Tenun Menenun di Alor

DSC02574

Berkunjung ke Nusa Tenggara Timur, maka tenun akan menjadi santapan utama mata memandang, setiap orang di sini bangga mengenakan tenun ikat, baik untuk kegiatan formal, santai atau pun adat. selalu terlihat tenun tersandang, sebagai selendang, syal, pashmina, bahkan kemeja-kemeja rancak yang dikenakan bapak-bapak.

saya termasuk orang yang tak akan melewatkan kesempatan untuk membeli kain tenun, baik berupa sarung, pashmina ataupun syal, rekor tergila saya membeli tenun adalah di pengrajin tenun desa Moni, Ende, sarung tenun dengan pewarna alami berpola cantik saya beli dengan menguras habis duit di dompet, dengan harapan saat esoknya di kota maumere, saya bisa mengisi ulang dompet dengan mengorek sisa uang di atm. Walau demikian, saya ga kapok kog, tetap aja setiap berkunjung ke pengrajin tenun saya akan membeli, setidaknya syal yang paling murah, selanjutnya saya akan banyak berdzikir, semoga kuat menahan godaan melihat cantiknya motif dan warna-warna tenun yang di hampar.

Kali ini saya di Alor, Sebuah pulau cantik di Nusa Tenggara Timur. disini sayapun dihadapkan pada anekaragam kecantikan tenun, bahkan di Pulau ternate, satu kampung semua wanitanya menenun, sungguh menyenangkan berkunjung kesini.

Tak jauh dari kota Kalabahi, di ALor Kecil lebih tepatnya, kami berkunjung ke pengepul tenun yang cukup terkenal. disini, selain kami bisa menyaksikan proses tenun, kami juga melihat langsung proses pembuatan benang hingga menjadi kain. di halaman belakang terdapat banyak pohon kapas, yang merupakan bahan baku dari benang. dengan cara yang tradisional dan unik (menurut saya) proses pembuatan kapas dilakukan.

DSC02343 DSC02340

DSC02354

Pertama-tama, bunga kapas di pisahkan dari bijinya dengan alat press tradisional. lalu kapas di kembangkan dengan semacam busur, dan selanjutnya kapas dibentuk menjadi kepompong agar memudahkan untuk memintal benang. alat pemintal benang ada dua jenis, yang berupa pulpen dan alat pintal seperti di seri ‘sleeping beauty’ tapi tanpa jarum mencuat yang membuat si putri tertidur lama. setelah berbentuk benang halus yang dibutuhkan untuk menenun, benang-benang ini siap untuk di warnai sesuai kebutuhan. proses pewarnaan menggunakan warna alami, yaitu dari tumbuh-tumbuhan yang mudah ditemukan di sekitar pekarangan rumah.

DSC02367 DSC02369 DSC02624

setelah benang disiapkan, penenun mempersiapkan motif yang diinginkan dari benang putih, membuat motif dilakukan dengan mengikat benang dengan tali plastik hingga membentuk pola, dari sinilah nama tenun ikat berasal, dari ikatan itu mempertahankan warna putihnya, sehingga dalam proses menenun tinggal mengikuti motif yang telah dtercetak dari ikatan-ikatan.

proses menenun siap untuk dilakukan, setelah benang diatur sedemikian rupa sesuai motif yang dikehendaki. untuk menenun 1 syal dapat diselesaikan sehari oleh orang dewasa dan 2 hari oleh remaja putri yangbelajar menenun.

DSC02627 DSC02590 DSC02597

Di Ternate, kami mengunjungi desa tenun yang seluruh wanitanya menenun. disetiap sudut rumah kami menemukan wanita-wanita yang mengisi waktu dengan menenun. di sudut pantai yang rindang, kami berjumpa sekelompok wanita, ada yang menenun, ada yang menyiapkan benang, dan ada yang mengasuh anaknya. dengan pemandangan indah di hadapan mata, hidup terasa begitu indah. di sini kami juga menemukan anak-anak perempuan yang bermain tenun dengan menggunakan daun kelapa, dan hasilnya cukup menarik. Bagi masyarakat di pulau Ternate, setiap wanita harus bisa menenun, selain sebagai keterampilan yang wajib dimiliki, juga sebagai penghasilan tambahan.

DSC_0566 DSC02360

Kain tenun di Alor dapat dibeli dengan harga bervariasi, sesuai dengan corak, jenis pewarna/benang, dan ukuran kain. untuk syal yang biasa saya kenakan sebagai asesoris pakaian polos, saya membeli seharga Rp. 100.000 untuk 3 syal. untuk ukuran selendang/pashmina seharga Rp. 150.000 dan kain seharga Rp. 500.000 – jutaan.

Membeli kerajinan local bagi saya merupakan salah satu penghargaan saya bagi masyarakat untuk terus mempertahankan tradisi.

-Vii-

Iklan

4 pemikiran pada “Tenun Menenun di Alor

  1. kapan ya bisa ke Alor?
    btw kalo paragraf pertama dimulai dengan begini lebih cakep lagi deh

    Tenun menjadi santapan utama mata kala berkunjung ke Nusa Tenggara Timur. Setiap warga di sini bangga mengenakan tenun ikat. Di kegiatan formal, bersantai atau pun upacara adat tenun selalu tersandang sebagai selendang, syal, pashmina hingga kemeja rancak yang dikenakan kaum bapak.

    *lagi senang baca dan ngulik sana sini ;)*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s