JapanTrip – Kyoto #2

DSC_1909

Usai menikmati Fushimi Inari yang mempesona, kami melanjutkan perjalanan menuju Arashimaya. Dengan dibantu petugas stasiun yang baik hati yang dapat berkomunikasi bahasa inggris cukup baik, mengarahkan kami saat membeli tiket di vending mechine dan menginformasikan untuk berpindah peron saat transit di stasiun Kyoto, jadi memudahkan perjalanan kami disiang ini.

Stasiun Arashimaya tampak tak terlalu ramai, stasiun yang kecil di tengah komplek perumahan. Agak meragukan harus melangkah kemana, hingga kami menemukan sebuah peta besar kawasan Arashimaya di halaman stasiun yang terdapat kursi-kursi santai. Kami berusaha memahami lokasi dan kemana kami akan menuju, karena ada beberapa spot menarik disini.

DSC_1888

Pergerakan satu arah dari penumpang yang keluar dari stasiun menjadi petunjuk agar kami mengikutinya. Melalui kawasan perumahan yang rapi hingga akhirnya kami bertemu rombongan wisatawan lainnya dan lagi-lagi gadis berkimono tampak berseliweran. Lingkungan Arashimaya yang berada di pinggiran kota Kyoto yang metropolis sangat serasi dengan gadis berkimono, tak ada gedung tinggi tapi dengan pedestrian yang nyaman. Tujuan kami sama, yaitu hutan bambu atau yang lebih dikenal dengan bamboo groove / bamboo forest.

DSC_1877

Rimbunan pohon bambu yang tinggi tampak menyapu langit. Batang-batang pohon bambu yang besar dan kokoh bergerak sesuai dengan arah angin. Apabila angin bertiup, akan terdengar gemerisik suara khas yang dihasilkan dari celah pohon bambu berpadu dengan dedaunan. Jalan setapak yang rapi dan teduh di dalam rimbunan pohon bambu dibuat sangat nyaman dan cukup lapang, sehingga memungkinkan pengunjung yang ramai untuk menikmati hutan bambu. Menyusuri hutan bambu yang tak terlalu besar ini sangat mengasikkan, terutama karena kami berpasan dengan segerombolan gadis berkimono yang tampak sibuk berfoto. Kehadiran gadis-gadis berkimono ini menjadi objek yang cantik di tengah hutan bambo. Beberapa gadis berkimono tampak bersuka cita ketika diminta untuk bergaya menjadi model dadakan untuk dipoto wisatawan.

DSC_1881

Selain keindahan rimbunan bambu, di tengah hutan bambu ini juga terdapat sebuah kuil kecil yang cukup ramai dikunjungi. Kami sempat mampir untuk melihat,tapi tak berlama-lama. Tampak beberapa pengunjung beristirahat santai disekitar area kuil, lainnya tampak sibuk bersembahyang di dalam. Sebenarnya ada beberapa kuil yang cukup besar berada tak jauh dari hutan bambu Arashimaya, tapi kami tak mengunjunginya, karena hari sudah sore,jadi kami lebih menikmati jalan santai di alam bebas saja.

DSC_1887

DSC_1903

Dipenghujung hutan bambu kami memasuki sebuah taman yang cukup besar; Kameyama Koen Park namanya. Sayangnya saat ini masih dipenghujung musim dingin, sehingga pohon-pohon dan bunga masih kuncup, seandainya sebulan lagi, pasti taman ini akan terlihat lebih semarak berwarna warni dipenuhi bunga. Menyusuri taman yang indah membawa kami hingga tepi sungai Arashimaya.

DSC04371

Beberapa ekor bebek / belibis terapung anggun mengikuti arus sungai Katsura. Sungai besar ini merupakan salahsatu icon wisata di Arashimaya. Tepian sungai yang tertata rapi nyaman untuk menikmati sungai. Terdapat beberapa kapal kayu bersandar, karena sudah sore tak ada aktifitas, seandainya saja lebih siang tiba disini masih tersedia perahu untuk menikmati sungai. Sebuah jembatan besar membentang diatas sungai. Jembatan panjang ini sudah berdiri semenjak lama, sewaktu jembatan masih kayu pun daerah ini sudah ramai. Ditengah sungai besar ini terdapat pulau-pulau buatan yang difungsikan sebagai tempat rekreasi. Kami berjalan santai menuju seberang dan menemukan toko-toko souvernir dengan dagangan yang cantik menawan (gigit dompet demi menahan diri dari belanja-belanja). Suasana menjelang senja ini sangat romantis. Seandainya saja suhu udara lebih bersahabat (rapatkan jaket dan syal agar lebih hangat menahan hembusan dingin angin ditengah jembatan), pasti asik sekali duduk-duduk santai di tengah pulau yang menyediakan banyak bangku taman dibawah pepohonan rindang. Menjelang senja lampu-lampu mulai dinyalakan, menambah semarak suasana.

DSC04390

Menjelang malam kami berpindah menuju kawasan Gion. Dengan menggunakan bis kota seharga Y230, kami menikmati perjalanan melintasi kota yang ramai disore hari. Kami turun di kawasan Pertokoan ramai, Kawaramachi. Berjalan disepanjang jalan Kawaramachi yang dipenuhi pertokoan sungguh sangat seru sekali, untuk pejalan dengan kantor kering seperti aku siy sangat menikmati liat sana sini, karena sadar dengan kemampuan beli (gigit kartukredit). Menuju kawasan Gion dari Kawaramachi tak terlalu jauh, sekitar 20 menit berjalan santai.

Gion terkenal dengan kawasan eksotis di Kyoto, konon katanya bila beruntung bisa berjumpa Geisha yang melintas menuju tempat tugas. Ditempa ini juga terdapat tempat pertunjukan seni untuk Geisha,atau menikmati pertunjukan seni khas Jepang dan di kawasan ini lengkap juga dengan bar dan café yang buka menjelang malam sekali. Kami ke kawasan Gion bukan untuk menikmati pertunjukan malam, tapi disini ada ramen halal yang bikin penasaran. Sebagai traveller muslim, menemukan petunjuk tempat makan halal semacam menemukan oase di tengah gurun (berlebihan ga perumpamaannya ???). Dibela-belain banget untuk melipir ke kawasan ini demi mencoba ramen halal di penghujung winter yang sangat dingin.

Warung kecil mungil yang nyelip diantara café dan bar dengan tulisan halal diatasnya. Ketika kami masuk dan mencari tempat, ternyata sudah penuh terisi, sehingga kami yang baru datang, harus menunggu  diluar kedinginan. Pengunjung yang tak kebagian tempat duduk, harus menunggu diluar, agar pengunjung yang sedang bersantap tak terganggu kenyamanannya saat bersantap. Dengan sabar kami harus menunggu pengunjung selesai menyantap ramen dan bergantian mengisi tempat. Menunggu lumayan lama juga, hingga akhirnya sekelompok pengunjung keluar dari warung, akhirnya kami bisa masuk ke ruang hangat yang wangi dengan aroma ramen.

DSC_1917

Harga ramen di toko kecil ini lumayan berat dikantong (khususnya dibandingkan dengan harga di Indonesia ya), tapi demi mencoba ramen asli dari jepang dan halal, jadi direlakan saja. Kami memesan masing-masing seporsi. Proses memasak ramen tak selama kami mengunggu diluar. Ketika semangkok hangat ramen hangat terhidang, langsung saja kami bersantap. Alhamdulillah, ramen hangat sangat cocok sekali dengan udara dingin malam di Kyoto.DSC_1921

Usai bersantap, kami berjalan santai menyusuri gang-gang di seputaran gion. Tampak penerima tamu yang sangat rapi berjajar rapi di muka pintu menyambut kedatangan tamu. Dingin udara malam dipenghujung winter tak menggentarkan mereka untuk tetap berdiri rapi di luar menantikan tamu-tamu yang hendak berkunjung. Kami kembali ke penginapan dengan berjalan kaki, ga santai juga tapi lumayan menghangatkan badan.

 

 

http://www.insidekyoto.com/arashiyama

https://meetkyoto.jp/en/wp-content/themes/mice_en/pdf/guidebook-E13.pdf

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s