Berlayar di Taman Nasional Tanjung Puting

DSC02091
Memasuki Taman Nasional Tanjung Puting

Berlayar dalam sebuah kapal kayu yang nyaman di sungai yang tenang sambil menikmati hutan khas Indonesia di pedalaman Kalimantan tengah, melihat langsung kehidupan orang utan, bekantan, macaca, owa di habitat aslinya, menyaksikan kemegahan bintang bertaburan dan ‘milky way’bersemburat di langit, makan malam dengan kemerlip kunang-kunang yang memenuhi sebuah pohon seperti pohon natal yang benderang, tidur dalam buaian irama alam yang meninabobokkan hingga lelap ….lalu nikmat liburan apa yang kau dustakan….yes…its my lived on board vacation in Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan. Liburan yang santai

20150515_171309

Kapal-kapal kayu bertingkat tampak berjejer rapi di dermaga Taman Nasional Tanjung Puting, kami menempati salah satu kapal terbesar yang dapat memuat maksimal 8 penumpang. Kapal kayu yang cukup lapang bagi kami. Naik ke buritan atas, tampak sebuah meja makan besar denga 8 tempat duduk, sebuah Kasur untuk leyeh-leyeh di tengah, kursi malas plastik rapi berjejer di tengah, di belakang yang posisinya lebih tinggi terdapat kursi kayu menempel pada dinding belakang kapal dan di bagian depanpun masih terdapat dua kursi kayu untuk bersantai menikmati pemandangan. Kapal kami bernama ‘SISWI’, berwarna hijau dengan kombinasi kuning. Bagian bawah kapal khusus untuk kru dan peralatan. Bagian paling belakang terdapat 1 kamar mandi dan 1 WC, dengan air yang di pompa langsung dari sungai, ada dapur lengkap dengan peralatannya dan ibu-ibu yang bertugas memasak selama 3 hari 2 malam perjalanan yang akan kami tempuh, ruang kemudi kapten kapal yang terletak di depan, dan ruang barang sekaligus tempat istirahat bagi kru kapal. Kapal yang lengkap bukan ?? Di kapal ini kami akan menikmati liburan 3 hari 2 malam menjelajahi sungai ‘Kemunyeng’ di dalam Taman Nasional Tanjung Putting.

Kami mengambil paket lengkap Live on Board dengan fasilitas : Antar dan Jemput di Bandara Pangkalan Bun, Kapal untuk kami gunakan selama 3 hari 2 malam, lengkap dengan fasilitas makan 6x dan 2x snack, tempat tidur beralas Kasur dan berkelambu, perijinan memasuki TN Tanjung Putting dan Guide. Seorang kenalan di media social yang kebetulan membantu organize liburan ini menjadi begitu mudah dan nyaman, Nasrudin namanya atau bisa di panggil akrab anas, bisa dihubungi di no. 087815341445. Menuju pangkalan bun bisa menggunakan pesawat Tigana air dan kalstar yang akan mengantarkan langsung dari Jakarta ke Pangkalan Bun dengan waktu tempuh 1 jam saja, melintasi laut jawa.

20150514_142200

Perjalanan kami dimulai dari Pelabuhan Kumai di Balai Taman Nasional Tanjung Putting, segera setelah seluruh penumpang boarding, kapal kami melaju santai di sungai Arut yang cukup lebar. Tampak beberapa kapal berukuran besar tambat di pelabuhan untuk bongkar muat. Aku langsung mengambil posisi santai untuk menikmati perjalanan awal ini, pengalaman pertama untuk menyusuri sungai di Kalimantan. Angin sepoi-sepoi membawa angin kantuk, pemandangan hijau sepanjang sungai tak lagi menarik, dan Kasur yang terhampar di tengah terlihat begitu menggoda. Kantuk tak terelakkan, dan rebahan dengan nyaman adalah jawabannya….zz zzz zzzz…..

Makan siang sudah siap…suasana tenang tiba-tiba terusik dengan keriuhan, makan siang dihidang rapi di atas meja makan, dan menu yang lezat begitu menggugah selera. Kantuknya seketika sirna menjadi semangat. Tanpa perlu komando, kami menempatkan diri dengan tertib di kursi-kursi yang telah tersedia mengelilingi meja, dan dengan lahap satu-demi satu lauk yang disajikan musnah dari piringnya. Sungguh nikmat rasanya, pintar sekali si ibu memasak, atau suasananya yang membuat segala rasa menjadi nikmat.

Usai makan siang, kapal kami berlabuh di sebuah dermaga kecil, camp Tanjung Harapan. Camp ini adalah camp pertama dari tiga camp yang akan kami kunjungi. Camp merupakan feeding station atau tempat pemberian makan sekaligus  menyaksikan kehidupan orang utan di lingkungan hidup aslinya. Dari dermaga kami harus trekking sekitar 15 menit menuju feeding station, memasuki hutan lebih dalam. Feeding stasion berupa kursi-kursi kayu berjejer rapi, seperti amphitheater di tengah hutan dengan panggung pertunjungan di tengahnya. Sebuah tali kuning terbentang, sebagai pemisah pengunjung agar tidak mendekat ke area pemberian makan orang utan. Pengunjung yang berkumpul semakin ramai, waktu makan bagi orang utan adalah jam 15.00, ditandai dengan kehadiran 2 ranger yang membawa 2 gembolan besar berisi makanan-makanan lezat yang siap disajikan bagi para orang utan.

DSC01939
penonton tertib menunggu kehadiran orang utan
20150515_164112
berdatangan dari pohon yang tinggi

OOOuuuu……Ooooouuuuu…..suara para ranger memanggil orang utan, sejenak hening….para pengunjung melihat sekeliling, lalu tampak sebuah pohon dikejauhan bergerak, penonton pun tampak sigap memantau pergerakan pohon tersebut, petanda orang utan akan datang. Semakin lama semakin dekat  pergerakan pohonnya hingga muncullah seekor orang utan berukuran sedang dengan malu-malu memasuki panggung. Si orang utan ini langsung menghampiri seonggok pisang yang tersedia, namun karena malu melihat sekerumunan manusia yang tampak liat membidikkan kamera, orang utan ini lebih sering memunggungi penonton sambil tetap menggelayut menikmati makanannya.

DSC01920

20150516_101454

Satu demi satu secara bergantian orang utan berdatangan, tampak beberapa ibu orang utan menggendong bayinya turut menikmati makanan yang disajikan. Sementara para ibu asik makan, orang utan berukuran sedang yang masih berusia remaja, tampak bermain-main di pohon lainnya. Pemandangan yang langka untuk disaksikan. Para photographer tampak taka da puasnya terus membidikkan kameranya ke setiap pergerakan orang utan. Aku….awalnya semangat berphoto-photo, dan dengan berselangnya waktu, jadi sibuk menghalau nyamuk hutan besar-besar yang terus berterbangan berpesta pora menikmati darah segar para pengujung. Jangan dikira sudah pakai celana panjang dan lengan panjang lalu bebas dari nyamuk, sepertinya jarum suntikan si nyamuk cukup panjang dan kuat hingga mampu menembus pakaian, dan mengakibatkanaku terus bergerak-gerak  tidak tenang saat menyaksikan pertunjukan balada kera yang berlangsung. Tapi bukan berarti aku langsung kabur meninggalkan arena…..aku tetap bertahan hingga pertunjukan usai, alias makanan yang disajikan habis dan tak ada lagi orang utan yang datang.

Ditengah kesibukan penonton menyaksikan orang utan yang asik makan, aku memperhatikan para pengunjung yang hadir disini. Mayoritas pengunjung adalah turis asing, beberapa adalah keluarga dengan membawa serta bocah-bocah lucu yang sibuk main sendiri setelah bosan menyaksikan orang utan, ada juga group yang terlihat punya keahlian khusus, dengan kamera super besar, dan lainnya adalah group pemuda pemudi harapan bangsa….eh…pemuda pemudi bule yang menikmati liburan dengan ber-eko wisata. Hanya beberapa wisatawan local yang tampak. Group kami adalah group local terbesar ( 8 orang)serta beberapa group wisatawan local lainnya dalam group yang lebih kecil dan sisanya pengunjung local itu adalah guide dari tiap group bule yang sedang berwisata di TN. Tanjung Putting. Bingung menyaksikan fenomena ini, karena ketika aku hendak berangkat ke TN. Tj Putting, beberapa teman banyak yang mencemooh….ngapain liat orang utan, mending dg budget sama ke Luar Negeri….miris ya…sementara banyak tempat local kita di nikmati oleh wisatawan asing, sementara wisatawan local malah menghindari dengan alasan mahal dan bangga plesir ke luar negeri.

bocah yang santai di hutan
bocah yang santai di hutan

Dari Camp Tanjung Harapan kapal kami melanjutkan perjalanan memasuki hutan lebih dalam lagi. Santai sore sambil menyesap kopi panas dan roti pisang dengan pemandangan yang teduh di sepanjang sungai. di perjalanan kami menemukan burung-burung cantik yang berterbangan, dan yang paling seru adalah sekumpulan bekantan yang asik bertengger menikmati sore di pinggir sungai. Tentu saja santai sore kami terusik, dan langsung mengambil kamera-kamera canggih kami dan mulai membidik satu demi satu bekantan yang muncul yang dapat tertangkap kamera. Dari kemunculan seekor, lalu beberapa ekor, hingga kami menemukan sekoloni orang utan memenuhi sebuah pohon tinggi. Sungguh pemandangan yang spektakuler di sore hari ini. Karena aku hanya memiliki kamera dengan kapasitas pas-pasan, jadi pengambilan photo pun hanya semampunya, sementara om doni yang niat banget bawa 2 lensa dan 2 kamera canggih sibuk membidik para bekantan yang asik melompat dan santai-santai di pohon…dan  aku…menikmati saja aktifitas bekantan dengan duduk santai dan mendendangkan theme song Dunia Fantasi…mmmm….mmmm…mmmm.mmm….yang lalu di ‘ssstttt’ karena mengganggu konsentrasi yang lagi motret2….hahahaaa…..mereka pun tak tahan mo ketawa demi mendengar lagu dufan berkumandang saaat sibuk memotret maskot dufan.

DSC01965 DSC01946

Bekantan icon Dufan
Bekantan icon Dufan

Sore itu kapal kami tambat di suatu spot, tak hanya kapal kami, tapi beberapa kapal lainnya juga tampak tambat.  Kami akan menghabiskan malam disini, sambil mengantri mandi, kami melanjutkan santai sore dengan kopi panas, gorengan nikmat dan ngobrol yang tak ada habisnya. Makan malam terhidang tepat waktu, dan usai makan malam, meja makan dilipat, dan Kasur mulai digelar. Kapal besar kami muat untuk menggelar 8 kasur kapuk, dan tiap 2 kasur diselubungi dengan kelambu yang melindungi kami dari gangguan serangga malam. Seperti biasanya, amat disayangkan untuk tidur awal, sehingga ngobrol pun terus berlanjut sambil menikmati bintang-bintang yang berkelip, tampak milky way yang berjajar indah, walau sesekali awan datang mengganggu pemandangan kami, tapi dengan kesabaran yang tinggi, bintang-bintang kembali hadir menyinari malam dengan gemerlap.

20150516_075555

Selamat pagiii…..sinar matahari yang sedang malu-malunya mulai menerangi dunia turut membangunkan kami yang tidur di alam bebas ini, udara dingin yang segar tidak membuat malas bangun, malah jadi semangat untuk memulai hari. Kami di temani banyak macaca di sisi darat kapal. Macaca yang tidak tergoda untuk meloncat masuk ke kapal dan mengganggu kami yang sedang lucu-lucunya menggoda si macaca sambil sesekali memotret ekspresi-ekspresi lucunya. Berkat anjuran dan ketertiban pengunjung untuk tidak memberi makanan manusia kepada macaca, hewan ini pun jadi tak tertarik dengan aneka hidangan yang tersaji di meja, beda dengan macaca yang ada di hutan ujung kulon yang gemar sekali mencuri makanan pengunjung di guesthouse, sehingga pengunjung harus selalu siaga untuk menyimpan makanannya apabila tak ingin kecolongan.

20150516_084154

20150516_113246

Tepat setelah makan pagi kapal kami merapat di dermaga Camp Pondok Tanggui. Ada jadwal feeding jam 9 pagi disini. Kami kembali berjalan berbaris rapi menuju feeding station. Sambil menunggu kehadiran ranger yang membawa makanan bagi orang utan, kami diajak untuk melihat sekumpulan tanaman kantong semar, cukup unik dan langka ni tanamannya. Seperti di camp sebelumnya, begitu makanan datang, ranger akan memanggil orang utan untuk turun makan. Orang utan di Camp Pondok Tanggui di dominasi para ibu yang menggendong bayinya. Jarak antara panggung makan dengan kursi penonton pun tak terlalu jauh di bandingkan dengan Camp Tanjung Harapan, sehingga untuk pemilik kamera dengan kemampuan zoom pas-pasan seperti kameraku, disini dapat memotret lebih baik.

DSC01993 DSC01990 DSC01938

Perjalanan kami berlanjut, semakin memasuki dalam menyusuri sungai Taman Nasional Tanjung Puting, hingga akhirnya kami memasuki sungai hitam, air sungainya terlihat berwarna hitam pekat, namun jernih, akibat fermentasi gambut yang mendominasi hutan di Kalimantan tengah. Sungai semakin menyempit dan untuk setting film thriller cucok banget niy….sungai hitam pekat, pohon yang rindang, trus ada ular berjuntaian, macaca dan owa bergelayutan dengan riang dan buaya yang mengintai di balik sesemakan pinggir sungai…jengjengjengjeng…….

20150516_125132

Kapal kami berlabuh di dermaga Camp Leakey tepat setelah kami menuntaskan makan siang kami. Beberapa kapal lainnya tampak sudah tambat dengan tertib dan terlihat penumpangnya masih menikmati makan siang dengan santai. Feeding time di camp leakey sekitar jam 14.00 masih banyak waktu untuk santai-santai.

Camp Leakey merupakan pusat pendidikan dan penelitian orang utan di Pangkalan Bun, dan berkat tempat inilah, kawasan ini menjadi Taman Nasional untuk melindungi khususnya orang utan. Memasuki Camp Leakey kami disambut seekor orang utan betina yang sudah cukup umur, Siswi namanya, serta merta pengunjung langsung menghampirinya, sekedar untuk mengambil photo, karena pengunjung tidak diperkenankan untuk menyentuh orang utan. Di Camp Leakey terdapat fasilitas yang lebih lengkap dari camp lainnya, disini tersedia pusat informasi bagi pengunjung untuk mengetahui lebih banyak informasi mengenai orang utan, mulai dari sejarah, habitat, jenis hingga silsilah orang utan yang pernah di rawat di camp leakey.

DSC02060 DSC02077

Menjelang jam 2 siang, pengunjung mulai diarahkan menuju feeding station. Feeding station di camp leakey ternyata tidak hanya ada orang utan, tapi juga babi hutan yang terlebih dahulu menguasai arena dan owa hitam nakal yang ikut turun mencuri makanan.

DSC01910

Camp Leakey merupakan camp terakhir yang kami kunjungi, sepulang dari camp leakey kami hanya menikmati perjalanan menyusuri sungai dengan rute yang sama seperti perjalanan datang. Malam ini kami kembali makan malam ditemani kunang-kunang yang menerangi pohon-pohon di pinggir sungai dan bintang-bintang terang di langit.

Perjalanan yang menyenangkan menikmati live on board di sungai sekonyer, dengan semua fasiltas yang sangat nyaman dan berlayar di sungai yang sangat tenang. Selama perjalanan ini,  aku memperhatikan pengunjung yang menempati kapal-kapal dengan jadwal perjalanan sama dengan kami (mulai berjumpa di bandara soetta hingga berpisah lagi di bandara soetta)di dominasi wisatawan manca Negara, baik WNA yang memang bekerja di Indonesia dengan membawa serta keluarga berikut anak-anaknya maupun traveler yang sedang berkunjung ke Indonesia. Wisatawan local tak terlalu banyak, hanya beberapa kelompok saja yang jumlahnya tak terlalu banyak. Wajar saja fasilitas yang disediakan kapal-kapal dengan konsep hotel apung ini sangat terorganisir dengan baik, rapi dan bersih, makanan lezat dan teratur karena wisatawan didominasi bule. Dan untuk harga yang ditawarkan pun tak terlalu mahal dengan fasilitas yang kami dapatkan. Sayangnya, wisatawan lokal terlalu gengsi untuk menikmati wisata lokal yang eksotis ini, dan seperti biasanya promosi wisata selalu menjadi kendala, aku saja baru tau ada wisata seperti ini, padahal sudah berjalan lebih dari 10 tahun lalu, (padahal aku termasuk rajin cari info dan menyontek perjalanan seru yang dilakukan traveler lainnya lho).

DSC02081

DSC02079
poto bareng siswi

#berdukacita untuk jebolnya sepatu trekking legendaris yang telah menemaniku trekking dan menjelajah tempat-tempat cantik yang akhirnya jebol dan tak terselamatkan.

20150516_171809

– vii –

Iklan

6 pemikiran pada “Berlayar di Taman Nasional Tanjung Puting

    1. ga nyangka juga siy ternyata ke tanjung puting bisa seseru ini, harga paket juga menurutku masih terjangkau, tapi fasilitasnya bagus, makan enak, tempat tidur bersih dan bebas serangga, kapal nyaman, karena dah standard tamu bule

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s