Belajar Diving Versi Trauma Kelelep

Diving2
Rotua juga coba diving

Pernah kelelep atau tenggelam ??

Aku pernah !!

Waktu kecil belum bisa berenang, diajak sepupu untuk renang bareng di kolam renang. Karena sepupu dah jago renang, mereka turun di kolam besar yang dalam dan sayapun ikut-ikutan ke kolam besar yang dalam. Awalnya pegangan di pinggir kolam, hingga saat bercanda-bercanda saya terdorong dan terlepas dari pegangan di pinggir kolam, yang terjadi saya panik dan kelelep,  Lalu megap-megap berusaha mengambang dan menggapai ujung kolam,  hingga akhirnya ada yang menolong menarik ke pinggir kolam.

Pasca kelelep tempo hari itu ternyata tak membuat saya kapok untuk main air, karena memang suka sekali main air dan papa sering ajak kita berenang dihari sabtu/minggu pagi walau belum bisa berenang. Hingga akhirnya, sekolah SD ku mengadakan kelas renang bagi siswa yang berminat, barulah saya belajar berenang. Waktu itu kelas 4 SD.

Sekarang…..

Bisa dibilang ga boleh liat genangan air bening, bawaannya pengen nyemplung … byuur….

Pasca kelelep ternyata memotivasi saya untuk bisa berenang dan mengambang di air. Membuat saya tidak takut untuk nyebur di air, baik di kolam renang, sungai, danau dan laut,  selama arusnya tenang bersahabat pasti pengen nyebur, dan menikmati main-main air sepuasnya. Prinsip saya adalah saya harus mengambang, ga boleh kelelep lagi.

Lalu….

Ternyata dunia bawah laut itu indah….saya yang biasanya hanya mengambang di permukaan laut alias snorkeling saja, jadi penasaran untuk coba-coba menenggelamkan diri atau diving untuk mendekat ke rimbunan terumbu karang atau mengikuti ikan-ikan lucu yang berenang dibawah sana. Tapi saat saya mencoba duckdive badannya ga mau tenggelam.

Kalo melihat orang yang bisa menenggelamkan diri dengan menahan napas sejenak sepertinya kog asik sekali, jadi lebih leluasa untuk eksplorasi. Lalu belajarlah saya untuk bisa belajar menahan napas lebih lama. Belakangan saat renang rutin di kolam renang dekat rumah, saya coba untuk berenang ‘menenggelamkan diri’. Tapi ternyata memang saya tidak bisa menahan napas cukup lama, sepertinya harus ikut kelas khusus di Senayan yang memang mengajarkan mengatur napas untuk bisa melakukan diving tanpa alat.

Tapi keinginan untuk mencoba diving tetap membuat saya penasaran, hingga akhirnya kesempatan itu datang. Saat kami di Tobelo, om yus menawarkan mencoba diving. Berdasarkan penilaian beliau ketika mendampingi kami snorkeling sebelumnya, om yus yakin kalau kami bisa belajar diving dengan cepat. Kebetulan om yus ini adalah seorang instruktur diving dan memiliki kerjasama dengan dive center di Tobelo. Sehingga saat kami berangkat, seperangkat perlengkapan diving telah siap di kapal…wiiy asiiik

pulauto2
kapal dan perlengkapan diving lengkap sudah siap

Di pulau Kakara, kapal kami tambat tak jauh dari pantai. Siang itu kami sudah puas snorkeling menikmtai keindahan bawah laut yang menawan. Kami diperkenalkan dengan peralatan diving, cara menggunakannya dan instruksi sederhana saat diving. Ada tabung oksigen, selang pernapasan, rompi yang dapat menggelembung dan pemberat (saya ga tau nama-nama alat ini dalam bahasa yang lebih resminya). Penjelasan singkat ini berusaha kami pahami dengan setengah degdegan karena akan menjadi pengalaman pertama untuk melakukannya (bagaimanapun yang namanya pengalaman pertama pasti degdegan dan over exciting).

Kesempatan pertama mencoba adalah aku…yeeeeeiiiii

Degdeg ser banget ni, ketika ikat pinggang yang ditempeli pemberat, rompi berikut tabung oksigen dikenakan ke badan, berat yaaaa…..google dan fin sudah terpasang, dan bersiap duduk di tepi perahu. Om yus mencontohkan cara terjun ke laut dengan hadap belakang, pegang kepala dan menekan google, lalu byuuuuurrr….tak melakukan banyak pergerakan, badan saya langsung mengambang, karena memang rompi sudah diisi udara agar mampu mengambangkan badan.

Setelah bernapas dengan tenang menggunakan selang oksigen, perlahan-lahan saya mulai turun ke dasar laut. Om yus memang sengaja untuk membawa kami ke laut yang dangkal, mungkin Cuma 3 – 5 m saja.

Tenggelam pelan-pelan ternyata membuat saya panik. Walau bisa bernafas melalui oksigen, ternyata alam bawah sadar saya yang trauma kelelep masih belum bisa menerima, tiba-tiba badan saya berontak untuk naik ke permukaan, dan tanpa sadar saya melepas alat bantu napas yang ada di mulut. Begitu dipermukaan, om yus menenangkan saya, dan saya sudah tenang kembali, lalu kembali mengatur napas dan coba untuk menenggelamkan diri. Mengendalikan diri untuk tenang di dalam air ternyata tak semudah yang saya kira. Sekali lagi saya memaksa naik ke permukaan dan megap-megap panik karena kaget saya ada di dalam air. ternyata secara psikologis saya belum siap untuk menyelam. Perlu waktu bagi saya untuk sadar dan tenang dan meyakinkan diri bahwa saya aman dan bisa bernapas melalui alat bantu napas yang saya pikul, barulah setelah perlahan-lahan menenggelamkan diri, kami bisa turun kembali dan saya berusaha tenang. Kami turun kembali hingga ke dasar. Kaki saya sudah menjejak di dasar, dan om yus ada dihadapan saya, menginstruksikan untuk menirukan posisinya, bertumpu di lutut dan tangan dilipat di depan dada. Saya coba untuk tenang, bernapas secara biasa (walau rasa takut masih belum bisa hilang, apalagi saat melihat gelembung-gelembung udara berterbangan setiap saya bernapas). Lalu kami mulai berenang secara biasa bergerak perlahan dengan om yus berada bersisian dengan saya sambil terus menanyakan kondisi saya membentuk tanda ok (telunjuk dan jempol membentuk bulatan). Kami terus berenang dan saya berusaha untuk menstabilkan badan yang masih terombang ambing, antara terlalu tenggelam dan terlalu mengambang. Kami mulai turun lebih dalam, perlahan hingga akhirnya saya merasa telinga saya sakit seperti ditusuk-tusuk.

Diving
akibat Trauma jadi kembali naik ke permukaan

Sewaktu di atas memang sudah diperingatkan bahwa semakin turun kebawah, telinga akan terasa sakit, jadi kami sudah diberi solusi untuk mengatasinya. Awalnya saya bisa mengatasinya, dan kami kembali melanjutkan turun. Tapi semakin kebawah sakit di telinga kembali terasa, mungkin karena saya sedang batuk jadi telinga ikut bermasalah (pasca penerbangan Jakarta – Ternate, telinga saya sempat budeg agak lama, baru lega setelah makan siang, karena banyak pergerakan disekitar rahang). Kami tak meneruskan turun kebawah, tapi masih tetap di dasar untuk lebih membiasakan keseimbangan badan saat bergerak.

Ternyata saya cukup menikmati pelajaran pertama diving, walau hanya sebentar saja. Seandainya kondisi saya lebih sehat, mungkin bisa lebih dalam mengeksplorasi. Tapi walau sebentar lumayan membuat saya ingin mencoba lagi. Mungkin saya akan mempertimbangkan untuk belajar diving ya….

pulauto6
disini kami belajar diving
Iklan

6 pemikiran pada “Belajar Diving Versi Trauma Kelelep

    1. baru nyoba beberapa menit siy, tapi penasaran pengen coba lagi.
      kemaren itu nyobain diving untuk melawan trauma, ternyata sulit….tapi pengen coba lagi harus ikut kelas yang beneran sepertinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s