JapanTrip – Heritage Walk Nara

dsc04726
Kota Nara dengan Rusa sebagai lambangnya

Nara merupakan kota kecil yang tak jauh dari kota Osaka. Kota yang cukup nyaman, mengingatkan saya pada kota Bogor yang tak jauh dari Jakarta dengan kijang yang ramai menghuni halaman Istana Bogor.

Nara – Heian Kyo merupakan ibukota Jepang pada masa 710-794 dibawah kekuasaan Kaisar wanita Genmei. Fujiwara Nofuhito berperan besar dalam pemindahan ibukota ke Nara, dengan desain mengikuti ibukota Tiongkok di Chang’an. Nara dibangun sebagai kota pemerintahan dengan sebagian besar penduduknya merupakan pegawai pemerintah. Walaupun ibukota Jepang berpindak berkali-kali, kuil Todai-ji dan Kofuku-ji tetap merupakan kekuatan politik yang berpengaruh, sehingga Nara disebut sebagai Ibukota Selatan (Nanto). Melihat sejarah besar kota Nara, maka kedua kuil tersebut akan menjadi destinasi utama kami di Nara.

Sesuai dengan sejarah yang terpatri pada kota Nara, maka tepatlah bila kami memilih Nara untuk menikmati Heritage walk, blusukan ke perumahan peninggalan masa Edo hingga kuil-kuil kuno yang masih berdiri dengan gagah dan ramai dikunjungi. Berikut adalah rute perjalannya

Nara Park

Taman besar ditengah kota, itulah Nara Park, disinilah rumah dari ratusan mungkin ribuan kijang yang bebas berkeliaran hingga diluar kawasan Nara Park. Begitu keluar dari stasiun Kintetsu Nara, dengan berjalan kaki tak berapa jauh, kita akan tiba di Nara Park. Kawasan Nara Park ini melingkupi beberapa kuil besar dan tertua, yiut Toda-ji, Kofuku-JI, Kagusa Taisha dan Museum Nasional Nara.

Nara Park dibangun pada 1880 dengan luas 502 ha. Selain taman dengan pohon-pohon besar juga terdapat danau. Di awal bulan Maret ini kami beruntung karena mendapati bunga-bunga sakura yang mulai berkembang, sehingga bisa berpoto-poto cantik berlatar bunga khas Jepang yang sangat menawan.

Santai di Nara Park juga menjadi salah satu kegiatan yang menyenangkan, setelah seharian berjalan kaki blusukan kota Nara. Ada beberapa kios meniman dan penganan kecil di beberapa sudut jalan. Bahkan kami menemukan penjual ubi bakar khas jepang di pojokan Nara Park dalam perjalanan kami menuju Kagusa Taisha,lumayan untuk mengganjal perut dan menghangatkan badan ditungku ubi.

Bagi pengunjung yang ingin mencoba menaiki Ricksaw khas Jepang, ada pojokan pangkalan Ricksaw di ujung jalan menuju Todai-ji. Bila beruntung ada beberapa pemuda tanggung yang siap untuk menarik ricksaw mengantar kita ke tujuan yang diinginkan.

DSC_2233

 

Kofuku-ji Temple

dsc04594dsc04637dsc04650

Melintasi taman Nara kami menuju Kofuku-ji Temple yang berada disebelah taman Nara. Seekor kijang menyambut kami di gerbang dan beberapa ekor lainnya tampak sedang bersantai menikmati kehangatan sinar matahari di akhir musim dingin yang masih membeku.

Sebuah bangunan pagoda megah berwarna gelap menjulang, beralas pasir yang lembut kami memasuki bagian tengah kuil Kofuku-ji. Seekor kijang tampak seperti penerima tamu, menatap kedatangan kami dan mempersilahkan kami memasuki halaman untuk menikmati keindahan arsitektur abad ke 8 yang masih dalam kondisi sempurna hingga dapat dinikmati saat ini.  Kuil Kofuku-ji merupakan kuil yang didirikan oleh Klan Fujiwara yang pernah berjaya pada masa 730,dan dihuni oleh hampir 150 bangunan disekitarnya, tapi saat ini hanya tersisa beberapa bangunan inti yaitu, the eastern Golden Hall, Pagoda 5 lantai, dan pagoda 3 lantai atau octagonal hall. Pagoda di Kofuku-ji ini menjadi landmark dari kota Nara.

Naramachi

DSC_2280.JPG
PInjam kimono di rumah jepang

Usai menikmati keindahan pagoda di kuil Kofuku-ji kami melanjutkan perjalanan menuju Naramachi – Kawasan perumahan khas jepang pada masa Edo. Berjalan di kawasan Naramachi sangat menyenangkan, karena lingkungan perumahan ini memiliki beberapa rumah-rumah dengan arsitektur khas pada masa Edo, bahkan  disini terdapat beberapa rumah yang dibuka untuk umum, sehingga kita dapat melihat jelas arsitektur rumah tradisional jepang dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Disalah satu rumah yang kami masuki, tersedia peminjaman baju kimono bagi perempuan. Pengelola rumah yang telah dialihfungsi menjadi museum ini, menjelaskan filosofi dalam lapisan-lapisan baju kimono dengan bahasa Inggrisnya yang cukup fasih. Dengan mengenakan kimono berwarna cerah ini, kita dapat berfoto-foto cantik di dalam rumah, salah satunya diruang anak perempuan yang terdapat banyak boneka jepang dan origami menarik.

dsc04670dsc04698dsc04714

Kasuga Taisha

Jalan setapak rindang bernaung pohon-pohon besar mengantarkan kami menuju gerbang besar Kasuga Taisha, sebuah kuil tua yang mengawali perpindahan ibukota Jepang ke Nara pada masa kekuasaan Kaisara Wanita Shotoko. Dibangun pada 9 November 768 oleh Fujiwara No Nagate yang saat itu berkuasa, dengan mengabadikan beberapa dewa; yaitu Futsunishi-no-kikota dari Katori Shrine dan Amenokoyane-no-mikoto dan Himegami dari Hiraoka Shrine.

Bangunan Kasuga Taisha Shrine yang berumur ratusan tahun sangat terawat, berkat perayaan Shikinen Zotai yang diselenggarakan setiap 20 tahun dan merenovasi dan mengganti semua intrumennya dengan yang baru.

Memasuki Kasuga Taisha di sepanjang jalan setapak akan tampak lampion batu berjajar rapi, dan selain itu di bagian dalam kuil juga dapat ditemukan banyak Lampion perunggu tergantung cantik. Karena lampion-lampion inilah yang menjadi icon dari Kasuga Taisha yang merupakan donasi dari para umat pemua Kasuga Taisha.

Beberapa bagian dari Kasuga Taisha merupakan kawasan yang tidak boleh dimasuki pengunjung. Tapi dengan mengunjungi bagian-bagian yang umum sudah mendapatkan kecantikan dari kuil kuno yang masih terjaga hingga kini.

 

Todai-ji Temple

DSC_2317.JPG

Icon kota Nara inilah yang menjadi magnet terbesar yang menarikku untuk memasukkan kota ini dalam salah satu kota yang wajib dikunjungi dalam perjalanan pertamaku ke Jepang. Todai-Ji Temple adalah kuil Besar Budha terbesar di Jepang, sebuah kuil yang dibangun tahun 752 dan merupakan kuil pusat Budha di Jepang.

Begitu memasuki halaman muka Todai-JI Temple, ratusan rusa berkeliaran memenuhi gerbang, bila tak berhati-hati berjalan, siap-siap untuk menginjak eek rusa. Sebuah Gerbang besar; Nandaimon Gate, terbuat dari kayu-kayu besar dengan kolom sebatang pohon utuh menyangga kuda-kuda atap yang besar. Didalamnya terdapat sepasang penjaga; Nio Guardian King, yang di desain bersamaan dengan Gerbang Nandaimon Gate.

Pengunjung yang akan memasuki Kuil utama, dikanakan biaya tiket sebesar Y5. Kuil Utama kuil Daibutsuden ; Big Budha Hall merupakan bangunan kayu terbesar didunia, walaupun saat ini bangunan yang direkonstruksi pada 1962 hanya 2/3 dari luasan aslinya. Daibutsuden adalah rumah dari Patung Budha perunggu terbesar; Daibutsu. Patung Budha duduk; Vairocana setinggi 15 m. Ukuran telapak tangan yang terbuka tingginya sama dengan tinggi seorang dewasa asia, jadi bisa dibayangkan berapa besar ukuran patung Budha ini.

Didalam Daibutsuden, terdapat banyak koleksi patung Budha dan barang-barang lainnya peninggalan bangunan pendahulunya. Salah satu yang unik dari Daibutsuden adalah, sebuah pilar yang berlubang di dasarnya seukuran ‘lubang hidung’ Budha besar yang berada di Daibutsuden. Bagi siapa yang berhasil lolos melewati lubang tersebut, dipercaya akan mendapat ‘penerangan/enlightenment’ dikehidupan yang akan datang (ngaca liat ukuran badan yang extralarge kira-kira muat ga ya masuk ke lubang seukuran lubang hidung)

Omizutori

DSC_2393.JPG

Kami beruntung datang di awal bulan Maret, yang merupakan pekan perayaan Omizutori di Nigatsuda Hall, didalam kawasan kuil Todai-Ji. Perayaan Omizutori merupakan ritual pengakuan dosa para pendeta di Todai-ji yang diabadikan di Nigatsuda . Ritual ini juga mendoakan kedamaian dunia dan panen raya. Perayaan ini disebut ‘Shuni-e’ sekarang disebut Omizutori. Ritual ini sudah dilakukan dari tahun 752 hingga sekarang

Perayaan yang berlangsung setiap malam selama 14 hari mulai dari tanggal 1 – 14 Maret (bulan kedua dari lunar calender) setiap tahunnya ini menjadi salah satu ritual paling ramai dan wajib di lihat bila berkunjung di Nara pada awal maret. Pengunjung yang datang akan ribuan banyaknya, dimalam yang dingin kerumuman pengunjung lumayan menghangatkan suasanya, karena suhu malam itu mencapai kurang dari 10’C, lumayan banget bikin menggigil badan tropisku yang biasa hangat.

DSC_2401.JPG

Upacara berlangsung tepat waktu, ketika jam menunjukkan pukul 19.00, lampu sorot yang menerangi kawasan halaman Nigatsuda yang dipenuhi pengunjung dimatikan, sehingga cahaya terang haya datang dari arah Nigatsuda Hall. Walau berjarak cukup jauh dari tempat kami berdiri, tapi kami bisa melihat barisan pendeta dalam baju putih. Setelah melakukan ritual doa,  lalu semburan api yang cukup besar tampak terlihat dan seorang pendeta terlihat berlari sepanjang koridor . Kegiatan ini berlangsung 10 kali selama 20 menit, secara bergantian satu-satu pendeta melakukan ritual lari membawa obor besar disepanjang koridor. Awalnya kita yang tidak mengerti berharap ada semacam kembang api atau sesuatu yang spektakuler terjadi di penghujung ritual, karena setiap kali sebuah obor dinyalakan, akan terdengar suara ‘woooooow’ yang disuarakan oleh para pengunjung, sehingga kamipun ikut-ikutan menyerukan ‘wooooooow’. Begitu obor kesepuluh selesai dilarikan dikooridor, menandakan berakhirnya ritual Omizutori.  Lampu sorot kembali dinyalakan dan ribuan penonton berjalan rapi menuruni bukit di kawasan Todai-ji.

 

DSC_2392.JPG
Gerbang Todai-ji di malam hari

 

 

Nara Sightseeing Map : https://www.jnto.go.jp/eng/pdf/regional/kinki/nara_shi.pdf

Todaiji Temple : http://www.japan-guide.com/e/e4100.html

Omizutori event : http://www.japan-guide.com/e/e4110.html

Kofukuji Temple : http://www.japan-guide.com/e/e4101.html

Kasuga Taisha : http://www.japan-guide.com/e/e4102.html

Nara Park : http://www.japan-guide.com/e/e4103.html

Naramachi : http://www.japan-guide.com/e/e4108.html

Iklan

2 pemikiran pada “JapanTrip – Heritage Walk Nara

    1. iya…alhamdulillah, mau nabung lagi biar bisa ke jepang lagi
      waaaah…..ga pernah nonton drama, jadi ga ngerti 1L of tears…nanti digoogling d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s