Kawan Di Perjalanan

bersama-anakanak-kampung-bajo-sampela

Bagi saya, perjalanan bukan hanya mengenai tujuan, tempat yang indah, makanan enak, budaya lokal, belanja oleholeh, tapi juga orang-orang baik dan hebat yang saya temui selama di perjalanan. Mungkin saya adalah orang yang beruntung bisa diberi banyak kemudahan untuk berjumpa banyak orang dan ngobrol ringan mengisi waktu di jalan, dan setiap perjumpaan pasti menyisakan suatu kenangan dihati. Perjalanan yang baru saja saya lakukan mempertemukan dengan begitu banyak orang luar biasa dari beberapa tempat indah yang saya kunjungi. Mari saya kenalkan dengan mereka.

 

Rachmad – Penyelamat Liburan Wakatobi

keluarga-oceania-wakatobi
Keluarga Besar Oceania Wakatobi ( Rahmad ‘berbaju biru’ bersama istri ‘berbaju puitih’)

Setelah pembatalan sepihak Wisata Pelni H-2 dari jadwal, saya mendapatkan no. contact rahmad, seorang operator wisata Wakatobi, yang membantu saya untuk menyesuaikan jadwal perjalanan yang kami punya dengan start n end di Baubau, pulau Buton. Diskusi panjang semalaman menghasilkan kesepakatan yang ternyata sangat memuaskan bahkan diluar dari harapan awal.

Kami berjumpa dengan Rahmad di pelabuhan Baubau, setelah kapal kayu yang digunakannya dari Pulau Wangiwangi terlambat berlabuh. Saat melihat sosok Rahmad mengingatkan saya pada sahabat saya di Jogja ‘Anez’ gayanya terlihat mirip (hai anez, apakabarnya ???) Bersama istrinya yang cantik mengantar kami menaiki kapal Jetliner yang akan membawa kemi menuju pulau Wangiwangi (luarbiasa servicenya Rahmad yang berusaha menjemput tamunya diawal perjalanan, bahkan hanya beberapa menit saja menjejakkan kaki di Baubau untuk kembali lagi ke Wangiwangi bersama kami).

Dalam perjalanan 6 jam ini kami mulai berkenalan dengan seorang Rahmad, satu dari sedikit operator lokal yang menyediakan wisata di Wakatobi (very recommend). Menurut saya, yang dilakukan rahmad ini sungguh hebat, sebagai penduduk asli sudah seharusnya dapat mengeksplorasi tanah airnya, bukan sekedar bekerja pada operator dive milik asing. Rahmad pernah kuliah di Jogja demi kemudahan mencari kerja dikantoran bahkan pernah ditawari menjadi security karena bentuknya yang garang….hahahahaaa.

Selama di Wakatobi, kami sangat dimanja dengan fasilitas hebat dari Rahmad dan teman-temannya (Tanto dan Gun, lalu penasaran bagaimanakah bentuknya Albar yang menjadi idola di Oceania Wakatobi). Mobil yang tersedia setiap saat selama di Wangi-wangi, hotel yang bersih dan nyaman (khususnya di Hoga Dive Resort), tempat-tempat wisata yang luar biasa cantik dan tak dibatasi mau berapa lama kami leyeh-leyeh, berenangrenang bahkan sekedar bengong ga jelas, semua keinginan kami diakomodir dengan baik.

Dengan semua service yang diberikan, kami jadi yakin, bahwa bila kami jadi berwisata ke Wakatobi dengan kapal Pelni, pasti kami akan melewatkan beberapa tempat cantik yang kami kunjungi, khususnya resto Wasabi-Nua yang kece sangat.

IMG_20161114_174524_HDR.jpg
Resto Wasabi-Nua di pulau Wangiwangi

Ibing Saja

ibing

Sewaktu kami akan berangkat menuju Hoga, Rahmad mengatakan ada satu teman sekolahnya akan ikut, katanya dia kepala dinas Pariwisata Wakatobi (dalam hati berharap seorang laki berbodi diver keren gimana gitu). Hingga berjumpalah kami didalam kapal yang akan mengangkut kami menuju Hoga, seorang mbak-mbak berbodi sebelasduabelas ma bodi aku yang aduhai, menenteng drybag dan fin bersamanya (buyar sudah harapan laki berbodi diver keren).

Panggil saja Ibing, demikian dia memperkenalkan diri. Nama lengkapnya adalah Wa Ode Hasbi (bener ga ya penulisannya), dari namanya kami bisa menebak dia memiliki darah ‘bangsawan kesultanan Buton’ yang bila di Jawa mungkin bernama ‘Raden Roro’. Serta merta aku dan fenti menanggapi dengan penuh antusias…’waaaah, seorang bangsawan, suatu kehormatan kita bisa berkenalan dengan Wa Ode Hasb, tapi apalah kita hanya rakyat jelata’, dan ditanggapi dengan tawa tak tak putus dari Ibing.

Sebagai pekerja Dinas Pariwisata, Ibing dikenal luas oleh banyak orang sehingga memudahkan kita yang suka pecicilan ga jelas, misalnya ketika kita berkunjung ke Kampung Bajo Sampela usai snorkeling kece di ujung dermaga Hoga. Saat berjalan-jalan di sana, Ibing dengan luwesnya menyapa beberapa orang, dan ketika menemukan sebuah warung , kamipun mampir untuk awalnya hanya sekedar pesan kopi hangat dan berlanjut dengan memasak indomie rebus (horeee……). Saat mampir inipun kami disambut hangat pemilik rumah. Bapak pemilik rumah turut ngobrol bersama kami di muka warungnya dan banyak bercerita mengenai kampung bajo Sampela. Adalah suatu kebetulan ternyata si Bapak cukup aktif mengumpulkan buku bacaan anak untuk perpustakaan lokal, dan  buku-buku yang saya bawa berlabuh di tempat yang tepat (kebetulan saya selalu membawa beberapa buku bacaan anak untuk dibagikan kepada anak-anak diperjalanan).

Keluarga Nte Dhayah di Baubau

IMG_20161115_193506.jpg
bersama mama dan kakak pertama keluarga Dhayah di kota Baubau

Kota Baubau tiba-tiba mengingatkan pada seorang teman bersepeda yang biasa kita sapa ‘Nte Dhayah. Iseng saya menyapa di Chat dan bertanya mengenai kota Baubau dan baru mengetahui ternyata Dhayah asli orang Baubau, keluarganya semua ada disana. Mengetahui tujuan saya keBaubau, Dhayah langsung bersemangat, dan merekomendasikan beberapa tempat yang harus kami kunjungi, bahkan menawarkan menginap di rumah kakaknya, tapi sayang kami sudah booking hotel di Baubau.

Dimalam terakhir kami di Baubau (setelah menikmati kecantikan Wakatobi) keluarga kak Ati dan ibunda Dhayah mengundang kami untuk makan malam bersama, menikmati makanan khas Baubau, Ikan Parede – semacam sup ikan enak, dan bersantai di Wantiro sambil ngobrol santai mengenai kota Baubau dan minum sarabba ditemani goreng pisang hangat sambil menikmati keindahan kota Baubau dimalam hari

 

Bang Udin dan Baim

udin-dan-baim

Begitu kami mendarat di Bandara Betoambara, Baubau, Bang udin sdh sigap menelpon saya, mengabari bahwa dia yang menjemput kami di bandara, karena Rahmad terlambat datang. Kami diantara ke mobil yang dikemudikan Baim, mengantar kami sedikit berkeliling kota, sebelum akhirnya mengantarkan kami ke pelabuhan.

Sepulang dari Wangiwangi pun, Bang Udin dan Baim sudah sigap menjemput kami di pelabuhan dan seharian mengantar kami warawiri keliling kota Baubau, dari pantai nirwana, pohon loreng hingga akhirnya menunggui kami mengelilingi Benteng Buton yang merupakan benteng terluas di dunia.

 

Bobi

bobi

‘Mbak cowok pake topi merah itu sepertinya tadi kita ketemu di Leang-leang deh, mungkin dia mau berbagi perahu bersama kita,lumayan kan bisa berbagi patungan sewanya’. Mataku mengikuti arah yang ditunjuk Fenti, mencari ‘cowok bertopi merah’. Ide bagus juga siy menambah satu orang lagi diperahu yang akan membawa kita menikmati Rammang-rammang, kan lumayan sewa perahunya jadi dibagi 3.

Si cowok bertopi merah tampak menatap nanar ke arah sungai (mungkin berharap-harap cemas ada yang mengajak barengan naik perahu, secara kalau sendirian berperahu ya lumayan juga uang sewanya dan pastinya garink banget sendirian).

Seketika kusapa si cowok bertopi merah, soksok akrab ngobrol sebentar, dan berakhir dengan pertanyaan ‘worthed ga ? 1 jam berperahu di rammangramang??’, kujawab dengan pasti ‘kalo dilihat foto yang beredar siy worthed;…yuuk

Diawal perjalanan berperahu kami cukup berbasabasi, karena berisik suara dari mesin kapal. Si cowok topi merah memperkenalkan diri bernama ‘Bobi dan kebetulan di Makassar jadi melarikan diri seharian untuk jalan-jalan menikmati Maros. Awal-awalnya jaim ga jelas dan baru ketahuan lucunya setelah kami berjalan-jalan di kampung Berua dan mengalami kejadian-kejadian ga masuk akal penuh dagelan. Jalan setapak yang buntu, dihadang sapi yang ga mau minggir, komentar ibu-ibu yang menunjukkan jalan, pencarian batu Kingkong yang ternyata sudah di depan mata, gerimis romantis yang mengiringi kita berjalan di jalan setapak, hingga bapak penghuni lapak diatas bukit yang ikut-ikutan jadi korban kelucuan Bobi.

Rencana perjalanan yang seharusnya ‘hanya 1 jam’ dan dipertanyakan ‘worthed ga?’ ternyata jadi suatu perjalanan yang berlangsung lebih kurang 3 jam, dengan alasan berteduh dari hujan gerimis romatis, hingga ngopi di pinggir sungai yang kece. Terkesima dengan romantisme mas perahu yang mirip vokalis ‘Kangen ‘ Band – idolanya Bobi dengan mbak-mbak yang membawakan popmie (pake pegangan tangan sebelum berpisah…..pasti pengen yaaaaa ??) hingga saat akan berpisah pun menjadi berat ya (cieee…ciiieee) perlu banget gitu kita wephie sesaat sebelum berpisah setelah sekian banyak poto bareng selama perjalanan.

 

Kak Esi Grace

esi-grace
Kak Esi dan Nelly berlatar lumbung milik keluarga kak Esi

Ketika akhirnya yakin akan melanjutkan langkah ke Toraja sepulang dari wakatobi, saya cukup intens berkomunikasi dengan Olyvia – seorang blogger kondang dan sahabat perjalanan di Jakarta – yang merupakan penduduk asli Toraja. Bertanya ini itu, akhirnya saya dikenalkan dengan kak Esi Grace, yang berdomisili di Toraja. Kakak Esi inilah yang memudahkan perjalanan sendirian saya ke Toraja.

Setelah menempuh perjalanan 8 jam dari Makassar, kak Esi sudah menjemput di perwakilan bis dan mengantarkan saya ke penginapan. Kak Esi juga membantu saya untuk menyewa motor yang dapat saya gunakan warawiri sendirian dengan mengandalkan peta wisata. Sesuai dengan petunjuk dari kak Esi, dihari pertama saya berhasil mengunjungi Lemo, Londa dan Kete Kesu. Dihari berikutnya, keponakan kak Esi menemani perjalanan saya, menuju tempat2 indah lainnya di Toraja yang terletak di dataran tinggi, sehingga saya bisa menikmati keindahan kota Rantepao dari ketinggian lebih dari 1000 mdpl, luar biasa indahnya.

IMG_20161118_135219_HDR.jpg

Bersama kak Esi, maka makan enak di Toraja sudah terjamin kehalalannya, dan yang paling instimewa adalah saya bisa mengunjungi toko kopi terenak di toraja, yang me-roasting- dan menggiling sendiri kopi pilihannya, berlama-lama disini dijamin betah dengan aroma kopi yang bertebaran di udara.

 

Masih ada beberapa orang yang memiliki kesan diperjalanan ini; bapak driver taksi bandara hasanuddin, setelah ditawar serendah mungkin tapi rela untuk mengantar dan menunggui kami menikmati Maros yang indah. Supir petepete asal Flores yang menjadi teman ngobrol dari Makale – Rantepao diiringi lagu-lagu pop Ambon. Bapak Gatot yang habis saya marahi atas pembatalan wisata pelni dan memberi no. contact rahmad.

 

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Kawan Di Perjalanan

  1. Mbaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………….. saya suka ini……. Again and again, makasih sudah ngajakin……. looking forward to another trip with you…. next time ajakin bobi si ganteng dari pekan baru y…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s