Tidore

Tidore27

Puas memandang Tidore dari daratan Ternate, akhirnya hari ini kita akan mengunjunginya. Karena kita pejalan yang pemalas bangun pagi (akibat baru nemu kasur dan bantal empuk setelah perjalanan pesawat yang katanya nyaman), jadi kita iklaskan untuk ketinggalan kapal feri yang berangkat jam 07.00 dari pelabuhan Ternate, sebagai gantinya, kita naik angkot kapal yang siap jalan setiap kapal sudah penuh *persis mikrolet di jakarta ini siy* dan ternyata hanya 15 menit saja menyeberang dari Ternate ke Tidore dengan ongkos Rp. 10.000/penumpang.

Lagi-lagi semesta mendukung, langit biru menyambut kami di pelabuhan Tidore. Jejeran kapal penumpang warna warni lintas pulau diparkir rapi,sesuai urutannya untuk mengantar penumpang.

Tidore1

Pak Gun dan mobil yang sudah berangkat lebih pagi dengan kapal ferri, menyambut kedatangan kami, dan tak pakai lama, kami langsung tancap gas diajak keliling pulau Tidore…hooreee.

Tidore3

Pertama-tama kami diajak mendaki lereng gunung Tidore menuju perkebunan cengkeh yang rindah dan telah berumur ratusan tahun. Bisa jadi perkebunan cengkeh ini termasuk peninggalan masa kejayaan rempah. Semakin mendaki lereng bukit, panorama dibawah sana semakin bagus, dan akhirnya kita mendapat satu spot cantik untuk memotret panorama pulau Ternate dan Maitar. Di kelilingi rerimbunan pohon cengkeh yang menebarkan aroma wangi, kita sibuk potret-potret. Pohon-pohon cengkeh di perkebunan ini rupanya sudah lama tidak di petik bunganya, sehingga bunga-bunga cengkeh yang harganya mahal itu telah berubah menjadi buah cengkeh berwarna merah menarik dengan ukuran yang lebih gendud dari bunga cengkeh biasa, dan konon buah cengkeh ini menjadi bibit untuk menanam pohon cengkeh baru. Selain cengkeh kami juga menemukan pohon pala yang masih muda, cukup banyak tumbuh diantara kebun cengkeh.

Perjalanan melalui lereng gunung Tidore kami melalui beberapa desa yang sangat rapi dah bersih, salah satunya desa Garua Bunga. Desa ini adalah desa tertinggi di Pulau Tidore, dikenal juga dengan desa di atas awan. Tak salah dinamakan desa Garua Bunga, karena bunga-bunga di desa ini sangat cantik dan indah. Setiap perkarangan rumah memiliki pohon bunga yang ditata cantik di pekarangan rumahnya. Penduduk desa Garua Bunga juga cukup ramah, menyapa kami yang kebetulan singgah untuk sekedar berfoto-foto di desa.

Selanjutnya kita turun ke kota Tidore, kota yang cukup sepi, mungkin karena hari minggu, sehingga tak banyak yang beraktifitas diluar rumah. Bicara Tidore maka ada banyak cerita sejarah yang tak kalah panjang dari Ternate. Bangsa Spanyol pertama kali mendarat di Pulau Tidore dalam perjalanannya mencari pulau rempah. Dan seperti halnya bangsa Spanyol dan pendatang lainnya, kami pun mengunjungi Kesultanan Tidore untuk silaturahmi *berasa orang penting, tapi ternyata sultan tidak ada, benderanya tidak berkibar,jadi kami hanya berpoto di halaman depan saja. Selain itu kami mengunjungi 2 benteng peninggalan perang, yaitu benteng Torre dan benteng Tahula.

Tidore15

Benteng Torre

Setelah Portugis hekang dari Ternate, rupanya Portugis diterima oleh sultan Tidore, dan pada 1578 atas perintah Sancho de Vasconcelos dibangunlah benteng Torre sebagai benteng pertahanan Portugis di pulau Tidore. Nama Torre diambil dari nama Kapten Portugis Hernando de la Torre

Benteng Tahula

Tahula yang berarti kota Hula, dibangun setahun setelah Spanyol berhasil menaklukkan Portugis dan menguasai Tidore. Mulai dibangun tahun 1610 atas perintah Gubernur Jenderal Spanyol Cristobal de Azcqueta Menchocha. Pembangunan benteng berjalan lambat karena kekurangan tenaga kerja, dan baru selesai tahun 1615 dan diberi nama Santigo de los caballeros de tidore atau Sanctiago caualleros de los de la de ysla Tidore *keriting lidah bacanya. Benteng pertahanan Spanyol ini ini merupakan dihuni 50 tentara dengan kavaleri lengkap dan digunakan hingga 1662, ketika Spanyol di Taklukkan Belanda.

Kedua benteng di Pulau Tidore ini terletak diatas bukit yang tinggi, perlu ketekunan untuk menaiki tangga terjalnya. Tapi begitu tiba di benteng, pemandangan kota Tidore yang berjajar di tepi pantai terlihat sangat indah sekali, dan angin pantai sepoi-sepoi memanjakan, jadi enggan untuk turun. Beruntung disini tidak ada tukang kopi dan pisang goreng, bisa betah sampai sore menunggu sunset duduk santai di atas benteng.

Tidore17

Siang yang sepi di Tidore membuat kami agak kesulitan mencari warung makan yang buka, kebayakan warung tutup karena libur. Beruntung sebuah warung makan tak jauh dari pantai buka, langsung saja kami serbu. Menu ikan tetap menjadi andalan, dan beruntungnya, diwarung ini menyediakan papeda, nyams banget….aku suka makan papeda dengan kuah asam atau kuah kuning yang gurih dan ikan lembut sebagai lauknya.

Tak pakai lama, satu persatu menu dihidangkan di atas meja. Uniknya di Ternate dan Tidore, diantara lauk pauk yang dihidangkan, tersedia pisang rebus dan singkong yang direbus dengan santan, enak dan gurih.  Bahayanya kalo keenakan nyemil pisang dan singkong, perut jadi kenyang duluan, sementara makanan utama belum masuk, gawats bener.

Perut kenyang, hati senang, angin sepoi-sepoi berhembus…bahaya….bahaya…..mata jadi manja minta bobok…

Etapi ga boleh leyeh-leyeh…kita masih terus melaju. Sudah melihat dataran tinggi, sekarang saatnya main-main di pantai. Sebenarnya gampang saja untuk sekedar main di pantai, karena pantai di pulau Tidore rata-rata bersih dan dikelilingi pohon yang rindang. Kami mengunjungi salah satu pantai wisata yang ramai pengunjung, karena di pantai ini tersedia kolam air panas alam, tapi sayangnya air panasnya surut, karena musim kemarau yang cukup panjang (akhir desember aja masih cerah ceria, belum ada tanda-tanda hujan).

Pantai yang legendaris di Tidore adalah pantai pendaratan Spanyol pertama kali. Pantai yang tak jauh dari pelabuhan ferri ini ternyata salah satu spot cantik untuk snorkeling, dikenal dengan nama tanjung konde. Karena dari kemaren selalu gagal main air, melihat air laut yang tenang dan jernih, maka ajakan untuk berenang tak dapat ditolak.

Tidore25

Ditemani om Yus, yang ternyata instruktur diving, kita mulai menyusuri tepian tebing tanjung konde. Perlahan tapi pasti menikmati pemandangan indah, lalu tiba-tiba om yus menunjuk sesuatu…wooow…shark, seekor hiu sepanjang lengan tampak berenang santai tak jauh dari kami. Lalu tak jauh tampak seekor lionfish yang cantik berenang santai sendiri. Terumbu karang cantik tampak banyak yang masih hidup, bergoyang seirama arus laut yang cukup tenang. Snorkeling yang menyenangkan ini ditutup dengan main-main manja bersama sepasang nemo gendud berwarna merah cerah. Ternyata nemu kalo di tunjuk, dia akan menghampiri lalu ujung jari akan dicium-cium gitu dan sepasang nemo itu akan berenang berputar-putar mendekat..lucu banget siiiy.

Tak lama bersalin pakaian, kami langsung melesat menuju pelabuhan,kapal ferri sudah bergerak dari Ternate. Perjalanan pulang menuju Ternate menggunakan kapal ferri, karena sekalian dengan mobil yang akan pulang ke Ternate. Diatas kapal yang berjalan pelan meninggalkan Tidore, ada saja keriangan yang kami lakukan, semacam membuat poto lanscape pemandangan pulau Tidore hingga membuat poto kembar tiga yang banyak dilakukan anakanak kekinian. Penyeberangan menggunakan ferri tak sampai 30 menit dan kamipun sudah kembali ke pulau Ternate.

Tidore24

Tidore26

 

Iklan

6 pemikiran pada “Tidore

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s