Maros, Karst Terbesar kedua di Dunia

 

IMG_20161116_161233_HDR.jpg

Saat kami harus transit di bandara Hassanuddin di Makassar, kami meluangkan waktu agak panjang untuk kembali ke Jakarta. Tujuan kami agar memiliki waktu luang mengunjungi kawasan Karst terbesar no.2 di Dunia (no. 1 di China), daerah Maros tepatnya, tak seberapa jauh dari Bandara.

Kami mencarter taksi dari bandara untuk mengantar kami menuju Maros, dan atas usulan pak supir taksi, kami memulai dari lokasi terjauh dari beberapa tempat yang akan kami kunjungi di Maros, yaitu Air Terjun Bantimurung.

Bantimurung

img_20161116_103405_hdr

Taman Nasional Bantimurung Bulusaruang memiliki kombinasi keindahan alam yang unik, yaitu karst, air terjun, goa dan Bantimurung terkenal sebagai ‘kerajaan kupu-kupu’. Di sini kita dapat menemukan beraneka ragam kupu-kupu cantik berwarnawarni terbang bebas, terdapat ratusan jenis kupu-kupu dapat ditemukan disini.

Saat kami berkunjung, Air terjun Bantimurung terlihat kosong, maklumlah karena bukan hari libur, sehingga pengunjung tak ramai. Biasanya di bawah air terjun akan diramaikan dengan pengunjung yang berenang menggunakan ban besar, seperti di arena water boom dalam versi yang lebih alami. Sempatkan juga untuk melakukan trekking ringan yang dimulai dari sisi sungai dan akan berakhir di sebuah telaga dan goa yang memiliki kecantikan stalagtit stalagmit.

Udara yang sejuk dan pemandangan indah menjadikan Bantimurung sebagai salah satu destinasi wisata favorit masyarakat kota Makassar.

Leang-leang

IMG_20161116_122003_HDR.jpg

Tak berapa jauh dari Air Terjun Bantimurung, kami menuju Taman Prasejarah Leang-leang yang masih termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaruang. Taman Prasejarah ini memiliki bukti kehidupan masa prasejarah berupa lukisan purba yang dapat dinikmati di goa-goa yang terdapat di atas tebing karst. Konon pada masa prasejarah kawasan taman ini adalah lautan, sehingga manusia pada masa itu mendiami goa-goa di tebing yang tinggi.

Saat berkunjung ke sini, pastikan untuk meminta ijin melihat goa prasejarah dan lukisan prasejarah yang terdapat di atasnya saat membeli tiket di loket, karena lokasi goa ditutup pagar terkunci untuk menghindari tangan jahil yang dapat merusak bukti sejarah. Sebuah tangga besi dan pagar yang terkunci merupakan pintu masuk menuju goa dan lukisan prasejarah. Bapak petugas yang mengantar kami menjelaskan bagian ruang dari goa yang digunakan sebagai tempat tinggal yang ternyata memiliki beberapa ruang yang berfungsi sebagai kamar.

Selain goa dan lukisan prasejarah, taman Leang-leang juga menarik untuk dinikmati. Batu-batu purba yang bertebaran disekeliling taman sungguh menarik untuk dijadikan tempat berfoto-foto.

Rammang-rammang

IMG_20161116_133519.jpg

Terakhir kami diantar menuju rammang-rammang. Tempatnya agak terpisah dari lokasi leang-leang, sehingga bapak driver taksi harus bertanya ke penduduk setempat untuk memastikan kami berada dijalan yang benar.

Rammang-rammang adalah wisata yang unik. Pengunjung diajak untuk menikmati keindahan karst dengan cara menaiki perahu dan berlayar disepanjang sungai rammang-rammang.  Sewa perahu untuk sekali perjalanan selama sekitar 1 jam Rp. 200.000 dengan kapasitas 4 orang. Saat itu aku hanya berdua dengan Fenti, beruntung kami menemukan seorang cowok yang lagi sendirian, sepertinya lagi cari temen untuk sharing cost sewa perahu. Jadilah kami bertiga berbagi perahu dan kebahagiaan selama berperahu di sungai rammangrammang.

Dipenghujung sungai kami tida di desa Barua, sebuah desa yang dihuni oleh 7 kepala keluarga yang masih memiliki ikatan kekerabatan.Desa kecil yang asri dikelilingi bukit Karst, menjadikan desa ini begitu mempesona.

IMG_20161116_135549.jpg

Salah satu objek menarik yang kami cari di desa Barua adalah ‘batu Kingkong’ yang terdapat di dinding tebing yang memagari desa barua. Memerlukan ‘usaha’ yang tidak sedikit untuk mencapai si batu Kingkong. Mundar mandir jalan setapak akibat selalu berujung di kubangan, beberapakali bertanya ke seorang ibu dan akhirnya ada seorang ibu muda yang dengan baikhati mengantarkan kami menjumpai si batu Kingkong. Batu Kingkong yang terukir didinding tebing bentuknya benar mirip dengan wajah kingkong (seperti yang dicontohkan bobi dengan sangat baik) padahal tidak ada yang mengukirnya, terbentuk secara alamiah saja.

IMG_20161116_142902.jpg

Selanjutnya dengan diantar seorang ibu, kami mendaki ke atas sebuah bukit. Panorama dari atas bukit ini sangat mempesona, sayangnya sore itu hujan, sehingga kami harus berteduh sejenak sambil ngobrol santai dengan bapak pemilik warung. Beruntung kami bertiga, sehingga perjalanan yang disertai rintik hujan menjadi begitu menggembirakan dan banyak kejadian lucu.

Diperjalanan pulang, perahu kami mampir disebuah café yang cantik yang tersedia dipinggir sungai. Sebenarnya ada telaga tak jauh dari sini, tapi kondisi yang sudah terlalu sore membuat malas untuk bergerak lebih, sehingga kami memutuskan untuk sekedar santai menikmati kopi di café cantik pinggir sungai.

IMG_20161116_162204_HDR.jpg

Mungkin kami pengunjung terakhir di sungai rammangrammang sore itu, karena sudah tidak ada lagi pengunjung dibelakang kami. Perjalanan yang seharusnya hanya 1 jam akhirnya kami jalami selama 3 jam.

Secara keseluruhan kawasan maros di Sulawesi selatan memiliki keindahan yang berbeda dengan bukit-bukit karst yang mengelilinginya. Walau di beberapa sudut sedikit mengingatkan saya pada daerah Payakumbuh di Sumatera Barat dan kawaasan karst di Gunung Kidul.

 

 

Iklan

6 pemikiran pada “Maros, Karst Terbesar kedua di Dunia

    1. tergantung akan berapa lama dimasing-masing tempat. kita tak berlama-lama di bantimurung, dan agak kelamaan di rammangrammang karena berteduh kehujanan. kita menghabiskan waktu sekitar 6 jam dengan agak santai. sewa mobil dari bandara untuk diantar kesemua tempat ini dengan manawar ke beberapa driver yang mengajukan diri Rp. 450.000.

    1. rammang-rammang itu lanscape nya mirip dengan lambah harau di sumatera barat, bedanya disana tak menggunakan perahu untuk eksplore

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s