JapanTrip – Kyoto #1

DSC04285

Beberapa gadis berkimono cantik berdiri berjajar disebelahku, sambil sesekali berguyon mereka tampak cantik dalam balutan kimono bermotif bunga-bunga. Kami sama-sama sabar menanti di batas pedestrian persimpangan besar stasiun Kyoto, menanti lampu merah berganti hijua bersinar untk pejalan kaki. Aku melirik memperhatikan mereka yang tampak ceria dalam balutan kimono yang rapat dan beralas sendal kayu. Pastinya tak mudah bergerak lincah, tapi sepertinya tak menjadi masalah bagi nona-nona  cantik disebelah saya ini. Pemandangan yang kontras di pagi pertama yang cukup dingin di tengah kota kyoto yang metropolis.

Lampu telah berganti menjadi hijau, persimpangan besar itu langsung dipenuhi pejalan kaki lalulalang dengan langkah panjang dan tergesa, seakan menarikku untuk memperpanjang dan mempercepat langkah. Tujuan kami adalah terminal bis yang berada persis di depan stasiun besar Kyoto. Berdasarkan informasi petugas hostel tempat kami menginap, kami bisa menggunakan bis no. 5 jalur coklat muda. Bis tersedia setiap 30 menit.

Diantara deretan no. bis yang tersedia, akhirnya kami menemukan no. bis yang kami tuju. Sebuah antrian panjang mengular dan tertib, dimulai persis dari no. bis dengan tujuan Fushimi Inari, sepertinya banyak juga yang akan mengunjungi Fushimi Inari pagi ini. Kami bergabung dalam barisan mengular menjadi penumpang paling belakang dan turut berbaris tertib satu baris berbanjar kebelakang. Tak lama menunggu bis yang kmi nantikan menunjukkan bentuknya dan parkir didepan barisan. Dengan diarahkan seorang petugas, satu demi satu penumpang mulai memasuki bis. Barisan mulai beringsut maju perlahan. Kami baru sampai ditengah barisan, dan bis terlihat sudah penuh, pertanda kami tidak akan terangkut dalam bis, dan benar saja, pintu bis sudah tertutup, dan kami menatap nelangsa bis yang perlaham meninggalkan kami. Waduuuh….gawat ni kalo harus menunggu 30 menit lagi, akan semakin kesiangan kami tiba di Fushimi Inari.

DSC_1826.JPG
Antrian mengular menunggu bis menuju Fushimi Inari, dari barisan belok itu masih panjang antriannya (mukanya udah cukup shock belum ???)

Tiba-tiba saya teringat pesan kaka petugas hostel tempat kami menginap, bahwa menuju Fushimi Inari selain baik bis juga bisa menggunakan kereta local tujuan Nara. Serta merta kami langsung ngibrit kabur berlari ke stasiun besar Kyoto yang berada persis di depan terminal bus. Berjalan cepat naik turun tangga melalui underground mall penghubung antara terminal bis dan stasiun besar kyoto, akhirnya kami berhenti di depan sebuah vending mechine. Sebagaimana ritual ketika berhadapan dengan vending mechine yang dipenuhi dengan huruf kanji yang tidak dimengerti, mata kami jelalatan mencari sebuah tombol bertuliskan ‘English’ dan klik…..tadaaaa….informasi di layar monitor vending mechine berubah menjadi bahasa Inggris (wooooww….mangiiiiic….’supernorak mode on’). Setelah paham dalam sekelebat, akhirnya kami berhasil mendapatkan tiket tujuan stasiun Inari, dan kereta akan berangkat dalam 5 menit dari sekarang….whaaaaat ????…..maka berlarilah kami tancap gas, semacam dikejar setan disiang bolong,  mana peronnya jauh banget diujung dan harus naik eskalator menyeberangi beberapa peron di dalam stasiun besar Kyoto yang sungguh sangat besar dan bikin ngos-ngosan melintasi ujung satu ke ujung lainnya. Begitu tiba diperon, kereta tujuan Nara sudah menunggu dan besiap untuk berangkat, kami langsung masuk hup, dan tak lamapun kereta langsung berangkat…hiuuuufft nyaris saja saudara-saudara.

Stasiun Inari hanya berjarak dua stasiun saja dari stasiun Kyoto, kan tak seberapa lama perjalanan diatas kereta, kamipun tiba di Stasiun Inari. Lebih dari 50% penumpang turun disini, ternyata banyak banget yang mau berkunjung ke Kuil Fushimi Inari pagi ini, padahal bukan hari libur.

Mengikuti arus penumpang yang bergerak tertib  keluar stasiun, ternyata Fushimi Inari berada persis di hadapan stasiun Inari. Pantas saja pengunjung tampak langsung berpose-pose dan berpoto di gerbang besar Fushimi Inari.

DSC04221

Sungguh senang hati, pagi ini kami di halaman salah satu Unesco Heritage Site, yang pagi itu sudah ramai lalulalang pengunjung. Diantara ramainya pengunjung, yang paling mencuri perhatian adalah sekelompok gadis-gadis berkimono cantik. Inilah membedakan kyoto dari kota lainnya di Jepang, gadis-gadis cantik berkimono dapat ditemui dimana saja. Sekelompok Gadis berkimono tampak tertatih menaiki tangga gerbang Fushimi Inari, karena kain kimono yang ketat menyulitkan langkah. Walau keterbatasan gerak menggunakan kimono, tak membuat mereka kehilangan keceriaan. Sesekali tampak mereka berpose untuk berfoto, sehingga tak harus curi-curi pandang bila hendak memotret mereka. Bahkan mereka juga tak keberatan untuk diajak berfoto bersama, sehingga kesempatan berfoto ini tak saya lewatkan untuk berfoto bersama saat di gerbang masuk Fushimi Inari.

Fushimi Inary tak memungut bayaran tiket bagi pengunjung, bahkan dibalik gerbang masuk, kami menemukan meja informasi yang memberikan peta kawasan Fushimi Inari dengan beberapa pilihan bahasa dan juga ada petugas yang menguasai bahasa inggris yang baik menjelaskan kawasan Fushimi Inari.

DSC04249

Fushimi Inari terbagi dalam 2 area; Area Pertama adalah area muka, dengan Gerbang Masuk dan Kuil besar didalamnya. Dan area kedua adalah lintasan dengan gerbang merah disepanjang badan bukit Inari, mengular dari kaki bukit hingga ke puncaknya. Area ini merupakan area berziarah, karena di beberapa kuil kecil yang terdapat di sepanjang lintasan terdapat beberapa nisan. Tapi lintasan inilah yang menjadi target kunjungan, karena gerbang merah yang mengular ini adalah ciri khas Fushimi Inari yang sangat cantik untuk berfoto.

Halaman kuil utama Fushimi Inari ramai pengunjung, ada yang khusu’ berdoa, ada yang sekedar berfoto-foto, ada juga yang sibuk berkeliaran. Kami melakukan kombinasi ketiganya; berkeliaran, berfoto dan mengikuti ritual doa. Ritual berdoa di Fushimi Inari dapat dilakukan dengan cara mengikuti petunjuk yang terdapat pada leaflet yang tersedia di meja informasi. Berdiri di bawah salah satu lonceng, lemparkan sekoin yen, tepuk tangan 3x, berdoa, ditutup dengan menarik tali lonceng, selesai.

DSC04232

DSC04356

Selanjutnya kami melajutkan menuju gerbang-gerbang merah yang menjadi ciri khas Fushimi Inari. Gerbang sepasang rubang menyambut kami ketika memasuki gerbang merah yang berbaris rapi membentuk lorong merah yang disebut ‘Torii’ . Setiap Torii bertuliskan anea doa dalam bahasa kanji, konon setiap doa yang dituliskan pada Torii akan terkabul. Melewati barisan Torii, kami seperti giring kedalam untaian doa yang sangat panjang, memerlukan ketekunan dan kesabaran.

DSC04262

DSC04346

DSC_1849
gadis berkimono yang bersedia untuk berpose

Ramainya pengunjung memadati lorong di dalam Torii membuat kami harus bersabar untuk berfoto demi mendapatkan lorong yang terlihat kosong. Pengunjung tidak bisa berhenti mendadak untuk berpose, karena akan menyebabkan kemacetan didalam lorong Torii, karena pengunjung di belakang kita akan sertamerta berhenti memberi kesempatan untuk kita berfoto, jadi jangan egois dan semena-mena memanfaatkan kebaikan hati pengunjung yang bersabar menunggu kita berfoto. Jadi apabila hendak berfoto, segeralah melipir menempel ke pilar Torii untuk brhenti, sehingga tidak mengganggu pengunjung lainnya.

DSC_1863
harus bersabar untuk dapat lorong yang kosong dan jaga jarak dengan pengunjung dibelakang supaya tidak bikin macet

Perlahan tapi pasti kami terus mendaki tiap anak tangga. Pengunjung yang mendaki keatas semakin sedikit, tereliminasi dengan kesabaran dan ketekunan untuk terus mendaki. Semakin ke atas pepohonan di sekitar kami dipenuhi pohon pinus berbatang besar. Sepertinya batang pinus itulah yang  digunakan sebagai gerbang Torii. Udara dingin yang menusuk tak lagi mengganggu karena kami sudah kegerahan karena harus terus mendaki. Perjalanan 2 jam mendaki akhirnya mengantarkan kami tiba di puncak gunung Inari yang ditandai dengan sebuah kuil kecil untuk sembahyang dan sekelompok nisan.

DSC04323
pohon pinus besar-besar
DSC04330
plat puncak gunung Inari

Kami kembali ke puncak panorama atau puncak palsu (karena banyak yang menyelesaikan pendakiannya disini untuk menikmati pemandangan kota Kyoto) untuk rehat sejenak. Sewaktu mendaki, saya sempat takjub melihat pengujung yang bersantai sambil menikmati ice cream cone di hari yang menurut saya dingin (menatap jaket yang membungkus rapat baju berlapis di dalamnya dan syal yang menggelung di leher). Tapi ketika turun dari puncak dan kembali di puncak panorama, saya mengerti alasannya, sehingga sayapun membeli sebuah ice cream cone greentea sambil santai menikmati panorama pemandangan kota Kyoto. It’s a perfect moment to enjoy your journey.

DSC04315

DSC04345
menikmati ice cream di pegunungan Inari di penghujung musim dingin
DSC04312
puncak panorama gunung inari

Perjalanan turun tidak sesulit saat mendaki. Kami memilih rute berbeda demi mencari suasana yang beda. Pilihan kami tak salah. Kami mendapati beberapa kios souvernir cantik, dan seperti biasanya saya membeli postcard untuk dikirim ke rumah. Kejutan lain yang kami dapati di jalur ini adalah serumpun sakura yang berbunga cantik.

DSC04349

 

http://inst.uno.edu/japan/docs/bus_navi_en.pdf

http://hellokcb.or.jp/eng/download_centre/img/map_of_kyoto_j.pdf

http://www.jrpass.com/images/map/map_kyoto_metro.pdf

http://kyoto.travel/en/shrine_temple/180

http://www.insidekyoto.com/kyoto-itineraries

Iklan

2 pemikiran pada “JapanTrip – Kyoto #1

    1. kebanyakan yang berkimono memang turis, bukan penduduk asli…hehehee
      tapi kebetulan turisnya berwajah mirip jepang, mungkin korea,jadi masih cocoklah dipoto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s