Membelah Halmahera

Halmahera-800

Hari ini kita akan melakukan perjalanan overland membelah Halmahera persis di tengahnya. Taukan pulau Halmahera yang seperti huruf K kecil itu memiliki pinggang yang ramping di tengahnya, disanalah jalur perjalanan kita, dari sisi selatan menuju utara. Dari kota Sofifi (sebuah kota baru yang dibangun untuk menjadi ibukota provinsi Maluku Utara) menuju kota Tobelo di Halmahera Utara.

Perjalanan panjang ini menjadi bagian dari perjalan panjang kita menuju destinasi berikutnya, yaitu morotai, pulau kecil diutara Indonesia yang menyimpang sejuta sejarah perang dunia kedua. Kami berangkat pagi Ternate, dengan menggunakan kapal antar pulau untuk menyeberang menuju pulau Halmahera. Pulau Halmahera merupakan pulau yang terbesar di provinsi yang masih muda ini. Memiliki 4 kabupaten yang membagi pulau halmahera menjadi 4 wilayah administratif dan 1 ibukota provinsi di Sofifi. Alasan memilih Sofifi yang baru dikembangkan menjadi Ibukota ini adalah untuk merata penyebaran penduduk yang banyak terpusat di pulau Ternate yang memiliki bandara yang cukup ramai, menghubungkan provinsi maluku utara dengan ibukota negara, Jakarta.

Penyeberangan dari Ternate ke Sofifi ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit saja, dengan meninggalkan pulau Ternate di belakang kita. Tampak segumpalan awan menggantung di langit Ternate, dan kita menuju cerahnya matahari di Pulau Ternate. Perjalanan yang cukup lancar, laut tak berombak. Penyeberangan dari Ternate ke Sofifi di patok seharga Rp. 100.000/orang, tapi kalo mau cepat, bisa tawar menawara dengan pemilik kapal untuk charter, jadi ga nunggu kapal penuh penumpang.

Pelabuhan Sofifi cukup ramai, kami disambut banyak supir yang menawarkan kendaraannya. Banyak destinasi yang ditawarakan, termasuk Tobelo yang akan kami tuju. Mobil yang ditawarkan untuk melintasi pulau Halmahera di dominasi mobil sejenis Avanza/xenia atau inova yang lebih lapang. Banyak juga terlihat mobil double gardan warawiri yang menjemput pekerja tambang di wilayah halmahera tengah. Kami menumpangi sebuah innova untuk perjalanan panjang ini, karena jumlah kami yang pas berlima, jadi tak perlu menunggu tambahan orang untuk sharing budget jadi langsung charter mobil menuju Tobelo.

Dari kota Sofifi menuju utara, melewati jalan yang sangat mulus, sesekali mata kami dimanjakan dengan pemandangan pesisir yang sangat cantik, laut biru dan pohon nyiur melambai mengundang kami untuk mampir. Dampak jalan yang terlalu mulus adalah memanjakan penumpang yang perlahan tapi pasti memejamkan mata terbuai jalan yang nyaman. Dua jam pertama kami rehat di sebuah tempat makan yang cukup besar, tapi karena waktu makan masih tanggung, kami tak makan siang disana, hanya sekedar menyicipi kopi saja.

Memasuki wilayah Halmahera Utara, tepatnya di KAO, kami mendapati pemandangan kapal karam di teluk Kao, konon kapal ini adalah peninggalan pasukan Jepang pada masa Perang Dunia kedua.  Kapal bernama Kawaimaru/ Toasimaru, merupakan kapal kargo atau kapal pengangkut milik Jepang. Kapal yang tenggelam setelah diserang Sukutu pada masa perang dunia kedua ini, tampak menyembul bagian haluannya dan bagian buritannya karam ke dasar lautan. Kapal ini di serang sekutu di pantai Solsol tak jauh dari  KAO yang merupakan pusat pertahanan Jepang. Konon pada masa perang dunia kedua, Jepang menjadikan KAO sebagai pusat pertahanan terbesar dengan menempatkan 42.000 prajurit dan 300 pesawat pengebom di bandara KAO dan tak kurang dari 2000 kapal perang hilir mudik. Saat kami menuju Manado dari Bandara Kuabang, KAO, kami mendapati sebuah Bunker tantara Jepang tak jauh dari terminal penumpang. Bunker 2 ruangan sepanjang 15 m (bahkan menurut salah satu bacaan, panjang bunker ini bahkan mencapai pantai di Solsol yang merupakan tempat parkir kapal-kapal Jepang). Selain bunker, dibandara KAO juga masih terdapat 4 meriam yang moncongnya menghadap udara, sayang kami tak sempat memotretnya, karena lokasinya di dalam landasan pacu. Menurut salah satu blog yang saya baca, terdapat 60 meriam yang ditempatkan sepanjang runway untuk melindungi pesawat di bandara ini.

Halmahera12

Selain peninggalan perang dunia, kami juga menyempatkan untuk menyinggahi sebuah danau dengan panorama yang cantik, Danau Paca namanya.  Danau berair bening dengan panorama yang cantik begitu menggoda untuk berenang di hari yang panas terik. Kami hanya mampir sebentar, dan melanjutkan hingga tiba di kota Tobelo.

Perjalanan panjang selama lebih kurang 4 jam, tak terasa melelahkan karena pamandangan hijau yang menyejukkan dan jalan yang diaspal baik sehingga mulus dikendarai sepanjang jalan.

Iklan

7 pemikiran pada “Membelah Halmahera

    1. semua cerita bersambung ini satu perjalanan tante, tapi karena banyak banget yang dirasa dan dilihat, jadi di pecah dalam beberapa cerita.
      selamat menikmati tante

    1. Danau Paca itu tak jauh dari Tobelo sebenarnya, di tengah pulau Halmahera ke arah Utara.
      Danaunya memang bagus banget, airnya jernih dan segar. kalo melihat dermaga yang baru di bangun di tepi danau, sepertinya boleh berenang di danau…pasti segaaaar

    1. ga cuma di Halmahera om,
      mostly jalan di pulau-pulau di Indonesia yang pernah saya kunjungi dalam keadaan baik, karena tak ada industri, dan pembangunan infrastruktur di Indonesia bagian jauh dari pusat sudah mulai menggeliat.
      bahkan di pojokan jakarta aja jalanannya bergelombang seperti naik kapal diterjang badai….hahahahahahaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s