JapanTrip – Kyoto #3

DSC04411

Hujan sedari semalam belum menunjukkan reda, sungguh malas sekali harus keluar dari penginapan yang hangat dan berjalan hujan-hujanan sepanjang pedestrian disuhu kurang dari 10′ C. Seandainya saja tak mengingat banyaknya tempat yang ingin kami kunjungi dalam perjalanan singkat selama di Jepang, pastinya akan memilih cuma leyeh-leyeh bermalasan di ruang rekreasi yang nyaman dan  hangat.

Melapis badan dengan beberapa lapis baju dan jaket hangat, sarung tangan dan payung untuk melindungi diri dari terpaan udara dingin dan hujan gerimis yang tak kunjung reda akhirnya kami keluar dari penginapan dan melangkah dalam hujan. Hujan dan dingin ternyata tak menyurutkan langkah warga untuk berakhifitas, terlihat antrian mengular saat kami tiba di terminal bis. Kami bertujuan mengunjungi Kyomizu-dera Tample yang berlokasi di atas bukit tak jauh dari kota Kyoto dan terkenal dengan kuil tua dan pepohonan cantik disekitarnya. Kami menyambung barisan antrian bis yang telah mengular. Ternyata tak terlalu lam menunggu, Antrian tertib penumpang berlahan bergerak seiring datangnya bis yang dinanti. Kami berhasil masuk bis yang kedua.

DSC_1980

Bis kota di Kyoto menyediakan daily pass yang bisa dibeli di stasiun, minimart atau penginapan, seperti kami yang membeli daily pass bus di penginapan. Peta rute bis disertakan dengan tiket daily pas yang kami beli, sehingga bisa menentukan bis apa yang akan dinaiki untuk menuju suatu destinasi. Dailypass ini kami beli seharga Y500 dan bisa digunakan sepanjang hari naik turun bis berkali-kali, sangat menghemat karena sekali naik bis, biasanya kami membayar seharga Y230. Waktu tempuh bis rata-rata hampir sama, di shelter bis dapat dilihat waktu ketibaan bis yang tepat waktu, tak meleset semenitpun. Sesaat sebelum bis merapat, biasanya penumpang sudah rapi antri membentuk satu garis lurus. Penumpang yang turun akan mengunakan pintu depan dengan menunjukkan kartu daily pass atau membayar sesuai tarif, dan penumpang yang naik akan menggunakan pintu tengah, sehingga tak bertabrakan antara penumpang naik dan turun.

Kami tiba di shelter menuju Kyomizu-dera tample. Hampir setengah penumpang bis turun disini. Hujan gerimis sepertinya tak henti membasahi bumi, sehingga payung warnawarni meriah dari para pengunjung tampak ramai berbaris berjalan menuju gerbang Kyomizu-dera Tample. Dari jalan raya, kami masih harus berjalan memasuki jalan kecil menanjak. Sepanjang jalan tampak warung-warung kecil penjual souvernir khas yang sangat menarik untuk dikunjungi. Suasana hujan tak memupuskan keinginan pengunjung untuk mengenakan kimono-kimono cantik, malah terlihat semakin menarik melihat mereka dibalik payung transparan yang melindungi dari guyuran hujan.

DSC_1926

Kyomizu-dera temple merupakan kuil budha yang berdri sejak abad ke 8, dan direnovasi kembali pada abad 18. Bangunan besar setinggi bangunan 7 lantai ini terbuat dari kayu besar. Pengunjung tidak memasuki bangunan dari bawah, tapi langsung di lantai paling atas yang berupa balkon besar dengan pemandangan warna-warni pohon yang indah. Untuk melihat bangunan dalamnya, pengunjung dapat masuk melalui pintu khusus untuk berdoa, sehingga tak sembarangan orang boleh masuk. Disetiap sudut tersedia dupa untuk berdoa dan tampak ramai dikelilingi pengunjung yang tampak khusuk. Kami tak berlama-lama disini, karena hujan tak kunjung berhenti, sehingga tak bisa berleluasa menikmati kuil tua ini. Pemandangan terbaik untuk menikmati kyomizu-dera adalah sewaktu senja, dimana pemandangan kota kyoto akan nampak bercahaya, dan langit merekah dengan warna yang indah.

DSC04413

DSC04404

 

Selanjutnya kami bergegas menuju Ginkakuji Tample, dengan menumpang bus yang membawa langsung menuju kawasan tengah kota. Ginkakuji tample terletak dikawasan yang sejalan dengan Philosophers Walk yang terkenal di Kyoto. Di sepanjang philosophers walk ini terdapat banyak kuil-kuil indah.

Ginkaku-ji Tample merupakan rumah peristirahatan Shogun Ashikaga Yoshimasa yang dibangun pada tahun 1482, dan dibangunan menyerupai Kinkakuji yang merupakan milik kakeknya. Yang unik dari tempat ini adalah lorong masuk yang hijau dan dry garden berupa gundukan pasir yang dibentuk kerucut atau disebut ‘Moon Viewing Platform’.

DSC_1983

DSC_1991

DSC_1999

DSC_2004

Taman di Ginkakuji ini sangat cantik sekali, ditata dengan sangat rapi sehingga pengunjung dapat menikmati pemandangan taman khas jepang dengan kolam dan tanaman-tanaman khas Jepang. Di halaman belakang terdapat bukit kecil, dan pemandangan kota Kyoto dapat dilihat dari sini.

Usai menikmati keindahan Ginkakuji, kami melanjutkan berjalan kaki santai sepanjang Philosopher’s path. Philosoper’s paht ini salah satu jalan yang wajib dikunjungi saat di Jepang. Jalan phenomenal ini merupakan rute perjalanan Philosopher terkenal Nishida Kitaro menuju Kyoto University. setiap hari melalui jalan yang rindang dan indah ini. saat ini disepanjang jalan dapat dijumpai cafe dan toko-toko cantik. Kanal kecil ditengah jalan menambah keastian jalan yang dipenuhi pohon-pohon sakura sepanjang jalannya.

DSC_2017

DSC_2022

Sebenarnya siang ini kami akan melanjutkan untuk melihat Kyoto Palace, tapi ada informasi yang kurang kami pahami, sehingga kami tidak dapat berkunjung. bagi pengunjung yang berminat untuk mengunjungi Kyoto Palace, sebaiknya melakukan registrasi sehari sebelumnya. pendaftaran dapat dilakukan secara online atau datang langsung di information center yang terletak tak jauh dari gerbang masuk. akhirnya kami hanya berkeliling halaman luar saja, dan melanjutkan untuk menuju kawasan Kawaramachi yang terkenal dengan pertokoan Kyoto.

Untuk diketahui bahwa Kawaramachi ini sangat menyenangkan bagi penggemar shopping, semacam kawasan Melawai jaman dahulu kala, dimana pertokoan dengan merk-merk terkenal berjajar rapi dan mengundang pengunjung untuk mampir. Tujuan utama kita bukan shopping di pertokoan keren tadi, tapi pasar tradisional bernama Nishiki Market, dan kawasan pertokoan seperti pasar baru Teramachi dan Shin-Kyogoku Shopping Archade. Nishiki Market merupakan pasar tradisional jepang yang menjual aneka jenis ikan, sayur dan penganan kecil khas Jepang. kami membeli jajanan semacam otak-otak yang lezat, karena tertulis didepannya ‘we do not use pork or beef in our food at all’, jadi bisa yakin makan tanpa rasa bersalah. Selain melihat-lihat pasar tradisional kami juga menikmati pertokoan Teramachi dan Shin Kyogoku yang menjual aneka oleh-oleh dengan harga yang cukup terjangkau. aneka jenis souvernir dapat dicari disini. Kalau tidak kuat menahan diri, pasti akan kalap belanja barang-barang lucu dan unik khas Jepang.

Malam semakin larut dan kaki sudah menjerit kecapean, jadi kami mengakhiri perjalanan kami menikmati kota Kyoto disini. Sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama, demi menikmati kota Kyoto dengan lebih santai, tapi pasti akan adalagi waktu dan kesempatannya.

 

Kyomizudera tample : http://www.japan-guide.com/e/e3907.html

Ginkakuji Tample : http://www.japan-guide.com/e/e3907.html

Iklan

2 pemikiran pada “JapanTrip – Kyoto #3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s