Mari Jo Ka Manado

DSC03748

Memenuhi keinginan lama untuk berkunjung ke Manado akhirnya terwujud, dalam rangkai perjalanan panjang menikmati Indonesia Utara yang rupawan, Manado adalah destinasi terakhir kami. Manado, Ibukota Sulawesi Utara, yang kawasannya meliputi keseluruhan kepulaaun di batas utara Indonesia, yang pastinya memiliki keistimewaan tersendiri sehingga saya memasukkan Mando dalam List wajib kunjung nomor wahid (walau kenyataannya dikunjungi belakangan) untuk menikmati Indonesia.

Menuju ke Manado dari Jakarta, ada beberapa pilihan yang dapat di ambil, yaitu terbang selama 3.5 jam atau berlayar dengan kapal pelni selama beberapa hari. Penginapa di Manado pun tak sulit, ada banyak pilihan, dari yang paling mahal berbintang-bintang hingga kelas losmen ga sampai 100ribu/malam, jadi tergantung pilihan aja siy mau penginapan yang seperti apa.

Manado memberikan paket kumplit dalam berwisata, apa yang ada disini pastilah menarik. Orang Manado dikenal dengan tampan dan cantik, tak dipungkiri memang orang yang kami temui disini didominasi berkulit putih, tinggi dan seronok. Keindahan alam dan kenikmatan kuliner Mandano,  tak usah di tanya lagi. Dari cantiknya Taman Nasional Bunaken dengan keindahan panorama bawah laut yang dapat dikunjungi dalam waktu 30 menit saja dari pelabuhan kota Manado, hingga keindahan dataran tinggi yang mengelilingi kota Manado, sebutlah kota Tomohon, Tondano, dan tempat-tempat cantik lainnya di dataran tinggi Minahasa, sungguh memanjakan mata untuk menikmatinya. Kuliner di Manado …hhhmmmm …..walau didominasi masakan non-halal bukan berarti yang halal tak menggugah selera. Sebagai penggemar berat makanan laut, saya sangat menikmati aneka masakan dari Manado,Ikan kuah asam dan kuah kuning adalah favorit saya, tak lupa juga ikan bakan dengan aneka sambal,  sebut saja dabu-dabu yang segar dengan irisan tomat, bawang dan cabai, rica-rica yang sllrruup…bikin nambah makan, sambal roa yang huuhhaah tapi ga berenti mengunyah. Masakan Manado sangat kaya rempah. Saya sebagai seorang yang doyan makan (ngaca liat body yang XL) selama ini masih menomorsatukan masakan dari ranah minang ( ya iyalah, secara dari lahir dah di cocolin dendeng balado buatan emak) yang gurih nikmat. Tapi begitu disuguhkan masakan manado….oohhhlalalaaaa…..lidah saya seakan menari kegirangan, merasakan kombinasi rempah yang berbeda yang tak biasa dilidah saya tapi dengan rasa yang begitu nikmat.Saya merasakan perbedaan antara masakan ranah minang yang ‘berat’ dengan kuah santan dan kari, dan masakan Manado lebih ringan tapi penuh rempah.

Perjalanan kami di Manado kali ini terjadi di awal tahun, yang artinya kota Manado sedang menikmati masa liburan panjang pasca perayaan tahun baru. Ternyata berkunjung di liburan tahun baru ke Manado adalah kesalahan besar, karena kota Manado dan sekitarnya cukup sepi. Rupanya bagi masyarakat Manado liburan Natal dan Tahun baru merupakan saatnya mudik, pulang kampung atau berlibur santai, sehingga banyak pertokoan tutup, sungguh sangat disayangkan. Walau demikian tak mengurangi kegembiraan kami menikmati Manado, karena kemanapun kami pergi, kami mendapatkan pesona tak terduga dari kota Manado.

Berwisata ke Manado, sudah dipastikan untuk dibawa menikmati keindahan dataran tinggi Minahasa, Kota Tomohon yang cantik dan sekitarnya. Sayangnya karena tahun baru, pasar ektrim yang terkenal di Tomohon tidak buka, padahal di pasar ini diperdagangkan daging-daging hewan yang tak biasa ditemui di daerah lain, seperti daging kucing dan kelelawar. Agak ngeri juga siy sebenarnya. Kota Tomohon berlatar gunung Lokon terlihat mirip dengan kota Bogor atau Bukit Tinggi yang sejuk, dan banyak bunga-bunga cantik sepanjang jalan, disini kami menikmati wisata rohani yang sungguh cantik sekali, komplek Vihara dan Bukit Doa.

Rintik hujan mengiringi kami memasuki kompek Vihara Budhayana, Pagoda Ekayana tampak menjulang tinggi . Ornamen-ornamen khas tiongkok mendominasi kawasan Vihara Budhayana. Pagoda 8 lantai yang paling mencolok, 18 patung Lohan atau Arhats; Pengikut delapan belas jalan Buddha berlatar gunung Lokon, Kuil Dewi Kwam In, Kurakura raksasa, dan kolam naga. Suasananya cukup tenang bagi umat untuk bermeditasi, mendekatkan diri dengan pencipta semesta.

DSC03647.JPG

Mobil kami terus mendaki di jalan yang basah usai hujan tak terlalu deras sore ini, suasananya terasa syahdu dan tenang. sore yang sejuk. kami melewati beberapa rumah besar yang digunakan untuk retreat hingga akhirnya sebuah tempat parkir yang lapang di penghujung jalan, mobil parkir disini. kemi berjalan santai dibawah rindangnya pohon yang masih menyisakan titik-titik air di ujung daunnya, di bawah kami tampak sebuah chapel cantik berbentuk dome ditengah hamparan pohon semanggi dengan bunga kuningnya. Di ujung sana terlihat, dibatas jurang, terlihat kota Manado hingga laut di mukanya.

Kami terus jalan kebelakang, hingga menemukan Goa Maria, didepannya terdapat goa yang merupakan akhir dari Jalan Salib yang dilengkapi dengan diorama sesuai dengan kisahnya. Sebuah amphitheater yang cukup luas juga tersedia untuk mendukung kegiatan ibadah di sini.

12565616_10208677939805792_2330673520758195179_n

 

Yang paling menarik perhatian saya ada Chapel cantik yang tadi kami lewati. tampak banyak sekali grup yang berfoto di depan chapel, padahal akan lebih cantik untuk memotretnya dari kejauhan dan menjadinya chapel sebagai latarnya. Kami cukup bersabar menunggu suasana sepi,hingga akhirnya gerimis membubarkan gerombolan orang yang berkerumun di depan Chapel, sehingga kami berhasil memotret sesuai yang kami inginkan.

Selain wisata rohani, tak lengkap bila tak berkuliner ria. kami diajak untuk menikmati kuliner di dua tempat yang sangat indah pemandangannya, membuat betah bersantai usai menikmati jamuan makan yang pastinya lezat sangat.

DSC03539

Makan siang kami di atas danau Tondano, pemandangannya sangat indah, membuat mata tak jemu memandang. Sambil menunggu makanan yang kami pesan, kami bisa santai menikmati udara sejuk, seandainya dibuat saung ala makanan sunda, pasti kita sudah leyeh-leyeh nikmat. Menu makan berupa ikan bakar, udang galah, semacam pergedel teri yang nikmat serta tak lupa perkedel jagung khas Manado. Sungguh paket jamuan lengkap yang menggugah selera.

DSC03594DSC03582

Ngopi sore yang nikmat kami lewati di Danau Linouw yang cantik, sungguh tak terduga ada tempat seelok ini di Manado. Sebuah danau dengan kandungan sulfur yang tinggi, terkadang warna airnya berubah sesuai dengan kadar sulfur yang terkandung, bisa berwarna biru, tosca atau putih. Danau cantik ini disulap menjadi tempat wisata kuliner. sebuah bangunan kayu disulap menjadi restoran yang mampu menampung cukup banyak pengunjung. Entry tiket seharga 35ribu dapat ditukar dengan segelas kopi nikmat, ditemani dengan pisang goreng lezat akan menjadi kombinasi yang sempurna sambil menikmati keindahan Danau Linouw.

Di sepanjang jalan yang kami lewati, ada satu rumah yang sangat menarik perhatian saya, rumah ini menggambarkan imajinasi masa kecil saya mengenai rumah idaman. Sebuah rumah batu dengan kolam ikan dan teratai-teratai kecil mengambang diantasnya berbunga merah cantik, berlatar bukit-bukit membiru. pemandangan rumah ini pernah menghiasi kamar tidur saya sedari kecil hingga remaja, sekarang entah kemana lukisan indah itu.

DSC03546.JPG

Rumah-rumah di Minahasa sangat khas. rumah panggung kayu. modifikasi terkini yang banyak ditemukan dijalan, lantai bawah dibangun rumah permanen dan lantai atasnya berupa rumah kayu asli. Kami mengunjungi salah satu kampung pengrajin rumah minahasa, yang menyediakan rumahkayu beragam ukuran, sesuai permintaan pembeli. Bentuk rumah yang unik ini, sungguhmembuat saya tertarik untuk membangun rumah kayu, seandainya punya lahan sendiri, mungkin saya tertarik membeli satu.

DSC03605

Di sisi utara kota Manado, tepatnya di Minahasa Utara, kami diajak untuk mengunjungi makam kuno yang terbuat dari peti baru atau Waruga di Airmadidi. Konon makam-makam batu ini merupakan makan nenekmoyang orang Minahasa, mayat dimasukkan ke dalam kotak batu dalam keadaan duduk (seperti bayi dalam kandungan) dan disimpan di masing-masing halaman rumah keluarga. Atas prakarsa pemerintah, akhirnya makam batu dikumpulkan disatu kawasan agar dapat terjaga. Selain komplek makam batu, di sebelah lokasi ini juga terdapat telaga Tumanenten, yang memiliki cerita hampir mirip dengan kisah Nawang Wulan. Air telaga yang bening dan segar dimanfaatkan juga oleh masyarakat sekitar untuk mandi dipancuran yang dibuatkan didepannya.

DSC03803DSC03799DSC03810

Setelah menikmati keindahan seputaran kota Manado, kami juga keliling kota. Ada begitu banyak gereja indah dikota Manado, salah satunya gereja yang memiliki menara lonceng peninggalan perang dunia kedua. Kawasan yang saat ini ramai dikunjungi adalah kawasan reklamasi pantai kota Manado telah ramai menjadi kawasan pertokoan dan kuliner. Icon kota terbaru Manado adalah patung Yesus Memberkati yang terdapat di dalam perumahan Citra, dan sebuah jembatan cable-stay yang baru saja diresmikan.

DSC0382312001_10208677940365806_3104884959703739934_n

Masih banyak yang belum sempat kami nikmati di Manado, mungkin ini pertanda panggilan untuk kembali lagi lain waktu dan kesempatan.

 

 

 

 

Iklan

5 pemikiran pada “Mari Jo Ka Manado

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s