JapanTrip – Shirakawa-Go

DSC04149

Pemandangan sebuah desa yang apik berlapis salju menarik perhatian saya saat melihat salah satu foto sample yang ada di dalam galery HP Sony yang saya beli setahun lalu. Pandangan pertama memang memberikan dampak yang dahsyat. Entah bergumam apa saya, saat menatap poto itu, sehingga akhirnya hari ini saya memiliki kesempatan untuk menikmati pemandangan yang sama, hanya minus tumpukan salju yang membeku, tapi  masih ada sedikit sisa salju yang berserakan.

Shirakawa go, demikian nama desa di lereng pegunungan Gifu, Jepang. Sebuah desa tradisional khas Jepang yang menjadi desa wisata. Untuk mencapai Shirakawa-go, jalur yang biasa ditempuh pengunjung adalah Kanazawa, Takayama dan Nagoya. Kami memilih Nagoya. Dari Nagoya ada dua trip menuju Shirakawa Go, jam 08.00 dan 09.00. pastikan untuk tiba minimal 15 menit sebelum keberangkatan, karena bis sangat tepat waktu.Telat semenit saja, jangan berharap bis akan menunggu, walaupun sebelum bergerak, pak supir akan memeriksa penumpangnya untuk untuk meyakinkan bahwa semua sudah duduk rapi dikursinya.

DSC_1813

Nagoya – Shirakawa go menggunakan Bis memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Tiket bus harus dipesan sehari sebelum di terminal bis Meitetsu, yang terletak disebelah stasiun Nagoya (tak terlalu sulit menemukan gedung Meitetsu begitu keluar dari stasiun Nagoya). Tiket seharga Y 3.600 / orang / trip, kami membeli langsung tiket pp, demi kemudahan kami melanjutkan perjalanan  ke kota berikutnya. Informasi akses menuju shirakawa go, dapat di lihat di sini http://shirakawa-go.org/en/access/ tentukan dari kota mana kamu akan memulai perjalanan. Ketiga kota penghubung memiliki keindahan dan kekhasan masing-masing, jadi pastikan untk meluangkan waktu menikmati satu hari di kota tersebut.

DSC_1756

DSC_1753.JPG

Bis yang kami tumpangi meluncur dengan kecepatan sedang di jalan bebas hambatan melalui bukit-bukit yang masih tertutup salju. Kami girang bukan kepalang demi pertama kali dalam hidup melihat salju teronggok beku sepanjang jalan. Perjalanan selama 3 jam menjadi tak terasa karena saya terlalu gembira menikmati pemandangan bukit beku bersalju. Hingga tibalah kami di tempat tujuan, Shirakawa Go

Sebagai desa wisata, shirakawa go sudah didesain senyaman mungkin untuk turis. Bis penghubung dari luar kota memiliki shelter khusus di parkiran luas yang sudah disediakan tak jauh dari Tourist Information Center. Bagi pengunjung luar negeri seperti kami, tujuan pertama adalah Tourist Information Center untuk mengambil map dan informasi yang kami butuhkan. Di tempat ini disediakan juga locker seperti di stasiiun bagi pengunjung yang akan menitipkan tas besar agar lebih nyaman berjalan kaki menikmati desa Shirakawa Go. Sebelum berkeliaran lebih jauh, kita melipir untuk makan siang dulu, dengan sekotak bento yang telah kita beli di stasiun Nagoya, agar tak lapar saat keliling nanti.

DSC_1760
Bento ; nasi ikan, perkedel kentang dan telur dadar

DSC_1757.JPG

Pintu masuk desa Shirakawa Go adalah sebuah jembatan gantung yang memisahkan desa Shirakawa Go dengan area parkir. Sungai di penghujung musim dingin terlihat kosong, mungkin airnya masih beku diatas sana (tengok ke atas bukit yang masih memutih tertutup salju). Di ujung jembatan kami menemukan gerbang memasuki desa Shirakawa Go…hooooreeeee

Sebuah desa yang nyaman, tak nampak banyak penduduk lokal berkeliaran atau sekedar duduk cari kutu di pojokan rumah (pemandangan biasa di beberapa desa adat di Indonesia). Rumah-rumah beratap jerami tebal tertata bersih dan rapi. Halaman depan berkolam ikan, dan tampak beberapa onggokan es serut memutih yang belum mencair. Wisatawan ramai memenuhi jalan, berkeliling dan potret-potret. Tentu saya juga tak ketinggalan untuk potret-potret, semua objek menjadi wajib di poto. Apalagi menemukan onggokan es serut putih yang untuk pertama kali dalam hidup bisa saya pegang, injak-injak, lompat-lompat dan kalo mau bisa guling-gulingan diatasnya (tapi dingiiiiiin). Gapapa dibilang norak, karena memang saya bahagia jadi orang paling norak yang ketemu sisa salju untuk pertama kali dalam hidup. Norak-norak bergembira ini akhirnya perlahan dapat dikendalikan, setelah tangan membeku karena pegang-pegang es serut untuk sesi poto.

DSC04109

DSC_1774

DSC04105

DSC04125Kami sangat menikmati berjalan santai keliling desa, hingga naik kesebuah bukit kecil yang menjadi spot penting untuk menikmati panorama seluruh desa. Dari atas bukit ini akan didapat pemandangan desa Shirakawa GO yang banyak beredar, salah satunya poto di galery HP-ku itu, dan dari sini juga bisa di dapat poto panorama yang ada di postcard. Lanscape desa Shirakawa Go dikelilingi bukit berlapis dengan pucuk biru putih diselubungi salju.

DSC_1807

DSC04154
di kelilingi bukit bersalju
DSC04146
as seen on postcard

Bagi pengunjung yang penasaran bagaimana bagian dalam dari rumah-rumah (Gassho) di Shirakawa Go, ada beberapa rumah yang difungsikan menjadi museum, dengan pengaturan ruang sesuai dengan fungsi sebenarnya dan dilengkapi dengan furniture pendukung. Salah satu rumah yang dapat dikunjungi pengunjung adalah Wada House. Sebuah rumah besar yang sebagian besar rumahnya difungsikan sebagai museum. Wada Gassho adalah rumah milik keluarga Wada. Sebagian rumah ini masih dihuni oleh pemilik rumah, ditandai dengan masih ada tempat sembahyang keluarga di tengah ruang. Rumah besar ini berumur 300 tahun sejak jaman periode Edo. Pada masa itu rumah ini sebagai rumah utama, memiliki fasilitas produksi sutra dan kantor perdagangan. Peralatan produksi sutra tradisional masih ditemukan secara rapi di susun di lantai loteng rumah, yang merupakan tempat produksi benang sutra.

DSC04159

DSC04173

Memasuki Rumah Wada yang besar, terlihat struktur bangunannyaterbuat dari kayu-kayu log besar yang dibuat tanpa paku, tapi menggunakan semacam tali jerami, mengikat dengan rapi pada setiap penyatuan dua balok atau batang besar. Atap rumah yang terbuat dari jerami yang cukup tebal mampu menahan lapisan es yang berat saat musim salju. Arsitektur rumah wada mampu menahan hangat rumah saat musim dingin, dan cukup sejuk di musim panas. Pada lantai dasar terdapat beberapa ruang yang dipisahkan dengan dinding kertas dan di lantai loteng berupa ruang besar tanpa sekat. Terlihat dengan jelas susuan kayu utuh sebagai kuda-kuda yang menyangga atap yang cukup berat.

DSC04181.JPG

Sisa waktu kami di Shirakawa Go, kami nikmati dengan berjalan santai disepanjang jalan utama yang di kedua sisi jalan terdapat penjual souvernir. Toko-toko souvernir ini menggelar dagangannya dengan rapi di luar toko, dan lebih banyak lagi souvernir menarik di dalamnya. Beberapa souvernir khas Shirakawa adalah kerajinan anyaman bambu yang bisa juga kita temukan di Indonesia. Anyaman bambu ini dengan cantik menjadi topi caping, tas cantik dan lainnya.

DSC04201

DSC04161

Menjelang sore kami kembali menuju parking area, sebentar lagi bis kami datang, jangan sampai terlambat, karena bis tepat waktu dan tak menunggu penumpang yang telat.

Info Shirakawa Go langsung klik link di bawah ini

 

http://shirakawa-go.org/en/

http://www.japan-guide.com/e/e5951.html

Iklan

3 pemikiran pada “JapanTrip – Shirakawa-Go

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s