Terdampar ke peradaban megalit di Kampung Bena

Image

Gunung Aimere menyapa pagi kami, menjulang angkuh dan indah sekali, berselimut awan dipucuknya. Kota Bajawa sangat sejuk pagi ini, mengantar kami menuju kampung adat Bena, yang terletak di kaki gunung Aimere, hanya 15menit saja dari kota Bajawa

Image

Di penghujung jalan, kampung adat Bena seakan memblokade jalan. sebuah kampung yang tersusun rapi dan bersih. sebelum memasuki kampung adat Bena, pengunjung wajib untuk mengisi buku tamu dan membayar donasi. Ada seorang nenek yang bertugas menunggu  pos pendaftaran yang terletak di sebuah rumah seberang jalan kampung Bena. rupanya diterapkan piket bagi setiap warga untuk bertugas menjadi penunggu pos jaga. piket diterapkan bagi 9 suku yang menghuni kampung bena, dan siapapun yang ditunjuk untuk bertugas harus meluangkan waktunya.

ImageImage

 

Kampung Bena adalah salah satu perkampungan megalitikum yang terletak di Kabupaten NgadaNusa Tenggara Timur. Tepatnya di Desa Tiwuriwu,Kecamatan Aimere, sekitar 19 km selatan Bajawa. Kampung yang terletak di puncak bukit dengan view gunung Inerie. Keberadaannya di bawah gunung merupakan ciri khas masyarakat lama pemuja gunung sebagai tempat para dewa. Menurut penduduk kampung ini, mereka meyakini keberadaan Yeta, dewa yang bersinggasana di gunung ini yang melindungi kampung mereka.

Ditengah-tengah kampung atau lapangan terdapat beberapa bangunan yang mereka menyebutnya bhaga dan ngadhu. Bangunan bhaga bentuknya mirip pondok kecil (tanpa penghuni). Sementara ngadhu berupa bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk hingga bentuknya mirip pondok peneduh. Tiang ngadhu biasa dari jenis kayu khusus dan keras karena sekaligus berfungsi sebagai tiang gantungan hewan kurban ketika pesta adat.

kampung ini sama sekali belum tersentuh kemajuan teknologiArsitektur bangunannya masih sangat sederhana yang hanya memiliki satu pintu gerbang untuk masuk dan keluar, Menurut catatan Pemerintah Kabupaten Ngada, Kampung Bena diperkirakan telah ada sejak 1.200 tahun yang lalu. Hingga kini pola kehidupan serta budaya masyarakatnya tidak banyak berubah. Dimana masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.

Bangunan arsitektur Bena tidak hanya merupakan hunian semata, namun memiliki fungsi dan makna mendalam yang mengandung kearifan lokal dan masih relevan diterapkan masyarakat pada masa kini dalam pengelolaan lingkungan binaan yang ramah lingkungan.

Nilai yang dapat diketahui bahwa masyarakat Bena tidak mengeksploitasi lingkungannya ialah lahan pemukiman yang dibiarkan sesuai kontur asli tanah berbukit. Bentuk kampung Bena menyerupai perahu karena menurut kepercayaan megalitik perahu dianggap punya kaitan dengan wahana bagi arwah yang menuju ke tempat tinggalnya. Namun nilai yang tercermin dari perahu ini adalah sifat kerjasamagotong royong dan mengisyaratkan kerja keras yang dicontohkan dari leluhur mereka dalam menaklukkan alam mengarungi lautan sampai tiba di Bena.

Dan pada tahun 1995 Kampung Bena telah dicalokan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO

 Pasted from <http://id.wikipedia.org/wiki/Kampung_Bena

 

ImageImageImage

Kampung Bena ditata dengan sangat rapi. rumah-rumah khas masyarakat Ngada dengan atap rumbia berkuda-kuda tinggin berjejer rapi di sisi timur dan barat, seperti memagari kampung. Ditengah – tengah kampung merupakan tempat berkumpul dan beribadah. Ada 45 rumah dari 9 suku, dan masing-masing suku memiliki sepasang Bagha dan gadu  / Saka Puu dan Saka Lobo yang merupakan tempat pelaksanaan ibadah atau upacara adat bagi masing-masing suku.

Memasuki teras pertama kampung bena, kami dihadapkan dengan altar yang terbentuk dari batu-batu pipih lebar, semacam tempat persembahan yang mengelilingi teras pertama. Di tengah kampung terdapat altar batu utama, sebuah meja besar dari batu pipih di kelilingi batu-batu pipih lancip menjadi semacam pagar dari meja. konon batu-batu ini sudah berumur ratusan tahun, tak bisa membayangkan bagaimana upacara-upacara adat yang telah dilakukan ratusan tahun dilaksanakan disini, dan melihat bentuk batu-batu altar ini, saya seperti terbawa ke masa dimana manusia masih menggunakan batu sebagai alat perkakas utama, dimana kehidupan masih sangat sederhana dan alam masih asli.

Image

ImageImage

 

Image

Rumah Kampung Bena sangat sederhana. Di muka rumah terdapat teras yang nyaman, biasanya para mama akan terlihat santai menenun sehelai sarung atau selendang warna-warni, sayang disaat saya berkunjung, di Kampung Bena tidak ada aktivitas tenun karena masyarakat berlibur akhir tahun dan mempersiapkan pesta, sehingga kami hanya menemukan para mama yang terlihat santai ngobrol-gobrol di teras. Bila melongok ke dalamnya, hanya terdapat ruang tanpa sekat yang luas. Yang saya sangat perhatikan adalah bentuk atap rumah yang unik, dengan kuda-kuda yang tinggi dan atap kanopi melandai. atap utama dari rumah tradisional ini menjulang sangat tinggi dengan atap rumbia, akan membuat sirkulasi udara di dalam ruang lebih dingin karena udara dapat berputar dengan baik dan penyerapan panas oleh rumbia akan mengubah suhu menjadi lebih rendah. Kanopi di depannya terbuat dari bambu yang dibelah dua, untuk saya, penyusunannya sangat cerdas sekali, mengkombinasikan setengah terbuka yang diselingi setengah tertutup yang menutupi pertemuan kedua bilah bambu, sehingga dipastikan tidak ada air yang akan lolos di celah bambu dan bebas bocor, sunggu local wisdom yang sangat luarbiasa, sederhana. kami rumah tidak menapak langsung ke tanah, ada sebuah batu penyangga, sehingga kayu tidak mudah lembab karena kontak langsung dengan tanah yang memiliki kadar kelembaban tinggi. Hampir setiap rumah memiliki serangkaian tanduk kerbau, hal itu memiliki Philosopi yang sama dengan rumah di Tana Toraja, yaitu simbol jumlah kerbau yang sudah dikorbankan oleh setiap rumah untuk upacara yang telah dilakukan. Biasanya keluarga yang ditinggal mati akan melakukan upacara potong kerbau untuk mengantar arwah.

ImageImage

 

Image

Image

Sebagai buah tangan dari Kampung Bena, masyarakat menjual Tenun khas yang merupakan hasil karya para wanita kampung Bena. Kain tenun yang berbentuk syal atau selendang dibuat dengan warna-warna menarik dan motif yang indah, digantung di teras muka oleh mama yang menenunnya dengan tekun. untuk sehelai selendang berukuran kecil di jual dengan harga RP. 75rb dan selendang yang lebih besar seharga Rp. 100rb.

selain kain tenun berbentuk selendang, juga ada sarung tenun dengan dasar hitam dan motif berwarna biru tua. morif-morifnya bergambang bintang-binatang yang berjejer. untuk sarung tenun ini dibandrol dengan harga Rp. 500rb, sesuailah dengan harga ketekunan para mama yang mengerjakannya mulai dari memintal benang, memwarnai hingga menenunnya menjadi sarung yang nyaman dan hangat.

ImageImageImage

ImageImage

Untuk menikmati panorama kaki gunung Aimere, pengunung bisa berjalan hingga ke bukit kecil di belakang Kampung Bena, pemandangan menghampar dari puncak gunung hingga kaki gunung jauh dibawah sana. Untuk menunjang pariwisata kunjungan di Kampung Bena, pemerintah daerah telah membuat toilet yang memenuhi standard wisata yang didesain mirip dengan rumah tradisional, sehingga tidak merusak arsitektur Kampung Bena.

Keramahan penduduk Kampung Bena membuat pengunjung cukup nyaman untuk berbincang-bincang. Mereka pun akan dengan senang hati menjawab rasa ingin tau para pengunjung yang banyak bertanya mengenai adat istiadat kampung bena yang masih terawat hingga kini. Walau kampung bena terlihat sangat tradisional, namun banyak anak muda kampung bena yang merantau untuk sekolah atau bekerja, namun mereka tak lupa untuk pulang dan menjalankan adat istiadatnya.

ImageImage

Iklan

2 pemikiran pada “Terdampar ke peradaban megalit di Kampung Bena

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s