Trekking Centil di Hutan Manusela – Seram Utara

Hutan Manusela
Hutan Manusela

Jadwal kami hari ini adalah trekking di hutan Manusela, sesuai dengan paket perjalanan yang ditawarkan pak Ali dari Wisma Lisar Bahari. Setelah kamarin kami seru-seruan menyusuri sungai. ke pulau sapalewa dan pulau raja, snorkeling dan berenang-renang sampai puas, hari ini akan mencoba petualangan lainnya yang pastinya tak akan kalah serunya.

Usai sarapan kami sudah di jemput seorang bapak (duh lupa namanya euy) yang akan mengantar kami trekking ke hutan. Dengan membawa bekal minum dan cemilan secukupnya,kami siap untuk trekking memasuki hutan Manusela.

Taman Nasional Manusela, merupakan hutan lindung terbesar di pulau Seram, dan desa sawai merupakan salah satu desa yang berada persis di sisi hutan manusela. Hutan Manusela juga dikenal sebagai rumah bagi burung-burung cantik paruh bengkok yang memiliki suara indah dan bulu yang mempesona. sebelum masyarakat mendapatkan pendidikan wisata, sebagian besar masyarakat memburu burung untuk kemudian dijual, sehingga akhirnya pengetahuan dan kunjungan wisatawan mulai meramaikan desa sawai dan sekitarnya dan pengetahuan mengenai penyelamatan burung paruh bengkok juga semakin diketahui oleh masyarakat, keberadaan burung dapat diselamatkan, dan sebagai tambahan penghasilan, masyarakat diajak untuk menjadi pemandu wisata untuk trekking di hutan manusela atau mengunjungi sanctuari burung paruh bengkok yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat sekitar.

Masuk hutan lewat kuburan
Masuk hutan lewat kuburanSi bapak pemandu

Hutan Manusela yang berada disisi desa seakan memagari desa sawai di sisi selatan, dimana sisi utaranya adalah garis pantai. Kami harus melewati pemakaman umum sebagai gerbang memasuki hutan, settingannya seperti di film2 horor gitu….begitu melewati kuburan, kami mengikuti jalan setapak dan hutanpun semakin gelap, matahari bahkan tak tembus sampai ke tanah, saking rapat dan tingginya pohon-pohon di hutan Manusela. Trek yang kami lalui beragam, kadang mendaki, datar dan menurun, lumayan untuk memeras keringat bagi perempuan-perempuan yang jarang olahraga secara rutin *kecuali iting yang atlit maraton* tapi keceriaan kami menjadi obat ampuh untuk melupakan letih dan keringat yang mengucur, ditambah lagi setiap sesi poto dimulai, muka-muka letih langsung berubah menjadi ceria…yeeeeiiii

begitu kamera ditangan, semua langsung atur barisan
begitu kamera ditangan, semua langsung atur barisan

sepanjang perjalanan bapak pemandu juga mengenalkan tanaman-tanaman unik di sekitar kami, salah satunya yang paling seru adalah daun gatal. daunnya seperti daun sirih ada bulu-bulu halusnya. daun gatal ini request nya ibu-ibu di desa yang pegal linu pasca pesta perayaan renovasi rumah adat desa. konon katanya daun gatal ini manjur untuk ‘refresh’ badan yang pegal linu dengan cara dibalurkan daun gatal keseluruh tubuh. efek daun gatal adalah kulit akan bentol-bentol kecil di bagian yang dipapar daun gatal dan gatal-gatal pastinya, tapi jangan di garuk (dinikmati aja katanya, tapi jadi semacam perih-perih nikmat gitu) dan biasanya orang yang di balur daun gatal akan ‘menidurkan’ dirinya, supaya ga garuk-garuk mungkin, nah, setelah itu badan akan terasa segar kembali. Jadi untuk yang mau coba silahkan lho…tapi kita menolak pasti tawaran di balur daun gatal….secara ga pake daun gatal aja kita dah kegatelan kog, ga bisa diam kalo ada tempat bagus di nusantara, pasti pengen di samperin….hehehehee

daun gatal di kumpulkan
daun gatal di kumpulkan

Selain daun gatal, kami juga menemukan buah coklat atau dikenal juga dengan cocoa. Buah coklat yang sudah matang berwarna kuning hingga merah. Dulu pernah dikenalkan mama untuk menikmati selaput dibiji coklat, rasanya seperti sirsak, segar. ternyata teman-teman banyak yang baru kali ini mencoba kenikmati selaput dibiji coklat, dan beneran nagih jadinya, setiap melihat pohon coklat, mata jadi awas untuk mencari buah coklat yang matang untuk kita cemilih rame-rame.

IMG_4017

buah coklat
buah coklat

Tujuan pertama kita di hutan Manusela ini adalah sebuah goa, tak terlalu besar siy goa nya. Disini kita melihat ratusan kelelawar penghuni goa yang lagi bobok siang nikmat di langit-langit goa dan sepertinya tak terganggu dengan kehadiran kita yang norak di dalam goa. Karena kapasitas kamera yang pas-pasan, tak ada satupun yang berhasil memotret si penghuni goa manusela, jadi cuma kita-kita aja yang mejeng centil di muka goa sambil rehat sejenak sebelum melanjut trekking lagi menjelajah hutan manusela.

Goa di Hutan Manusela
Goa di Hutan Manusela

Melanjutkan trekking, setelah sekitar tiga jam trekking di dalam hutan Manusela, akhirnya kita keluar dari hutan, yeeeiii…jalan desa, tapi jangan senang dulu, kita belum sampai di tujuan. hari sudah jam 11.30 dan matahari bersinar tak tanggung-tanggung cerahnya, rasanya pengen kembali masuk ke dalam hutan yang terlindung dari sengatan matahari. kita masih harus jalan sekitar 30 menit menuju sanctuary burung paruh bengkok. Jalan dibawah teriknya sinar matahari cukup menyiksa dibanding trek naik turun di dalam hutan manusela, sepertinya energi habis dihisap matahari. kebalikannya Ultraman yang kalo kehabisan energy akan diisi ulang sinar matahari, kita malah semakin lemas disinari matahari.

masih harus jalan lagi dibawah teriknya matahari
masih harus jalan lagi dibawah teriknya matahari
IMG_0033
biar panas dan lemas tetep ceria

Berjalan gontai di bawah terik matahari kami akhirnya tiba di ‘Seram Animal Rescue Center’ sebuah pusat perlindungan bagi burung-burung paruh bengkok (sejenis kakak tua dan nuri) yang akan dikembalikan ke habitatat aslinya. Tempat ini diinisiasi oleh Barbara dan Bruce Bailey, sebagai tempat penampungan burung-burung jenis paruh bengkok yang berhasil disita oleh BKSDA untuk dikembalikan ke habitat aslinya. Pak Bruce juga memberdayakan masyarakat setempat untuk mensupport tempat ini, sebagai pemelihara tempat dan pemandu bagi pengunjung.

Gerbang Sanctuary Burung
Gerbang Sanctuary Burung

IMG_0040

 

Usai jalan berjam-jam ternyata cukup menguras energi dan perasaan….yaelaaah…sehingga begitu menemukan pendopo nyaman dibawah pohon rindang dan makan siang kami pun sudah tersedia, tanpa menunggu komando, kami berdelapan langsung ambil posisi dan menikmati makan siang kami yang sudah disiapkan oleh pak Ali dari Wisma Lisar Bahari. Selesai makan, seperti biasa masih dilanjut dengan ngobrol-ngobrol ga jelas, dan karena angin sepoi-sepoi begitu menggoda, wulan mengambil posisi rebahan daaaaaan…..’itu ular ya?’……WWWWAAAAAA….. ga pake nunggu lama, sekumpulan perempuan langsung jerit-jerit dan badan lemas leyeh-leyeh langsung bangkit, mengumpulkan barang dan kabur meninggalkan pendopo nyaman itu. Baru setelah menetralisir diri satu persatu dari kita kembali ke pondok untuk ngintip dan usaha poto si ular yang bertengger nikmat di atap rumbia, ternyata selama kami makan, si ular sudah memperhatikan kami dari atas, tapi karena tak ada yang memperhatikan, si ular juga santai aja.

IMG_0039
penampakan si ular diatas atap, kecil tapi cukup bikin parno

Karena badan sudah segar akibat kedatangan ular, akhirnya kami melanjutkan untuk berkeliling melihat kandang-kandang burung yang sedang di karantina. sebelum memasuki kandang, kami mendapat pesan :

1. Memakai masker, agar tak terjadi pertukaran penyakit dari aves ke manusia dan sebaliknya

2. dilarang bercakap-cakap atau berinteraksi dengan burung, karena burung-burung ini adalah peliharaan yang telah pintar mengikuti perilaku manusia, dan juga sudah pantai bercakap-cakap

3. dilarang membuka kandang atau masuk ke dalam kandang

4. dilarang memberi makanan ke burung-burung

baiklah, kami siap masuk.

DSC00548
memasuki area karantina
DSC00583
burung kakak tua berbulu peach yang cantik, suka cari perhatian pengunjung dan bergumam-gumam
DSC00609
sekumpulan kakak tua yang siap untuk dikembalikan ke habitatnya
DSC00614
burung bayam jantan, cantik banget ini, siap untuk kembali ke habitat
DSC00627
burung ini over acting sekali, setiap pengunjung pasti di hampirinya, dan selalu mengikuti arah kamera

cukup banyak burung yang dikarantina disini, dan semua mendapat perawatan dan perhatian cukup, sehingga dapat dipastikan saat lepas ke hutan, burung-burung ini tidak membawa penyakit. ada banyak tingkah burung-burung ini, sehingga pantas saja kami sudah diperingatkan sebelumnya. di kandang kakak tua, aku mendengar salah satu burung yang suka mengguman, agak halus sehingga tak jelas terdengar si kakak tua bicara apa. Ada juga seekor burung cantik yang terus mengganggu kemanapun arah kamera ditujukan, sepertinya dia minta diajak main. Dan yang paling parah adalah saat aku mendengar ucapanku di ulang persis sama oleh seekor burung, saat itu tak sengaja bercakap-cakap dengan pemandu melewati sebuah kandang, samar-samar aku mendengar ada yang berbicara di belakangku. saat kusadari yang bicara seekor burung, spontan aku bilang ‘burungnya bisa ngomong’ yang diulang oleh si burung ‘burungnya bisa ngomong’ dan aku lalu melongo, tak sengaja terucap ‘omaigod, pinter banget burungnya’ dan diulang oleh si burung ‘omaigod pinter banget burungnya’ dan aku semakin melongo lalu segera kabur terbirit-birit meninggalkan kandang-kandang burung dan kembali ke pendopo. sumpah, buatku pengalaman horor banget ini burung bisa bicara persis apa yang ku ucapkan. wajar saja perlu waktu yang lama sekali bagi burung-burung dikarantina sebelum di lepas bebas ke hutan, karena kebiasaan burung hidup dengan manusia, yang cenderung membuat si burung untuk mendekati manusia.

Tak terasa siang telah bergerser, dan beberapa teman ternyata sudah kembali ke penginapan dengan diantar motor, sehingga kami harus bergantian, karena hanya ada dua motor yang bolak balik mengantar kami ke penginapan. Aku dan endah menjadi grup terakhir yang diantar ke penginapan, dan ternyata jarak tempuh kita hari ini lumayan jauh dari penginapan. mulai dari trekking di dalam hutan dan berakhir di tempat sanctuary burung paruh bengkok. perjalanan yang lumayan membuat lulut bergetar lelah tapi menyenangkan.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s