Tebing Keraton – Phenomena Sosial Media

DSC_0026

Tebing Keraton yang tiba-tiba namanya begitu heitz, poto indahnya pemandangan dari Tebing Keraton begitu banyak meramaikan dinding social media, sehingga berbondong-bondonglah orang yang mengunjunginya, begitu pula kami. Atas nama P E N A S A R A N kami menjejakkan kaki di sana. Sungguh phenomena luar biasa daya pikat Tebing Keraton.

Kenapa saya menyebutnya sebagai phenomena luar biasa ?? karena saya terkagum-kagum dengan ‘the power of social media’, sungguh luar biasa effek yang diciptakannya. Dari sebuah halaman belakang menjadi destinasi wisata. Dari sebuah desa yang damai, menjadi desa yang hingar bingar. Dan akibat banyaknya poto yang beredar di spot point wajib di ujung tebing, maka dengan tak mengindahkan factor keamanan, mengantrilah orang-orang untuk berpoto di pojokan batu itu – yang membuat saya gamang melihat gaya-gaya yang menurut saya ngeri di pandang, hingga saya mengalihkan pandangan daripada ngeri membayangkan ada yang kepeleset dan terjun bebas ke lembah.

DSC_0021 DSC_0020 DSC_0045 DSC_0038 DSC_0017

Tebing Keraton mulai ramai dikunjungi mungkin sekitar 2 tahun belakangan, dan penyebabnya adalah sebuah poto yang di posting di media social dan disebarluaskan oleh penggemar wisata. Karena lokasinya yang mudah di akses  , maka menjadi cepat terkenal dan dikunjungi beratus-ratus orang setiap akhir pekan. Kesempatan manis ini langsung dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, seperti penyediaan jasa ojek (yang pengemudinya berobsesi jadi pembalap tanpa mengindahkan kenyamanan dan keselamatan penumpang) dan warung-warung penganan kecil di luar pagar area Tebing Keraton.

Tebing Keraton berada di kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Djuanda, lebih terkenalnya di daerah Dago Pakar, Bandung Utara. Menuju Tebing Keraton cukup mudah, sudah banyak petunjuk jalan mulai Terminal Dago naik terus keatas, ikuti saja petunjuk arah. Melewati situs Goa Jepang, hingga tiba di penghujung jalan rusak, yang bagi pemilik mobil di wajibkan parkir disini dan melanjutkan dengan menggunakan ojek yang dipatok seharga Rp. 40.000 (sekali jalan) atau bisa trekking santai jalan kaki seperti yang kami lakukan.  Kami memutuskan untuk berjalan kaki, karena hari sudah sore dengan maksud menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dan udara segar pegunungan tapi kenyataannya lebih banyak diserang debu jalanan akibat kemarau yang di persembahkan ojek2 yang melaju membawa pengunjung Tebing Keraton yang malas jalan. Perjalanan yang kata si mamang ojek sekitar 3 KM membawa kami memasuki sebuah desa yang cukup ramai, sayang kebunnya baru dipanen, sehingga hanya hamparan tanah yang baru di gembur saja yang ada, tanpa kehijauan yang cantik.

DSC_0012 DSC_0011 DSC_0009

Tebing Keraton berada persis di halaman belakang Kampung Ciharegem Puncak (RW 10) Desa Ciburial, Dago, Bandung Utara. Kenapa saya menyebutnya halaman belakang ?? Karena halaman muka adalah hamparan perkebunan sayur. Pastinya selama ini masyarakat desa tak terlalu menganggap istimewa Tebing Keraton yang lebih dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai Cadas Jontor,bahkan mungkin melarang anak-anaknya bermain dekat sana, karena cukup berbahaya. Awalmulanya, Tebing Keraton dikelola oleh masyarat sekitar, namun sekarang telah di kelola secara legal oleh Tahura Djuanda dengan tiket masuk Rp. 11.000/orang. Kawasan Tebing Keraton telah di tata dengan lebih rapi, berpagar pengaman, di sekeliling tebing (walau banyak yang nekat berfoto di balik pagar) dan diperluas areanya.

DSC_0016 DSC_0033 DSC_0052

Berada di lingkunga Tahura Djuanda, Tebing Keraton memiliki pemandangan yang sangat indah, hamparan hijau Tahura Djuanda dapat disaksikan disini, diapit oleh gunung yang menjulang di timur dan barat menambah keindahan pemandagan saat sunrise dan sunset (sayangnya kami tak datang di waktu tersebut).

DSC_0057 DSC_0056

Tak banyak yang bisa di lakukan berlama-lama disini, lahannya yang tak terlalu besar dengan jumlah pengunjung yang membludak, membuat kami tak bertahan lama untuk menyaksikan pemandangan alam yang indah. Saat perjalanan pulang (yang lagi-lagi kami jalan kaki santai), kami memperhatikan lebih kampung Ciharegem yang ternyata memiliki kebun sayuran yang luas, sayangnya saat ini baru dipanen sehingga menyisakan tanah-tanah. Ramainya pengunjung sepertinya tidak terlalu berpengaruh terhadap masyarakat setempat. saya tak menemukan tempat yang nyaman untuk bersantai selain warung-warung dadakan didekat parkir motor, mungkin karena dekat dekat kawasan dago pakar yang penuh dengan cafe dan restoran cantik. Atau mungkin masyarakat bisa membuat semacam ecotour, seperti paket petik strawberry yang banyak di lembang. Atau usaha apalah yang menarik sehingga pengunjung yang ramai lalu lalang setiap minggu di kampung tersebut tak hanya jepret n go di tebing keraton tapi juga mampir di desa untuk sekedar bersantai.

DSC_0036

Iklan

7 pemikiran pada “Tebing Keraton – Phenomena Sosial Media

  1. IMHO kok aku kurang setuju ya sm adanya ojek. Iya sih itu membantu perekonomian warga setempat. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka naikin harga gak kira2. Trus kasian jg sama yg jalan kaki, krn kena polusi campur debu dr motor2 ini, apalagi aku ke sana pas lagi kering dan banyak debu 😦

  2. akhirnya kesini juga he he …. supaya ga kalah sama anak2 abg ya mba …
    abg-nya memang nekat2 demi untuk foto eksis di sosmed …. kayaknya kalau begini sih tinggal nunggu waktu ada yang celaka … mudah2-an sih tidak ada
    suasananya lebih keren kalau pagi2 … serasa ada di atas awan …

    1. hahahahaa….iya, biar eksis ga cuma di tempat yang eksotis di timur Indonesia tapi juga di tempat yang kekinian yang lagi heitz…walaupun sampai sana bengong, begini doang ya, hehehehe…akibat mata terlalu dimanja dengan indahnya Indonesia Timur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s