Menari di Desa Takpala

Tari Legolego
Gemerincing suara gelang kaki yang dihentakkan secara serentak oleh para wanita, terdengar harmonis dalam gerakan seirama dalam tarian legolego, mengiringi nyanyian yang di senandungkan oleh kepala suku Abui. Para Wanita dalam balutan kain panjang bergelang kaki, dan para pria dalam pakaian pejuang lengkap dengan parang terselip di dipinggang dan busur di tangan kiri.Tari Lego-lego merupakan tari sambutan selamat datang bagi pendatang yang berkunjung ke Desa Takpala, tarian yang sacral dan hangat merangkul setiap orang dalam sebuah lingkaran besar yang tak terputus, melambangkan keeratan kekeluargaan yang sangat tinggi. Kami tenggelam dalam keharmonisan gerak dan lagu yang bersenandung, hanya senyum yang tak lepas dari bibir kami selama tari lego-lego berlangsung.

melebur menari legolego
melebur menari legolego

Mobil kami berhenti di penghujung jalan diatas sebuah bukit dengan pemandangan lepas ke laut. Jalan batu bertangga menanjak menyambut kedatangan kami di desa Takpala,Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupater Alor, di pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Sebuah desa adat yang menjadi destinasi para wisatawan saat berkunjung ke Alor. Di penghujung tangga pandangan kami disuguhi pemandangan rumah-rumah kayu yang tampak rapi tersusun, terdapat lapangan di tengah desa, dan di sudut desa tampak dagangan warga berjajar rapi. Tak seperti desa adat yang telah komersil yang pernah saya kunjungi, desa takpala tampak lebih tenang. Beberapa barang dagangan terhampar tak terjaga, pemiliknya masih santai dirumah.

DSC02477 DSC_0543

DSC02470 DSC02471

DSC02472 DSC02474

Kehadiran kami tak terlalu mengganggu santai menjelang sore di desa Takpala. Hanya beberapa anak-anak yang menyambut gembira kehadiran kami. Sebagai tamu di desa Takpala, kami melaporkan kedatangan kami kepada bapak kepala adat. Untuk menyambut kehadiran tamu, bapak kepala adat menawarkan suguhan tari lego-lego yang merupakan tarian selamat datang kepada tamu dan bahwa kami diterima dengan baik. Untuk menggelar tarian lego-lego yang melibatkan seluruh anggota desa Takpala. Ada harga yang harus dibayarkan sebesar Rp. 1.500.000. karena kami sudah mengentahui perihal harga pertunjukan tari lego-lago, maka kami sepakat untuk menyaksikan tarian lego-lego.

Bersegeralah anggota desa Takpala bersiap dan bersalin pakaian mempersiapkan tarian lego-lego, beberapa dari kami di ajak untuk turut dalam tarian, tentu saja kesempatan ini kami terima dengan gembira hati. Aku dan Bing langsung menuju halaman belakan sebuah rumah untuk menggunakan sarung tenun, dan melepas baju yang kami kenakan. Jadilah kami bersarung dan bergelang kaki serta membawa tas keranjang sirih siap untuk menari lego-lego.

DSC02502

Seluruh masyarakat yang telah bergati kostum bersiap di tengah lapangan, yang telah diletakkan moko di atas sebuah altar batu. Seluruh penari membuat lingkarang mengelilingi altar, lingkaran yang tak terputus, seperti spiral obat nyamuk bakar. Setiap wanita saling merangkul di pinggang mengeratkan lingkaran, dan para pria yang ada di antara wanita merangkul di bahu tidak melepaskan ikatan lingkaran. Sungguh suatu sambutan yang sangat hangat yang kami terima.

DSC02486

Gemerincing gelang kaki melatari dari hentakan wanita yang bergerak pelan mengelilingi altar dan Nyanyian pujian disenandungkan dalam bahasa local suku Abui yang di nyanyikan bersama, kepala adat dalam pakaian lengkap seorang pejuang merapalkan pujiannya dan anggota lainnya menyerukan secara bersama-sama. Saya tidak mengerti apa yang di senandungkan, karena konsentrasi saya lebih pada gerakan kaki yang harus di seragamkan. Sebenarnya gerakannya sederhana, tapi karena saya termasuk orang yang tidak pandai menari, gerakan sederhana saja seperti sulit di ikuti. Menari sambil berputar perlahan dan menjelang akhir gerakannya semakin cepat, dan sayapun semakin kacau. Walau saya kerepotan mengikuti gerakan tari lego-lego tapi tak merusak harmoni gerakan yang terus berlangsung ….tapi ribet sendiri hati senang.

Usai tarian lego-lego selanjutnya di beri pertunjukan tari perang oleh para bapak pejuang,  para pria dengan pakaian pejuang saling berhadapan, menggenggam parang dan menantang berkelahi. Tarian ini tak hanya dilakukan pria dewasa, bocah pun cukup lincah melakukannya.

DSC02507

Setelah pertunjukan menari selesai, kami berkesempatan untuk beramah tamah dengan warga. Kami berfoto bersama sepuasnya dengan siapa saja, dan ngobrol santai untuk mengetahui keseharian mereka. Kami juga di undang untuk berkunjung ke rumah khas suku Abui di Desa Takpala. Rumah Gudang namanya, ada sekitar 15 rumah yang dihuni dan ada 2 rumah lainnya yang merupakan rumah adat yang dimiliki oleh 6 desa lainnya.

DSC02513 DSC02529

Rumah Gudang dimiliki oleh 1 kepala keluarga. Rumah ini terdiri dari 4 tingkat dan lantai paling bawahya berupa bale-bale terbuka yang merupakan tempat berinteraksi warga dan berkegiatan sehari-hari. Di lantai dua merupakan ruang untuk beristirahat dan memasak. Memasak menggunakan kayu bakar dan dilakukan di ruang atas, dimana lantai di lantai kedua ini merupakan lantai kayu, saya jadi sangat penasaran sekali bagaimana mereka mengalas tungkunya agar tidak tercolek percikan api. Di lantai kedua ini,selain tempat tidur, dan dapur, semua perlengkapan rumah tangga di simpan disini. Lantai ketiga dan keempat merupakan ruang penyimpanan. Jagung, alat music untuk upacara, gong, dan Moko semua disimpan disini.

DSC02534 DSC02537 DSC02547 DSC02552

Rumah gudang merupakan rumah kayu yang di buat dengan system knockdown, tanpa paku, hanya ikatan dan pengunci. Setiap lantai terdapat kayu yang mengelilingi kolom besar, berfungsi untuk menghalangi serangga atau hama masuk kedalam rumah. Beratap jerami yang hangat, rumah gudang tidak terdapat lampu listrik sebagai penerangan di dalam rumah, mereka masih menggunakan lampu minyak dan lilin. Kehidupan siang hari lebih banyak dilakukan di luar rumah, atau di bale bawah. Masyarakat baru masuk ke dalam di saat hendak beristiraha malam hari.

DSC02477DSC02563

DSC02566

Sambil santai sore kami sempatkan untuk melihat dagangan yang di jajakan di pojokan desa. Ada kain tenun, sirih dan pinangnya, kerajinan dari bamboo, tas pandan dan aneka kerajinan lainnya yang khas dari desa Takpala. Sore itu kami dihadiahi sekantong tamarin yang saat itu sedang panen, tamarin yang matang, cukup enak untuk di makan seperti permen dengan rasa yang segar.

#harga pertunjukan tari legolego di desa Takpala secara nominal memang cukup besar, tapi melihat kehidupan warga desa takpala, dan dengan membayar tarian tersebut masyarakat dapat bertahan hidup dengan terus melestarikan budayanya, kami sangat tidak berkeberatan membayar. lebih baik desa adat memiliki tarif yang jelas dari pada setelah selesai berkunjung dan berfoto2, wisatawan di getok harga untuk setiap photo dan kegiatannya

-Vii-

Iklan

10 pemikiran pada “Menari di Desa Takpala

    1. desa takpala ini sangat menyenangkan, masyarakatnya sangat terbuka dan ramah. walau menarinya harus bayar mahal, tapi dananya juga untuk penduduk, jadi ya ikhlas banget buat nambah2 penghasilan mereka. dan yang paling penting itu adalah pengalaman menari bersama mereka, berangkulan dalam satu lingkaran besar, seperti keluarga besar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s