri hingga kini, dan bila di kaitkan dengan manusia tertua di tanah jawa, di Sangiran – Jawa Tengah, maka pada masa dibangunnya situs gunung padang, masyarakat di tanah sunda sudah memiliki pengetahuan konstruksi yang sangat maju sekali. Darimanakah pengetahuan itu didapat ?Kunjungan saya ke gunung padang menyisakan begitu banyak pertanyaan bagi saya. Wajar saja peneliti tak habis penasaran untuk meneliti dan mengungkap apakah Gunung Padang ini. Saya saja yang orang awam dibuat penasaran.

ImageImageImageImageImage

Saya meninggalkan gunung padang siang hari, demi mengejar kereta kembali ke Bogor di stasiun Lampegan. Dengan diantar ojek, saya menyusuri perkebunan the yang sejuk, menyempatkan untuk sekedar main di antara pohon-pohon the. Kereta sore menuju Bogor mengantarkan saya pulang. Dan berjanji untuk kembali lagi, seakan ada begitu banyak hal yang akan memanggil saya kembali ksini

Image

Berikut budget saya mengunjungi gunung padang

Jakarta – Bogor   ( Bis )  Rp. 10.000
St. Paledang, Bogor – St. Lampegan, Cianjur Rp. 85.000 (eksekutif)Rp. 45.000 (Ek. AC
Ojek St. Lampegan – Pos Gerbang Gn Padang Rp. 30.000 (Sekali Jalan)
Tiket Masuk Situs Gn. Padang Rp. 2.000
Penginapan / Guest house ( 1 rumah) Rp. 100.000 (bila rame2 bisa share)
Guide (bebas, tidak ada rate khsuus) Rp. 50.000( 2 orang mengantarkan sunrise)

Untuk guide yang dapat dihubungi bagi yang berminat ke gunung padang,  silahkan menghubungi Widodo 085797933398   Cecep 081906522594 / 081380190375 dan abah Dadi 081385901950    , bisa membantu untuk akomodasi dan transport menuju gunung padang.

Iklan

26 pemikiran pada “Gunung Padang yang penuh misteri

  1. Waahh bagusnya. Saya juga ada rencana ke Gunung Padang minggu ini.
    Mba aku numpang tanya yah, untuk ‘mendaki’ sampai teras paling atasnya butuh waktu berapa lama mba? Soalnya aku ngejar jadwal kereta hihihihi (tiba pkl. 11.00 pulang lagi pkl. 14.05) 😀

    1. Duh….mepet bgt y, dr stasiun k gn.padang naik ojek skitar 30 mnt, mendakinya ga nyampe 30 mnt siy, tp liat2 batunya yg lama….jd hrs bergegas y.

    1. ga usah jauh2 ke desa terdekat, ada banyak penginapan yang dikelola masyarakat persis di halaman muka situs gunung padang. waktu kesana aku juga nginep kog, jdi penginapannya untuk 1 rumah, buat rame2 pasti hemat tapi kalo sendiri seperti aku kmaren jadi kena bayar 1 rumah juga tetep…
      mnurutku siy enak ke sana naik kereta dari bogor trus di lanjut ojek.

  2. ko nomor telepon yang mbak cantumkan ga bisa dihubungi ya?ada contact person lain mbak?btw,rumah yang mbak sewa terdiri dari berapa kamar?saya rencana kesana berlima…

    1. Wah…saya malah dah lama ga menghubungi. Cm ada itu aja. Tp kl mo sewa rumh siy ada banyak d sana.
      Rumh yg d poto itu cm 1 kamar tp ada ruang muka yg bisa d pake buat gelar kasur, kasurnya ada banyak d sediakan. Kl ber5 cukuplah rumh itu.

      1. bisa menghubungi akang widodo atau abah dadi yang nomornya ada di atas. kmrn saya datang lagi ke gunung padang, masih bisa menghubungi akang widoda dan abah dadi. kondisi terkini gunung padang agak porakporanda karena ada ekskavasi, jadi agak mengganggu.

    1. Walah…kmrn ga poto2 krn sdh punya potonya yg sblm d gali2. Masih layak untuk d kunjungi siy kl mo ksana, cm d teras 2 dan 5 yg ada galiannya dan pastikan untuk naik dr tangga purba y

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s