Wayang Tavip ala Teater Koma : Kalijaga, si Brandal Lokajaya

raden said - wayang tavip
raden said – wayang tavip

Sebuah layar terkembang di tengah ruang serbaguna gedung satu Museum Nasional, dan perlahan ruangan menjadi gelap gulita, dan terdengar lirih tembang lagu lir ilir gubahan sunan kalijati mengalun syahdu mengawali pertunjukan wayang tavip dengan lakon ‘Brandal Lokajaya’

Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir

Tak ijo royo royo
Tak sengguh penganten anyar
Bocah angon bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro dodotiro kumintir bedah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surak’0 surak hiyo

Adalah seorang pemuda putra adipati Tuban bernama Raden Said, seorang pemuda yang gemar minum minuman keras, dan berjudi, sungguh perbuatan yang tak mulia. Namun perbuatan tidak mulia tersebut memiliki sifat lain yang tak terduga, Raden Said yang kesehariannya dekat dengan masyarakat melihat langsung kesulitan hidup masyarakat akibat tingginya pajak, sehingga membuatnya nekat untuk mencuri gudang perbekalan dan membagikannya kepada masyarakat. Ketika perbuatannya diketahui oleh ayahandanya, adipati Tuban, Raden Said di usir dan tinggal di hutan Lokajaya, namun tetap mencuri dan membagikan hasil curiannya kepada rakyat, sepertinya Raden Said dari hutan Jatisari memiliki saudara kembar di hutan Sherlock di Inggris sana, Robin Hood.

membagikan hasil curian kepada rakyat
membagikan hasil curian kepada rakyat
Raden Said ketahuan mencuri oleh Adipati Tuban
Raden Said ketahuan mencuri oleh Adipati Tuban

Suatu hari Raden Said berjumpa seorang kakek tua yang bertongkat emas dan ingin merampasnya, katanya hasil rampasannya akan dibagikan kepada rakyat miskin, tapi kakek tua menjelaskan kepada raden said bahwa perbuatannya itu salah, dan berhasil membuat raden said bertobat dan menjadi murid kakek tua yang ternyata Sunan Bonang., singkat cerita, Raden Said dikemudian hari dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Raden Said berjumpa Sunan Bonang
Raden Said berjumpa Sunan Bonang

Dalam dakwah,Sunan Kalijaga Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah dengan mengenalkan islam melalui  seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir, Sunan Kalijaga pula yang menggagas bentuk wayang seperti yang populer sekarang. sebelumnya pertunjukan wayang sempat di tentang oleh para Sunan karena bentuknya yang menyerupai manusia, sehingga dengan inisiatifnya Sunan Kalijaga membentuk wayang dengan postur yang tidak proporsional seperti lengan yang kurus dan panjang, muka yang gepeng, selain itu juga menciptakan tokoh purnakawan dalam mendukung media dakwahnya melalui pertunjukan wayang.

Wali Songo versi Wayang Tavip
Wali Songo versi Wayang Tavip

Itulah sekelumit pagelaran Wayang Tavip yang didalangi oleh Teater Koma,dengan lakon Brandal Lokajaya. Wayang Tavip merupakan inovasi pembuatan wayang dengan memanfaatkan plastik botol dan sampul bekas yang didaur ulang dan dibentuk menjadi tokoh wayang yang diingikan. Kelebihan dari Wayang Tavip adalah dapat diwarnai sehingga pertunjukan wayang lebih menarik dan hidup. Wayang Tavip ditemukan oleh dosen sekaligus Kepala Prodi Rias dan Busana Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung Mohammad Tavip pada tahun 1993.

Dalang dibalik layar dari Teater Koma
Dalang dibalik layar dari Teater Koma

Teater Koma bekerjasama dengan weekend@museum merupakan kegiatan rutin yang diadakan di Museum Nasional. Setiap bulannya selalu ada cerita baru yang diangkat dari salah satu koleksi museum untuk diceritakan secara unik dan menarik bagi pengunjung sehiingga dapat menambah pengetahuan masyarakat karena setelah sesi pertunjukan, pengunjung akan diajak berkeliling museum untuk melihat koleksi museum yang memiliki tema sesuai dengan cerita yang disuguhkan.Tak ada lagi alasan malas ke museum, karena selalu ada pertunjukan asik dari Teater Koma.

20140713_095300

Bagi saya, walau sudah berkali-kali ke Museum Nasional, tak pernah selesai menikmati koleksi yang dimiliki, karena selalu ada cerita yang berbeda disetiap koleksi dan terlalu banyak koleksi benda sejarah yang dimiliki Museum Nasional

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s