Belitong – Family on Vacation part 1

mtf_YnqQy_414

Belitong, Pulau cantik yang dikenal dengan Negeri LASKAR PELANGI, berkat novel kondang karya Andrea Hirata yang menceritakan masa kecilnya di kampong Gantong, Manggar – Belitong, dan berkat film Laskar Pelangi yang berhasil menampilkan sisi-sisi indah Pulau Belitong, berhasil mengundang wisatawan ramai berkunjung. Tak ketinggalan kami pun berwisata ke Belitong.

Terletak di utara Jakarta, hanya 50 menit terbang dari Bandara Soekarno – Hatta hingga mendarat di Bandara H.AS. Hanandjuddin atau yang lebih dikenal dengan Bandara Tanjung Pandan, tibalah kami di pulau Belitong. Driver yang menjadi contact person kami untuk menikmati Belitong sudah menunggu di pintu keluar bandara, anak muda yang besemangat ternyata, namanya Meggi  (0819-10006991). Liburan kali ini adalah liburan bersama keluarga, dengan mengajak serta orang tua serta salah satu keponakan berumur 10 tahun, sehingga harus dibuat lebih nyaman dan tidak melelahkan bagi orang tua.

Pulau Belitong di peta Indonesia
Pulau Belitong di peta Indonesia

Mendarat disiang hari membuat panggilan perut untuk diisi dijawab dengan ajakan makan siang tak jauh dari bandara. Tempat makan ini seperti persinggahan semua penumpang pesawat yang sama dengan kami, tapi ditambah dengan keluarga yang menjemput atau guide seperti kami. Menu makan siang kami ditemani jeruk hangat yang awalnya aneh bagi kami, karena tak terlihat seperti air jeruk, karena airnya masih berwarna bening, tapi biji-biji jeruk tampak mengambang didalam gelas. Ternyata jeruk yang digunakan berbeda dengan yang biasa kami minum di Jakarta, Jeruk Kunci namanya, bentuknya kecil seperti jeruk nipis, tapi rasanya berbeda dengan jeruk nipis yang kecut, jeruk kunci lebih segar dan nikmat untuk menemani makan. Kalo menurutku, jeruk kunci ini mirip dengan jeruk ciu di Ambon yang biasa digunakan untuk membuat sambal colo-colo yang segar.

Usai makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Belitung Timur. Jalan lintas kabupaten yang sangat bagus dan terawat mengantar perjalanan kami. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada poster besar bergambar Tarsius, mamalia terkecil endemic di Sulawesi Utara, kenapa ada di Belitung gambarnya ?? Penjelasan dari guide kami menjawab penasaranku, ternyata Tarsius ditemukan juga di pulau Belitung, sebelum mengetahui sebagai tarsius, masyarakat setempat menyebutnya ‘Monyet Hantu’ karena keluar malam hari dan matanya yang besar. Kehadirannya tak terlalu diperhatikan oleh masyarakat, karena bentuknya yang kecil dan termasuk binatang nocturnal sehingga sangat jarang sekali bersinggungan dengan masyarakat.

Kami memasuki desa Gantung / Gantong , tampak sepi, tak banyak masyarakat yang melakukan aktifitas. Mobil kami mengikuti petunjuk arah bertuliskan “Sekolah Laskar Pelangi’. Sebuah lahan parkir luas yang dilengkapi dengan faslitias pendukung wisata tercipta di ujung desa Gantung. Tampak bangunan kayu  reyot dengan penyangga dua batang kayu diatas seonggok bukit pasir putih halus. Gerbang kayu sederhana dan bendera Merah Putih tampak berkibar gagah dibawah langit mendung dengan hujan rintik halus. Kami sudah tiba di destinasi pertama kami, yaitu Replika SD Muhammadiyah Gantong, Bangunan kayu yang digunakan untuk shooting film Laskar Pelangi.

sekolah laskar pelangi
sekolah laskar pelangi

IMG_0028 20141227_151943

Begitu pintu mobil terbuka, dengan penuh semangat keponakan kecilku berlari diatas pasir lembut putih yang terhampar dihalaman SD Muhammadiyah Gantong, bukan bangunan sekolah yang ditujunya, tapi berlari-lari dan bermain pasir dengan bebasnya, sebagai bayaran perjalanan selama satu jam yang cukup membosankan bagi anak laki-laki 10 tahun. Aku bersama mama, berjalan santai, menikmati lembutnya pasir putih yang kami injak menuju bangunan kayu yang tersangga dua batang kayu. Mengintip ruang kelasnya yang kumuh, debu tebal menghinggapi permukaan meja dan kursi. Memperhatikan setiap detail struktur bangunan reyot yang terbangun dengan baik sebagai replika sekolah yang digunakan dalam Film kondang Laskar Pelangi. Langit-langit yang siap runtuh, dinding-dinding kayu bolong yang sesekali angin semilir menyusup mesuk kedalam ruang kelas. Papan tulis yang tak lagi mulus kayunya. Meja dan kursi tersusun tak beraturan, debu tebal mengurungkan niat kami untuk sekedar mencicip duduk di salah satu kursi seakan-akan berusaha menjelma menjadi siswa disekolah reyot ini.

IMG_0016 IMG_0033

Sebelum kami beranjak meninggalkan replica SD Muhammadiyah Gantong, kami sempatkan untuk membuat satu sesi photo keluarga, sebagai bukti kehadiran kami disini. Dari gerbang muka yang hanya berbentuk palang pintu kayu kami berjejer dengan senyum sumringah terpasang dimuka.

Selanjutnya kami mengunjungi Museum Kata, sebuah museum yang dibuat oleh Andrea Hirata, Penulis Buku Tetralogi Laskar Pelangi. Sebuah gerbang unik menyambut kedatangan kami. Teras rumah sederhana khas rumah kampong Gantong dibuat menjadi begitu artistic dan menarik. Di halaman depan terdapat karya seni kontemporer berbentuk seperti raksasa dan liliput.

DSC01353 DSC01354 IMG_0038

Ruang tamu dipenuhi poster-poster besar cuplikan adegan film Laskar Pelangi, memasuki ruang lebih dalam lagi, kami seperti menemukan rumah penuh kenangan Andrea Hirata. Ada mesin jahit kuno milik ibunda, sepeda tua, meja kecil, dan beberapa benda-benda peninggalan keluarga lainnya. Tampak juga beberapa cover buku Laskar Pelangi dalam beberapa Bahasa berbeda, sambutan dari beberapa penulis caliber dunia, dan artikel-artikel media yang mengangkat cerita mengenai Andrea Hirata dan Laskar Pelangi yang berhasil membuka mata wisatawan untuk berkunjung ke pulau Belitong yang indah.

Kami menemukan kantor pos mini di ruang belakang. Tersedia Kartu pos dan Perangko edisi khusus Museum Kata yang dapat dibeli seharga Rp. 10.000, dan uniknya kartupos tersebut bisa langsung dikirimkan ke alamat yang diinginkan, waaaahh….cocok ni dengan kebiasaanku untuk mengirim kartupos  ke rumah dari kota-kota yang pernah kukunjungi. Ada kotak pos kecil untuk mengirimkan kartupos yang sudah diisi, dan tunggulah beberapa saat hingga akhirnya kita akan menerima kartupos tersebut dalam bentuk di stempel pos asli di kampong Gantong, Belitong.

IMG_0062

kantor pos
kantor pos

Selain itu juga tersedia dapur tradisional, yang menggunakan kayu bakar untuk memasaknya. Bagi pengunjung yang berminat mencicipi kopi khas Manggar, bisa langsung memesan kopi disini, tak pakai mahal, hanya Rp. 10.000 dan nikmati kopi nikmat di halaman belakang yang begitu indah dengan tanaman-tanaman rindang dan warnawarni gedung apresiasi yang dibangun di halaman samping.

Halaman belakang Museum Kata dibuat sangat menarik oleh Andrea Hirata, terdapat bangunan replikas sekolah SD Muhammadiyah Gantong, namun dalam kondisi yang jauh lebih bersih dan baik. Jalan setapak yang menghubungkan menuju replikas sekolah dibuat warnawarni, semacam taman bermain. Ruang Apresiasi adalah tempat favorit saya, ruang yang didominasi warnawarni cerah ceria, terdapat panggung kecil, dan aula terbuka yang nyaman. Disini terdapat beberapa print out bab pertama novel Laskar Pelangi dalam beberapa terjemahan Bahasa.

halaman belakang museum kata
halaman belakang museum kata

IMG_0075 20141227_161657 IMG_0071

Sore hari kami habiskan di kota Manggar,  mengikuti tradisi masyarakat Manggar, kami menduduki salah satu dari 1001 warung kopi yang ada di kota Manggar. Menyesap nikmat kopi hitam dengan penganan kecil pisang dan singkong goring sebagai pelengkap nikmatnya sore. Kota Manggar di kenal sebagai kota 1001 warung kopi. Disepanjang jalan utama kota Manggar yang merupakan ibukota kabupaten Belitung Timur dengan mudah ditemukan warung kopi, berdampingan satu dengan lainnya. Dari sekian banyak warung kopi yang ada, setiap warung kopi ada pelanggan setianya,dan bisa dipastikan bahwa tiap warung kopi yang ada pasti akan langgeng kehidupannya, didukung dengan pelanggan setia dari masyarakat manggar yang gemar sekali menghabiskan waktunya di warung kopi.

Kami menginap di sebuah resort cantik di bukit semak, dengan pemandangan langsung menghadap laut lepas.  Malam ini kami disuguhi makanan khas belitong, yaitu Gangan, yaitu ikan kuah kuning yang segar, mengingatkan saya akan masakan khas ambon, ikan kuah kuning dengan yang dimakan dengan pepeda. Dengan porsi yang cukup besar, kami berempat harus menghabiskan seporsi ikan gangan dan ikan bakar yang disajikan, membuat kami kekenyangan dengan nikmatnya. Penutup hari ini dengan suguhan live music dan walau suaraku hanya kelas penyanyi  kamar mandi, tapi tak menutup keseruan untuk ikut menyumbah beberapa lagu memeriahkan suasana di malam yang cukup cerah.

Iklan

4 pemikiran pada “Belitong – Family on Vacation part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s